
Dua Minggu kemudian ....
"Gila, Li," kata Gema dengan haru membuncah saat akhirnya Lili dapat kembali sekolah dan duduk di sampingnya. Gema segera memeluk Lili, meskipun inginnya ia memeluk dengan erat, Gema menahannya karena takut Lili masih sakit. "Kageeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen."
"Buset, deh," balas Lili geli. "Itu e-nga banyak bener kayak kereta dari Jakarta ke Surabaya."
"Ye, malah ngeledek." Gema melepas pelukannya seketika. Kemudian menatap Lili dengan tak suka. "Gue bener-bener kesepian, lho. Tanpa lo itu, dunia gue hampa, Li."
Lili jadi terharu. Dia masih tak percaya dirinya bisa bersahabat dengan perempuan berhati sebaik Gema. Kemudian Lili menarik tubuh Gema lagi dengan gemas.
"U tu tu tu tu, cini, cayang, aku peyuk!"
Gema dan Lili berpelukan dengan erat tanpa menyadari bagaimana orang-orang di kelas melihat mereka. Terutama Theo. Dia cemburu sekali pada Gema.
Theo sudah berbaikan dengan Lili. Ya, memang, sih. Tak ada perselisihan atau permusuhan antara Theo dan Lili, namun mengingat di masa dulu mereka sering menegangkan urat leher saat berbicara, keduanya memutuskan untuk berbaikan dan saling melepaskan.
Ya, Theo dengan perasaannya pada Lili dan Lili yang melepaskan perasaan Theo padanya. Mereka jadi teman saja. Itu cukup.
Begitupula dengan Yohan yang kabarnya mengizinkan Lili untuk menulis sebuah novel untuk yang terakhir kalinya. Ya, memang, keputusan yang diputuskan secara terburu-buru dan sepihak kadang menjadi sebuah keputusan yang tak bertahan lama. Bisa berubah seiring dengan waktu.
Theo tak pernah mendekati Lili lagi. Minggu, sebaiknya mereka seperti dulu saja. Berjarak, tak dekat dan tak saling melukai. Duduk di meja sebelah Lili saja sudah menjadi kebahagiaan bagi Theo. Dia tak akan meminta lebih.
Lili sendiri sudah memutuskan untuk berjuang keras-keras menerbitkan sebuah novel tahun ini, atau tahun depan, atau tahun depannya lagi.
Ya, kapanpun itu, mimpi tak pernah punya batas waktu.
Pada intinya, Lili akan memiliki sebuah rangkaian kata-kata yang diterbitkan menjadi sebuah buku.
Tentang dirinya.
Tentang Theo.
***
Beberapa tahun kemudian ....
"Gila dah, jadi lo mau kuliah di Jepang lagi, Ten?"
Lucas langsung bertanya begitu waktu Ten sudah menjelaskan mengapa dia menyuruh Lucas untuk datang ke Starbuz pagi-pagi sekali. Keberangkatan Ten jam sepuluh, dia mau pamitan dulu sama Lucas dan Theo sebelum benar-benar pergi.
Setelah sebulan yang lalu Ten pulang. Setelah menyelesaikan kuliahnya, Ten memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya lagi. Dia akan mencari ilmu sampai ke negeri cinta.
Lucas tampak tak suka, namun keputusan Ten sudah bulat. Dia tak mau goyah lagi.
__ADS_1
Sekarang Lucas sudah menjadi aktor papan atas dengan banyak penghasilan dan pencapaian. Banyak sekali sebenarnya jadwal yang harus laki-laki itu kerjakan, namun untuk Ten, dia mengambil langkah berani untuk menolak beberapa ajakan shooting.
"Ya, lo kira gue bawa-bawa koper buat malming ke rumah Mei Mei?" balas Ten dengan nada agak sarkas. Ada logat aneh dalam suaranya karena dia sudah belajar bahasa Jepang sekaligus Thailand beberapa tahun ini.
"Ya, kan, gue masih nggak nyangka aja, Ten." Lucas berdecak tak suka. Aga sedih sebenarnya. Dia menyenderkan tubuhnya ke kursi dengan wajah lemah dan putus asa. "Gue pikir ini masih mimpi."
"Gue pasti balik." Ten berkata begitu sebab dia paham apa yang dirasakan Lucas saat ini. Pasti, temannya itu khawatir atau takut karena tahun-tahun sebelumnya Lucas yang paling mentang Ten untuk pergi ke Jepang.
Lucas hanya membuang napas kecil mendengarnya.
"Gue nggak akan kenapa-kenapa. Ya, kayak tahun-tahun kemarin aja. Gue baik-baik aja." Ten berdeham, kemudian menyeruput kopinya untuk menghilangkan rasa canggung yang tiba-tiba menyerah."Kalau itu yang bikin lo khawatir."
"Gila aja. Mana khawatir gue." Lucas mendengus kasar. Dia tertawa geli sambil menatap Ten penuh arti. "Gue bangga aja, Ten. Gue bangga! Gue bangga, kalau lo mau tau kenapa gue sampai rasanya mau nangis-nangis gini."
"U, cup cup." Ten mengerucutkan bibirnya dan beraksi seolah sedang menciumi Lucas dengan gemas. Membuat Lucas begedik ngeri melihatnya
Ten mengembangkan senyum lebar di wajah yang telah beranjak dewasa. "Makasih ya atas kebanggaannya. Gue nggak pernah denger ada temen yang bilang bangga ke temannya sendiri."
"Ya, kan gue real friend! Nggak kaleng-kaleng!" Lucas membanggakan dirinya sendiri.
Ten tertawa renyah. Kemudian, kedua orang itu tenggelam dengan pikiran masing-masing seraya meneguk secangkir kopi panas yang spesial dibeli oleh Ten.
Sampai kemudian Ten sadar ada seseorang yang tak kunjung datang. Ten melihat jam tangan di pergelangan tangannya. Jam sembilan. Artinya sudah satu jam sejak Ten mengabari Theo. Ten berdecak keras karena keterlambatan temannya yang satu itu.
"Theo mana *****? Gue mau berangkat bentar lagi nih. Ckckck."
"Bentar, deh, gue telpon dulu." Lucas mengeluarkan ponselnya kemudian segera memanggil nomor ponsel milik Theo. Lucas menatap Ten lurus-lurus seraya menunggu teleponnya diangkat. "Kadang itu anak masih molor di kost-nya karena nggak ada yang ngajak maen."
Kening Ten mengerut. Sudah lima tahun berlalu dan seharusnya Theo sudah lulus. "Emangnya Theo masih kuliah?"
"Ya, menurut lo?" Lucas bertanya dengan wajah tak percaya. Waktu dia mengingat bagaimana kelakuan Theo selama ini, urat leher Lucas jadi timbul karena kesal. Kasihan dan maunya bodo amat aja, tapi gimana ya. Lucas kan temen yang bukan kaleng-kaleng. Jadi, dia harus mau direpotkan sama temannya sendiri. "Tiap hari telat, tiap hari dimarahin dosen, tiap hari diginiin, tiap hari digituin. Lo pikir dia nggak bakal ngulang kuliah?"
Ten mengerjap-ngerjap, turut tak percaya. "Buset, ancur bener sahabat gue yang satu itu. Masih nggak berubah dia?"
Gimana ya, soalnya Ten sudah berapa jadi mahasiswa yang rajin dan berprestasi. Waktu mengetahui kasta Theo masih tak berubah seperti dirinya dan Lucas membuat Ten agak tak enak. Dia kasian, tapi takut melukai perasaan Theo.
"Ya, gitu, deh. Gue nggak ngerti lagi sama jalan pikirannya dia." Lucas mengangkat kedua bahunya dengan tak acuh. Saat mengetahui panggilannya ditolak oleh Theo, Lucas berdecak keras. Dia memutuskan untuk tak menghubungi Theo lagi.
Kini, jadi tertarik untuk gibah. "Oh, ya, lo inget kan Theo yang katanya cintanya bertepuk sebelah tangan sama Lili?"
"Inget, dong! Theo kan jadi bulan-bulanan kita gara-gara itu." Ten tertawa puas.
"Nah, gue pikir dia jadi 'agak bloon' itu gara-gara masalah one-side love ini." Lucas mulai bersiap untuk bercerita panjang-panjang. "Secara, dia satu kelas sama cinta bertepuk sebelah tangan ini selama tiga tahun full. Bayangin, Ten. Bayangin! Gimana nggak depresi dan melampiaskan dengan jalanin kuliah dengan bodo amat?"
__ADS_1
Ten mengangguk-angguk. "Yah, lo bener, sih."
"Mau terus ngomongin gue, nih?"
Suara Theo yang tiba-tiba membuat Ten dan Lucas menoleh ke asal suara. Seseorang dengan jins robek dan baju hitam polos berdiri yang duduk di belakang Ten adalah orang yang barusan bersuara. Dia Theo.
"Lah? Theo?" Kepala Ten harus memutar seratus delapan puluh derajat untuk melihat Theo. Ketika akhirnya Theo berdiri dan duduk bergabung dengan Lucas dan Ten barulah kepala Ten kembali normal. Ten menatap Theo dengan terkejut sekaligus heran. "Sejak kapan lo ada di belakang, bro?"
Theo tersenyum lebar. Kemudian menggerakkan dagunya ke depan dengan tatapan sombong pada Lucas Ten. "Gue penasaran aja. Waktu lo mulai ngomongin gue, gue milih sembunyi dulu, pura-pura belum dateng buat dengerin."
Lucas langsung meringis. "Maaf, Yo." Lucas tersenyum lebar, berharap Theo memaafkannya. Theo hanya mendengus kecil dan mengangguk kecil.
Lucas tersenyum lebih lebar karena senang telah dimaafkan.
Ten berdeham, membuat Theo menatap ke arahnya. Waktu itu lah, Ten menaikkan kedua alisnya satu kali. "Weh, masbro, what's up man?"
"Sehat sejahtera gue." Theo langsung menjawab begitu dengan nada suara tegas. Seperti dahulu kala. Ten senang karena Theo tak berubah banyak. Lucas juga sebenarnya. Ya, syukurlah ketiganya tak berubah banyak.
"Yakin?" tanya Ten jadi meledek. "Bukannya lo lagi broken heart?"
"Gue yakin gue baik-baik aja sekarang. Nggak ada lagi mikirin masalah itu." Theo mendelik kecil. Tak suka karena dia selalu jadi ledekan berkat hal itu. Namun, dia tak begitu mempermasalahkan lebih lama.
Theo selanjutnya tersenyum. Menatap Ten dan Lucas dengan tatapan penuh arti. "Dan yang lo bilang tentang gue kuliah dengan bodo amat itu ...."
Lucas dan Ten sama-sama bingung saat Theo tak kunjung melanjutkan perkataannya.
"What's ...?" Lucas bertanya dengan alis bertaur penasaran saat Theo justru membuka ponselnya dan bermain-main tangan di sana.
"Yo ...." Ten turut bersuara. Entah kenapa, dia takut Theo kesurupan sesuatu.
Ketika akhirnya Theo menunjukkan layar ponselnya, Ten lega karena Theo masih sadar sepenuhnya. Sambil menyodorkan ponsel yang tengah menunjukkan sebuah foto, Theo tersenyum lebar sambil menyilangkan kedua tangannya dan menyederkan tubuhnya ke kursi.
Lucas dan Ten kemudian mendekatkan kepala mereka untuk melihat apa yang sebenarnya Theo kau beritahu.
Ketika melihat sebuah surat kelulusan dari perguruan tinggi tempat Theo kuliah selama itu, Lucas dan Ten tak bisa menunjukkan wajah terkejut sekaligus mata berkaca-kaca mereka.
Theo membuang napas lelah saat melihatnya. Namun, buangan napas itu jelas mengandung sebuah kebanggaan.
"Weh!" Lucas yang bersuara pertama diantara dirinya dan Ten Lucas langsung berdiri dan menjabat tangan Theo erat-erat. Menggoyang-goyangkannya dengan senyuman lebar yang kelihatan sangat bahagia. "HAPPY GRADUATION, MY BROOOOOOO!"
Theo tersenyum lebar. Bangga.
***
__ADS_1