
"Pilih, sama gue atau sama dia."
Ily merasa dirinya sedang syuting FTV ketika berhadapan dengan Elvan dan Yohan di depan gerbang rumahnya, masing-masing dengan motor. Dua-duanya keren. Elvan dengan gaya serampangan khasnya yang membuat siapapun berpikir dia anak seru dengan beragam aksi yang dapat membuat semua orang tertawa, Yohan dengan tampang datar dan cool khas anak berprestasi dengan seragam rapi.
Jika harus memilih, ini sangat berat bagi Ily.
"Please, ya, gue bukan Puteri. Gue nggak biasa dimanjain gini," keluh Ily bahagia. "Ngebet banget pengen nganterin gue."
"Jangan ge-er, lo," kata Elvan pedas. "Buruan naik, jangan banyak bacot. Panas kuping gue."
"Tidak, Ily. Jangan naik. Naik motor gue aja," tahan Yohan dengan suara berat dan gaya bahasa yang telah berubah total. Mungkin lelaki itu sudah mengerti situasi di mana dia harus terlihat gaul dan di mana dia harus berbahasa lembut.
Untuk itu, Ily tersenyum bangga. Sekali lagi merasa dirinya berhasil padahal kenyataannya yang dia lakukan hanya memberi kamus bahasa gaul untuk Yohan hafal terapkan, tidak pernah Ily praktikan untuk mengetes.
"Lo lagi, anjir," decak Elvan merasa panas, langsung melepaskan tangan Yohan yang menahan tangan Ily dengan keras. "Ngapain sih? Berasa deket banget sama Ily sampe pegang-pegang tanpa ijin gitu? Baru kenal berapa hari sih? Creepy banget."
"Dua minggu cukup untuk gue dan Ily bisa pegangan," balas Yohan datar seperti biasanya. "Harusnya kata creepy dilontarkan untuk menggambarkan sepupu kayak lo."
"Heh, enak aja! Gue selama ini emang begini! Gue selalu jagain Ily ke manapun, di manapun, sama siapapun! Nggak bisa orang sembarangan deketin Ily gitu aja!"
Ily tertawa untuk beberapa alasan. Pertama, sikap protektif Elvan yang menurutnya terlalu berlebihan. Kedua, ekspresi Yohan yang polos saat mendengar ocehan Elvan. Dan pada dirinya yang miris karena tak sanggup berkata-kata melihat dua laki-laki ini terus beradu argumen.
Otaknya segera mengingatkannya pada setiap aksi Elvan yang berusaha untuk melindunginya. Melindungi itu kata yang dimaksud Elvan saat Ily berpikir itu adalah kata yang dipakai untuk menjauhkan Ily dari semua orang.
Misalnya saat pertama kali masuk sekolah dasar, Elvan mengklaim kursi di sebelah Ily adalah miliknya selamanya. Tidak boleh ada yang duduk di sebelah Ily, sekalipun itu hanya untuk mengobrol atau bermain sebentar dengan Ily. Jelas Ily kesal, namun siapa yang bisa mengalahkan kerasnya kepala Elvan? Bahkan Ibunya sendiri, tidak bisa.
Elvan sudah terlalu keras kepala dan guru, Ibunya serta Ily dan teman-temannya akhirnya menyerah supaya masalah tak melebar. Yang menderita Ily, namun ia mencoba sabar saat semua orang menatapnya dengan tatapan memberi semangat tanpa berusaha membantu.
Memang, semenderita itu ketika iabersama Elvan.
Berlanjut saat kompleks sedang musim layangan. Ily yang waktu itu tertarik jelas saja langsung memberi yang berusaha untuk menerbangkannya, namun ketika sedang memasang tali layangannya, jari telunjuknya tergores oleh tali yang agak kasar. Elvan langsung bereaksi. Dia mengambil korek dari warung terdekat dan membakar layangan itu bersama tali-talinya yang telah dibeli Ily dengan uang tabungannya sendiri.
"Elvan, kok dibakar?"
"Tangan lo luka! Jangan main layangan lagi!"
"Ih, uang gue gimana, dong?"
"Gue ganti!"
Elvan bisa baik saat Ily meminta dengan memelas. Laki-laki itu memberi apapun yang Ily inginkan. Mulai dari boneka, pensil, penggaris, sampai rambut palsu milik Elsa Frozen yang Ily gila-gilai.
Saat itu ulang tahun Ily. Elvan memberinya rambut palsu pirang berkepang satu itu. Ily senang, langsung memakainya dan mereka difoto oleh orang tua masing-masing. Mereka bersahabat baik, meski kadang bertengkar, pada akhirnya akan baikan juga.
Elvan selalu menemani Ily, berada di sisinya. Mulai dari mengantarnya, berjalan di sisinya di setiap kesempatan dan menggodanya habis-habisan seolah itu adalah makanan sehari-harinya. Membuat orang-orang beranggapan mereka berpacaran, dan pada akhirnya membuat Ily dan Elvan tak punya banyak pengalaman pacaran.
Orang-orang jelas takut mengganggu hubungan keduanya. Apalagi laki-laki yang tertarik pada Ily.
__ADS_1
Pernah satu kali terjadi. Saat SMP, ada seseorang yang mengajak Ily berpacaran. Ily yang waktu itu masih sangat-sangat polos mengiyakan begitu saja. Mereka pacaran seperti anak seumurannya, gombal-gombalan, foto alay bersama sampai media sosial mereka dipenuhi kata-kata alay tentang cinta monyet.
Baru seminggu menjalani hubungan itu, Ily Dan pacar pertamanya itu dipaksa untuk putus oleh Elvan yang waktu itu baru pulang tanding Volly tingkat provinsi. Ily jelas takut, waktu itu Elvan teriak-teriak padanya dengan wajah memerah. Besoknya, mantan pacarnya itu babak belur dan tak mau menemui Ily lagi.
Kasus itu terdengar, tersebar hingga ketakutan untuk mendekati Ily sangat melekat bahkan pada perempuan yang kebetulan satu kelompok belajar dengannya.
Masalahnya Elvan seperti harimau yang menjaga dagingnya jika bersangkutan dengan Ily. Padahal Ily tahu, Elvan juga punya pacar dan banyak teman yang bahkan tak pernah sekalipun Ily ancam agar tak dekat-dekat dengan Elvan.
Namun sekalinya Ily dekat dengan seseorang, Elvan seolah berusaha untuk menjauhkan orang tersebut dari Ily. Alasannya seperti biasa, untuk melindungi karena orang tersebut Elvan nilai jahat.
"Gue bukan orang sembarangan," kata Yohan penuh penekanan.
"Ly, naik," tegas Elvan, tak mau memperpanjang perdebatan dengan Yohan.
"Ly," kata Yohan menahan. "Jangan."
"Aduh," keluh Ily lagi, akhirnya Bernai bersuara. "Gue naik ojol aja deh daripada kalian begini. Kenapa sih pada rebutin gue?"
"Karena lo sepupu gue!"
"Karena lo teman gue!"
Elvan dan Yohan berkata bersamaan, membuat Ily menatap mereka dengan mata terkejut. Kemudian tawa gadis itu pecah, merasa geli sendiri.
"Tuh, udah kompak, dah!" serunya masih tertawa. Kemudian mengangkat ponselnya dengan senyum mengembang lebar. "Ojol gue udah nyampe! Ayo, berangkat bareng-bareng!"
Ily melambai, jelas membuat Elvan dan Yohan segera memasang helm masing-masing untuk menyusul gadis itu. Dan jelas, diperlakukan seperti ini, sudah bagai mimpi saja bagi Ily.
Mimpi buruk.
Elvan dan Yohan terlihat tak bermain-main untuk saling bersaing. Boleh saja mereka bersaing untuk apapun itu selain dirinya. Namun, jika mereka memperebutkan Ily?
Faedahnya. Ily bertanya apa faedahnya. Ia tertawa atas pertanyaan konyol itu.
***
"OOPS, SORI," kata Elvan keras-keras, "SENGAJA."
Yohan tak masalah tentang kepalanya yang terhantam bola basket yang dilayangkan Elvan secara sengaja dari lapangan padanya yang sedang berjalan di koridor. Toh itu tak terasa terlalu sakit, Yohan hanya terkejut. Namun melihat wajah puas Elvan yang tertawa keras, membuat kakinya tanpa bisa ditahan mengarah pada cowok itu dan menatapnya dengan tajam.
Semenjak pagi memperebutkan Ily, Yohan merasa semakin kesal pada sikap Elvan.
Beruntung, sekarang sedang jam istirahat sehingga Yohan punya banyak waktu untuk segera menyelesaikan masalahnya bersama Elvan yang entah dimulai dari kapan. Mungkin semalam, mungkin juga dari awal Elvan sudah membencinya.
"Kenapa lo seperti ini pada gue?" tanya Yohan dengan sorot mata tajam.
Elvan berjalan, mendekat sampai jarak mereka hanya tinggal satu jengkal. Hanya ada mereka berdua di lapangan, sementara beberapa orang melihat mereka dari pinggir. Penasaran dengan apa yang terjadi. Terlebih Yohan adalah anak baru dari Korea yang mengundang rasa penasaran tinggi.
__ADS_1
Sesaat, penonton yang didominasi perempuan itu memadat membentuk lingkaran di sekitar lapangan.
"Jangan sok keren lo," kata Elvan dengan rahang mengeras, ia melempar bola basket digenggamnya hingga terpental jauh entah ke mana. "Lo orang luar di sini."
Yohan mengernyit. "Kalau gue orang luar, masalahnya apa?"
"Lo berbahaya buat Ily. Menjauhlah," peringat Elvan sambil mengepalkan tangannya di depan wajah Yohan. "Atau gue kasih ini buat lo."
Mata Yohan membulat, rahangnya mengeras sering pelipisnya yang bercucuran keringat sebab cuaca yang juga sangat panas. Yohan berusaha menahan gejolak emosinya, sampai matanya menatap ring basket di belakang tubuh Elvan.
"Gimana kalau kita main basket?" tanya Yohan begitu saja.
Elvan mengernyit, bingung dengan apa yang hendak dimaksudkan Yohan.
"Yang menang tetap dekat dengan Ily, tapi yang kalah," kata Yohan menawarkan kesepakatan yang membuat Elvan langsung menyeringai, "jauhi Ily satu bulan."
"Kenapa satu bulan? Bukannya, harusnya untuk selamanya?" Elvan tertawa bahagia, merasa besar kepala karena dirinya sendiri adalah mantan kapten Basket di sekolah ini.
Sudah jelas siapa pemenangnya. Yohan salah mencari lawan.
"Kalau lo kalah, lo rugi besar," balas Yohan santai.
Elvan berpikir lama. "Nggak seru kalau lo kalah dan harus menjauhi Ily selamanya. Itu sangat menyedihkan. Kalau begitu, oke, jauhin Ily satu bulan aja. Karena gue baik, gue kasih lo kesempatan."
Yohan tersenyum miring. "Bacot. Gue menawarkan kesepakatan ini karena takut lo kalah. Seorang sepupu tidak seharusnya menjauhi sepupunya."
Bacot adalah kata yang ia pelajari dari kamus buatan Ily untuk dikatakan pada seseorang yang banyak bicara omong kosong.
"Ya, terserah lo mau bilang apa," balas Elvan tak berniat memperpanjang perdebatan. "Kenapa nggak langsung kita mulai aja? Kita main sepuluh menit."
Sejak Yohan mengangguk, Elvan segera mengambil bola basket yang dilemparkan seorang siswa yang mungkin kebetulan menemukannya setelah ia lempar tadi. Elvan segera menguasai permainan, ia memain-mainkan tangannya, mengambil langkah-langkah penuh jebakan untuk menghindari dan mengecoh Yohan seperti yang biasa ia lakukan.
Mudah saja baginya untuk mencetak dua nilai pada menit pertama. Yohan terlihat tidak profesional dan asing terhadap basket, namun tubuh tinggi dan langkah lebar lelaki itu cukup sulit untuk Elvan atasi.
Jika saja Yohan berlatih setidaknya satu minggu, dia bisa sebanding dengan Elvan. Siswi-siswi yang melihat keduanya jelas saling bersorak, ada yang mendukung Elvan, ada juga yang mendukung Yohan. Mereka senang atas pertandingan dadakan yang jelas memuaskan mata mereka.
Ketika Elvan terkejut dengan sorakan tiba-tiba itu, Yohan langsung mengambil bola dan tak melewatkan satu detik pun untuk berlari dan meloncat untuk memasukkan bola ke dalam ring. Bola itu masuk tepat, membuat seringainya tercipta dan sorakan melengkapi siswi-siswi bergema.
Elvan mendengus, tak percaya Yohan bisa mendapatkan perhatian sebesar itu ketika mendengar dan melihat pendukungnya di pinggir lapangan sana. Namun dia tak memikirkan lebih, memilih untuk mengambil bola dan serius untuk bermain lagi.
Keduanya hampir memiliki tinggi yang sama, hanya mungkin Yohan lebih tinggi dari sentimeter dari Elvan. Perawakan keduanya jelas berbeda. Elvan yang hanya memiliki otot di lengan, lebih kurus dibandingkan Yohan yang terlihat berotot di bagian kaki dan bahunya.
Yohan lagi-lagi mengambil bolanya dan berhasil mencetak nilai hingga dua poin lebih unggul darinya. Elvan meludah, emosinya kian naik dan terpaksa menyikut dada Yohan hingga lelaki itu jatuh dengan siku yang bergesekan dengan tembok lapangan yang panas untuk merebut bola dan akhirnya berhasil mencetak nilai.
Sempat batuk-batuk dan meringis sebab sikunya kini berdarah, Yohan tak ingin kalah untuk ikut menyenggol bahu Elvan hingga cowok itu oleng, namun masih tetap berkesempatan untuk mencetak nilai lagi. Hingga pada akhirnya waktu habis dan nilai mereka sama.
Napas mereka saling memburu. Saling menatap tajam dan akhirnya Yohan yang pertama berbalik dengan dengusan dan ringisan. Elvan ikut berbalik, menyeka keringatnya dengan rahang mengeras, menahan emosi.
__ADS_1
***