Dari Korea

Dari Korea
26


__ADS_3

Elvan menendang botol bekas air mineral yang ada di depannya dengan kesal. Sore ini turun hujan dan ia malas keluar. Jadi ia hanya bermain di kamarnya dan keluar ketika lapar.


Sampai ketika ia baru membuka kulkas untuk menggambil sosis, Ayahnya pulang. Mengetuk pintu dan masuk. Elvan tak begitu antusias menyambutnya, hanya mengangguk dan tersenyum untuk setelahnya berniat pergi lagi ke kamar.


"Kamu tidak belajar?"


Pertanyaan Ayah membuat Elvan menghela napas kecil. "Elvan belajar di sekolah, Yah."


"Belajar lagi sana. Ayah akan antarkan contoh soal try out untukmu setelah ganti baju. Kita kerjakan dan raih nilai tertinggi tahun ini," kata Ayah tegas.


Elvan tersenyum tipis, merindukan Ibunya di saat-saat seperti ini. Dan yang bisa ia lakukan hanyalah berdoa, berharap Ibunya segera datang dan memeluknya.


Seraya mengangguk pada Ayahnya, Elvan mengupas kemasan sosis siap santap kesukaannya itu dengan lesu. Kemudian beranjak pergi ke kamarnya.


Dengan lelah, ia berbaring di atas ranjangnya dan menatap langit-langit kamarnya yang polos. Seperti hatinya.


Ibunya ... kenapa bisa tertidur begitu lama?


Yohan tak menyukai tidur sore, namun ia berharap bisa tidur sekarang juga.


Namun, ketika laki-laki itu hendak menelusuri alam mimpi, ponselnya berdering keras dan mau tak mau Elvan harus bangkit untuk melihatnya. Matanya melotot ketika mendapati Ily meneleponnya.


Elvan tak pernah merasa secemas ini, namun ia sampai menggigit kuku jarinya saat menempelkan ponselnya ke telinga.


"Ya, halo?" sapa Elvan berusaha terdengar biasa saja.


"Ye, si kampret." Ily langsung menyambutnya dengan nada kesal. "Sini lo bangkai. Mau gue cabik-cabik karena bikin Yohan sengsara."


Elvan meringis. "Sekarang nggak bisa. Besok aja deh, ya. Mumpung libur. Gue sambil traktir samyang."


"Waah, boleh juga." Suara Ily langsung terdengar ceria. "Gue tunggu, ya."


Panggilan telepon diputus begitu saja. Membuat Elvan menghela napas lega, namun ia baru sadar dan ingin percakapannya dengan Ily berlanjut sampai malam.


Sebab setelah ini, Elvan harus berhadapan dengan Ayahnya yang super kaku dan tegas itu.


Elvan bergidik ngeri, langsung membuka ponselnya lagi untuk menelepon Ily andai saja pintu kamarnya tak lebih dulu terbuka dan menampilkan wajah sang ayah yang menuntut anaknya untuk segera keluar kamar.


"Ayo ke ruang tengah."


Untuk pertama kalinya, Elvan ingin lenyap saja dari muka bumi.


***


"Lo kok bego, sih?" Eza mendengus tak suka, menatap Ily dengan sinis setengah tak percaya. "Masa sama samyang aja luluh?"


Ily mengangkat kedua bahunya acuh. "Samyang enak."


"Enak pala lo," sarkas Eza sambil menjitak kepala Ily sebal. "Ini temen lo gimana?" tanyanya lebih kesal sambil menunjuk Yohan yang duduk di sebelahnya.


Eza sendiri tak menyangka Yohan bisa berada di sini sebelum dirinya. Alhasil, Yohan sudah tahu perbuatan Elvan dan terlihat dari matanya, laki-laki kesal setengah mati namun ia menahannya di depan Ily. Eza berdecak melihat bagaimana Ily menatap Yohan dengan lembut, berbeda ketika melihat dirinya maupun Elvan yang sudah dekat dengannya dari kecil.


Harga diri Eza terluka karena dirinya terkalahkan oleh seseorang yang baru hadir dua bulan setengah dalam kehidupan Ily.


"Yohan, kamu marah pada Elvan?" tanya Ily sambil menaikkan kedua alisnya.


Yohan mengangguk kecil sambil menatap Ily dengan tatapan tak enak. Bagaimana pun, Elvan adalah sepupu Ily dan Yohan tak mau Ily bersedih.


"Bagus," balas Ily enteng. Membuat Yohan sekaligus Eza melotot dengan wajah terkejut.


"Kok gitu, Ly? Elvan kan sepupu lo, njir, dibelain dong," kata Eza tak setuju. "Dia lakuin ini demi kebaikan lo, Ly. Lo jangan marah juga, dong. Itu anak emang bego, tapi niatan dia bagus, Ly."


Ily tersenyum miring. "Liat aja besok."


"Besok aku ke rumahmu lagi, boleh?" tanya Yohan tiba-tiba bersemangat.


Ily tertawa atas pertanyaan itu. "Boleh, Yohan. Ayah dan Ibuku besok ada, kita bisa bersenang-senang. Ajak Ibumu juga kalau bisa, hehe."


"Baiklah," balas Yohan sambil mengangguk.

__ADS_1


"Eh, gue diajak kan?" tanya Eza memastikan dengan wajah khawatir. Takut-takut Ily mencoretnya sebagai teman karena Ily seperti telah nyaman bersama Yohan.


Ily tampak berpikir sebentar, membuat Eza mau tak mau menegak ludahnya dengan was-was. Lalu Ily mengangguk, langsung membuat Eza lega dan tersenyum bebas.


"Tenaga buat cuci piring kan belum ada."


"Yah, Ly, lo jahat banget. Gue ngambek, ah."


"Bodo."


***


Selesai menggosok giginya, Ily merebahkan diri pada ranjang sambil memejamkan mata. Banyak sekali yang masuk dalam pikirannya hari ini, informasi-informasi tak terduga yang baru ia ketahui dan sesuatu yang tak bisa Ily percayai sampai sekarang.


Mengapa Elvan bertindak sejauh ini untuk menjauhkannya dengan Yohan. Ily masih tak mengerti. Elvan sama saja dengan mengancam masa depan Yohan.


Ily tidak menyukainya. Bisa saja Yohan berniat untuk berubah menjadi lebih baik dan sedang berusaha, lalu Elvan begitu saja menghancurkannya.


Kini Yohan tak bisa punya teman yang lain dan ada pandangan buruk menghantuinya setiap hari. Pasti. Ily pernah merasakannya. Bahkan masih terasa sampai sekarang.


Masih ada yang mengira Ily yang menyebabkan Vini dan Villy bunuh diri. Meski sudah banyak penjelasan bahwa Ily tak bersalah, masih ada yang menyeletuk saat dirinya berjalan, masih ada yang menatap sinis saat dirinya tertawa bahagia dan masih ada yang melempar sampah di depannya secara terang-terangan.


Namun, seperti lagu In My Blood milik Shawn Mendes, kata menyerah tak ada dalam dirinya. Ily telah jatuh cinta pada Shawn Mendes, ia juga memantau perjalanan hidupnya yang membuat Ily mengikutinya.


Bahwa setiap ada ketakutan, kecemasan dan kesedihan, jalan untuk menyerah tak boleh ditempuh. Setiap orang pernah merasakannya, hanya perlu merenung, menangis ataupun meratapi diri sendirian hari ini, lalu bangkit esok harinya.


Ily telah mempraktekkannya dan itu berhasil. Tak ada waktu untuk menyerah, jika ingin bahagia kita harus melangkah, meraihnya dan berusaha sendiri.


Tak ada yang gratis.


Ketika sesibuk memikirkan Shawn Mendes dan ketampanannya yang membuat Ily lupa diri, ponselnya berdering dan menampilkan nama Yohan yang mengirimnya sebuah pesan.


Senyum Ily sedikit tertarik. Itu bukan pesan bisa, tapi pesan yang membuat Ily ingin segera melemparkan ponselnya sekuat tenaga.


Malam, Ily. Maaf jika aku mengganggu.


Aku ingin curhat.


Akan kutraktir kamu sepuasnya.


Ily.


Ily menggigit bibirnya. Tak kuasa untuk menahan jeritan senangnya. Tangannya mengepal, menahan rasa gemas pada sikap Yohan. Lama Ily seperti itu dan tersiksa, dia kembali normal ketika ponselnya lagi-lagi berdering oleh panggilan dari Eza.


Ily langsung mengangkatnya.


"Katanya pulsa lo abis."


"Udah gue isi ulang, lah. Sultan mah bebas," balas Eza sombong.


Ily berdecak meremehkan. "Mau apa lo?"


"Kata Elvan maaf," jawab Eza dengan nada serius. "Lo pasti tau kenapa alasan perbuatan dia. Elvan emang kayak gitu. Dia nggak mau lo kayak dulu lagi. Dia nggak mau lo sedih dan sendirian lagi. Sekali lagi gue tekenin, dia nggak mau gagal lagi sebagai sepupu lo. Begitupun dengan gue, Ly. Gue nggak mau lo salah berteman dengan orang dan akhirnya jadi buruk. Maaf kalau kita berdua bikin lo kesusahan, sedih atau marah. Kita begini semata-mata karena sayang sama lo, Ly."


Mendengar penuturan itu Ily tersenyum tipis. Air matanya menggenang begitu saja di matanya. Hampir menetes jika ia mengerjapkan matanya sekali saja.


"Emangnya gue nggak sayang apa sama kalian?" tanya Ily sambil tertawa hambar. "Gue juga kesel, gue juga marah, gue juga sedih karena kalian nyebelin dan suka ngurusin kehidupan gue sedangkan gue nggak pernah sekalipun ngerecokkin hidup kalian berdua. Tapi gue ngerti, Za. Gue ngerti. Dari awal gue udah ngerti, tapi tetep aja gue nggak suka kalian begini. Terlalu ikut campur. Bukannya bikin gue seneng, kalian bikin gue tersiksa karena nyakitin orang lain untuk melindungi gue."


Ily mulai terisak. Ia menangis tanpa suara dan membuat Eza di seberang sana terdiam seribu bahasa.


"Gue nggak suka bahagia di atas penderitaan orang lain. Gue lebih baik sedih di belakang kebahagiaan orang lain, Za. Serius."


"Lo ... jangan begini. Lo bikin gue sedih."


Tangis Ily semakin menjadi. Namun ia berusaha kuat untuk tak membuat suara, menutup mulutnya dan mengeluarkan air mata sebanyak-banyaknya.


"Sebenarnya gue agak lega, Ly." Eza berdeham untuk membenarkan suaranya, mungkin laki-laki itu juga sedang menangis. "Lo ketemu Yohan. Dia nggak seperti yang gue duga. Mata dia beda setiap kali liat lo dan mata lo juga berbeda saat melihat dia. Kalian kayak punya perasaan masing-masing dan itu bikin gue iri, tapi gue setuju aja. Yohan baik, gue udah pernah ngomong sama dia dan bakal serius sama lo, Ly."


Senyum Ily tak tertahankan, mengerjapkan matanya supaya air matanya mengering. "Cowok yang gue suka cuma satu."

__ADS_1


"Apa? Yohan? Jadi, bener?" Eza tampak sangat-sangat terkejut. Seolah tak pernah menduga bahwa dugaannya benar.


"Shawn Mendes."


Eza berdecak kesal mendengar jawaban Ily yang seharusnya tak lagi membuatnya kaget. "Jadi, lo nggak suka sama Yohan?"


"Ngapain suka sama temen sendiri? Tipe gue itu barat, bukan Korea," jawab Ily enteng.


"Oh, syukurlah. Gue masih ada harapan kalau begitu," kata Eza sambil terkekeh geli. "Nanti gue cariin yang kinclong dan baik buat lo, Ly."


"Ditunggu, Za."


Eza tertawa. "Yaudah. Sampai ketemu besok. Elvan bakal dateng dan lo puas-puasin marahin dia. Gue udah ikhlas."


"Oke." Ily tertawa dengan wajah sehabis nangisnya itu. Sebenarnya Ily tertawa lagi dalam hati, menertawakan dirinya yang herannya bisa secepat itu berubah suasana hati. "Gue emang mau begitu."


"Kalau nangis bilang-bilang, jangan kayak dulu. Gue selalu terbuka buat lo, Ly." Eza berdeham kecil. "Malem, Ly. Dah."


Sambungan telepon terputus. Membuat Ily melongo mendapati dirinya dan Eza yang sudah tumbuh besar. Lihatlah, di meja belajarnya ada sebuah foto.


Di sana ada Ily, Elvan dan Eza yang saling berpelukan dengan baju tidur berwarna merah, kuning, hijau. Itu sebenarnya baju dengan model sama dan mereka saling berebut warna merah. Ily tak suka warna kuning karena menurutnya itu terlihat seperti kotoran manusia dan hijau lebih seperti kotoran sapi. Elvan tak suka warna lain selain merah, semua barangnya bahkan warna merah. Sementara Eza, dia tak suka kuning dan hijau karena menurutnya itu warna banci.


Alhasil, Ily menangis saja untuk mendapatkannya. Ibunya jelas membela, langsung memberikannya pada Ily.


Elvan dan Eza melakukan suit dan memakai warna yang tersisa. Elvan dengan kuning dan Eza dengan hijau.


"Cheese!" seru Ibu Ily saat menangkap foto ketika Ily ulang tahun itu.


Umurnya waktu itu baru sepuluh dan Elvan dan Eza mengirimkan kado masing-masing satu.


Bagi Ily, Elvan adalah definisi sepupu terabsurd di muka bumi ini.


Bagaimana tidak Ily berkata seperti itu, saat Elvan mengirim batu bata sebagai kado ulang tahunnya? Bukan hanya sekali, setiap Ily ulang tahun, Elvan mengirimkan satu kado berat yang isinya batu bata dengan secarik kertas yang selalu sama isinya.


Buat bikin rumah. Kalau udah jadi, jangan lupa undang Elvan:)


Selamat berkurang umur, Chilli


Ily hanya tertawa, bahkan saat ulang tahun ke-17 dan 18, Elvan mengirim batu bata sebagai kadonya lengkap dengan kertas berisi kata-kata menyebalkan itu. Namun, Ily menyimpan semua batu bata itu di halaman belakang.


Tak pernah ada lagi sepupu seperti Elvan di dunia ini, karena itu Ily tak akan pernah membuangnya.


Ily selalu menghargainya, meski banyak sekali kesal Ily yang ingin segera tumpah besok pada sepupunya itu.


Jika Elvan adalah definisi seperti itu, maka Eza beda lagi. Menurut Ily, Eza lebih seperti bunglon gesrek yang tak bisa ditebak apa isi pikiran gilanya itu.


Ketika orang-orang mengirimnya pesan 'semoga cepat sembuh' saat dirinya sakit, Eza justru menengok Ily dan mengajaknya ngobrol panjang. Tanpa Ily sadari, maksud Eza sebenarnya adalah untuk memakan buah persediaan Ibu Ily sembari mengajar Ily bicara.


Sungguh mengesalkan memang. Kemudian saat Eza mengirimkan kado, isinya selalu berbeda-beda, namun Ily tak pernah mengerti mengapa Eza sampai mengirimnya itu.


Ada boneka yang sengaja dirobek, ada botol minum yang pecah, ada batu-batu aneh, ada botol bekas soda dan yang paling aneh adalah tali sepatu yang hanya ada satu pasang.


Lagi-lagi, dengan bodohnya, Ily mengumpulkan kado-kado tak jelas itu di samping batu bata dari Elvan. Ily yakin ada sesuatu dan ia akan menghargainya, menjaganya dan menyimpannya sebaik mungkin.


Elvan dan Eza ada definisi teman terbaik selama hidupnya. Meski gengsi, Ily selalu mengingatkan diri bahwa dirinya menyayangi keduanya. Namun tak ia tunjukkan jelas-jelas.


Ily tahu Eza sering memainkan perempuan dan membuat mereka menangis sebab ia ingin lebih diperhatikan oleh seorang perempuan. Ayah dan Ibunya telah tiada, jelas Eza rindu pada sesuatu yang bernama kasih sayang. Ily tahu, namun ia diam dan menyayangi Eza dengan caranya sendiri.


Ily juga tahu Elvan sebenarnya adalah anak manja yang ingin selalu tidur di paha Ibunya sambil dielus-elus rambut. Ibu Elvan punya penyakit kronis yang membuatnya harus menginap di rumah sakit dan Ayah Elvan menginginkan Elvan fokus pada sekolahnya. Elvan sangat rindu pada Ibunya, namun tak pernah bisa disampaikan karena tiap kali Elvan bertemu Ibunya, perempuan itu menutup matanya dengan sengaja.


Jelas, karena tak mau melihat anaknya melihatnya yang lemah dan justru menangis hingga lupa tugasnya untuk belajar.


Pada akhirnya, Ily tak mau kehilangan mereka berdua.


Tak akan pernah mau.


Sebesar apapun rasa benci dirinya pada mereka atau salah satunya. Selalu ada jalan untuk memaafkan dan merekatkan kembali yang retak. Untuk itu sebuah lem ada.


Bagi Ily, samyang adalah lemnya kali ini.

__ADS_1


***


__ADS_2