
"Gemaaaaaaa jangan marah," rengek Lili untuk yang ke-105 kalinya sejak bel masuk kelas setelah jam istirahat pertama berakhir sampai akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Pada Gema yang tak kunjung membalas rengekannya itu. "Gema, gue nggak sengaja begitu. Gue nggak niat lupain lo, Gem."
Lili paham mengapa Gema jadi bersikap dingin dan jutek padanya. Pasti karena Lili beristirahat dengan Jae tadi, sehingga lupa pada Gema.
Gema memakai tasnya dengan wajah datar. Tak peduli dengan keberadaan Lili dan rengekannya. Dengan langkah cepat, ia melangkah pergi dari kelas.
Lili menyusulnya dengan wajah frustasi. Lili menarik-narik lengan Gema. "Gemaaaaaaa. Geeeeeeeeeem. Gema sayang. Gema, ish, maafin gue."
Masih tak dibalas.
"Gema."
"Maaf, Gema."
"Ma."
"Gem."
Lili ingin menangis saja. Di sekolah ini temen terbaiknya hanya Gema. Lili tak bisa sama yang lain. Kalau Gema marah padanya, Lili bergaul sama siapa?
"Gema, lo tau gue suka banget-banget-banget ke Kak Jae. Kok lo nggak mendukung, sih?" tanya Lili jadi kesal.
Gema akhirnya berhenti melangkah ketika sampai di area gerbang masuk. Perempuan berambut sebahu itu menoleh pada Lili dan wajahnya Lili jadi super senang karenanya.
Apa Gema tak marah lagi padanya?
__ADS_1
"Gue lebih suka lo sama Theo aja." Perkataan Gema yang disuarakan dengan datar dan tampak serius itu membuat mata Lili membulat lebar. Kepala Gema kemudian bergerak, menangkap sosok Theo. "Tuh, sama Theo aja kalau mau ke kantin mulai sekarang ... eh kok ada Sherin?"
Mata Lili turut bergerak. Melihat sosok Theo di samping motornya dengan Sherin di hadapannya. Mendadak, ada sesuatu yang mengganjal tenggorokan Lili.
Tahu-tahu, Sherin menggeram tangan Theo. Sherin berkata-kata, entah apa karena jaraknya dengan Lili lumayan jauh hingga suaranya tak terdengar jelas. Theo menjawab singkat, kemudian melepas genggaman tangan dari Sherin.
Lili merasa lega.
Namun, saat Theo lanjut memberi Sherin helmnya, mata Lili tak bisa ditahan untuk membelalak tak percaya. Gema yang berada di sampingnya mendadak lupa bahwa dia dan Lili sedang ada masalah turut menonton dengan wajah terkejut.
"Li, mereka ... pacaran?"
Lili tak menjawab langsung. Sherin naik ke motor Theo, tangannya hadir memeluk pinggang Theo dengan erat, tampak sangat mesra dan membuat iri untuk siapapun yang melihatnya. Theo menarik gas dan membawa motornya pergi entah ke mana karena dua tubuh itu menghilangkan di belokan.
Mungkinkah mereka akan kencan?
Namun, Lili bisa membuang napas lega saat Dika naik ke motornya dan berlalu pergi ke arah berlawanan dari jalan yang dilalui Theo beberapa saat yang lalu.
"Li," tegur Gema saat mendapati Lili yang tengah melamun.
"Eh!" Lili mengerjapkan matanya berkali-kali. "Oh, Gema."
"Theo sama Sherin ada apaan?" tanya Gema penasaran. Wajahnya tampak khawatir karena Lili sepertinya cemburu dan sakit hati.
Lili menggeleng lemah. "Gue juga nggak tau.
__ADS_1
Gema tersenyum menenangkan. Kemudian mengusap-usap punggung Lili. "Yang sabar, ya. Cemburu itu hal wajar, tapi jangan sampai--"
"Kenapa gue harus cemburu?" potong Lili langsung naik darah.
"Lo liat Theo sama cewek lain. Boncengan. Dipeluk dari belakang. Bahan pegangan tangan sebelumnya." Gema menatap Lili khawatir. "Lo nggak apa-apa dengan semua itu?"
"Buat apa merasa apa-apa karena itu?" Lili membalas sarkas. "Udah ah, pulang aja kita. Udah sore."
Sebenarnya sore itu Lili merasa hatinya tak enak. Banyak perasaan bercampur di dalamnya. Lili tak menyadari bahwa perasaan tak enaknya terbentuk karena khawatir, tak suka dan ... cemburu.
***
Lili sudah menyerah duluan jika ingin bertanya pada Theo tentang sesuatu. Pastinya Theo tak akan menjawab dan kabur setelah mengatakan bahwa Lili jangan ikut campur lagi pada hidupnya karena bahaya.
Lili tak takut dengan bahaya yang selalu dikatakan Theo. Selama dia tak menemukan fakta bahwa Theo pernah mencuri, mengancam dengan pisau atau membunuh seseorang, Lili tak akan menyerah untuk terus mendekat.
Novel Lili tak akan pernah selesai jika masih ada yang mengganjal di pikirannya.
Karena itu, waktu bel istirahat kedua berbunyi, Lili langsung ngacir. Tanpa bilang-bilang dulu ke Gema karena teman sebangkunya itu juga ada urusan ekskul, Lili melangkah cepat menuju kelas IPA 1 yang hanya terhalang satu kelas dari kelasnya.
Lili menunggu dengan cemas di pinggir pintu kelas IPA 1. Anak-anak berbau ambisius dan pintar mulai keluar. Beberapa menatap Lili dengan penasaran sesaat. Lili mengepalkan tangannya, mengumpulkan tekad.
Ketika seseorang yang dia tunggu-tunggu hendak melewatinya, mata Lili membulat terkejut.
"Ten!" seru Lili refleks.
__ADS_1
Ten yang awalnya berjalan damai harus terlonjak kaget dan berhenti melangkah seketika. Dia menoleh ke asal suara, menatap Lili dengan kening berkerut.
"Ada apa, nih?" tanya Ten bingung.