Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 53


__ADS_3

"Habis manis, sepah dibuang."


Kening Theo mengerut pada perkataan Lili yang tiba-tiba membuatnya bingung.


Lili tertawa hambar. "Akhirnya gue paham apa maksud dari ucapan lo Itu. Gue cuma deketin lo waktu butuhnya dan waktu nggak butuh gue nggak peduli sama lo. Iya, kan?"


Theo menatap Lili lurus-lurus. Bahkan tanpa mengedip. Ada senyum tipis yang tercipta di sana, tak akan kelihatan jika Lili tak melangkah lebih dekat untuk melihatnya.


"Lo bilang gitu, tapi sekarang lo bilang jangan ikut campur lagi buat lo." Lili menggelengkan kepala seraya menatap Theo dengan pandangan bingung. "Mau lo apa sih, Yo?"


Lidah Theo benar-benar kelu. Theo saja merasa tak memahami dirinya sendiri. Belakangan ini banyak sekali tekanan yang membuat emosi Theo tak stabil.


"Gue mau ngambil Titi."


Lili memutar bola matanya jengah. "Gue tau itu. Tapi, itu bukan jawaban atas pertanyaan gue."


"Terus lo maunya apa?" tanya Theo lelah.


"Beli eskrim?" tanya Lili memberi saran dengan senyuman lebar.


Theo membuang napas panjang, tak percaya. "Serius? Kayaknya mau hujan."


"Terus kenapa?"


"Es krim nggak cocok kalau udara kerasa dingin."


"Kata siapa?"


"Oh, please."

__ADS_1


Theo tak diberi kesempatan untuk menolak lagi saat Lili menarik tangannya. Menjauh rumahnya sendiri dan membawanya ke sebuah mini market di jalanan. Mereka memberi es krim. Lili memaksa Theo untuk memilih satu dengan ancaman Theo tak akan bisa membawa Titi Jika tak menuruti keinginan Lili dan kini akhirnya keduanya duduk di sebuah kursi yang menghadap jalanan.


Benar kata Theo, langitnya tampak mendukung dan sepertinya akan hujan.


Meski begitu, Lili tetap senang seraya menyantap es krimnya. Theo sendiri memang turut memakannya, namun wajahnya datar.


"Nggak enak, ya?" tanya Lili dengan wajah takut-takut.


Theo berhenti sejenak. "Enak."


"Oh, baguslah." Lili tertawa lega. "Nah, sekarang, lo bisa pelan-pelan cerita kenapa lo bisa berantem sama Ten."


Theo menatap Lili dengan pandangan tak habis pikir. Theo membuang napas panjang, menyerah saja. "Dia mukul gue duluan, gue marah dan akhirnya gue bales."


Mata Lili mengerjapkan tak percaya.


"Kenapa?"


Theo tersenyum miring. "Gue penasaran rasanya pukulan lo."


"Theo! Please, fokus." Lili memohon. "Gue nggak suka liat lo kayak begini."


Kening Theo mengerut samar.


Lili berdecak, menarik napasnya sesaat untuk berkata, "Ya, gue nggak suka liat temen gue sedih. Tapi kali temen gue sedih, gue selalu aja dia makan eskrim, terus gue tanya dia ada masalah apa ... terus ...."


Lili rasanya mau gila saat harus melanjutkan. Berbeda dengan Theo yang mematung karena pikirannya terlalu meresapi perkataan Lili.


Teman, katanya.

__ADS_1


Tak suka melihatnya sedih, katanya.


"Gue bakal peluk dia seandainya perlu," lanjut Lili dengan wajah yang sudah penuh rona merah muda.


Theo tertawa.


Awalnya hanya satu kali, namun kemudian satu tawa itu berubah menjadi tawa panjang yang terdengar memilukan. Lili tak tahu mengapa, namun dia bangkit dari duduknya, kemudian melangkahkan kakinya perlahan namun pasti menjujung Theo.


Theo masih tertawa, namun tawanya berubah menjadi sebuah ringisan tangis pelan. Air matanya tiba-tiba luruh dan membuat Lili tanpa berpikir panjang langsung membawanya dalam sebuah pelukan.


Bahwa Theo akan baik-baik saja karena ada Lili di sampingnya.


Theo tak pernah dipeluk oleh perempuan lain selain ibunya. Theo tak pernah merasakan kembali hangatnya sebuah pelukan setelah kedua orang tuanya berpisah. Dan Theo tak pernah menyangka bahwa kebalikan dua kalimat sebelumnya dikarenakan Lili.


Perempuan yang dulu hanya seseorang yang duduk di meja sebelahnya, tukang halu dan banyak bicara tentang dunia kepenulisan.


Lili dan dirinya terlalu berkebalikan, karenanya Theo tak menyangka mereka bisa seakrab ini hingga rasanya Theo bisa memberikan seluruh rahasia hidupnya dan dia akan aman-aman saja.


"Gue kehilangan teman lagi, Li," kata Theo tanpa diminta. Suaranya amat lelah dan putus asa. "Gue egois."


"Lo punya gue." Lili membalas seraya melepaskan pelukan mereka yang begitu singkat. "Gue bisa jadi temen lo."


Theo terdiam, hanya menatap Lili.


"Lo, Ten sama Lucas hanya marahan. Mungkin salah paham. Lo nggak boleh menyerah gitu aja. Lo nggak kehilangan mereka, itu hanya sugesti lo. Udah satu tahun, masa langsung pegat aja itu pertemanannya." Lili memberi masukkan. Meski dia tak tahu masalahnya apa, Lili tau apa yang perlu dia katakan. "Sayang banget. Sekarang lo ngerti kan rasanya nggak ada temen?"


"Terus gue harus gimana?" tanya Theo putus asa. "Gue udah terlanjur keras kepala sama mereka."


"Ya, baikan. Akuin kesalahan, sadar dan minta maaf. Nggak ada gengsi dalam sebuah pertemanan sejati, Theo."

__ADS_1


***


__ADS_2