Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 62


__ADS_3

Elvan dan Eza kompak ke rumah Ily tiga hari berikutnya setelah malam di mana Raihan memberitahu tentang pernikahannya dua minggu lagi. Elvan dan Eza sudah Ily beritahu juga tentang bagaimana Raihan datang untuk melamarnya hingga Ily menolaknya. Mereka berdua tentu sangat terkejut saat Raihan tahu-tahu sudah punya calon yang lain.


"Aduh, emang, ya, cowok itu gampang banget pindah hatinya," kata Eza tanpa berpikir panjang waktu mengambil kentang goreng yang disediakan oleh Ily dan mengunyahnya dengan santai.


"Kayak lo, toil," balas Elvan pedas.


Eza tertawa, tak bisa membalas karena perkataan Elvan itu memang benar adanya.


"Tapi ... cepet banget, deh. Padahal baru berapa hari ya Raihan kamar gue, em ... satu, dua, tiga, empat, sama sekali lima! Waduh, cepet banget gila!" seru Ily berapi-api. Ikut mengambil kentang goreng di depannya dan mengunyahnya cepat-cepat.


"Namanya hati, nggak ada yang tau," balas Elvan terdengar bijak. "Eh, btw, gue udah bener-bener lepas dari Juna dan *****-bengek-nya."


"Woah, serius?" Ily bertanya dengan penuh binar bahagia.


Elvan mengangguk.


"Baguslah, kita bertiga harus sering-sering jalan, nih! Memecahkan celengan rindu! Asek!" seru Eza kegirangan.


Tawa Elvan mengudara kemudian. "Lo masih manggung, Za?"


"Iya, tapi bulan depan dimulai lagi. Sekarang-sekarang gue free."


"Mau ikut dong," rengek Elvan tiba-tiba.


"Ayo," balas Eza cepat. "Rame deh kalau ... oh, gimana kalau Ily ikut juga?"

__ADS_1


Ily langsung memasang wajah super terkejut. "Heeeee?! Kok gue?! Nggak, ah! Malu! Apalagi panggung lo panggung gede, kan? Bukan kafe atau panggung samen SD."


Eza berdecak beruntun tanda tak suka atas perkataan Ily. "Ya masa panggung SD. Ly, lo harus sadar bahwa Eza yang jadi temen lo ini, yang duduk di hadapan lo sekarang bukan pengamen kafe lagi. Dia udah ada album dan bakal go internasional!"


"Shombong amat," tukas Elvan dengan wajah sinis.


"Ly!" Eza tak mengindahkan perkataan Elvan dan fokus pada Ily. "Mau, ya? Suara lo bagus juga, kok."


"Nggak mau."


"Lyyyyyyyyyyy."


"Nggak, Eza." Ily melotot penuh penekanan.


Eza cemberut. "Nggak seru banget lo, Ly."


"Nggak apa-apa, wle," balas Ily seraya menjulurkan lidahnya dengan wajah mengejek.


"Jadi, kita mau ke mana dulu?"  tanya Eza kemudian, setelah melupakan rasa bete dia pada Ily tak menolak ajakannya untuk manggung. Padahal, bakal seru banget kalau Eza bawa teman-teman yang berarti baginya di konser nanti.


"Ke mana apaan?" balas Ily bingung.


Elvan tertawa karena Ily jadi lemah dalam berpikir begini. Begitupula dengan Eza, laki-laki itu memasang wajah yang tak jauh beda dari Elvan.


"Kita kan mau jalan-jalan, Ly," balas Eza seraya menahan diri untuk tak menoyor kening Ily. "Gimana sih, kok jadi pikunan?"

__ADS_1


"Oh, jalan-jalan," paham Ily akhirnya dengan senyum lebarnya yang jadi tampak bodoh. "Gimana kalau kita ke Korea aja?"


"Hah? Korea?!" Elvan dan Eza serempak bertanya seolah Ily barusan mengatakan bahwa ia ingin pergi melihat gajah terbang.


"Ngapain ke Korea, Ly? Di sini banyak banget tempat bagus," kata Eza dengan wajah tak paham.


"Kayak punya banyak uang aja," tambah Elvan meremehkan.


Ily cemberut. "Ih, kalian jahat banget. Gue kan mau ketemu Yohan di Korea---oops."


Elvan dan Eza mengerjap tak percaya dan hening yang canggung langsung melingkupi sehingga Ily buru-buru memutar otak untuk memberi penjelasan lebih lanjut.


"Eeeeehhh, maksud gue, gue pengen cobain ke negeri orang gitu. Kayaknya seru, banyak banget orang-orang yang ke Korea juga sekarang. Makanan-makanan di sana juga kayaknya selera gue gitu, jadi--"


"Ly," potong Eza dengan wajah serius, jelas-jelas menahan kesal dan marah sekarang. "Gue maunya jalan-jalan bertiga lho, memecah celengan rindu."


"Bukan mau ketemu itu anak dari Korea. Kita seneng-seneng bertiga aja. Nggak ada orang lain."


Jika sudah begini, Ily angkat tangan. Dia hanya bisa tersenyum canggung karena sudah salah berkata-kata.


"Oke. Kita pergi seneng-seneng bertiga. Kalian mau ke mana dulu?" Ily menaikkan alisnya, kemudian melipat kedua tangannya di depan dada seraya menyenderkan badannya ke sofa. "Ke mana aja gue ikut asal ditraktir."


"IYA, LY, IYA."


Elvan dan Eza sudah tak habis pikir lagi mengapa Ily belum berubah tentang kebiasaannya yang fanatik dengan kata ditraktir.

__ADS_1


__ADS_2