
"WOI CABE, LO DI MANA, DAH? INI UDAH MAU PENYEMATAN, LHO."
Ily membulatkan matanya saat Tiffany berteriak dengan lantangnya lewat telepon. Waktu mereka bertiga masih berpelukan dan Elvan menangis penuh isak ala laki-laki, ponsel Ily berdering dan rupanya itu dari Tiffany. Pelukan mereka lepas dan langsung diberi informasi seperti itu dari Tiffany.
Ily menatap Elvan dan Eza dengan wajah panik. Ia langsung mengatur panggilan pada mode loud speaker. Elvan dan Eza refleks lebih mendekat dan mendengarkan dengan seksama.
"Kapan mulainya, Tif?" tanya Ily harap-harap cemas.
"BURUAN AJA SINI SIH RIBET AMAT. INI MC-NYA UDAH BILANG BENTAR LAGI, WOI!"
"Jam berapa--"
"UDAH LY SINI POKOKNYA AH CAPEK GUE. BYE."
Suara sistem yang terputus membuat ketiganya terhenyak. Ily perlahan menatap Elvan dan Eza.
"Mau penyematan, nih," katanya melaporkan hasil dari pemberitahuan oleh Tiffany.
"Gue nggak ada jas," keluh Elvan bingung. "Tapi kalau kalian mau pergi, silahkan. Gue di sini aja nggak apa-apa. Wakili aja gue."
Ily menggeleng keras. "Nggak! Pokoknya kita harus bertiga ke sana bareng-bareng!"
"Tapi gimana, Ly?" tanya Eza yang kering ide.
Senyum Ily terkembang penuh arti. "Gue udah ada rancangan. Tinggal direalisasikan."
***
"Shelmi Aditira."
"Sandi Faisal."
"Rasti Maulida."
Suara panggilan anak-anak itu samar-samar terdengar saat Ily, Elvan dan Eza keluar dari mobilnya. Ketiganya langsung berlari dengan panik ke aula sekolah. Sesak dan banyak orang adalah hal yang wajar, namun kedatangan tiga siswa yang berlari sedemikian rupa membuat kerumunan membukakan jalan begitu saja.
Mereka jelas menjadi perhatian, tak terkecuali Tiffany yang segera berdiri dan melihat yang menjadi sumber keributan itu.
"ILY!"
Ily tersenyum lebar dan hendak menghampiri Tiffany yang melambai-lambaikan tangannya. Ily berbalik pada Elvan dan Eza dengan senyum kecil.
"Kita pisah di sini, ya. Nanti pulang bareng."
__ADS_1
"Mau ke Tiffany?" tanya Elvan memastikan.
"Iya."
"Dari kapan deket?"
"Ya, gitu deh," balas Ily tak mau menjelaskan panjang-panjang dan hanya mengangkat kedua bahu untuk setengahnya setengah berlari ke arah tempat duduk Tiffany.
Ditinggal begitu, Elvan dan Eza saling pandang. Beberapa saat kemudian, mereka saling membelakangi dengan wajah memerah menahan malu.
Bagaimana tidak? Sekarang baju mereka sangat aneh. Eza memang jas, namun memakai celana jeans. Elvan beda lagi, dia memang memakai celana hitam yang menjadi pasangan jas Eza, namun dia memang baju kuning cerah yang kontras dengan celananya.
Itu semua ketentuan Ily dan tak ada yang protes karena merasa seimbang satu sama lain.
Beruntung Elvan, Eza dan Ily datang di saat yang tepat. Kelas mereka belum kebagian penyematan dan ada waktu untuk menghilangkan lelah serta mengelap peluh yang keluar karena mereka berlari.
Pembawa acara memberitahu bahwa prosesi penyematan kalung penghargaan akan segera dimulai dan para guru yang menjadi wali kelas diharapkan berbaris untuk melakukan penyematan kalung medali pada anak-anak muridnya.
Semua murid jelas senang. Semuanya dinyatakan lulus dengan nilai rata-rata yang bagus. Belum lagi ada satu siswa yang mendapatkan nilai sempurna. Entah siapa dia, tapi jelas Ily iri.
Dulu, dirinya yang menjadi yang terbaik. Dulu, dirinya yang menjadi perwakilan siswi. Dulu, dirinya terdepan.
Meski begitu, Ily tak akan menyerah untuk menjadi yang terbaik. Ia akan terus berjuang dan membuat bangga orang-orang disekitarnya.
Dengan wajah cerah, ia menunduk, membiarkan wali kelasnya mengalungkan medalinya.
"Kamu ini abis marathon, ya? Keringetan gitu, napasnya juga masih terengah-engah gitu," kata wali kelasnya dengan decak tak percaya. "Ada-ada aja."
Ily hanya cengengesan sebelum akhirnya disambung oleh orang lain. Selesai itu, Ily duduk kembali di sebelah Tiffany yang sudah lebih dulu mendapatkan medali untuk setelahnya melakukan foto-foto dengan beribu gaya.
Di samping itu, saat giliran kelas mereka tiba, Elvan dan Eza tak sanggup lagi menahan malu. Meski tak ada aturan khusus mengenai pakaian, tetap saja pakaian mereka kini sangat nyeleneh.
Tak ada satu pasang mata yang tak melihat mereka dengan pandangan aneh. Namun, berusaha sekuat tenaga, mereka mengabaikannya semuanya dengan saling menguatkan.
"Jangan malu gitu, Van. Najis," ledek Eza, sebenarnya dimaksudkan untuk menguatkan diri sendiri.
Elvan merotasikan bola matanya dengan jengah. "Yang ada lo yang Malian, ege. Gue sih pede-pede aja gini. Udah biasa."
"Udah biasa gila mah beda, iya, iya," paham Eza seraya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Elo temenan sama yang gila. Bedanya apa coba?"
Eza kicep. Tak tahu harus membalas apa, namun karena melihat sang wali kelas yang semakin dekat dengannya, ia menjadi dapat menjawab.
__ADS_1
"Udah elah, itu mau giliran lo noh," katanya seraya membalikkan badan Elvan supaya fokus ke depan dan melakukan prosesi penyematan medali dengan khidmat.
Elvan tak membalas lagi, fokus seperti yang Eza harapkan. Ketika dia benar-benar berada di depan sang wali kelas, wajahnya langsung tersenyum ceria.
"Bu," sapa Elvan seraya menunduk. "Sehat, Bu?"
Bu Fahra, wali kelasnya, segera menepuk pundak Elvan dengan wajah super serius. "Sehat, Van. Ibu sehat. Ibu makin sehat sewaktu selesai menyerahkan kamu kembali ke ayah ibu kamu."
"Lah, segitu senengnya, Bu?"
"Iya!" Bu Fahra membalas sewot. "Soalnya kamu bandel banget! Saya udah capek urusin kamu. Sana kuliah, banggain orang tua!"
"Yah, ayah ibu saya udah cerai gimana, dong?" tanya Elvan sedih. Terkesan sangat bercanda.
Walaupun Eza mengantisipasinya dan mengartikannya dengan serius, Bu Fahra justru tak memahami apa-apa dan menganggap pertanyaan Elvan yang sarat kesedihan di matanya itu hanya candaan sekilas.
"Nanti kejadian. Jangan ngomong nggak bener." Bu Fahra melotot. Khas guru yang sudah lelah atas sikap anak didiknya tuangĀ kurang bisa diatur. Sebab dari awal naiknya Elvan ke kelasnya, Bu Fahra telah mengalami banyak hal yang membuat darahnya naik luar biasa. "Udah, sana, sana! Eza, sini! Biang kerok satu lagi ini."
Elvan menahan tangan Bu Fahra yang mengusirnya. "Yah, ibu. Elvan seriusan, Bu. Lagi sedih, nih, aku."
"Eza, sini." Bu Fahra mengabaikan Elvan. Fokus untuk menarik Eza yang masih terdiam karena Elvan masih di sana, tempat di mana penyematan dilaksanakan.
"Bu," rengek Elvan sekali lagi.
"Elvan, sekarang bukan waktunya bercanda," tegur Bu Fahra tegas. "Kamu sudah lulus. Sudah selesai urusannya sama saya. Kalau bisa sih, kita nggak perlu berurusan lagi, ya. Saya punya murid baru nanti, yang semoga nggak kayak kamu."
Mata Elvan membulat. Tangannya menyentuh dada dengan ekspresi wajah tersakiti. "Aw. Jadi, gini rasanya sakit yang tak berdarah."
Bu Fahra menatap Elvan dengan kening berkerut dalam. "Elvan."
Elvan langsung nyengir. Kemudian beralih untuk berdiri di samping Bu Fahra, sementara Eza langsung maju dan menundukkan kepalanya. Bu Fahra mengela napas, membiarkan Elvan bertingkah untuk setelahnya mengambil medali untuk disematkan pada leher Eza.
Namun, ketika Bu Fahra hendak melakukannya, Elvan justru merebut medali itu dan menyematkannya pada Eza begitu saja. Elvan menepuk pundak Eza dengan serius.
"Jadilah anak sukses, ya. Kalau kamu sudah, bisa hubungi saya. Walaupun sudah lulus, setidaknya tali silaturahmi tidak boleh putus, kan?" Perkataan Elvan memang terkesan bercanda hingga Bu Fahra ingin sekali berteriak dan menyuruh Elvan untuk pergi, namun perkataan serius Elvan setelahnya membuat Bu Fahra terdiam. "Harusnya itu kan yang dikatakan ibu ke Elvan?"
Eza melongo. Tak menyangka jika temannya ini sangat pintar berkata-kata hingga membuat guru Bahasa Inggris yang terakreditasi baik itu terdiam seribu bahasa.
Dengan ritme degupan jantung yang kencang, Elvan berdeham, menatap Bu Fahra tepat di matanya yang terhalang kaca mata. Semua orang melihatnya kini, sebab ia adalah dalang kemacetan acara.
Termasuk Ily. Namun, tak ada yang protes karena sepertinya Bu Fahra pun tak merasa semua ini salah. Elvan memang perlu didengarkan.
"Kalau saya jadi ibu, saya akan minta maaf dan bilang seperti apa yang saya bilang barusan ke saya."
__ADS_1
***