Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 3 42


__ADS_3

Lima tahun kemudian....


Jika waktu telah berlalu, maka sudah pasti banyak yang terjadi.


Satu tahun sejak dirinya menjadi teman dengan Raihan, Ily masuk di UI dengan masuk jurusan tujuannya. Ayah dan ibunya sangat senang, bahkan membuat perayaan khusus dan mengundang tetangga-tetangga serta teman-teman terdekat. Ily sedikit, malu, namun tidak berkata-kata apa-apa lagi untuk kebahagiaan orang tuanya.


Karena itu, Ily terpaksa berhenti menjadi murid Bu Rima dan fokus pada kuliahnya. Ily suka, Ily senang dan Ily bahagia menjalani kuliahnya. Dengan dukungan banyak orang, Ily berhasil lulus dan bekerja di sebuah lembaga bimbingan belajar dengan mata pelajaran Bahasa Inggris sesuai mata kuliahnya.


Ily sempat ingin melanjutkan kuliahnya di luar negeri, namun banyak orang-orang serta tempat-tempat yang disayanginya di sini. Jadilah, Ily kini memilih untuk menjadikan pekerjaan di bidang yang sama seperti Bu Rima sebagai hobinya kala liburan.


Membuat rancangan, membuat pola dan menjahit kini sudah menyatu dalam darah Ily, mengalir dalam tubuhnya seolah menjadi satu-satunya yang membuatnya hidup. Sejauh ini, Ily telah menyelesaikan lima pola yang selalu dia jahit dan syukurnya dapat terjual setidaknya lima baju dalam sebulan.


Berkatnya, Bu Rima mengajukan tempat untuk Ily membuka butik sendiri. Bu Rima akan memberikan tempat di lantai atas, mungkin hanya sebagian karena baju-baju buatan Ily masih bisa dibilang sedikit.


Ily hampir menolak sebab tak enak, terlalu merepotkan, namun Raihan pun ikut membujuknya, bahkan sampai ke ayah dan ibu hingga akhirnya Ily tak punya pilihan lain selain tak menolaknya.


Tahun-tahun Ily berjalan damai-damai saja, tak sampai ada kejadian yang membuatnya berlinang air mata. Entah karena haru atau duka.


Ketika pelanggannya sudah pergi, Ily duduk di tepi jendela seraya menatap jalanan. Hari ini Senin, hari libur Ily untuk melakukan bimbingan sebagai guru les, gantinya ia berada di lantai atas butik Bu Rima, menjaga kawasan butiknya sendiri.


Ketika sendirian, Ily selalu menulis diari. Entah dimulai karena apa, namun Ily mulai senang menulis mengenai harinya sejak dia kuliah. Entah panjang atau pendek, entah membosankan atau seru, Ily selalu menuliskannya.


Hari ini aku berhasil menjual bajuku, senangnya^^


Untuk Ily yang dulu, yang masih delapan belas tahun, terimakasih karena sudah terima ajakan Bu Rima untuk bergabung menciptakan butik


Dari Ily yang sekarang, yang sudah berusia dua puluh tahun, aku ingin menikmati hidup hasil kerja kerasku dulu sendirian, hehe


Untuk Ily di masa depan, semoga tidak kecewa dengan Ily yang dulu dan sekarang


"Ily!"


Ily menutup diarinya segera saat mendengar seruan Raihan dari ambang pintu lantai dua.


Iya, Raihan memang setia menjadi temannya kini. Bahkan, sepertinya, Raihan adalah teman yang lebih sering ada untuk Ikut dibandingkan Eza.


Laki-laki itu berjalan mendekat, dengan balutan serba hitam yang kontras dengan sepatunya yang putih. Dia sebenarnya memakai kaus putih, dengan jaket kulit hitam dan jeans berwarna senada.


"Abis dari mana?" tanya Ily refleks. Biasanya Raihan suka datang jam delapan jika dirinya senggang di hari Senin. Sekarang sudah jam sebelas siang dan Raihan tampaknya baru selesai mandi.


Raihan tertawa begitu duduk di depan Ily yang jaraknya hanya 2x30 sentimeter, mulutnya wangi odol dan giginya putih bersih seperti aktor iklan pasta gigi. Rambutnya tampak setengah basah dan bau sabun menyengat hidung Ily ketika Raihan membuka jaket kulitnya.


"Baru bangun, Ly. Lupa gue ada jadwal menemani lo sama bantu ibu di butik," jawab Raihan jujur.


"Udah bilang ke om lo?" tanya Ily memastikan.


"Udah," balas Raihan singkat.


"Gimana magangnya minggu kemarin?" Ily bertanya lagi.


Jadi, sekarang Raihan itu sedang magang di kejaksaan tempat om-nya bekerja. Sudah hampir setengah tahun lamanya. Di sana, Raihan belajar banyak dan merasa belum cukup. Karenanya, sekitar dua bulan kemudian, ia akan melanjutkan studi S2 di jurusan yang sama.


Raihan selalu minta hari Senin untuk liburnya karena ingin bertemu Ily serta ibunya. Bagian hari-hari berikutnya, Raihan benar-benar tak bisa diganggu gugat karena amat sibuk.


"Biasa deh, Ly. Kadang ada terdakwa yang suka berbohong, kadang juga ada saksi yang bohong, atau pernah juga ada korban yang berbohong. Entah buat melepaskan terdakwa, ataupun buat menjerat terdakwa dalam kesalahan yang sebenarnya nggak dia lakukan. Macam-macam, deh, setiap minggunya itu."


Ily membulatkan mulutnya sebagai reaksi.


"Lo sendiri udah jual berapa baju hari ini?" Kini, giliran Raihan yang bertanya.


"Baru satu," balas Ily dengan cengiran lebar. "Hari ini cepet banget gue jualnya. Biasanya jam dua siang, baru ada yang beli."


"Baguslah kalau gitu."


"Btw," kata Ily pelan, raut wajahnya agak tak yakin dan sedih. "Lo bener-bener mau lanjut kuliah?"


Raihan mengangguk mantap. "Kenapa emangnya? Lo takut kangen sama gue, ya?"


"Ish!" Ily menabok lengan Raihan dengan gemas. "Nggak!"


"Aduh," ringis Raihan berlebihan. "Biasa aja kali. Gue kan cuma bercanda. Sekarang jujur deh, kenapa lo tanya gitu?"


Ily mengangkat bahunya, pura-pura tidak peduli. "Mau mastiin aja, sih. Nggak kurang, nggak lebih."


Raihan menaikkan alis, meledek. "Ciyus?"


"Iya!"


Tangan Raihan tiba-tiba membenarkan tatanan rambut Ily, menyampirkan helai anak rambut ke telinganya. Tatapan matanya lembut dan jujur, itu membuat Ily merasa terbang sampai ke langit teratas.


Raihan memang senang membuatnya begini, namun Ily tak pernah bisa membalasnya dengan hal yang serupa. Sesuatu seperti masih mengganjal hatinya. Meski Ily ingin, namun jika karena dipaksa, akhirnya nanti pasti tak menyenangkan.


Ily tak mau itu terjadi dan akhirnya hanya tersenyum tipis pada Raihan.


"Makasih," katanya pelan. Kemudian mengambil buku sket miliknya sendiri untuk ia buka dan ditunjukkan pada Raihan setelah membuka halaman tertentu. "Liat, deh."

__ADS_1


Raihan segera mencondongkan tubuhnya, lebih dekat untuk melihat hasil gambar Ily. "Apa nih?"


Kening Raihan mengerut pada gambar celana hitam jenis joger dan kaus putih biasa. Ily menggambarkan baju yang seringnya dipakai Raihan jika bertemu dengannya di butik. Raihan selalu tampak nyaman saat mengenakannya, ditambah sandal capit biasa yang membuatnya tampak amat rumahan.


Melihat penampilannya yang sekarang, Ily pikir Raihan akan ada acara nantinya. Sebab jika akan keluar, Raihan pasti memilih untuk pakai jeans.


"Buat lo," kata Ily menjelaskan. "Gue mau mulai bikin."


"Woah," tukas Raihan dengan mata berbinar senang. "Tumben banget. Dalam rangka apa, nih?"


Ily tertawa kecil. "Ya, nggak dalam rangka apa-apa, sih. Cuma kepengen aja gitu bikinin temen baju. Eza juga mau gue bikinin sweater, soalnya dia suka pulang malem dan pastinya suka kedinginan."


Penjelasan Ily di kalimat terakhir membuat Raihan menurunkan garis wajahnya dengan kecewa. "Yah..."


"Hah? Kenapa?" Ily menjadi bingung karenanya.


"Gue kira gue doang yang dibikinin baju, Ly," kata Raihan, menyatakan kekecewaannya.


"Ye, kan temen gue bukan lo doang," balas Ily tanpa pikir panjang. "Eza juga temen gue. Kasian kalau diperlakukan istimewa salah satunya, nanti salah satu yang lainnya iri lagi. Berabe gue."


"Kalau Eza nggak tau, nggak masalah, dong," tukas Raihan dengan wajah kesal.


"Ah, pokoknya gue udah putusin buat bikin baju buat lo berdua. Temen-temen gue. Nggak ada yang dispesialkan, nggak ada juga yang dianggurin."


"Elvan gimana?"


Pertanyaan Raihan selanjutnya membuat mulut Ily bungkam. Sudah lima tahun berlalu dan kabar Elvan belum juga ia terima. Yang bisa Ily lakukan hanyalah berdoa dan berharap semoga Elvan baik-baik saja.


Atau perlu mereka bisa bertemu sebelum tahun ini berakhir lagi dalam satu minggu.


"Gue juga udah siapin celana sama jas buat Elvan. Soalnya dia nggak punya begituan," jawab Ily kemudian, setelah merenung agak lama karena merindukan sosok Elvan yang telah lama hilang. "Kalau ketemu, mau gue kasih itu sambil marah-marah."


Raihan tertawa. "Iri banget sama persaudaraan kalian berdua."


"Emang lo nggak ada saudara?"


"Gue anak tunggal kata ibu."


"Oh."


"Iya."


"Emang lo nggak ada temen buat ngasih kado atau kirim-kirim hadiah?" tanya Ily lagi.


"Trauma apa?"


"Ya, gitu, deh, Ly. Siklus persahabatan. Pertama canggung dulu, terus sapaan, bercandaan, main keluyuran bareng, jadi deket banget, terus pastinya ada masalah yang bikin persahabatan itu retak. Gue mengalaminya dan trauma."


Ily terdiam, merenung. "Pastinya lo mengalami hal yang besar, ya?"


"Sedikit besar."


"Kalau lo udah siap lo boleh cerita, Han," kata Ily merasa perlu. Ditilik dari raut wajah Raihan yang tak minat saat membahasnya, Ily paham apa yang harus ia lakukan.


"Sip."


Ily tersenyum lega, menatap Raihan yang balas tersenyum dengan tipis dan seadanya.


"Nanti malem jalan, yuk. Lampu-lampu mulai dipasang buat sambut tahun baru, lho, Ly. Cantik banget."


Raut wajah Ily menyusut. Tampak tak begitu tertarik. Membuat Raihan makin semangat untuk membujuknya.


"Gue yang traktir apapun yang lo mau, Ly. Kita udah jarang banget keluar bareng. Mau, ya, Ly? Yuk!"


Ily menipiskan bibir. "Males...."


"Males gimana, sih? Masa jalan sama cowok ganteng kayak gue nolak?" Raihan tampak sangat percaya diri dan membuat Ily memutar bola matanya dengan sebal. "Tenang, gue yang traktir semuanya, Ily."


"Yaudah, ayok! Tapi, lo yang traktir ya, hehehe."


Raihan tersenyum puas. "Iya, Ilyssayang."


"Heh!" Ily melotot.


"Oopps."


Sejauh ini, Ily selalu marah dan tak mau jika Raihan menggodanya. Entah kenapa. Namun, Raihan tak peduli asalkan ia bisa melihat wajah menggemaskan saat Ily menegurnya yang suka gombal.


***


Malam menjelang tahun baru seminggu kemudian memang ramai di jantung kota. Jalan-jalan dengan hiasan kelap-kelip jelas jadi magnet orang-orang untuk hanya sekedar berjalan-jalan.


Belum lagi para pedagang grobak berjejer dengan aneka dagangannya yang cocok dimakan saat malam hari, apalagi jika ditemani dengan seseorang yang berarti dalam hidup.


Hal yang serupa terjadi pada Raihan. Ia menoleh pada Ily, menatap telinganya yang memerah karena cuaca yang dingin. Inisiatif, Raihan mengetuk pundak Ily satu kali hingga perempuan itu menoleh dengan wajah bingung.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Dingin, nggak? Gue bawa topi rajut kalau lo kedinginan."


Ily menggeleng. "Nggak terlalu."


"Kalau dingin bilang, oke?"


"Oke."


Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Melewati gerobak-gerobak, pot-pot bunga dan kelap-kelip yang menyertainya selama panjangnya jalan. Ily dan Raihan hanya melihat-lihat, tak berniat membeli sesuatu karena perut mereka sama-sama sudah penuh.


Namun, ketika Ily melihat gula kapas yang dibentuk lucu seperti stiker LINE, dirinya tak mampu menahan diri untuk mendekat dengan mata berbinar.


"Raihan, beli ini!" seru Ily, terdengar seperti menyuruh.


Raihan tertawa. "Oke," balasnya enteng, seraya merongoh dompet dalam saku celananya dan mengeluarkan selembar uang dari sana.


"Boleh beli dua?" tanya Ily meminta ijin.


"Berapapun, gue bayarin, Ly," balas Raihan yang seketika membuat Ily jingkrak-jingkrak senang seperti perempuan yang baru berusia lima tahun. Di posisinya, Raihan merasa seperti orang tuanya.


"Makasih, ya," kata Ily riang. "Bang, beli dua." Ily berkata pada bapak penjual permen kapas itu.


Banyak amat beli dua. Awas kalau nggak abis. Raihan bergumam dalam hati. Sebab satu permen kapas saja sudah berukuran sebesar badannya. Dan Ily yang kecil itu mau dibelikan dua. Jelas saja, Raihan yang akan membelikan tak rela jika uangnya berhamburan karena Ily tak menghabiskannya.


Mereka mengunggu pesanan dibuat. Sekitar lima menit lamanya, namun itu tak membuat senyum Ily pudar saat menerima pesanannya yang telah jadi. Ily awalnya menerima satu, kemudian yang satu lagi ia pegang karena bapak penjual memperhitungkan kapasitas tangan Ily.


"Makasih, pak." Ily tersenyum pada bapakĀ  penjual danĀ  kini tangannya benar-benar penuh. Setelahnya, ia menoleh pada Raihan dengan tatapan penuh arti.


Dan Raihan telah memahaminya. Ia menyerahkan selembar uang, kemudian mengambil kembaliannya dan menatap Ily yang juga tak beranjak bahkan setelah ia selesai melakukan transaksi.


"Kenapa?" tanya Raihan langsung. "Mau beli lagi?"


Ily menipiskan bibir, melirik salah satu permen kapasnya dan Raihan ikut meliriknya. Namun, laki-laki itu tak menangkap maksud tersembunyi Ily.


"Gue nggak suka permen." Raihan menjawab begitu.


"Gue nggak nawarin," kata Ily datar.


"Lah, terus?" Raihan tak paham.


Ily mendengus keras, kemudian melangkahkan kakinya dengan hentakan kasar tanda ia marah. Dengan dua perempuan kapas besar di tangan, Ily berjalan meninggalkan Raihan.


"Itu pacarannya minta dipegangin satu permen kapasnya, mas," kata bapak penjual permen kapas itu ketika melihat adegan Ily dan Raihan di depannya.


Raihan menoleh pada bapak itu dan langsung tertawa canggung. "Oh, iya, pak. Makasih atas informasinya."


Bapak penjual permen kapas itu tertawa khas orang tua yang bangga akan pertumbuhan anaknya. "Sama-sama. Udah, sama kejar mbaknya nanti malah marah berkepanjangan."


Raihan mengangguk. "Siap, pak!"


Dengan gerakan cepat, Raihan menyusul langkah kesal Ily yang belum jauh dari pandangannya. Beberapa kali, perempuan itu tampak kesusahan memegang permen kapas segede dosa itu dan Raihan merasa amat bodoh karena tak mengerti apa arti tatapan Ily sebelumnya.


"Sini," kata Raihan setelah langkahnya sama dengan Ily dan mengambil salah satu permen kapas yang Ily pegang. "Kalau mau minta tolong, ngomong aja. Kalau pake lirik-lirikan mana gue paham. Oke?"


"Tau ah, gue kesel," balas Ily jutek. Tak mengindahkan Raihan, langsung saja berlari menuju kursi dari beton yang ada di pinggir jalan. Untuk duduk di sana dan mulai memakan permen kapasnya.


Raihan melongo, ditinggal sendirian dengan permen kapas di tangan. "Salah lagi, wuanjir."


Mengela napas panjang, Raihan menyusul Ily untuk duduk di sebelahnya kemudian. Sepertinya Ily benar-benar marah karena dia tak menoleh saat Raihan sudah duduk di sebelahnya.


"Maaf, Ly," kata Raihan merasa perlu.


Tak ada balasan.


"Ly," panggil Raihan dengan nada agak memelas, bahkan menggeser duduknya hingga menghimpit Ily. "Ily."


Ily mendengus kecil dan menggeser duduknya untuk menjauh dari Raihan. Benar-benar kesal dan kecewa.


Raihan mengela napas kecil lagi. Menggeser duduknya kembali agar tangannya bersentuhan dengan tangan Ily. Ily melakukan hal yang sama lagi untuk menjauhinya. Mereka terus begitu hingga Ily sudah mentok ke ujung kursi dan hampir saja jatuh jika Raihan tak menahan lengannya.


"Ish, bisa diem nggak sih?!" tanya Ily frustasi. Melotot pada Raihan yang langsung memasang wajah terkejut.


Perlahan, Raihan memberi ruang untuk Ily duduk. "Sensi amat mbaknya."


"Ya, lo sih--"


"Kak Raihan! Woah, takdir banget kita ketemu di sini! Aku kangen!"


Seorang tiba-tiba berseru dan memeluk leher Raihan dengan erat saat Ily ingin mengomel. Ily sangat terkejut dan hampir menjatuhkan permen kapasnya jika ia tak buru-buru menguasai diri.


***


aku mau bomb update, jadi komen yang banyak yaaaa

__ADS_1


__ADS_2