Dari Korea

Dari Korea
LSF - 2


__ADS_3

Pagi ini Luhan baru bangun sekitar jam tujuh, tepat ketika gerbang sekolahnya ditutup dan tak ada akses lagi bagi siapapun untuk masuk. Sekolahnya punya sebuab aturan. Saat gerbang ditutup, maka tak ada satu pun siswa yang bisa masuk lagi.


Alias kalau telat dikit, maka bolos lah jangan keluarnya. Lebih-lebih menyeramkan dan kejam, bukan?


Iya, memang begitu kenyataannya. Namun, sepertinya hal itu tidak berlaku bagi Luhan. Karena laki-laki yang masih berumur enam belas tahun itu justru dengan santainya merapikan tempat tidur setelah bangun.


Ayah dan Ibunya memang sangat disiplin dan suka kebersihan. Karena itu, sifat suka bersih-bersih juga menempel pada diri Luhan.


Setelah merapikan tempat tidurnya, Luhan tak lupa menyedot debu-debu di seluruh lapisan kamarnya dengan alatnya. Sambil menyalakan musik dengan volume kecil, Luhan melakukan sesi bersih-bersih di kamarnya.


Ya, dari pada telat dikit, mending bablas sekalian. Begitulah rencana Luhan hari ini.


Setelah selesai membuat debu-debu hilang dari kamarnya dan merapikan semua yang acak-acakan, baru lah Luhan mandi. Tak tanggung-tanggung, Luhan menghabiskannya dua puluh menit untuknya mandi.


Belum lagi laki-laki itu maskeran dulu. Bukan hanya cewek yang mau kulitnya singset dan lembut, Luhan juga mau. Luhan juga mencukur kumisnya yang sebenarnya masih terlalu pendek untuk dipendekkan lagi. Tak sampai di sana, Luhan juga menyetrika baju seragamnya dahulu sebelum dipakai.


Jika kalian belum tahu, Luhan adalah laki-laki mandiri yang bisa diandalkan. Bukannya sombong, tapi itu kenyataannya.


Prosesi itu dilakukannya sedemikian rupa hingga melahirkan seorang siswa yang ganteng dan berkilau saat Luhan bercermin. Luhan menyisir rambut-rambut dengan tangan, berpose bak model gel rambut saat ia menyelipkan sedikit Pomade pada jari-jarinya yang menyisir rambut itu.


Luhan mengerucutkan bibirnya, kemudian berlagak seperti tengah mencium seseorang. "Mwah!"


"Gila, Ganteng banget gue," pujinya pada diri sendiri. Dengan amat bangga dan ringan hati.


Luhan di sini sendirian, jelas dia tak malu-malu dan tak tanggung-tanggung untuk mencoba berbagai pose model yang pernah dilihatnya di majalah-majalah.


"LUHAN! SEKOLAH, HEI! LUHAN!"


Teriakan dari Sang Ibu membuat Luhan menghentikan aksi model-modelan alakadarnya itu dan segera keluar dari kamarnya setelah mengambil tas dan sepatunya.


Ketika hendak melewati dapur untuk langsung pergi ke luar, berangkat sekolah, Ily—nama Ibunya—menghentikan langkah Luhan untuk bergerak lebih jauh dengan mengeluarkan suara tegasnya.


"Sarapan dulu."


Luhan membuang napas. Mau buru-buru pun, dia tetap telat ke sekolah. Omong-omong, baik ibu atau ayahnya tak tahu kalau setiap kali Luhan telat, dia tak bisa begitu saja masuk sekolah. Alias mau tak mau akan bolos.


Ayah dan ibunya justru menganggap kalau Luhan telat, anaknya yang satu itu akan dihukum ringan seperti biasanya.


Padahal kenyataannya tidak. Dan bukan sekali ini Luhan telat.


Sebenarnya Luhan tak begitu suka sarapan, namun dia harus menghargai Ily yang telah bekerja keras untuk menyiapkan sarapan untuknya.


Luhan akhirnya tersenyum, kemudian menoleh pada Ily. Laki-laki itu kemudian berjalan ke arah meja makan dan duduk di kursinya.

__ADS_1


Sudah ada satu porsi nasi goreng lengkap dengan dua bulatan kuning telur di depan Luhan saat ia telah duduk. Luhan tak begitu suka putih telur dan semua keluarganya mengetahui itu sehingga menjadi pengertian.


Setelah berdoa, Luhan melahap apa yang ada di depannya itu.


"Santai banget." Ily berkomentar begitu melihat gerakan Luhan yang tampaknya sangat-sangat santai. Ily memutar kepala untuk melihat jam dinding di belakangnya. "Udah tau ini jam berapa?"


"Tau." Luhan mengangguk santai. Setelah ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, ia menjawab, "Jam delapan lebih empat lima."


Ily mengerutkan keningnya samar. "Nggak niat bolos, kan? Soalnya ini hari pertama sekolah kamu di kelas sebelas, kan?"


"Nggak, dong." Luhan menjawab cepat dan kelewat sewot. Luhan berdecak kecil. "Ibu suudzon banget. Kayak mantan aku."


Tangan Ily sontak memukul kecil kepala Luhan. Dia tak suka kalau Luhan bercanda di saat-saat seperti ini.


"Aw!" seru Luhan, tak terima kepala yang berisi otak encernya ini dipukul.


"Cepetan makannya! Nanti makin telat, lagi!" seru Ily dengan mata melotot yang sudah emosi. "Dibangunin kok nggak bangun-bangun! Udah tau Ibu sibuk buat terus bangunin kamu."


"Iya, iya." Luhan dengan malasnya menukas mengiyakan dengan napas kecil yang dibuang setelahnya.


Sebenarnya, Luhan agak malas untuk sekolah hari ini.


***


Luhan tiba di sekolahnya. Yang ia lihat adalah sekolah dengan gerbang tertutup rapat dan matahari yang mulai menyengat dan membuat Luhan gerah hingga rasanya ingin berteriak emosi.


Waktu Luhan berpikir bagaimana cara untuk mengatasi masalahnya ini, ponsel yang selalu berada di saku kanan celananya bergetar. Tanpa perlu waktu lama, Luhan membukanya dan menemukan beberapa pesan dari beberapa orang di dalamnya.


Yang paling pertama Luhan buka, tentu saja milik Clara, pacarnya.


Pacarku: sayang, kamu nggak sekolah? Kok nggak kelihatan di barisan upacara?


Luhan menipiskan bibirnya. Dia berjalan ke dekat pohon untuk mendapatkan keteduhan dan mulai membalas pesan dari Clara itu.


Luhan: Aku telat dikit, kok. Kamu jangan khawatir. Pulang sekolah kita pulang bareng


Pacarku: maksud kamu? Kamu nggak akan sekolah?


Luhan: Ya, mana bisa aku masuk kalau sekarang


Pacarku: Aku bantuin. Mau nggak?


Kening Luhan mengerut dalam saat membaca balasan pesan dari Clara yang satu itu.

__ADS_1


Luhan: Bantuin gimana?


Pacarku: hm ... gimana, ya? ... itu ... emangnya kamu nggak ada tau jalan rahasia?


Luhan: Mana ada begituan, semua tembok sekolah kan ada pecahan kacanya, beb. Aku kan bukan Limbad yang bisa berjalan di atas pecahan kaca, yang :(


Pacarku: ha ha ha ha ... Oh iya


"Aduh, untung pacar." Luhan meringis kesal dengan nada yang mencoba disabar-sabarkan. Kadang Clara itu agak gimana gitu otaknya. Tapi, terlepas dari itu, Clara ada perempuan yang Luhan sayang dan kini berstatus sebagai pacarnya.


Luhan: Yaudah, nanti kita pulang bareng aja


Luhan mengirim itu pada Clara sebagai balasannya.


Pacarku: oke! Nanti aku tunggu di depan gerbang ya


Percakapan Luhan dan Clara berakhir di sana. Waktu Luhan memutuskan untuk menjauh dari sekolah, dia ingat bahwa dia masih punya teman-teman. Maka dari itu, Luhan berbalik lagi dan berteduh di bawah pohon untuk setelahnya menghubungi salah satu temannya.


Panggilan darinya diangkat secepat kilat.


"Beb." Luhan langsung menyapanya dengan manis.


"Anjuir lo. Najis." Yang menerima telepon itu laki-laki. Langit namanya. Jelas, laki-laki itu membalas jijik saat Luhan memanggilnya dengan sebutan sedemikian rupa. "Nggak niat belok, kan?"


"Nggak lah, ege." Luhan berdecak geli. Dunia akan kiamat kalau Luhan memilih untuk menabrak garis takdirnya. "Gini, Bro. Gue pengen sekolah, tapi nggak bisa."


"Bakso lah." Dari teman-temannya yang lain, Langit memang paling gampang soal sogok-menyogok untuk melakukan sesuatu yang ilegal. Soalnya kesukaannya itu atau imbalannya itu remeh banget.


"Oke-oke." Luhan membalas enteng. Ya, satu mangkok bakso nggak akan membuat Luhan mengalami kemiskinan.


"Ditunggu ya, Beb. Otw, nih."


Kemudian, sambungan teleponnya terputus. Luhan berdecak geli saat menatap ponselnya yang kini telah sepi kembali seperti sedia kala.


"Dasar temen mata duitan." Luhan mengata-ngatai dengan perasaan agak kesal dan menyesal telah punya teman seperti Langit. "Nggak ada apa temen yang bantuin temennya tanpa pamrih?"


Belum genap sepuluh menit Luhan menunggu, dia mendengar suara gerbang dibuka dan tak lama kemudian muncul seraut wajah. Siapa lagi kalau bukan milik Langit.


"Masuk, bro. Pak satpam dah aman." Langit memberi arahan dengan suara yang sengaja dikecilkan. Jelas lah, Bro, sekarang Langit sedang melakukan perbuatan ilegal.


"Oke, sip." Senyum Luhan langsung mengembang lebar. Dia melangkah ringan dan akhirnya masuk ke sekolah. Setelah sampai di area sekolah, Luhan menatap Langit dengan penuh arti. "Makasih, sayang."


Langit bergedik ngeri. Dia mengunci kembali gerbang dan meletakkan kuncinya di dalam pos satpam.

__ADS_1


Sejurus kemudian, keduanya berjalan lagi. Awalnya damai-damai saja, sampai mereka melihat seseorang tengah berjalan ke arah mereka. Luhan dan Langit sama-sama frustasi. Kalau mereka kabur, akan mencurigakan. Kalau mereka diam, maka mereka akan dicurigai dan akhirnya ketahuan.


******, deh.


__ADS_2