
"Ini namanya eksploitasi calon pacar, Han!" seru Lethan berapi-api.
"Nggak bisa dibiarin!" timpal Langit tak mau kalah.
"Lapor aja ke wali kelas!" tambah Lingga dengan semangat membara.
Tiga anak itu bereaksi serupa setelah Luhan menceritakan bahwa jika dirinya mau berpacaran dengan Reisya, maka Luhan harus membayarkan uang sebesar tujuh ratus ribu untuk membiayai lomba tari tradisional yang akan diikuti Reisya.
Luhan tak bilang ia menolak, tetapi tak bilang juga ia menyanggupi.
Sebab kini, dia sedang bimbang. Niatnya minta pencerahan pada Langit, Lingga dan Lethan, tetapi ternyata yang diterimanya hanya bualan-bualan tak berguna yang bisa menyebabkan hilangnya semangat perjuangan cinta Luhan untuk Reisya.
"Yang ada gue ditabok karena jadi bucin!" seru Luhan pada Lingga, karena ide Lingga adalah yang paling buruk.
Nanti Pak Andre—wali kelasnya—marah kalau ternyata Luhan malah sibuk mendapatkan pacar dari pada belajar atau melakukan kegiatan sekolah yang sangat didukung guru-guru seperti ekskul, ikut klub mata pelajaran dan bersih-bersih secara suka rela.
Tanpa berniat bicara lagi dengan teman-temannya, Luhan memilih untuk memikirkan sendiri.
Luhan bisa berpikir cepat. Sedetik kemudian, dia mendapatkan sebuah keputusan.
Persetan dengan teman-temannya, Luhan yakin untuk memecahkan salah satu celengan **** emasnya yang telah bersemayam sejak Luhan kelas lima SD.
Luhan sepuluh celengan **** untuk biaya setiap kencan yang dia lakukan.
Awalnya, Luhan suka menabung karena Ayah dan Ibunya tidak membelikan barang-barang yang Luhan inginkan. Luhan selalu memakai uang di tabungannya untuk membeli suatu barang yang dia inginkan.
Sampai akhirnya, menabung menjadi hobi Luhan. Selain memudahkannya untuk mendapatkan barang-barang yang diinginkan, Luhan juga bisa mengajak cewek-cewek untuk makan dan pacaran dengan uang yang dia tabung selama ini.
Luhan memecahkan salah satu celengan **** emasnya saat pulang sekolah. Tak tanggung-tanggung, Luhan mengambil tujuh ratus ribu di dalamnya dari jumlah keseluruhan. Sisanya akan Luhan pakai untuk kencan-kencan selanjutnya dengan Reisya.
Huhuy.
Nah, selesai.
Besoknya, Luhan segera menemui Reisya di ruangan seni dan perempuan itu sedang latihan seperti biasa.
Wajah Reisya tampak terkejut saat melihat kedatangan Luhan. Sebab kemarin, Reisya tak mendapatkan jawaban apapun dari Luhan dan sempat berpikiran bahwa Luhan akan melupakannya dan menjauhinya saja.
Malam itu, Resiya sangat putus asa. Dia menangis semalaman dan berpikir untuk membatalkan keikutsertaannya dalam lima atau tidak. Namun, satu yang Resiya yakini dalam hati, dia tak bisa menyerah begitu saja.
Rupanya, Luhan bertindak sebaliknya.
Ketika Reisya akhirnya keluar dan berhadapan dengan Luhan, Luhan mengeluarkan sebuah amplop dari saku celananya. Reisya jelas tau isinya apa, namun dia masih terkejut.
"Ini." Luhan menyodorkan amplop di tangannya pada Reisya.
"Ini yang kamu kan?" Tanpa menunggu lagi, Reisya mengambilnya. Dia membukanya sedikit, kemudian mengintip isinya dan langsung bertanya. Matanya menatap Luhan dengan serius."Asli, kan?" Ketika Luhan mengangguk, kening Reisya mengerut curiga. "Dapet dari mana?"
Luhan tersenyum lucu. "Ini tabungan aku. He he he."
__ADS_1
Reisya bisa tenang jika kenyataannya begitu. Luhan benar-benar baik hati padanya. Mana ada orang yang rela kasih uang tujuh ratus ribu begitu saja, sih? Reisya jadi agak kesal karena Luhan terlalu baik padanya.
"Aku kira kamu bakal ngilang aja. Kayak yang nggak kenal aku lagi karena sama sekali nggak ada pesan atau telepon dari kamu." Reisya menjelaskan dengan suara frustasi. "Aku sempet stress. Tapi sekarang ...."
Air mata Reisya luruh. Tak bisa ditahan lagi. Namun, itu bukan air mata kesedihan dan karena sesuatu yang buruk. Air mata itu jelas menandakan bertapa terharunya, betapa bahagianya Reisya saat ini.
Luhan langsung menarik bahu Reisya untuk membawa perempuan itu ke pelukan. Luhan mengusap-usap punggung Reisya dengan perlahan, menenangkannya. "Hush ... jangan nangis terus, nanti cantiknya hilang."
"Kamu balik lagi." Reisya menarik dirinya dari pelukan Luhan. Dia menatap Luhan dengan mata berbinar-binar. "Aku seneng. Makasih, Luhan."
"Maaf kalau aku nggak kabar-kabarin kamu sebelumnya," balas Luhan dengan nada lemah." Aku banyak tugas sama butuh banyak tidur aja buat ulangan besoknya."
"Iya, nggak apa-apa. Aku bakal gantiin uang kamu." Reisya mengangguk yakin, tetapi kemudian senyumnya agak pudar. "Ya, kalau aku menang."
Luhan mengepalkan tangannya dengan senyum lebar dan yakin. "Kamu pasti menang."
"Iya. Semoga aja." Reisya mengangguk dan menatap Luhan dengan lembut. "Makasih, Luhan."
Kini giliran Luhan yang mengangguk. "Sama-sama."
"Aku masih kaget, sih." Reisya tertawa kecil. Masih tak percaya bahwa di depannya kini ada Luhan dan uangnya ada di tangan Reisya. "Ada ya orang sebaik kamu? Kalau aku tipu-tipu gimana?"
"Aku nggak akan setengah-setengah kalau lagi sayang sama seseorang." Luhan mengulas sebuah senyuman yang amat mempesona. "Mau kamu tipu-tipu atau nggak nantinya, aku percaya perasaan aku ini adalah hal benar yang harus diperjuangkan."
Hari Reisya mengangkat. Hangat itu kemudian menjalar ke lehernya, ke telinganya lalu ke pipinya hingga membuat rona merah tercipta.
Luhan tertawa kecil, menyelipkan anak rambut Reisya ke telinga perempuan itu. "Aku maunya kamu jadi pacar aku aja."
"Kalau itu," balas Reisya, "aku juga mau banget-banget-banget jadi pacar kamu!"
***
"Waduh, jadi serius lo kasih dia duit segitu?" tanya Lethan tak percaya. Pagi ini Luhan mengatakan bahwa uangnya telah diberikan kepada Reisya.
Tujuh ratus ribu jelas bukan nominal uang yang kecil. Kalau Lethan ada di posisi Luhan, pasti Lethan tak akan memberikannya uang sebesar itu. Mau pada siapapun.
Reisya bukan keluarga Luhan. Reisya juga bukan orang yang Luhan hutangi budi. Mereka baru ketemu beberapa hari yang lalu dan fakta itulah yang membuat Lethan tak mengerti mau sebanyak apapun ia berpikir untuk mengatakan bahwa masuk akal Luhan memberi uang sebanyak itu pada seorang perempuan yang bernama Reisya.
"Bukan dia lagi," balas Luhan santai. Senyumnya lebar dan wajahnya terlihat bangga. "Udah official gue sama Reisya-yangku."
"Buset." Lethan kicep. Aslian, dia tak bisa berkata-kata lagi.
"Mabok cinta lo, ya?" tanya Lingga yang sedari tadi mendengarkan. Lingga menatap Luhan dengan mata tajam. "Duit tujuh ratus ribu itu bukan jumlah yang kecil, Bro. Dikali dua cukuplah buat study tour ntar ke Borobudur."
"Ck. Nanti juga kekumpul lagi kalau uang." Luhan tak memikirkan banyak. Dia mengibas-ngibaskan tangannya bak saudagar kaya raya. "Tenang aja. Yang penting ada cinta, hidup bahagia. Gue begini demi cinta, demi bahagia."
Lingga menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gila."
"Bener. Lo bener-bener gila sih kalau kata gue." Langit langsung nimbrung kalau soal seni mengatai-ngatai orang dengan pedas.
__ADS_1
"Ya, ya, ya." Luhan mengangguk-angguk, masih terlihat kalem dan tak peduli. "Terserah."
"Ck." Lethan akhirnya membuang napas panjang. Dia sudah menerima semuanya dan ya ... semuanya masuk akal saat Luhan yang melakukannya. "Orang dia setiap hari begitu. Kok kalian pada kaget?"
"Iya, tuh." Luhan langsung menukas setuju, membuat Langit, Lingga dan Lethan agak kaget karena tak biasanya Luhan mengakui kegilaan dirinya. "Gue tiap hari emang mabok cinta. Emang gila. Puas lo pada?"
Lethan memutar bola matanya dengan jengah. "Bosen gue liatnya."
"Ye, idup-idup gue juga." Luhan menukas dengan nada nyolot. "Masalah aja lo."
"Bukan gitu, jir." Lethan mengiris keras. Kemudian tersenyum penuh arti. "Kasih tips, dong. Gue juga pengen official bareng Dara."
"Mie burung Dara, enaknyaaaaaaa ... nyambung teruuuuuuuuuus!" Luhan malah nyanyi dan membuat anak-anak yang ada di jelas menatapnya.
Luhan segera tersenyum dan meminta maaf karena telah menganggu telinga anak-anak kelas.
Pelajaran harusnya sudah dimulai, tapi waktu Sari menjemput gurunya beberapa waktu yang lalu, perempuan itu belum balik-balik lagi sampai sekarang hingga status kelas Luhan, Lingga, Langit dan Lethan tidak jelas seperti hubungan kamu dan dia.
"Sa ae lo, Komeng Berjanggut!" seru Lethan kesal. Ya iya kesal, gebetannya digitu-gitu sana teman sendiri.
Luhan berdeham, kemudian mendekatkan diri pada Lethan dengan gaya-gaya serius. "Nih, Than, gue kasih tips, ya."
"Apa?"
"Sini deketin," kata Luhan. Membuat Lethan turut mendekatkan diri pada Luhan secara otomatis. Posisi mereka berdua membuat Langit dan Lingga yang melihat mereka berdua dari pinggir menatapnya dengan jijik.
Ya, kayak gimana ya ... Luhan kayak yang mau gigit telinga Lethan.
Di sisi lain, Luhan tersenyum penuh arti di depan telinga Lethan dan mulai bersuara pelan, "Gue bisikin biar nggak ada yang tau." Tapi abis ini traktir—"
"Es jeruk," potong Lethan cepat. "Hiya hiya paham gue."
"Oke."
Tanpa disadari, Lingga dan Langit penasaran dengan apa yang dibisikkan Luhan pada Lethan
"Was was Wes Wes ses sea ses ses." Itulah yang didengar Lingga maupun Langit saat Luhan bersuara di dekat telinga Lethan. Setelah beberapa lama, mereka berdua menciptakan jarak yang normal lagi.
Luhan tersenyum puas, menatap Lethan dengan penuh arti. "Oke, mantep, Gan?"
"Mantep, Bang!" seru Lethan, turut tersenyum puas. Dia mengangkat kedua jempolnya dengan kedua alis dinaik-turunkan. "Laksanakan!"
"Ape sih, anjuir." Lingga berkata kesal, memperbaiki posisi duduknya seperti normal lagi saat sadar dengan kebodohannya. "Orang kurang waras nambah satu."
"Ye, yang cintanya bertepuk sebelah jiwa ya bisanya cuma nyinyir! Ha ha ha ha." Lethan balas mencibir.
"Untung temen." Lingga menarik napas dan mengeluarkannya sambil memejamkan mata serta mengusap-usap dadanya yang telah emosi jiwa yang membara. "Sabar. Sabar."
***
__ADS_1