
"Lo deketin cewek gue, brengsek! Maksudnya apa bikin dia nangis?!"
Yohan berdecak kecil mendengar teriakan itu. Dilihat dari nama yang tertera di baju seragamnya, dia adalah Juna. Entah dari SMA mana, yang pasti dia tampak kacau dan berantakan. Mengapa Yohan berada di sini adalah cowok itu yang tiba-tiba mengambil tasnya dan pergi dengan motor yang dikendarai cepat-cepat. Yohan tak punya pilihan, dia langsung mengejar dan akhirnya Juna berhenti di gedung kosong bekas sebuah pabrik.
Juna melempar tas miliknya dengan senyum miring. "Sini, anjing!"
Buk!
Tiba-tiba Juna berlari dan menonjok rahangnya tanpa ampun, membuat tubuh Yohan terhuyung dengan rahang yang terasa sakit. Yohan berdecak lagi, menyetabilkan posisi berdirinya dahulu sebelum menatap Juna dengan penuh kebingungan.
"Maksud lo apa memukul gue?" tanyanya datar seperti biasa.
Juna tertawa hambar. "Jangan sok polos. Gue tau sifat buaya lo."
"Gue tidak mau ada baku hantam," kata Yohan seraya menahan kepalanya tangan Juna yang mengarah pada perutnya dengan tangannya sendiri. Juna tampak terkejut karenanya, tahanan tangan Yohan sangat kuat. "Bicarakan baik-baik saja."
"Alah, bacot," desis Juna seraya menendang tangan Yohan sampai cekalan di tangannya terlepas. "Jangan sok suci, dah. Lawan gue aja! Ayo!"
"Tidak sebelum kita bicarakan baik-baik apa permasalahannya," tentang Yohan tegas.
"Alah, bacot!" seru Juna murka, langsung melepas satu pukulan telak di dada Yohan yang membuat Yohan merasa kehilangan jantungnya sesaat, kemudian rasa nyeri di dadanya mulai menjalar dan berdenyut sakit.
Yohan mendesis, menatap Juna dengan marah. Rahangnya mengeras dan ia menggertakkan giginya supaya amarahnya dapat terkendali. "Jangan membuat gue lepas kendali. Lo bisa masuk rumah sakit, mungkin juga langsung dikuburkan. Bicarakan baik-baik masalahnya. Gue sama sekali tidak tahu siapa lo dan hubungannya dengan gue hingga kita harus saling bertarung."
Juna tertawa sinis, menatap Yohan dengan mata sipit lelahnya. "Lo rebut cewek gue. Udah. Masalahnya cuma itu dan gue ingin menghajar lo karena bikin dia nangis."
Yohan terperangah. "Tiffany?"
"Siapa lagi, ***?!" Juna menerjang Yohan lagi, membuat Yohan lagi-lagi merasa sakit di perutnya. Lama Yohan terdiam, mencoba menahan amarahnya. "Sekarang waktunya gue balas dendam!"
Ketika Juna memukulnya lagi di rahang, bahu dan kepala, Yohan akhirnya melawan. Dia menahan tangan Juna dan membantingnya dalam satu gerakan. Juna seketika terlentang kesakitan, Yohan segera mengambil langkah untuk menonjok rahangnya habis-habisan, namun Juna menendang perutnya lagi hingga Yohan menjauh seraya terbatuk darah.
Juna bangkit dari jatuhnya sambil meregangkan kepalanya. Ia meringis, merasa tulang punggungnya agak retak sebab sakitnya amat terasa sampai kini. Sementara di depannya Yohan tampak menatapnya tajam dengan wajah yang telah lelah. Sudut bibirnya pecah, mencipta aliran darah segar di sana.
Tak mau membuang waktu, Juna menerjang lagi dengan kekuatan penuh, namun sayangnya Yohan dengan cepat mengelak sehingga Juna agak tersungkur. Yohan memanfaatkan situasi ini, laki-laki Korea itu menendang punggung Juna untuk setelahnya ia tarik serangannya, membalikkan badan yang sudah tersungkur itu dan menonjok rahangnya sampai Juna terpental tak karuan.
Tubuh Juna menggelinding sampai akhirnya berhenti ketika menyentuh sebuah drum kaleng kosong. Susah payah, Juna bangkit, melalui bantuan drum itu. Ia meringis keras, menggertakkan giginya menahan sakit dan memaksa tubuhnya untuk berdiri.
Yohan mendekat, ingin menutup perlawanan dengan membuat Juna setidaknya pingsan. Kini Yohan sadar orang seperti Juna tak mau mengalah jika belum kalah. Hanya perlu satu pukulan lagi di pelipis Juna supaya dia kehilangan sadarnya, namun sebelum Yohan bisa menarik kerah seragam Juna, laki-laki itu lebih dulu menarik rambut Yohan dan menghantamkannya ke drum kaleng itu.
Sontak saja pelipis Yohan sobek, mengeluarkan darah dan Yohan merasa seperti mimpi saja sebelum akhirnya rasa pusing menjalar dan membuat penglihatannya memburam. Tak sampai di sana, Juna yang masih mencengkram rambut Yohan, kini beralih menendang perut Yohan dengan lututnya berkali-kali.
__ADS_1
Yohan terbatuk-batuk, merintih dan napasnya mulai susah. Dengan usaha keras, Yohan menendang aset Juna dan langsung menyikut dadanya tanpa ampun. Juna sempat mengerang sebelum akhirnya tumbang dan ketika Yohan menonjok pipi kanannya, laki-laki itu menutup matanya seolah telah kehilangan kesadarannya sepenuhnya.
Senyum lega di wajah Yohan tercipta, dengan napas putus-putus ia menepuk-nepuk pelan pipi Juna. Ketika laki-laki itu tak kunjung sadar, Yohan berdecak keras.
Baru saja ia akan menelpon ambulance menggunakan ponselnya yang sedari tadi berada di sakunya, kini retak karena dampak berkelahi, sebuah tangan berdarah menahannya. Jelas, itu milik Juna dan Yohan langsung terkejut melihatnya.
"Pergi aja lo, ***. Gue kalah. Sana," usir Juna dengan suara pelan yang tampak sakit. Yohan menatapnya dengan bingung, namun dia tak beranjak seincipun. "Sebelum gue berubah pikiran. Cepet."
"Lo luka."
"Gue bisa urus diri." Juna berdecak kecil, sekuat tenaga menggerakkan tangannya untuk menampar Yohan meski bagi Yohan itu rasanya hanya seperti tepukan bayi. Ini menunjukkan bahwa Juna sangat lemah saat ini. "Sana!"
Mungkin Juna berseru, namun suara itu seperti bisikan. Membuat Yohan semakin khawatir saja, lagi-lagi dirinya melukai seseorang. Ia khawatir bagi dirinya, perilakunya dan reaksi orang tuanya. Terutama ayahnya.
"Woi, sana pergi," usir Juna lagi. Sebelum akhirnya laki-laki itu benar-benar kehilangan kesadarannya dengan lemas. Yohan langsung menggendong tubuhnya sambil menelepon ambulance.
Jantungnya berdegup kencang. Yohan bingung harus bagaimana setelah ini. Apalagi setelah menerima pesan singkat dari Ibunya.
Kenapa kamu belum pulang? Ibu lihat Ily barusan masuk rumahnya
***
D
Yohan terpaksa meninggalkan Juna karena rupanya Ibu Juna telah ada setelah lima belas menit Yohan tiba, beserta adik laki-lakinya. Yohan tak mengerti, namun Ibu Juna tak memarahinya ataupun menyuarakan kemarahan karena anaknya telah dibuat pingsan oleh Yohan. Ibu Juna justru menyuruh Yohan pulang saja.
Namun itu semuanya terlupakan karena kini Yohan harus menghadapi Ibunya. Bibir dan pelipisnya sobek, rahangnya biru, kemudian perut dan punggungnya terasa sakit yang mungkin saja terdapat memar di sana. Penampilannya jelas menggambarkan bahwa Yohan baru saja berkelahi.
Ibu jelas akan memarahinya habis-habisan.
Ketika suara kunci terbuka terdengar, Yohan langsung gugup dan begitu pintu terbuka, tampak raut wajah Ibu yang berubah bingung ketika melihatnya. Yohan meringis, berusaha tersenyum menyapa Ibu.
"Sore, Bu. Anakmu yang tampan ini baru pulang, lapar tapi ingin mandi dulu."
Ibu mengernyit, menatap tajam pada Yohan dan mempersilahka Yohan masuk. Seperti anak ayam, Yohan membuntuti Ibu sambil menunduk dan langsung berlari ke kamarnya saat Ibu menyiratkan Yohan dengan gerakan tangan.
Sungguh, tak ada yang lebih menakutkan selain Ibu yang sudah tak mampu berkata-kata untuk kenakalannya.
Lima belas menit cukup bagi Yohan untuk keluar lagi dari kamarnya dan langsung menghampiri Ibu yang sudah menunggunya di meja makan kosong. Yohan agak kecewa, namun tak memperlihatkannya terang-terangan ataupun mengeluh.
Ketika Yohan akhirnya duduk di seberang Ibu yang hanya dia dengan wajah datar menatapnya, hanya hening yang menghiasi. Semuanya senyap, seolah waktu memberi jeda untuk Ibu mencerna apa yang telah Yohan lakukan.
__ADS_1
"Kamu habis berkelahi, nak?" tanyanya pelan, serak dan seolah tertahan oleh napasnya sendiri. Terdengar seorang Ibu merasa sakit, perih dan tersayat.
Yohan mengangguk, dan Ibu langsung memalingkan wajahnya untuk setelahnya air mata menetes satu persatu, perlahan namun pasti bertransformasi menjadi tangis dengan isakan menyayat hati.
"Ibu..." Yohan menipiskan bibir, menahan sakit di dadanya yang tiba-tiba menyerang saat dia bernapas berat. Pukulan Juna memang sehebat itu sampai rasanya sulit sekali untuk bernapas sebab dadanya sakit. "Yohan minta maaf."
Ibu menangis lebih kencang. Hening yang menjadi latar, membuat tangisan itu terdengar jelas di telinga Yohan dan itu membuatnya tersiksa. Mata Yohan ikut berair, ia akhirnya bangkit dan menghampiri Ibu untuk memeluknya supaya lebih tenang.
Ketika Yohan mendekat, merentangkan tangannya dan memeluk Ibu, perempuan yang melahirkannya itu justru mendorong Yohan dengan kencang hingga anaknya itu terjatuh terduduk di depannya dengan wajah terkejut dan terluka.
"Kamu bukan anak Ibu, Yohan!" seru Ibu, membuat Yohan mematung seolah tak bisa berkata, membalas, menangis, kecewa ataupun sedih. Wajahnya hanya datar, bersih dari ekspresi apapun saking terkejutnya Ibu bisa berkata seperti padanya.
Melihat Yohan yang hanya diam, Ibu menepuk-nepuk dadanya yang sesak sementara air mata terus mengalir dari matanya, menegaskan betapa kecewanya dia pada Yohan untuk kedua kalinya.
"Kamu tak mendengar kata-kata Ibu! Kamu tak patuh pada larangan-larangan Ibu! Kamu tak mengikuti keinginan-keinginan Ibu! Kamu tak mau punya Ibu seperti Ibu, iya, kan?"
Yohan semakin terperangah, ia menggeleng cepat untuk menyangkal pernyataan Ibunya. "Ibuku tetap Ibu. Aku mau Ibu. Hanya Ibu. Aku anak Ibu. Tetap."
"Kalau Ibu tak mau bagaimana?" tanya Ibunya dengan senyuman miris. "Ibu lelah, Yohan."
"Yohan tak akan mengulanginya lagi, Bu," balas Yohan sepenuh hati. Kata-katanya itu mungkin terdengar menyebalkan, klise dan tak meyakinkan, namun kini Yohan mempertaruhkan nyawanya untuk mengatakan itu. Dadanya sakit sekali tiap kali ia bersuara. "Yohan serius. Yohan janji. Yohan jujur."
"Satu tahun yang lalu juga kamu bilang seperti itu, Yohan," kata Ibunya dengan nada lelah. "Bisakah kamu Tia mengecewakan Ibu lagi? Kejadian tahun lalu harus jadi kali terakhir."
"Aku tak membunuh seseorang lagi, Bu," balas Yohan membela diri. "Aku hanya membela diri."
Ibu tertawa sinis, memandang Yohan dengan hina. "Kamu juga bilang begitu satu tahun yang lalu. 'Aku hanya membela diri'. Pada dasarnya kamu itu monster yang tak bisa mengendalikan emosi. Itu sebutannya sejak kecil, harusnya kamu mengerti dan tak pernah mengeluarkannya lagi jika tak ingin dijauhi Ibu, Ayah dan teman-temannya."
Yohan menunduk, merasa sangat tertampar dan tertusuk tepat di ulu hati. Rasanya sakit, namun tak berdarah dan tak ada obat untuk meredakan sakitnya.
"Ah, ya, jika Ily tahu, bagaimana, ya? Kamu itu sebenarnya seperti ini. Dia pasti takut, lari dan menjauh."
Perkataan itu membuat Yohan membulatkan matanya, seperti tersambar petir karena baru menyadarinya. Hatinya terasa gelisah, takut, marah, kecewa, sedih dan malu. Segalanya bercampur dan membuat Yohan memegang kepalanya yang tiba-tiba sakit.
Air matanya menetes begitu saja. Terbayang pada senyum polos Ily, tawanya, wajah kesalnya, semangatnya, kata-kata lucunya, dia ketika salah tingkah dan wajah seriusnya ketika memerhatikan guru yang sedang mengajar. Yohan candu untuk melihatnya, dia takut tak bisa melihatnya lagi ketika Ily tahu bagaimana dirinya di masa lalu.
Yohan akan gila jika Ily mengetahuinya dan akan lebih gila lagi jika Ily tak mengetahuinya tapi bisa bersenang-senang. Ini lebih seperti Ily bersenang-senang bukan dengan Yohan, tapi Yohan yang memakai topeng.
"Ibu akan atur semuanya. Sekarang kamu jangan dulu bertingkah." Ibu bangkit dan seperti hendak meninggalkan Yohan. "Perbaiki dirimu jika tak ingin hal buruk terjadi. Katakan di mana korbanmu dirawat. Ibu akan menjenguknya."
Yohan menelan ludah. Mengatakan rumah sakit tempat Juna berada beserta nomor kamarnya. Ibu pergi setelah itu, membuat Yohan hanya mempunyai melihat punggung itu menjauh dengan tatapan sedih.
__ADS_1
Tanpa Ibu, Yohan tak tahu dia bisa apa. Hanya Ibu yang selalu menemaninya, menyemangatinya, membuatnya kuat dan bisa bertahan hidup sampai delapan belas tahun dengan dirinya yang selalu menyusahkannya.
***