
"SAYANG RAIHAN!"
Baik Raihan, maupun Eza dan Ily, ketiganya sama-sama menoleh ke arah sumber suara nyaring itu. Sumbernya berasal tak jauh dari tempat duduk mereka. Sekitar sepuluh langkah jaraknya, seorang wanita dengan cerianya melambai-lambaikan tangannya.
Jelas pada Raihan.
Perempuan itu seumuran dengan ketiganya. Memakai kaos putih dengan cardigan merah dan celana jeans hitam. Rambutnya terurai, bergelombang dan memiliki volume bagus hingga dirinya tampak seperti model remaja. Wajahnya campuran Jerman, terlihat sangat cantik dan mudah menarik perhatian.
"Hai, aku datang satu jam lebih awal!"
Begitu saja, perempuan itu menarik bahu Raihan untuk dia cium pipinya. Kanan dan kiri, bergantian. Raihan tak menolak, hanya tersenyum sekedarnya. Namun, wajahnya berubah cemas saat melihat reaksi Ily.
Entah terkejut, cemburu atau marah. Raihan tak dapat mengartikannya dengan sempurna, namun dia sangat gugup saat ini.
Alis tebalnya terangkat bersamaan saat melihat Ily. "Oh, ini cewek yang kemarin kamu upload, ya?"
Raihan meringis. Rasanya harga dirinya sudah merosot hingga kerak bumi. Apalagi saat melihat reaksi pada wajah Eza. Laki-laki itu jelas terkejut dan marah. Tak menyangka bahwa Raihan memiliki wanita lain saat sedang mendekati Ily.
"Iya, Si," balas Raihan terpaksa. Sudah terlanjur basah, Raihan akan berenang sekalian. "Namanya Ily."
Diperkenalkan tanpa aba-aba, membuat Ily segera tersenyum kemudian bangkit dari duduknya untuk menyambut uluran tangan perempuan itu. "Shasi," katanya kemudian.
"Ily," ulang Ily, merasa perlu.
Secepat itu, tangan keduanya kembali berjauhan. Ily kembali duduk, sementara Eza perlahan berdiri dengan inisiatifnya. Sebenarnya, pandangan Eza berubah sejak melihat Shasi dari Raihan.
"Fahreza," kata Eza memperkenalkan dirinya, tentu saja dengan tangan mengulur dengan genit agar disambut oleh tangan berkulit cerah dan lembut itu. "Panggil aja Eza."
Shasi tersenyum segaris. Menyambut tangan Eza tanpa berpikir apa-apa. "Shasi."
"Oke," balas Eza dengan tatapan itu. Tatapan yang biasa ia layangkan untuk setiap kaum hawa yang menarik perhatiannya. "Nama yang bagus. Jadi, lo siapa?"
Wajah Shasi seketika cerah. Tangannya dengan ringan merangkul bahu Raihan semudah itu. Sebab tinggi Shasi dan Raihan tak begitu berbeda. Mungkin hanya berbeda sepuluh sentimeter.
"Emangnya nggak kelihatan jelas?" Shasi justru balik bertanya dengan alis dinaik-naikkan.
Kepala Eza miring, berpikir keras dengan pikiran yang menolak untuk bicara. Namun, jika ia tak bicara, maka tebakannya tak dapat dibenarkan. "Pacar Raihan?"
Saat itu juga, jantung Ily seolah berhenti sesaat untuk setelahnya memompa dengan kekuatan yang amat dahsyat. Entah apa alasan yang pasti, namun Ily ingin segera pergi dari sini.
Bukan, bukan karena Ily masih menaruh rasa pada Raihan. Namun, ada sesuatu yang Ily tak mau lagi bertemu Raihan. Rasanya, Raihan dan Yohan tak jauh beda. Pada akhirnya, keduanya punya rahasia yang tak Ily duga dan merasa dikhianati.
"Iya!" seru Shasi riang. Kemudian melepas rangkulannya karena Raihan ingin lepas darinya secara lembut. "Kalian temennya Raihan, ya?"
"Iya," balas Eza. "Lo sendiri ngapain ke sini? Kayaknya Raihan nggak menduga kedatangan lo."
"Kita hari ini mau jalan. Harusnya sih, jam 11, tapi gue sengaja dateng sekarang karena katanya Raihan lagi ada di sini." Shasi bercerita tanpa sungkan. "Jadi, jalannya sekarang aja gimana, Ay?"
Raihan hampir mendengus kecil. Namun, itu tertahan dan hanya diungkapkan dengan helaan napas pendek yang tampak pasrah. "Ayo," balasnya, hampir terdengar datar.
"Za, Ly, duluan, ya," pamit Raihan merasa perlu. Tangannya bahkan melambai saat setelahnya berbalik dan berjalan bersampingan menuju tujuan kencannya hari ini.
Eza dan Ily dibuat melongo karenanya. Jika normalnya mereka akan makan eskrim lagi, kini keduanya saling pandang dengan tatapan penuh arti.
"Udah punya pacar, jir," kata Eza memulai. "Nggak nyangka."
"Normal, sih," balas Ily dengan senyum pahit. "Sayang banget, nggak bisa digebet."
"Lah, lo emang dari awal udah ada niatan buat ngegebet itu anak?" Eza melotot tak percaya. Bahkan tangannya menggebrak meja dengan tak santai, secara otomatis mengundang atensi sekitar selang beberapa saat.
Ily menatap Eza dengan malas. Kemudian berdecak dan mendekatkan diri untuk setelahnya berbicara agak pelan. "Ya, anaknya ganteng gitu mana gue nggak nyantol?"
Eza menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tatapan tak percaya. "Lo berubah, Ly. Dulu, lo nggak kayak gini."
"Serius?"
"Lo nggak gampang naksir orang."
"Gue udah gede, Za."
"Tapi, lo masih imut lucu gitu kayak anak SMP. Nggak lucu lagi kalau udah main cinta-cintaan."
"Ye, lo sendiri?" Ily bertanya dengan nada tak terima.
"Gue beda, Ly. Gue laki."
"Lo boleh cinta-cintaan, masa gue nggak?"
"Soalnya lo tuh masih gemesin," kata Eza seraya mencubit kedua pipi Ily tanpa ragu. "Nggak lucu kalau nanti putus, terus galau sampai nangis tujuh ember penuh."
Ily menabok-nabok tangan Eza agar segera lepas dari pipinya. "Sakit, ege!"
"Oops, sori. Kelepasan," sesal Eza yang tampaknya hanya sekedar basa-basi karena senyum puasnya justru lebih mendominasi di bibir yang katanya menyuarakan penyesalan itu.
"Lagian, gue juga pernah sedih." Ily menggigit bibirnya, matanya bergerak ke mana-mana asal tidak bertabrakan dengan mata Eza. "Tapi nggak sampai nangis, kok..."
"Ya," tukas Eza cepat. "Pokoknya jangan coba-coba deh."
__ADS_1
Kening Ily mengerut. "Apa jangan coba-coba?"
"Cinta-cintaan."
Ily cemberut. Menatap lurus ke depan dengan pandangan menerawang. "Tapi gue mau... gue mau coba lagi."
***
"Ibu gue nggak setuju gue gini-ginian," kata Elvan begitu dirinya menjawab telepon dari Juna yang menanyakan kesiapannya untuk bertemu Bang Jefri malam ini. "Maaf, ya, kayaknya gue butuh waktu buat bujuk ibu."
"Bisa lo pastiin waktunya?"
"Em... gimana, ya..."
"Soalnya Bang Jefri punya jadwal yang nggak bisa diganggu sembarangan."
"Gue juga bingung." Elvan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Kebetulan malam ini dia lagi nganggur satu jam. Lo bisa ngobrol-ngobrol dikit, kenalan dan semacamnya." Juna memperjelas keadaannya.
"Ini gue nggak berani keluar soalnya ibu lagi siaga di depan pintu. Ngobrol sama nenek. Serius banget."
"Ck."
"Mana sebut-sebut nama gue lagi. Mereka pikir gue nggak denger. Orang kamar gue sekarang ada sepuluh meter dari mereka."
Lagi, di sana Juna berdecak kesal. "Jadi, gimana? Gue nggak suka basa-basi."
"Ye, tenang dulu dong, bosque. Gue perlu menyusun siasat dulu, nih." Elvan meringis seraya tertawa, berharap dengan begitu Juna menjadi lebih lunak padanya.
"Lima menit. Gue matiin."
Elvan langsung ketar-ketir dari sana. Sibuk melihat sekeliling, berharap ada satu ide terlintas di benaknya begitu saja. Jika biasanya ia akan sangat lama dan tak diberkati untuk mencetuskan ide secepat ini, kali ini mata Elvan sudah berbinar tanda menemukan sesuatu bahkan saat waktu baru saja berjalan dua puluh detik.
"Lo ke sini. Bantuin gue bujuk."
Cetusan Elvan jelas bukan sesuatu yang bagus untuk didengar Juna, karena setelahnya Juna tak menjawab dengan cepat. Membuat kerutan kening Elvan bertambah.
"Juna?"
"Lo yang butuh. Kok gue yang repot?"
Harusnya itu balasan yang membuat Elvan memaklumi. Namun, itu hanya sesaat. Ketika kemudian, Elvan kembali diilhami suatu pemikiran lain untuk membuat Juna mau menuruti apa pintanya.
"Lo kan temen gue, Juna. Ayo, dong, saling bantu aja."
"Jahat banget lo, Jun."
"Terserah."
"Nanti gue tanyain kabar Tiffany, deh. Sekarang kan Ily udah deket sama itu anak."
"Lo yakin?"
"Lah, lo nggak tau?"
"..."
"Ya, gimana nggak yakin orang gue lihat langsung dengan mata kepala sendiri. Tiffany itu udah bener-bener anggap Ily sebagai temannya. Bahkan pernah sisain tempat duduk VIP buat perpisahan waktu Ily datangnya terlambat."
"Kok bisa?"
"Katanya suka kok kudet, sih."
"Lo ngejek gue sekarang?"
Elvan mengangguk kecil saat paham Juna tak akan pernah melihatnya. "Nggak, dong. Gue hanya memberikan dorongan supaya lo bisa lebih bijak lagi kalau lagi suka sama seseorang."
"Gue bukan lagi suka."
"Lah, terus apa?"
"Masih suka."
Elvan menahan tawa. Sudah menduga hal ini dari kemarin-kemarin. Sejak Juna menyinggung soal Tiffany yang berawal dari pertanyaan bagaimana kabar Yohan.
Memang bukan rahasia lagi kalau Juna punya rasa pada Tiffany. Lebih tepatnya, bukan punya rasa, tapi masih punya rasa. Sejak keduanya dijodohkan, Juna tak pernah sekalipun membayangkan dirinya akan jatuh sedalam ini pada seorang Tiffany.
Sampai seseorang muncul, kemudian rasa ini menghancurkannya, Juna masih belum juga dapat menghilangkan perasaannya. Tiffany terlalu bercekol dalam benaknya seperti akar pohon yang kuat.
Bahkan setelah ikatan perjodohan mereka diputuskan, Juna tak pernah absen bertanya kepada Tiffany lewat SMS yang mengatasnamakan ibunya. Ibu Juna memang sangat dekat dengan Tiffany dan berjanji akan terus saling berkomunikasi ke depannya meski mereka tak akan bisa menjadi mertua dan menantu.
Kabar Tiffany yang katanya dekat dengan Ily, sahabat sekaligus sepupu Elvan, jelas menjadi jalan untuk Juna tahu lebih banyak mengenai Tiffany. Jelas, dia tak perlu lagi pura-pura menjadi ibunya yang kini sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnis hanya untuk menambah kebohongan yang akan membuat Tiffany kecewa di masa depan.
Memang, Juna akui dia sedikit pengecut.
Hanya sedikit, ya.
__ADS_1
Namun, semua orang pasti sudah tahu. Sudah paham. Bahwa bagaimana pun, cinta akan selalu membuat seseorang menjadi lebih bodoh saat bertindak.
"Alamat rumah lo di mana?"
Pertanyaan Juna yang tiba-tiba itu jelas membuat Elvan mengerutkan keningnya. Meski begitu, senyum miringnya terkembang, jelas paham bahwa kini dia memenangkan negosiasinya.
"Secepat itu, Ferguso?"
"Kirim sekarang atau gue berubah pikiran."
"Kirim sekarang atau nggak akan tahu tentang Tiffany," balas Elvan meledek dengan tawa geli. Saat Juna hendak membalasnya dengan makian, Elvan sudah lebih dulu berkata lagi, "gue kirim, gue kirim! Sekarang malah! Cepet, ya, dasar butif!"
"Butif?"
"Bukan Tiffany."
"Sialan."
Sambungan telepon diputus oleh Elvan dengan cepat karena setelahnya dia mengirim alamat rumahnya pada Juna. Jam masih menunjukkan pukul sembilan, belum ada tanda-tanda rumah akan ditutup dan lampu-lampu dimatikan karena penghuninya tidur.
Elvan memilih untuk memakai jaketnya untuk melindungi badannya dari suhu malam yang menusuk kulit. Kemudian, laki-laki itu merapikan kamarnya sendiri dan berbenah untuk tidur nanti.
Menunggu dan menunggu. Yang Elvan lakukan hanya menatap langit, merindukan Eza dan Ily, sempat dilema untuk menghubungi mereka atau tidak, hingga akhir suara mesin motor terdengar di halaman depan rumahnya.
Itu pasti Juna.
Dengan wajah berseri, Elvan keluar dari kamarnya dan menyambut kedatangan Juna dengan bahagia. Sesaat, itu membuat ibu dan nenek bingung. Namun, tidak lagi saat Juna menatap keduanya dengan gestur dan senyum sopan.
"Malam, bu, malam, nek," sapa Juna dengan nada rendah. Sejenak, membuat Elvan ingin tertawa karena biasanya laki-laki itu bicara selalu dengan nada dingin yang datar. Kini, berubah lembut dan rendah seperti itu membuatnya sangat lucu. "Apa benar ini rumahnya Elvan?"
Sudah jelas ada Elvan di depannya, namun Juna menanyakannya seolah ia belum pernah satu kalipun melihat Elvan. Entah apa siasat Juna hari ini, dengan pakaian setelan jas formal juga rambut rapi berpomade.
Elvan berharap siasat Juna berhasil meluluhkan ibunya, juga nenek.
"Ini rumah saya," jawab nenek lurus. Kemudian menarik tangan Elvan untuk berdiri satu jajarnya dengan dirinya sendiri. "Tapi, ini anak yang namanya Elvan."
"Ah, iya, saya mencari anak bernama Elvan." Juna membalas dengan wajah meyakinkan. Juna menjelaskan sesuatu yang perlahan membuat Elvan perlahan ragu kalau Juna lebih pintar darinya. "Dia tadi siang menyelamatkan adik saya dari pencuri liar. Elvan sempat berkenalan dengan adik saya dan saya langsung merasa berhutang Budi pada Elvan. Nah, karena--"
"Tapi, dari pagi sampai sekarang, Elvan nggak pernah keluar rumah, lho," tukas Alina dengan kecurigaan tingkat tinggi. Matanya meneliti Juna dari atas sampai bawah.
Wajah Juna berubah pucat. Tenggorokannya terasa kering dan tanpa terlihat siapapun, kakinya kini sedikit bergetar karena bingung dan gugup atas kebohongannya yang mulai tercium.
Meski Alina adalah guru ke privat adiknya Juna, Alina tidak pernah melihat Juna satu kalipun. Dan juga, Alina hanya menjadi guru les adiknya Juna selama satu Minggu kemarin karena adiknya Juna merasa tak cocok.
Mampus, batin Elvan dalam hati. Ketahuan pasti ini.
"Kamu ngaco, nih. Mabok, ya?" tanya Alina tanpa ragu.
Mata Juna kelayapan. Membuat nenek ikut menatapnya dengan curiga.
"Kamu orang baru, ya? Tersesat?" Nenek justru berpikiran hal lain.
"Eh, nggak, bu, nek," jawab Juna setelah agak lama terdiam karena berpikir untuk mencari alasan yang tepat dan mendukung. "Jadi, adik saya itu pecandu game. Harus menang dan kalau kalah... anaknya bakal parah banget. Bisa mogok makan tiga hari. Nah, kebetulan waktu dia hampir mati, Elvan nyelamatin nyawanya. Adik saya seneng banget dan ceritain ini ke saya setiap waktu. Nah, karena terpikirkan untuk membalas budi Elvan, saya kontak Elvan untuk menyampaikan rasa terimakasih saya."
Alina menoleh langsung pada Elvan. "Bener, Van?"
Elvan mengangguk, meski agak terpatah-patah dan membuat Alina makin curiga. "Iya, bu! Tadi Elvan main mobile legends!"
"Ada-ada aja, sih," tukas Alina yang kini tak lagi merasa ada yang salah dari kedatangan Juna dan sikap Elvan. "Memangnya apa hadiah yang akan kamu berikan?"
Juna tersenyum penuh arti. "Memberi Elvan pekerjaan."
"WAAAH ELVAN MAU BANGET!"
Alina dan nenek jelas tak mau langsung percaya. Meski Elvan sudah sangat riang dan bereaksi luar biasa happy hingga membuatnya tampak benar-benar akan diberikan pekerjaan. Asal-usul Juna saja sudah sangat tidak jelas.
"Pekerjaan apa lebih rincinya?" tanya Alina heran.
"Menjaga saya. Juga keluarga saya." Juna membalas percaya diri. "Elvan akan diberi tunjangan hidup selama menjadi penjaga saya dan keluarga saya. Ini penawaran ekslusif karena saya adalah anak dari pemilik Jeff's."
Tak ada yang tak tau nama merek terkenal sebuah baju, jaket tas, jam tangan dan sepatu itu. Sebuah perusahaan besar yang kini sedang pesatnya berkembang. Bahkan sudah memiliki cabang di luar negeri.
"Bisa kamu buktikan itu?" tanya Alina sekali lagi, untuk benar-benar memutuskan untuk percaya.
Juna menarik seulas senyum, kemudian memberikan sebuah kartu yang membuat mata Alina membulat. Tak lama setelah itu, Alina mengangguk-angguk, menyerahkan Elvan selanjutnya pada Juna.
"Nih, nih, ambil aja Elvannya."
Elvan mengerutkan kening. "Kok ibu jadi mudah percayaan gitu?"
"Heh, ini anaknya halkay, Van!" seru Alina semangat. "Kamu juga bukannya udah nggak mau kuliah? Yaudah kerja aja di sana. Dijamin terpercaya."
Elvan masih tak percaya ibunya akan semudah ini diperdaya. Padahal harusnya butuh tiga hari untuknya pulih kembali. Kini, hanya butuh satu hari untuk Alina mendukung keinginan Elvan yang awalnya sangat ditentang olehnya.
Kekuatan uang memang luar biasa.
***
__ADS_1
***