
**LSF (Luhan si Fakboy)
happy reading all*:*
Plak!
Pipi Luhan yang putih itu jadi sasaran empuk dan mulus sebuah tamparan dari seseorang berambut bergelombang di depan sebuah cafe. Luhan yang baru saja date dengan seseorang di cafe itu, bertemu dengan perempuan yang baru saja menamparnya ini di saat dia keluar.
Beruntung pacarnya sudah pulang beberapa saat yang lalu.
Maksudnya, sangat baru saja.
Jika Luhan harus sangat terperinci, baru tiga detik setelah pacarnya pergi, perempuan ini langsung muncul entah dari mana dan tiba-tiba saja menampar pipi Luhan. Sehingga keduanya jadi perhatian orang-orang untuk sekian detik karena setelahnya orang-orang itu sibuk kembali pada tujuannya.
Oh ya, sebut saja perempuan ini Laura. Dia adalah mantan Luhan dua minggu yang lalu. Awalnya rambutnya lurus, Luhan sangat menyayangkan Laura merubah gaya rambutnya menjadi bergelombang seperti samyang hot kalau saja warnanya merah.
Sayangnya, rambutnya berwarna hitam kelam.
Mata Luhan membulat saat menatap Laura. "Apa yang baru saja kamu lakukan pada mantan pacar terbaikmu?"
"Sok manis lo!" geram Laura dengan kepalan tangan mengepal super kuat karena tak tahan dengan kelakuan Luhan. Untungnya sana dia sudah putus. "Najis, ih!"
"Heh!" Luhan tak terima kalau diperlakukan begini tiba-tiba tanpa Laura menjelaskan apa masalahnya. Jadi, Luhan menahan tangan Laura saat perempuan berambut hitam bergelombang itu mau pergi begitu saja dari hadapannya.
Karena tangannya ditahan, langkah Laura mau tak mau terhenti. Dengan wajah dengan kesar tertahan, Laura menatap Luhan. Dia segera melepas tangannya dari genggaman Luhan. "Apa?!"
"Kenapa tiba-tiba tampar gue?" tanya Luhan tak suka. "Kelakuan lo nggak bisa dimaafkan. Lo paham itu?"
Laura menatap Luhan dengan tak percaya. Dia membuang napas kasar. Kemudian melangkah mendekat pada Luhan dan mendongakkan kepalanya untuk menatap Luhan tepat di mata, yang tepat sepuluh centi meter dari matanya.
"Lo pelukan sama cewek lain saat gue masih jadi pacar lo ITU lebih-lebih nggak bisa dimaafkan tau nggak?" Laura mengeratkannya rahangnya. Suaranya yang pelan dan menusuk barusan membuat Luhan sedikit terkejut.
Wanita semanis dan selucu Laura ternyata bisa jadi segarang dan sekejam ini.
__ADS_1
"Dan kenapa gue tampar lo barusan." Karena menjauhkan tubuhnya hingga dirinya dan Luhan berjarak normal. Laura menatap Luhan lurus-lurus. Ada kasihan dan sorot meremehkan di matanya. "Biar lo sadar buat nggak jadi cowok brengsek lagi. Biar lo nggak bikin cewek jadi gue sekarang ini."
Luhan menyunggingkan senyumnya. Ada dua dekik di bawah mulutnya waktu tersenyum. Manis. Lucu. Tampan.
Dulu Laura sempat tergila-gila pada senyuman Luhan, namun saat melihatnya kini, Laura ingin muntah dan menjambak rambut Luhan agar wajahnya bisa ia arahkan dan celupkan pada muntahan Laura itu.
"Lo kalau mau balikan bilang aja," kata Luhan dengan lembut. "Kalau gue lagi kosong, gue terima, kok."
Laura membuang napas tak percaya. Dia menatap Luhan dengan penuh penilaian buruk. Bagaimana bisa ada laki-laki seperti ini? Bagaimana bisa ada laki-laki seberengsek ini?
Biar Laura jabarkan mengapa dia bisa memberi penilaian seburuk itu pada Luhan, pada mantan pacarnya.
Pertama. Luhan bisa mengirim pesan lucu dan perhatian seperti di bawah ini.
**Sayang, udah makan belum?
Jangan lupa tidur, ya, jangan malam-malam, jangan bergadang. Jangan lupa juga buat mimpiin aku
Aku suka kamu. Cantik.
Mau jalan nggak besok?
Aku di depan rumah, nih
Kamu tau bedanya kamu sama Sin 90°? Sama-sama satu buat aku
Aku aku hilang, jangan nyariin. Aku kan ada di hatimu
Kalau mau ke mana-mana bilang, bakal aku jagain**
Dan sejuta pesan-pesan serupa lainnya. Luhan mengirim itu padanya yang saat itu memang pacarnya. Jadi wajar-wajar ajalah, ya.
Tapi ...........
__ADS_1
Setelah Laura memutuskan untuk menguntit Luhan karena ada yang aneh dari laki-laki itu. Biasanya Luhan pulang jam lima, jadi jam enam. Biasanya Luhan ada di kantin, baru-baru ini nggak ada.
Ternyata Luhan punya yang baru.
Dan ternyata, ponselnya Luhan itu bukan cuma dirinya aja yang dikirim pesan-pesan manis itu. Waktu pacaran sama Laura, Luhan kirim pesan-pesan serupa ke semua cewek yang ada di kontaknya.
Catat ya. SEMUA CEWEK.
Setelah putus darinya dua minggu yang lalu karena Laura sudah tak tahan dengan Luhan, kini Luhan sudah punya gandengan baru. Bahkan setelah Laura menamparnya dua kali, (pertama saat mereka putus, kedua saat beberapa saat yang lalu), setelah Laura mengetahui keburukannya dan kebrengsekkannya, Luhan berkata bahwa dia kan balikan lagi sama Laura.
Emang udah gila ini cowok, pikir Laura takjub.
"Lo gila, Han," kata Laura akhirnya. Dengan tatapan tajam dan wajah jijik.
"Gue nggak gila. Gue akan balikan sama lo kalau lo mau an gue gue udah senggang." Luhan membalas santai. Dan perlu Laura tambahkan, wajahnya yang campuran Korea dan memiliki kulit bersih, sangat tampan hingga tak gagal membuat jantung Laura berdebar lebih kencang saat melihatnya. Luhan makin tersenyum lebar. Menatap Laura lurus-lurus. "Tapi, rambut lo lurusin dulu. Jelek kalau bergelombang kayak samyang. Gue nggak suka."
Dengan napas memburu, mata menatap tajam dan mulai memerah, Laura membuka kepalan tangannya yang kuat itu dan menggantungkannya untuk menyentuh pipi kanan Luhan dengan dorongan yang tak bisa dibilang pelan. Mata Luhan melotot.
Adegannya seperti diperlambat.
Dan ..........
PLAKKK!
"DASAR F*CKBOY! NERAKA ITU RUMAH LO, YA?!!!!"
"Aaaaaa!" seru Luhan kesakitan luar biasa. Pipinya panas. Super panas. Perih. Super perih. Pokoknya Luhan tersiksa. "Hei, Laura!"
Luhan berseru saat Laura mulai melangkah menjauhi dirinya. Saat lima langkah Laura ambil, perempuan itu berbalik lagi. Wajahnya dan keberadaannya sedikit membuat Luhan terauma hingga dia agak mundur ketakutan saat melihat sorot mata Laura yang masih tajam dan penuh amarah.
Luhan menyesal sudah memanggilnya.
"MATI AJA LO, ******!" seru Laura kesal habis-habisan.
__ADS_1