Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 61


__ADS_3

"Cerita kamu udah nyampe mana?"


Ily bertanya ketika Lili baru saja menyuapkan satu suapan makan malamnya. Mendengar pertanyaan itu, Lili tersenyum malu.


"Lili suka malu kalau ditanyain begitu." Lili menatap Lili malu-malu. "Baru setengahnya, Bu. Mungkin bulan depan selesai."


"Ya, semangat deh." Ily mengacungkan jempolnya, tersenyum lebar pada Lili.


Lili turut mengacungkan jempolnya. Lili mengangguk, semangatnya bertambah dan tekadnya semakin kuat berkat Ily.


"Jangan capek-capek. Jangan dipaksain." Ibu bersuara lagi karena teringat Lili kerap kali bergadang untuk menyelesaikan novelnya. "Kita mau Lili enjoy aja, jangan tertekan, karena Ayah sama Ibu pun nggak menaruh target buat kamu."


"Iya, Bu." Lili mengangguk kecil. "Lili ngerti. Makasih, Bu. Lili nggak tau kalau Lili nggak jadi anak Ayah sama Ibu."


"Hm?" Ily kurang paham.


Lili tersenyum tipis, menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menjelaskan. "Ya, Lili nggak tau apakah Lili bisa tetap bercita-cita jadi penulis meski dari segi manapun Lili mengecewakan. Udah tiga tahun Lili fokus menulis, tapi belum juga ada hasilnya."


Penjelasan Lili membuat Ily dan Yohan terdiam agak lama.


"Pasti Ayah sama Ibu pernah kecewa, kan?" tanya Lili kemudian.


"Kamu ngaco, Li. Ibu nggak pernah kecewa sama kamu." Ily segera menukas dengan waja tak setuju dan nada berapi-api. "Jutsru karena kamu punya semangat juang dan cita-cita yang kamu perjuangkan sungguh-sungguh, Ibu sangat bangga. Dulu Ibu nggak bisa begitu, tau. Iya, kan, Yah?"


"Iya, Li." Yohan menimpali dengan suara lembut yang membuat Lili nyaman dan tenang. "Fokus aja untuk kejar cita-cita kamu itu. Jangan pedulikan hasilnya, yang penting kamu udah berusaha dengan keras. Itu cukup untuk Ayah."


"Wah, Lili terharu."


"Di sini, Ayah sama Ibu bakal terus mendukung, Li. Semangat lah!" seru Yohan riang.

__ADS_1


"Iya." Lili tersenyum.


Yohan dan Ily berpandangan sejenak, sebelum akhirnya saling membalas senyum dan menatap Lili dengan sorot lembut.


"Temen Lili nggak didukung keinginannya buat bikin antologi puisi, temen Lili yang satu lagi nggak ada cita-cita," kata Lili memberi tahu tanpa diminta. "Lili nggak tau harus gimana sama mereka. Sementara Lili didukung dan punya cita-cita."


Yohan mengerutkan keningnya samar."Kamu semangatin aja, Li."


"Udah, Yah," balas Lili cepat. "Tapi aku harus gimana buat nyemangatin orang yang nggak ada cita-cita?"


"Memangnya serius dia nggak ada cita-cita?"


"Ibu tau Theo, kan?" Lili membalas pertanyaan Ily dengan pertanyaan. "Itu temen yang Lili bicarain. Orang tuanya cerai dan seolah nggak butuh Theo dan adiknya lagi. Tapi Ayah Theo katanya maksa Theo ini-itu, padahal Theo sendiri nggak mau. Theo juga nggak punya cita-cita."


Yohan berdeham agak keras, membuat Lili melihatnya. Wajah Yohan pun sudah berubah tegas. "Ayah nggak suka kamu bicara Theo lagi."


"Lah, kenapa, Yah?" Lili terperangah, tak mengerti sama sekali.


"Kemarin Om Elvan telepon Ayah. Ah, bukan cuma kemarin sih, kayaknya sejak dua minggu kemarin." Yohan mulai menjelaskan. ",Dia tanya keberadaan Regan, soalnya HP-nya ditemukan terakhir kali aktif di sekitar daerah sini."


"Regan hilang, Yah?"


"Nggak hilang, sebenernya." Yohan menggeleng pelan. "Kan mereka ada di sini untuk liburan keluarga kan, ya. Nah, tiba-tiba Regan memisahkan diri gitu. Entah mau apa dia. Nyatanya, anak itu balapan dan meminta Om Elvan buat rekrut Theo jadi anaknya."


"Kok bisa gitu?" Ily bertanya heran.


"Soalnya Theo jago juga balapannya, hampir setara sama Regan yang betulan pembalap."


"Terus?"

__ADS_1


"Permintaan Regan itu ditolak Theo. Tapi, Om Elvan tahu Regan itu pribadi yang keras dan nggak mau menyerah gitu aja. Anak itu suka melakukan apapun buat menuntaskan keinginannya. Kayaknya semua orang juga bisa tau itu dari wajahnya." Yohan tersenyum tipis. "Dan tahu apa yang dipakai Theo buat menolak permintaan Regan itu?"


"Apa, Yah?" tanya Lili penasaran.


"Uang." Yohan menjawab singkat. Membuat Lili membulatkan matanya dengan sempurna. "Seratus juta."


"Hah?!" Ily juga kaget.


Yohan menatap kedua perempuan yang disayanginya dengan ekspresi menduga. "Kan. Kalian kaget."


"Darimana Theo bisa punya uang sebanyak itu?" Lili bertanya bingung.


"Kita nggak akan pernah tahu itu kecuali kita bertanya ke Theo. Tapi, kayaknya semua orang udah bisa berpikir kalau bukan karena Theo punya pekerjaan, uang itu nggak akan pernah dia punya."


Mendengar penjelasan Yohan, Ily dan Lili mengangguk-angguk setuju.


"Apa Theo pernah bekerja?" tanya Yohan pada Lili.


"Nggak, Yah."


Yohan menjentrikkan jarinya dengan wajah yakin. "Kemungkinan besar, uang itu Theo dapatkan dari hasil perbuatan yang nggak bisa kita bayangkan. Apalagi melihat hubungannya dengan orang tuanya yang tidak baik, tidak mungkin Theo mendapatkan uang sebanyak itu hasil dari minta."


Melihat Ily dan Lili yang hanya mampu terdiam, Yohan tersenyum maklum. "Kalian setuju ya, kan?"


"Ibu nggak nyangka Theo anaknya akan seperti ini." Ily akhirnya memberi komentar setelah lama berpikir.


"Ya, makanya, Ayah nggak suka lagi ke Theo. Selain karena anaknya nggak begitu akrab dengan kita, dia juga sepertinya menyimpan bom waktu."


Lili ingin tertawa atas pandangan Yohan terhadap Theo. "Dua begitu karena malu-malu, Yah. Aslinya baik, kok. Perhatian malah."

__ADS_1


Yohan berdecak, masih tak setuju. "Kita nggak akan pernah tahu apa yang disembunyikan dibalik batu sampai kita menyibaknya sendiri. Sebaiknya kamu jaga jarak aja, Li."


***


__ADS_2