
Setelah kedatangan teman-teman satu kelasnya kemarin, hari ini Theo kedatangan Ten dan Lucas.
Tak lain dan tak bukan adalah karena Laura.
Karena Laura tak mau Theo terus kesepian selama memulihkan diri dan memutuskan untuk meminta orang lainnya untuk menjenguk Theo (Laura senang karena berkat kedatangan teman sekelasnya kemarin, wajah Theo jadi lebih cerah dan riang), Laura meminta Theo untuk memberitahukan padanya teman lain Theo dari kelas lain. Theo menjawab ia tak mau dijenguk lagi karena malas bertemu dengan Ten dan Lucas karena malu.
Theo tak suka terlihat lemah di hadapan orang-orang. Apalagi teman sepermainannya yang sudah terbiasa dengan pribadi garang dan sosok kuatnya.
Aneh jika Theo terbaring lemah dan Ten serta Lucas melihatnya.
Namun, Laura tetap memaksa. Tak mau jadi anak durhaka, akhirnya Theo menghubungi Ten dan Lucas lewat media sosial dan akhirnya dua temannya itu ada di sini.
Sore hari, kira-kira waktu pulang sekolah, keduanya datang bersamaan. Setelah menyapa Laura dan Laura pergi, mata Lucas langsung membulat.
"Wadidaw, Theo." Lucas menatap Theo hati-hati. "Lo kenapa?"
"Kalau lo baca berita, pasti tau." Theo menjawab jutek.
"Gue tau. Beritanya udah kesebar luas. Buat siapapun yang tau Pak Tamrin itu Ayah lo, pasti terkejut banget." Lucas menjawab dengan jengah. "Maksud gue, kenapa lo sampai bisa diginiin sama Ayah lo sendiri, anjuir, gue nggak nyangka."
"Gue kaget, Yo." Ten menyambung. "Ulangan gue jadi salah satu nomor barusan karena kaget."
Theo diam mendengarkan.
"Gue denger anak kelas lo udah jenguk, ya?" tanya Ten. "Kemarin kalau nggak salah?"
"Iya."
"Seneng dong lo." Ten tersenyum penuh arti.
"Maksud lo?"
"Ketemu Lili."
"Wadaw, udah jadian aja?" tanya Lucas tertarik.
"Bacot kalian." Theo menukas tajam. "Sana pergi kalau udah liat gue. Bikin stress aja."
__ADS_1
"Eits, jangan gitu dong, Yo. Gue jadi sedih. Padahal udah bela-belain minta break shooting, nih."
"Lo hutang penjelasan, Yo." Lucas berkata lagi sebelum Theo balas bersuara. "Gue nggak mau tau, lo harus cerita."
"Ceritanya panjang, Cas." Theo berdecak malas. "Satu jam nggak bakal selesai."
"Ringkas aja jadi satu paragraf."
"Bener, Yo." Ten tertawa kecil. "Geli, geli, gini, kita khawatir sama lo. Khususnya gue. Padahal gue temen lo. Tapi gue nggak tau apapun soal lo yang nggak sekolah sampai satu minggu penuh. Gue ngerasa nggak guna banget sebagai temen."
Theo termenung.
"Maafin gue, Yo." Ten menambahkan dengan nada super menyesal.
"Ck." Theo lama-lama kesal karena lagi-lagi ia mendengar seseorang meminta maaf. "Bukan salah lo. Nggak usah minta maaf."
"Tapi, Yo. Tetep aja—"
"Iya, sih. Lo nggak guna banget, Ten." Lucas menukas cepat. Menatap Ten dengan marah. "Harusnya lo jaga Theo. Temen kan saling melindungi."
"Udahlah, Ten. "Bukan salah lo gue kayak gini. Gue kayak gini karena ...."
Theo menceritakan semuanya. Dimulai dari fakta tentang Leo, fakta tentang Tamrin, bertemu Laura, menyerang Tamrin dengan penuh rencana dan akhirnya dilukai sampai seperti ini.
"Baguslah kalau gitu." Lucas tersenyum penuh arti seraya menunjuk leher Theo yang terluka. "Ini." Lucas menatap Theo lurus-lurus. Bangga. "Namanya perjuangan."
"Iya." Theo setuju. Berkat semuanya, dia menemukan bahagia. Bertemu Ibunya dan bisa hidup bersama-sama lagi dengan Titi tanpa khawatir lagi.
"Kita turut sedih, Yo." Ten berkata. "Tapi lo udah melakukan yang terbaik. Lo pasti bisa. Kita berjuang sama-sama. Ayey."
"Lo nggak bilang-bilang soal mau ke Jepang, anjrit." Lucas menatap Ten tak suka.
"Lo kan sibuk shooting. Gue takut konsen lo pecah. Kan berabe."
"Kampret."
"Sebenarnya gue kangen sama lo, Cas."
__ADS_1
Lucas menatap Ten tak percaya. "Jijik, anjuir."
"Sama gue juga!" seru Ten sambil tertawa. "Gue kangen traktir dari lo."
"Si ...." Lucas hampir mengumpat lagi. Namun, saat melihat Theo, dia berubah pikiran. "Yaudah, nanti gue kasih lo uang bulanan. Tapi janji jangan ninggalin Theo sendirian lagi. Temenin dia, oke? Jagain dia. Jangan sampai terluka kayak gini lagi."
"Siap, Bos!" Ten hormat dengan antusias. "Lo juga, Yo. Kalau mau ke aman-aman izin dulu. Mulai sekarang gue pengacara lo."
"Lawak, anjuir." Lucas tak tertawa
"Ketawa aja."
"Ha ha." Lucas memaksakan diri untuk tertawa. "Btw, lo mau kuliah, Yo?"
"Iya." Theo menjawab santai. "Gue mau jadi guru olahraga."
"Waw."
"Seru, nih kalau guru olahraga seganteng Theo." Ten membalas penuh semangat. "Eh, lo tau nggak? Theo sama Lili ikut lomba fashion show, dong."
"Taulah! Dipost di IG sekolah, mana ada yang nggak tau." Lucas membalas tak kalah semangat. "Gila, sih. Tau gimana reaksi emak gue waktu gue bilang Theo ini temen gue?"
"Apa?" tanya Theo penasaran juga.
"Harus disarankan ke agensi model, nih!" seru Lucas dengan sorot mata penuh binar. "Dua-duanya!"
"Wadaw, gila sih." Ten berdecak tak percaya.
"Lo mau nggak, Yo, kalau-kalau ditawarin?"
"Nggak." Theo menjawab dengan tekad bulat-bulat.
"Ouh. Kan mau jadi guru olahraga."
"Yoi."
Ten dan Lucas tentu paham. Theo senang dia punya Ten dan Lucas di sisinya kini.
__ADS_1