
Makasih ya," kata Laura ketika dirinya dan Lili berada di mobil dalam perjalanan pulang ke rumah Lili
"Iya, Tante?" Lili agak melamun waktu Laura berkata.
"Makasih udah mau jadi teman Theo."
"Sama-sama, Tante. Aku juga senang kok berteman sama Theo." Lili menukas cepat. "Ya, emang dingin dan kadang jutek, kadang juga nyebelin dan kejam, tapi sebenarnya dia perhatian."
Laura tersenyum lega.
"Pernah nih, Tante. Waktu aku pulang malam karena nonton film Kakak kelas aku, masa Theo nungguin di gerbang buat anterin pulang aku. Katanya disuruh Ibu aku, tapi ternyata Ibu aku nggak nyuruh." Lili menjelaskan dengan semangat. "Manis banget Theo."
"Kamu suka?"
"Suka, dong!"
"Baguslah."
"Eh?" Lili mengerjapkan.
"Ibu setuju kalau Theo sama kamu."
__ADS_1
"Nggak, Tante." Mata Lili langsung melotot dan buru-buru menjelaskan dengan salah tingkah. "Ma-maksud aku, bukan suka dalam artian gitu. Aku suka Theo karena pribadinya, suka sebagai temen. Temen yang baik."
"Yah, padahal Theo kayaknya suka lho sama kamu." Laura membalas sedih. "Sukanya Theo lebih dari temen. Tante bisa lihat dari matanya."
"Lili suka sama orang lain kalau urusan itu, Tante. Maaf."
"Ya, Tante nggak maksa juga." Laura tertawa maklum. "Hati kan nggak bisa dipaksa-paksa."
"Yaudah, Tante." Lili mengangguk kecil, tahu-tahu dia sudah berada di depan gerbang rumahnya. Waktu Lili mau keluar dari mobilnya, Lili menoleh lagi pada Laura. "Eh, Tante mau ikut masuk juga nggak? Mau ketemu Ayah Ibu aku nggak? Siapa tau Tante bisa bikin Ayah aku setuju aku temenan sama Theo dan berhenti memandang Theo dengan jelek?"
"Oh, bolehkah?"
"Kenapa nggak boleh?" Lili tertawa riang, kemudian menarik tangan Laura dengan senang hati. "Ayo, Tante!"
Pekan UTS tiba.
Satu minggu setelah Theo benar-benar bisa sekolah dengan normal lagi, hubungannya dengan Ayah Lili pun membaik. Yohan sedikit luluh karena kedatangan Laura tempo hari yang menjelaskan segalanya tentang Theo. Ceritanya membuat Ily menangis, merasa kasihan.
Yohan tak lagi melarang Lili, namun tetap saja mengingatkan agar Lili hati-hati.
Dengan terpaksa, Theo juga menceritakan semua yang ia alami bersama Tamrin, Laura dan Titi sehingga menyebabkan lehernya teriris pisau oleh Ayahnya sendiri pada Lili karena perempuan itu sungguh membuat Theo tak punya pilihan lain selain menuruti kemauannya.
__ADS_1
Waktu Theo bercerita itu, Lili menangis deras sekali.
Lili berpikir dirinya adalah teman yang sangat jahat. Yang bahkan tak tahu Theo sedang kesulitan menghadapi Tamrin sendirian di waktu sebelumnya hingga sampai membuat dirinya sendiri terluka. Lili bahkan tidak mencoba untuk datang ke rumahnya atau berjuang sedikit lebih keras.
Theo melihatnya aneh, namun itu berarti Lili peduli padanya. Theo senang karena itu. Hari-hari Theo seperti seringan dandelion.
Theo dan Titi tinggal bersama Laura. Menjalin kembali keluarga yang sebelumnya retak dan hancur hingga tak bersisa. Perlahan-lahan, mereka kembali membangun cinta dalam rumah dan membuatnya senyaman surga bersama orang-orang yang dicinta.
Menghadapi UTS, Theo tak mau menyia-nyiakan waktu. Dia terus belajar dan akan membuktikan pada Laura bahwa dia memang membanggakan.
Titi pun mulai masuk TK dan kegiatan shooting Laura sedikit dikurangi. Theo sempat khawatir dengan Laura, namun Laura mengatakan ia lebih suka mengurus anak-anak dibandingkan dengan beradu peran di layar kaca.
Semuanya tampak sangat damai.
Theo juga sudah benar-benar berdamai dengan Leo dan kini berani menyambangi kuburannya dengan hati yang telah lapang. Theo benar-benar merelakan kepergian Leo dan mendoakannya di sini untuk selalu damai.
Sementara Ayahnya, Tamrin, masih berada dalam kurungan jeruji besi. Jelas, memang harusnya begitu. Theo pun tak mau buang-buang waktu untuk memikirkan.
Theo melepas segala masalahnya, Theo berdamai dengan semuanya dan kini ia dengan bebas hidup di jalannya.
Theo akan mengejar cita-citanya, Theo akan membahagiakan orang yang dicintainya dan Theo akan membanggakan orang yang mencintainya.
__ADS_1
Berkat semua yang telah berlalu, Theo yakin setiap orang pasti mengalami fase bahagia dalam hidupnya. Meski berbeda-beda cara dan waktu merasakannya. Entah itu hidup bahagia duluan lalu terkena kesedihan, atau kesedihan mendalam dahulu, lalu kebahagiaan seperti yang Theo alami.
Semua orang bisa bahagia, pada waktunya.