Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 28


__ADS_3

Tak ada yang lebih menyedihkan dari gagal setelah bermulut besar.


Ily sampai di rumah pada jam empat sore. Ia sempat menolak tawaran Raihan untuk mengantarnya, namun karena Raihan agak memaksa, membuat Ily tak enak hingga akhirnya pasrah setuju. Ayah dan ibunya belum pulang dari pekerjaan. Biasanya mereka memang ada di rumah jam lima sore atau jam enamnya.


Ada sedikit kelegaan dalam hati Ily saat mengetahui bahwa rumahnya kini sepi. Tidak ada yang melihat matanya kini bengkak dan suara pasti agak serak.


Tanpa melakukan kegiatan lainnya, Ily segera pergi ke kamar untuk setelahnya membersihkan diri. Diguyur di bawah air dingin setidaknya membuat Ily sedikit rileks. Dia mencuci wajah, menyikat gigi dan membersihkan rambutnya dengan shampoo.


Kegiatan di kamar mandi itu selesai dalam lima belas menit saja. Ily tak betah lama-lama di sana dan keluar dengan handuk melilit di kepalanya. Ily sudah memakai baju tidur.


Berjalan ke arah cermin dan meja rias, Ily mengambil hairdryer dan mulai mengeringkan rambutnya yang sudah setengah basah. Tak lama kemudian, setelah kering, Ily menyisirnya rapi-rapi.


Untuk waktu yang agak lama, Ily menatap pantulan dirinya di cermin.


Matanya sudah kembali segar, tak merah dan agak bengkak seperti sebelumnya. Namun, raut wajah muramnya masih ada. Ily takut ayah dan ibunya menyadari hal itu dan menjadi khawatir.


Andai saja Ily punya keberanian, pasti dia tidak akan sefrustasi ini.


Ily sudah menghilangkan cemas dan takut dengan menyetel lagu keras-keras, menari-nari tak jelas dan akhirnya menonton film komedi yang seharusnya bisa mengocok perut.


Satu jam berlalu dan akhirnya kedua orang tuanya datang. Seperti biasa, Ily menyambutnya. Dan saat itu berlangsung, jantungnya terus memompa tak pelan-pelan hingga rasanya membuat Ily sesak.


"Udah pulang, Ly?" Ibu berbasa-basi, seraya mengibaskan tangannya ke wajah. "Panas banget hari ini. Ibu sampai keringetan gini, aduh."


"Mandi dulu aja, Bu," kata Ily menyarankan.


"Ayok, bareng mandinya," ajak ayah nakal.


Ibu memukul pundak ayah dengan gemas. Kemudian melotot untuk mengisyaratkan bahwa ibu sedang kesal padanya sekarang. Ayah hanya tertawa, kemudian berjalan lebih dulu untuk mandi sebab sana seperti ibu, badannya kini lengket oleh keringat karena terik matahari yang menyengat.


Ily sangat bersyukur karena ayah tak bertanya banyak seperti biasanya mengenai kabarnya hari ini, apa saja yang sudah dilaluinya.


Mungkin ia terlalu lelah.


Dan justru karenanya, Ily tak mau membuat ayah yang telah lelah itu bersedih atas kegagalannya hari ini.


Dari ayah, ibu beralih pada Ily. Senyumnya langsung terkembang lebar.


"Kalau gitu ibu mandi dulu, nanti kamu cerita tentang hari ini, tes kamu dan lain-lainnya," kata ibu ringan, seolah itu hal yang biasa. Memang biasa, sih, namun bagi Ily, sekarang hal itu sangat berat untuk dilakukannya. "Oke?"


Ily menarik senyum agak berat. "Iya, Bu."


Ditinggal kedua orang tuanya begitu saja, Ily ingin menangis lagi. Sungguh, berat sekali rasanya setelah melihat lelah orang tua untuknya, namun balasan yang mereka dapatkan adalah kekecewaan atas kegagalan anaknya.


Sekali lagi, Ily ingin menghilang saja dari dunia ini. Setidaknya, agar ayah dan ibu membuat pengganti baru untuknya.


Namun, jelas itu mustahil. Ily tak bisa hilang dan menghindari masalah ini begitu saja. Semua masalah ada untuk dihadapi, bukan dijauhi.


Pada akhirnya, Ily berjalan kedua menuju sofa depan TV. Agar tidak terlalu hening, Ily menyalakan televisi itu dan suara dari iklan segera mendominasi rumahnya yang lenggang.


Dengan cemas, Ily menunggu waktu berlalu, menunggu kedatangan ayah dan ibunya. Menyusun kata-kata yang tepat untuk diungkapkan, memasang wajah seperti biasanya dan menarik napas dalam-dalam.

__ADS_1


Jujur saja, lebih berat mengungkapkan hasilnya daripada saat menghadapi tesnya tadi.


"Jadi, gimana, Ly?"


Waktu terasa cepat berlalu saat Ily baru menarik napas dalam-dalam lagi. Ayah dan ibunya sudah berpakaian tidur dan ada senyum lebar di masing-masing wajahnya. Sungguh, hati Ily sangat berat untuk melihatnya.


"Oh, jadi gini..." Ily mulai bersuara, bergeser sedikit saat ayah dan ibunya duduk di kedua samping tubuhnya.


Ayah dan ibunya mendengarkan dengan seksama. Masih dengan senyum yang menyiratkan kebanggaan. Mungkin, tepatnya bukan kebanggaan, tapi harapan tinggi atas keberhasilan Ily yang pada akhirnya dapat membuat mereka bangga.


"Itu... yah... bu... Ily.... Ily..."


Ayah tertawa karena kegugupan anak satu-satunya itu. "Ngomong biasa aja, Ly. Apapun hasil kamu, kami tetap bangga."


Ily memejamkan matanya, bersiap-siap untuk mengeluarkan kata yang sedari tadi ia pendam. "Ily... Ily... nggak lolos, yah, bu."


Sejenak, kedua orang tua Ily terdiam. Terhenyak hingga tak tahu harus berkata apa. Semula, semuanya memang baik-baik saja untuk berkata bahwa tak apa jika anaknya akan gagal dan tak memenuhi harapan, namun rupanya ekspetasi tak pernah selalu jadi kenyataan.


Nyatanya, ayah dan ibu sama-sama sulit menerimanya. Pancaran harapan bahagia di mata keduanya perlahan pudar, membuat bahu Ily merosot dan kepalanya tertunduk dalam. Tangannya menggenggam ujung bajunya kuat-kuat, menahan air mata supaya tak jatuh dan memperburuk keadaan.


Tak lama, punggung Ily terasa hangat oleh dekap. Mulanya, itu terasa hanya di bagian kanan, tempat ibunya duduk. Lalu perlahan, sisi kirinya juga terasa sama. Pada akhirnya, Ily merasakan hangat itu dengan haru, hingga ikut membuat matanya menghangat, kemudian mencair dalam bentuk air mata.


Ily tak sesegukan, tak sedih, tak sesak, namun bahagia dan haru jelas menjadi penyebabnya.


"Nggak apa-apa, Ly. Toh, ibu juga waktu masih muda ogah-ogahan kuliah sampai akhirnya terpaksa kuliah di swasta," kata ibu menenangkan. Mencium puncak kepala Ily dengan sayang. "Kamu yang sekarang jelas lebih baik dari ibu, Ly. Mungkin begini udah jadi yang terbaiknya."


"Iya. Toh, banyak juga orang sukses yang gap year. Kamu nggak perlu tertekan apalagi stress. Kalau mau, tahun depan bisa coba lagi. Lebih berusaha lagi." Ayah menambahkannya dengan nada lembut yang tak kalah menenangkan. "Ayah sama ibu pasti dukung kamu sepenuhnya. Jangan lepas harapan."


"Sama-sama sayang," balas ibu, semakin mengeratkan pelukannya dan membuat Ily makin senang.


Tak ada yang lebih membahagiakan dibanding tak dibuang saat telah menjadi sampah.


***


"Misi pertama lo."


Elvan sontak mengerutkan keningnya saat Juna langsung memberikannya satu amplop yang entah isinya apa sewaktu dirinya datang ke apartemen Juna karena laki-laki itu memanggilnya. Seperti biasa, Juna ingin bertemu dengannya saat matahari telah tenggelam.


"Hah?" Elvan menatap amplop itu dengan bingung. "Maksudnya?"


"Katanya lo mau kerja gitu. Kemarin-kemarin lo maksa gue, tanya gue tentang kerjaan yang bisa lo kerjain." Juna menjelaskan datar. Kemudian menatap amplop itu dengan ekor matanya, karena saat ini dirinya tengah sibuk pada laptop di depannya. Mengerjakan tugasnya gas dari ayahnya. "Itu kerjaan pertama lo. Buka aja amplopnya."


"Oh gitu," balas Elvan paham.


Tanpa basa-basi lagi, Elvan merobek amplop itu dan melihat isinya. Di dalamnya, ada dua lembar uang berwarna merah muda dan secarik kertas yang dilipat-lipat. Elvan menarik dua lembar uangnya dan memasukannya ke dalam saku.


"Mudah banget lo ambil bayarannya sebelum misi itu terlaksana." Juna menyindir sejak dirinya memerhatikan Elvan. "Kalau sampai misinya gagal, gue nggak yakin lo bakal ada muka buat hadapin Bang Jefri."


Kening Elvan berkerut lagi. "Bang Jefri siapa?"


"Koordinator bidang lapangan. Bos lo." Juna membalas enteng. "Jadi, sekarang lo jadi pegawai di bidang lapangan. Gue yang paksain supaya nama lo terdaftar jadi anggota baru. Harusnya, inginnya, lo nggak mengecewakan."

__ADS_1


"Oh, makasih," balas Elvan tulus.


Sejenak, rasanya ada letupan hangat yang pecah di dada Juna. Rasa itu menjalar ke perut, lalu ke atas dan terciptalah lengkung di bibir yang jarang senyum itu. Jarang sekali dirinya mendapatkan ucapan terimakasih dan satu kalinya ia dapat, dirinya menerima dari orang tak terduga dan rasanya aneh.


Aneh yang menyenangkan dan membuat candu.


Juna tak tahu bagaimana rasanya berjasa untuk orang lain, hingga dia berteman dengan Elvan.


"Sama-sama," balas Juna pelan. 


"Tugasnya pegawai di bidang lapangan itu apa?"


"Memastikan supaya yang di lapangan itu terkoordinir, terkontrol dan berjalan lancar. Bukan hanya lapangan terbuka yang diurusi, lapangan belakang yang tertutup pun harus dipastikan aman terkendali."


Kening Elvan makin mengerut. "Maksudnya gue ngawasin lapangan gitu? Lapangan apa? Voli, basket atau futsal?"


Juna hampir mendelik. "Lo tahu, lapangan di sini bukanlah lapangan yang sebenarnya."


"Lah, terus apa dong?" Otak polos Elvan masih belum sampai pada apa yang Juna harapkan.


"Perusahaan ayah gue kan banyak cabangnya, banyak juga pemegang sahamnya. Diantara itu, nggak semua bener. Kadang, ada beberapa pihak yang harus ditegasin biar nggak bikin masalah. Atau justru nanti lo jadi penengah atau penyelesai masalah yang timbul," jelas Juna kalem.


"Oh..." Elvan terdiam agak lama. Juna menganggapnya mengerti atas penjelasannya, namun lanjutan Elvan justru diluar dugaannya. "Nggak ngerti."


Juna bisa membayangkan bagaimana teman Elvan sebelumnya bisa sefrustasi apa. Juna saja yang belum lama dekat sudah merasa tak tahan atas kapasitas otak Elvan.


"Intinya, nih ya, lo harus jago berantem," cetus Juna tegas.


Wajah semangat bercampur penuh harap Elvan seketika luntur. "Gue nggak jago berantem, Jun. Semenjak SMP, Ily udah larang-larang gitu jadinya gue nggak pernah masuk ke dunia gituan."


"Payah."


"Ya, terus gimana?"


"Kerjaan buat lo dari gue ya cuma itu."


"Nggak ada resepsionis atau sekretaris, gitu?"


"Kalau lo cewek, terus seksi dan cantik, kemungkinan bisa."


Bahu Elvan melotot. "Ini sekali kerja emang dapet segini, ya?"


"Nggak." Juna membalas dengan santai, yang jawabannya itu sukses membuat Elvan terkejut bukan main. "Tiap hari. Itu berlaku kalau misi lo sukses."


"Muantep jiwa."


"Ya, tapi syaratnya harus kuat. Jago." Juna menukas tajam. "Kalau lo setuju, besok gue ketemuin sama Bang Jefri."


"Bang Jefri... orangnya gimana?" Elvan bertanya takut-takut.


"Nanti lo tau waktu ketemu," balas Juna, meninggalkan tanda tanya besar di benak Elvan yang memercikkan rasa rakut akan pertemuan itu.

__ADS_1


Pertemuannya dengan Bang Jefri.


__ADS_2