Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 101


__ADS_3

"Susah banget pelajaran Pak Toto," keluh Lili waktu dua berjalan bersisian dengan Theo. Ada Gema di sebelahnya juga. Mereka tengah melakukan perjalanan pulang. "Lo ngerasa gitu juga nggak?"


"Gue pikir semua pelajaran di SMA itu susah." Theo membalas jujur. "Tapi gue udah belajar semaleman dan gue rasa nggak sulit buat mengerjakannya barusan."


"Waw." Lili tercengang.


"Kenapa?"


"Lo kayak berubah menjadi orang lain, Theo."


"Bebas lo mau ngomong apa tentang gue." Theo menukas swag. "Ini hidup gue. Gue nggak akan membiarkan siapapun menghalangi."


"Ish, lo bikin gue seolah-olah jahat banget."


"Kalau kenyataannya emang gitu, kenapa nggak mencoba menerima aja dan berubah?"


"Aduh, Yo." Lili menepuk keningnya dengan frustasi. "Kok bahasannya jadi serius amat. Gue cuma mau curhat Matematika barusan itu susah buat gue. Udah, gitu doang."


"Gue nggak bakal ngomong lagi kalau gitu."


"Dih, ngambek lo ya?" Lili menyenggol kecil lengan Theo.


"Nggak." Theo segera berbelok untuk menyalakan motornya.


"Iya-in aja deh biar cepet." Lili menukas menyerah.


"Mau bareng nggak?" Sebelum Lili melanjutkan langkahnya, Theo buru-buru menyuarakan pertanyaan ajakan padanya.


Lili tersenyum tipis. "Tumben ngajakin."

__ADS_1


"Nggak apa-apa kalau Lo nggak mau."


"Gue mau!" seru Lili kelewat buru-buru. Kemudian menoleh pada Gema dan Gema yang mengerti itu segera mengangguk. Kemudian, Gema melanjutkan langkahnya untuk pulang lewat jalannya.


"Nih." Theo menyodorkan helm-nya seperti biasa.


"Theo," kata Lili setelah menerima helm itu.


"Hm?"


Lili menatap Theo hati-hati. "Gue mau tanya, tapi lo nggak boleh batuk-batuk."


"Apa?" Theo agak malas, namun tetap menyahuti.


"Lo beneran suka sama gue?"


"Nggak." Theo membalas cepat. Wajahnya datar. Kelihatannya sungguh-sungguh dan jujur. "Emang kenapa?"


"Oh."


Sebenarnya, ada petir dan hujan deras yang melanda dada Theo saat ini, namun dia menahannya.


***


Pagi-pagi sekali, Ily kedatangan tamu. Yohan sudah bekerja dan Lili sedang sekolah, Ily bertanya-tanya siapa yang bertamu padahal Ily sendiri tak mengundang siapapun.


"Oh?" Waktu membuat pintu rumah dan mendapati Laura, kening Ily mengernyit samar. "Ibunya Theo?"


"Iya." Laura tersenyum lebar, kemudian menyerahkan sebuah kotak pada Ily. "Saya mau ngasih ini."

__ADS_1


"Wah, kenapa? Repot-repot aja." Ily tetap menerimanya dengan senyum tak enak.


"Katanya selama saya nggak ada, Titi selalu dititip ke sini, ya?"


"Oh. Iya." Ily mengangguk. "Padahal nggak apa-apa. Saya cuma bantu yang membutuhkan aja."


"Tetap aja." Laura membalas lembut. "Saya berhutang budi."


"Baiklah kalau seperti itu. Mari masuk, duduk dulu."


***


"Woah ... demi apa?" Lili menepuk-nepuk paha Gema saat melihat sesuatu di ponselnya. "Gemaaaaaaa."


"Ck. Apaan, sih?"


"Ini ... ini film Kak Jae menang, gila! Juara dua!" seru Lili senang. Seraya menyodorkan ponselnya pada Gema, Lili menatap kagum seraya membayangkan Jae. "Keren banget, sih. Panutan banget. Udah ganteng, pinter, disiplin, jago bikin film lagi. Makin cinta gue, Gem."


"Ya, bagus kalau gitu." Gema bereaksi biasa saja. Membuat Lili menatapnya tak suka.


"Ye, seneng dikit napa itu muka."


"Yeay!" Gema merubah ekspresi mukanya. Terpaksa senang.


"Dasar wanita penuh kepalsuan! Nggak tulus sama sekali tuh muka lo."


Gema hanya mencibir Lili tanpa suara, kemudian karena tiba-tiba ada Fahmi masuk ke kelas dengan wajah serius, perhatian dua perempuan itu teralihkan.


"Guys." Fahmi berdeham. "Gue udah bagiin hasil UTS, ya, di grup. Silahkan dicek."

__ADS_1


Semua orang yang ada di kelas jelas segera membuka ponselnya. Mengecek nilai. Gema dan Lili melakukan hal yang sama. Keduanya telah melihat punya masing-masing dan tak ada nilai yang berbeda secara signifikan.


Namun, ada satu orang yang menarik perhatian Lili.


__ADS_2