Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 46


__ADS_3

Ily sedang memilih kertas kado di sebuah toko buku sementara Eza ada di depan toko tersebut untuk menunggunya. Raihan sedang ada tugas dan Ily tak mau menganggunya untuk menemaninya membeli barang-barang yang akan ia gunakan untuk membuat sebuah kado kejutan.


Ily kira Eza akan tahan di sana selama setidaknya lima belas menit, namun belum genap sepuluh menit, Eza sudah tampak terbirit-birit menemuinya.


Napasnya agak terengah-engah ketika sampai di depan Ily yang segera mengerutkan keningnya bingung.


"Kenapa, Za?" tanya Ily kemudian.


"Itu.... itu... Ly!" seru Eza seperti dikejar-kejar. Pelafalannya tak jelas karena otak dan mulutnya tak selaras, membuat Ily kian kesal karena fokusnya terganggu.


"Apa, Za?!" tanya Ily tinggi.


"Itu, Ly!" seru Eza heboh, buru-buru memberikan ponselnya pada Ily untuk dibaca. "Hp lo ke mana, deh?"


"Mati, Za. Baterainya abis," balas Ily seraya mengambil ponsel dari Eza untuk dia baca di dalamnya. Sesaat kemudian, matanya membulat dan tangannya sontak menutup mulutnya yang ikut terbuka karena terkejut.


"Za...."


Ily tak sanggup berkata-kata saking terkejutnya ia.


"Ya, kan?" Eza menyahut semangat dan senang.


"Za...."


Ily menahan jeritannya dalam tenggorokan dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat, namun yang terjadi berikutnya adalah ia memekik senang seraya memeluk Eza kegirangan.


"AAAAA EZAAAA GUE SENENG BANGET!"


***


Di perjalanan menuju rumahnya, Ily tak henti-hentinya memegang dadanya yang gugup dan masih tak percaya akan kabar yang diterimanya hari ini. Eza sendiri fokus menyetir di pinggirnya meski sesekali melirik pada Ily.


"Za, bilang ke gue kalau ini bukan mimpi. Bilang, Za. Bilang!" seru Ily, terkesan memaksa dan tak sabaran.


"Iya, Ly, lo nggak lagi mimpi sekarang," balas Eza seadanya. Meski sebenarnya, dalam hati ia turun senang sebab Ily tak pernah terlihat sebahagia ini sebelumnya.


Ily membuang napas panjang, terkesan tergesa-gesa. "Za, lo harus coba buat pukul pipi gue, Za! Ayo, Za!"


"Jangan berlebihan, napa. Nanti lo sakit, berabe ke gue."


"Nggak, Za, nggak! Gue nggak bakalan gitu dan pastinya gue cuma nggak akan bales sampe bikin lo berabe. Gue cuma mau pastiin bahwa ini benar-benar bukan mimpi---"


Plak!


Eza memotong cerocosan Ily dengan memukul pipinya lumayan keras. Ily segera merasakan perih di pipinya dan berkat itu, ia menoleh pada Eza dengan tatapan berapi-api.


"Za, maksud lo apa, ya?"


"Kata lo tadi pukul aja."


"Ya, tapi jangan sekeras ini, gue kesakitan," balas Ily penuh penekanan, tangannya mengepal kuat-kuat menahan emosi supaya tak meledak.


"Kata lo nggak bakal kesal atau bikin gue berabe. Dengan lo kesel kayak gini, udah bikin gue berabe, lho," balas Eza santai.


Ily menipiskan bibirnya, kemudian tak lagi membalas. Perempuan itu sudah memutuskan untuk mengalah dan memendam kekesalannya hingga pudar begitu saja saat sejurus kemudian mobil Eza sudah terparkir di depan rumahnya.


Yang jelas-jelas membuat jantung Ily semakin berdebar.


Di ponsel Eza tadi, ada pesan dari ibu yang isinya; Yohan udah nungguin di ruang tamu.


Jelas, pesan itu adalah satu-satunya pesan yang dapat membuat senyum Ily permanen hari ini. Satu-satunya yang dapat membuat Ily tersenyum kembali.


Ketika Ily membuka pagar rumahnya, kemudian melangkahkan kaki menuju pintu masuk rumahnya, lalu melangkah lagi untuk sampai di ruang tamu, napasnya seolah terhenti di pangkal dada.


Ily terdiam, membeku dalam artian haru.


Ketika matanya bertemu dengan sepasang mata hitam yang datar namun amat menyejukkan itu. Dan saat pemilik mata itu menampilkan senyum di wajahnya dan berdiri untuk sampai di hadapan Ily, Ily tak kuasa untuk membuang napas bahagia untuk setelahnya membawa tubuh itu dalam dekap erat sarat akan bahagia.


"Yohan," bisik Ily senang, tertahan saking terlalu banyaknya senang yang ia rasakan. Ily mencium benar-benar aroma Yohan yang sudah lama tak ia rasakan. "Kamu kembali."


Rasanya Ily ingin menangis, saat hangat menjalar di punggungnya ketika tangan Yohan kembali membalas dekapannya.


"Senang bisa bertemu denganmu lagi, Ly."


Suaranya terdengar lembut, lebih rendah dan dewasa. Ily bagaikan masih mimpi sekarang ini.


Sudah begitu lama ia tak bertemu dengannya, tak mendengar suaranya, tak melihat senyumnya dan tak mencium aromanya. Dan hari ini... hari setelahnya lima tahun berlalu, Ily kembali mendapatkan apa yang ia tunggu selama itu.


Rasanya... masih tak bisa dipercaya.


"Yohan..." Ily masih tak mau lepas. Dalam hati, ia berpikir mengapa Yohan tak berubah sama sekali selama lima tahun ini. Bagaimana wajahnya masih tampak sama, suaranya lembut seperti biasa dan pribadinya masih hangat seperti dulu.


"EKHM! Gue masih di sini, ya." Eza berdeham keras dan menyindir Ily serta Yohan sekaligus dengan halus. Usahanya membuahkan hasil karena selanjutnya, Ily dan Yohan melepas pelukan mereka.

__ADS_1


"Ah, Eza." Yohan menyapa datar. Namun, ada senyum di wajahnya. "Bagaimana kabarmu?"


Eza menaikan alisnya dengan senyum simpul.  "Yo! Seperti yang lo lihat, baik-baik aja gue. Lo gimana?"


Yohan mengangkat kedua bahunya dengan ringan. "Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja."


"Baguslah," tukas Eza dengan tersenyum tipis.


"Ayo, kita duduk aja di sofa. Aku banyak pertanyaan buat kamu," ajak Ily seraya menarik lengan baju Yohan untuk di bawa ke sofa.


Ibu sepertinya ada di dapur untuk menyiapkan kudapan, Ily sampai melupakannya karena fokusnya kini terserap oleh kehadiran Yohan sepenuhnya.


Yohan telah duduk dengan pasrah di sebelah Ily, sementara Eza duduk di depan mereka. Serunya pengawas yang mengawasi Ily dan Yohan. Bahkan, pandangan matanya amat tajam dan serius.


Sedikit, Yohan merasa terintimidasi.


"Jadi, kapan kamu ke sini? Kok nggak bilang-bilang dulu?" tanya Ily, segera menyuarakan penasarannya.


Yohan tersenyum tipis. "Sebenarnya ini hanya perjalanan bisnis. Aku ke sini kemarin malam dan akan pulang satu minggu lagi setelah urusan bisnisnya selesai."


"Apa?" Mata Ily melotot tak percaya, sebagian dari hatinya berkata tak rela, sementara sebagian yang lainnya tidak mampu memberi suara untuk menahan Yohan tetap di sini.


"Peluang aku untuk tetap di sini... itu sangat kecil, Ly."


Ily terdiam segera.


"Terima aja, Ly. Orang Yohan kan anak Korea. Masa harus di paksa tinggal di sini. Asalnya dari Korea, pasti kembali ke Korea." Eza memberi nasihat yang terdengar amat bijak di telinga Ily.


Untuk ukuran orang yang jarang serius, Eza tampak bijaksana sekarang. "Gue tau gimana perasaan lo. Gue pernah mengalaminya. Tapi, lo tau nggak? Fase yang paling berat dari cinta sejati adalah merelakan dia untuk lebih bahagia. Cinta tak pernah memaksa, cinta juga tak pernah dipaksa. Dia hanya mengalir untuk ciptakan bahagia."


Yohan menatap Eza dengan wajah tak percaya. Sementara Ily, dia benar-benar terbuai akan kata-kata Elvan yang sarat makna.


"Jika tidak bahagia, itu bukan cinta. Melainkan obsesi yang jelas membuat manusia buta arah." Eza hendak mengakhiri sesi siraman rohaninya untuk Ily dan Yohan. "Kalau memang takdir cinta sejati, pasti akan ada jalan buat kalian dipertemukan kembali untuk menjadi kisah kasih sampai mati."


Yohan refleks bertepuk tangan. "Bagus sekali kata-katamu, Za."


Ily tersenyum tipis. "Efek pencipta lagu."


"Eza jadi komponis?" Yohan langsung bertanya dengan wajah terkejut yang nyata dan lucu di mata Ily.


Ily mengangguk untuk pertanyaan Yohan. "Eza udah punya album dan pernah konser di luar negeri. Sekarang, dia udah serta sama artis dan idol Korea di negara asal kamu, Yohan."


"Jangan gitu dong, gue malu," balas Eza dengan cekikikan tak tahu malu.


Yohan menatap Eza dengan pandangan bangga. "Selamat atas pencapaiannya."


"Oh iya," kata Yohan, mengabaikan perkataan Eza dan menatap Ily dengan serius. "Elvan. Aku tadi melihatnya di tempat pertemuan ayahku dan saudara bisnisnya."


Mulut Ily terbuka. "Terus... terus..."


"Jangan terus-terusan, nanti nabrak," balas ibu tiba-tiba nimbrung dengan nampan berisi buah-buahan di tangan. Kemudian meletakkannya di meja dengan senyum keibuan yang kental. "Sekarang, kita makan dulu. Nanti cerita-ceritanya disambung, ya."


Melihat kesempatan yang semakin sempit, Yohan mengikuti Ily pelan hingga fokus Ily hanya untuknya.


"Ly," bisik Yohan amat pelan, takut terdengar Ily yang sedang menatap sendok dan piring.


"Iya, apa, Han?" balas Ily sama pelannya.


"Kamu hari ini free, kan?"


"Jelas."


"Aku mau jalan-jalan," balas Yohan dengan senyum yang membuat Ily seperti terbang di atas langit tertinggi untuk setelahnya terjun bebas hingga jantungnya bekerja di luar biasa. "Hanya berdua denganmu, nanti malam, jam 7. Aku tunggu, ya, Ly."


Ily memejamkan matanya sesaat, tersenyum penuh arti, kemudian mengepalkan tangannya diam-diam karena senang.


"Oke, Yohan!"


***


Sepanjang jalan, tentu dipenuhi kelap-kelip lampu yang akan dipersiapkan untuk menyambut tahun baru esok hari.


Yohan dan Ily ada di antara puluhan orang yang menikmati jalanan ini. Mereka berjanji jam tujuh malam, namun baru dapat keluar satu jam kemudian karena tempat Yohan ke tempat Ily terdapat macet yang cukup panjang. Yohan tinggal di sebuah hotel, tidak lagi menjadi tetangga Ily.


Jelas, untuk apa Yohan menempati rumah itu lagi jika akan kembali satu minggu kemudian.


Jika kemarin Ily jalan-jalan ditemani Raihan, kini ada Yohan di sisinya. Ily merasa dirinya sangat jahat dan tidak konsisten saat ini.


Sayangnya, senyum Yohan melunturkan segala perasaan yang Ily alami dan hanya menyisakan rasa bahagia. Entah bagaimana bisa, Yohan membuat Ily nyaman dan bahagia seperti ini.


Dibalik itu, Ily sebenarnya khawatir.


Apakah Yohan juga merasakan hal yang sama?

__ADS_1


Jika jawabannya iya, maka Ily akan senang. Jika jawabannya tidak, maka Ily akan sangat senang. Akan sangat senang untuk menangis di malam nanti sampai fajar menyinari kembali.


"Yohan," kata Ily seraya menunjuk tempat permainan yang jika seseorang menyelesaikannya, maka dia akan mendapatkan boneka lucu. "Mau coba itu nggak?"


"Oh?" Yohan melihat pada tempat yang sama. Senyumnya mengembang dan segera menarik tangan Ily untuk dibawa ke sana. "Ayo."


Yohan tak menyadari, betapa gugupnya Ily, saat jari-jari tangan Yohan bergerak, mengisi sela-sela jari tangan Ily Dan menggenggamnya dengan erat. Menyalurkan rasa hangat dan nyaman di saat bersamaan. Jantung Ily berdegup dengan ritme yang lebih kencang dari biasanya, rasa panas segera menjalar dari telinga, kemudian merambat ke pipi yang beruntungnya tak Yohan lihat saat kini tengah memerah.


Laki-laki itu sibuk bicara pada pemberi jasa permainan lembar gelang plastik ke tongkat panjang yang jaraknya dua meter dari Yohan berdiri. Dengan lima kali percobaan sekali bayar.


Yohan mengambil napas, menarik tangannya dari tangan Ily begitu ia hendak melempar gelang pertamanya. Ily tersadar, kemudian berdeham salah tingkah dan menyatukan kedua tangannya dengan malu.


Yohan mungkin tak sadar, tapi tadi itu adalah kali pertama mereka berpegangan tangan, saling menggenggam. Ily memikirkannya sebagai hal yang amat berarti. 


"Doakan aku, Ly.... aduh... sayang sekali nggak masuk. Maaf ya," kata Yohan refleks, saat percobaan pertama gagal total karena dia melempar terlalu keras.


Ily tersenyum lebar, kemudian menepuk pundak Yohan supaya semangatnya tersalurkan. "Ayo, Yohan, pasti bisa! Pasti bisa! Please.... yah... kamu lemparnya kurang keras, tuh!"


"Aku juga memperkirakan dulu.... Yes! Akhirnya, Ly---"


"AAAAA, YOHAN! Kamu berhasil! AAAA!" teriak Ily keras, tak peduli bahwa dirinya jadi perhatian banyak orang. Ily mengepalkan kedua tangannya dan digerak-gerakan serupa anak TK yang bahagia. Senyumnya tercipta lebar, sampai pada matanya yang kini menyipit. "Makasih! AAAA!"


Melihat Ily begitu, Yohan menepuk-nepuk kepalanya pelan, hingga membuat pipi Ily mulai bersemu merah lagi. Kemudian Yohan mengambil boneka pink dari penjualnya untuk ia serahkan pada Ily. "Nih."


Mata Ily membulat lucu. "Buat aku?"


"Iya."


"Woah, makasih, Yohan!" seru Ily sarat gembira saat menerima boneka dari Yohan.


"Kamu senang?" tanya Yohan ketika mereka berdua sudah kembali melangkah hanya untuk sekedar jalan-jalan.


Ily memeluk bonekanya dengan erat. "Senang sekali."


"Kamu lucu sekali, sih, Ly."


Ily tertawa malu-malu.


"Aku jadi tidak mau pulang," kata Yohan begitu saja.


Wajah Ily berubah murung. Mereka sama-sama terdiam kemudian. Sama-sama memikirkan bagaimana sedihnya nanti ketika mereka harus kembali berpisah.


"Han."


"Ly."


Ily dan Yohan bersuara bersamaan. Membuat keduanya segera bertatapan kemudian, dengan wajah terkejut dan senyuman geli selanjutnya.


"Kamu duluan saja, Ly," kata Yohan mempersilahkan.


"Oke. Aku hanya ingin bilang, bahwa... Kamu boleh sembunyi di rumahku kalau nggak mau pulang," kata Ily polos.


Meski tak masuk akal, Yohan tertawa. "Aku harus pulang, Ly."


"Oh, oke."


"..."


"Kamu marah, Ly?" Yohan bertanya khawatir, melongokan kepalanya untuk melihat wajah Ily yang menunduk. 


Ily menegakan kepalanya kembali. Wajah yang awalnya muram itu, berubah penuh senyuman hingga menyentuh mata. "Nggak, Han. Aku nggak marah."


"Kamu bohong, Ly." Yohan tersenyum tipis.


"Nggak, Yohan. Aku nggak bohong," balas Ily dengan suara yang mulai terdengar serak.


"Lihat aku," kata Yohan kemudian, segera menangkup pipi Ily supaya matanya dapat beradu pandang dengan miliknya. "Lihat mataku."


Ily menipiskan bibirnya, mencoba untuk tetap menatap mata Yohan meski rasanya sulit sekali. Ingin sekali berpaling, ingin sekali berbohong.


"Lalu, katakanlah... apa isi hatimu yang sebenarnya."


Air mata Ily langsung menggenang. Ia menarik napas susah-susah. "Aku kesal, Yohan.... Aku juga marah.... Aku nggak mau kamu pergi lagi.... Tapi, aku tak bisa berbuat apa-apa, rasanya ingin mati saja...."


"Ssshhhh," suara Yohan, menenangkan. Senyumnya tercipta, teduh dan membuat Ily nyaman. "Butuh pelukan?"


Ily mengangguk kecil, dengan begitu Yohan membawa tubuhnya dalam pelukan erat sarat kasih. Tangannya menepuk-nepuk punggung Ily, kemudian Yohan memperdalam kepalanya di antara lekukan leher Ily, menarik napas dalam-dalam di sana.


"I-l-y, I love you, Ily," kata Yohan pelan, mirip sebuah bisikan yang seolah dapat membius Ily hingga tak dapat berkata-kata. Melainkan terus mengeluarkan air mata tanpa suara isakan. "Itu yang mau aku katakan sebelumnya."


Ily mempererat pelukannya. Menitikkan air mata lagi saat ia memejamkan matanya. "Aku juga."


Setelah lama ia menunggu, akhirnya Yohan mendapatkan jawaban Ily yang sudah pasti.

__ADS_1


***


komentar dalam tiga kata^^


__ADS_2