Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 08


__ADS_3

Ily paham betul hidup Eza tak pernah pasti sejak kedua orang tua laki-laki itu meninggalkannya tiba-tiba. Harus tinggal di rumah pamannya, pindah lagi ke neneknya, besoknya bisa jadi ke tempat saudaranya dan selamanya tak pernah bisa Eza dapatkan dengan jelas di mana rumahnya itu.


Untuk tidur dengan tenang dan nyaman saja Eza sudah sesulit itu, apalagi untuk urusan melanjutkan pendidikannya seperti kuliah. Butuh banyak biaya dan pengorbanan pastinya.


Bukannya Ily merendahkan atau apa, namun ia tahu seberapa tinggi kapasitas otak Eza untuk dapat diterima di sebuah universitas misalnya lewat bidik misi untuk beasiswa.


Karenanya, ia bertanya hati-hati setelah yakin dengan wajah Eza yang pastinya menjawab dengan jawaban seperti yang ia duga.


"Gue?" Eza menunjuk dirinya dengan wajah yang bahkan sangat terlihat ragu. Laki-laki itu menelan ludahnya kasar, pahit dan sedih. "Gue... nggak akan lanjut kuliah, Ly."


Sudah Ily duga.


Ily menipiskan bibirnya, memberi dukungan lewat hati, berharap Eza dapat memahami. Ily tak pandai berkata-kata dan rasanya otaknya kosong untuk dapat menanggapi dengan kata-kata atas putusan yang telah Eza ambil.


Ily sendiri saja tak memiliki mimpi yang benar-benar jelas, mana bisa ia menasehati orang yang tak punya mimpi?


Pada akhirnya, Ily menghela napas kecil dan berani menatap Eza setelah lama terdiam.


"Jadi... lo mau ngapain ke depannya?" tanya Ily, masih dengan nada tak enak dan penuh hati-hati, takut salah berkata-kata dan berujung melukai hati sahabat dekatnya ini.


"Em, gimana, ya, Ly?" Eza justru balik bertanya dengan wajah frustasi. Matanya berkaca-kaca, seperti ingin menangis dan itu membuat hati Ily teriris, sangat sakit rasanya. "Gue juga bingung, sih."


Ily membuang napas kecil, agak kecewa dan sedih.


Yang ia lakukan selanjutnya adalah mengalihkan pandangannya kembali ke jalanan lewat jendela besar di hadapannya. Eza juga melakukan hal yang sama, tak tahu apa yang akan dibahas lagi namun dirinya juga tak mau cepat-cepat pulang.


Sebenarnya Eza berbohong tentang ibu Ily yang memintanya untuk menjemput Ily. Niatnya memang untuk menemui Ily dan mencurahkan apa yang menjadi keresahannya kini. Eza tak punya orang untuk bersandar kecuali Ily.


Reaksi Ily sesuai dugaannya dan Eza tenang karenanya. Perempuan itu tak tertawa, tak mengejek, tak kesal, tak marah dan tak juga memberi ceramah dengan sok bijak.


Ily seperti menerima dengan baik, membuatnya merasa sangat nyaman dan disambut dengan hangat.

__ADS_1


Jika ia berbicara lebih dulu ke Elvan, laki-laki itu mungkin menertawakannya. Jika ia berbicara pada saudaranya, mungkin ia menempatinya. Apalagi pada pamannya, neneknya dan kerabatnya yang sudah dewasa, Eza mungkin diceramahi habis-habisan dan ia tak suka itu.


Eza sadar diri, bahwa peninggalan ayah dan ibunya sudah habis sejak dua tahun yang lalu. Eza sadar banyak sekali pengeluaran yang sudah terjadi berkat dirinya dan kemewahan yang ia nikmati selama ini. Oleh karena itu, sudah saatnya Eza tak lagi jadi beban dan benalu untuk kerabat-kerabatnya.


"Gini, Ly," deham Eza akhirnya, setelah sekitar sepuluh menit berpikir untuk menyatakannya atau tidak. Membuat Ily menoleh dengan pandangan penuh harap yang membuat Eza menjadi sangat yakin untuk mengungkapkannya sekarang juga.


"Iya, gimana?" Ily bertanya cepat. Berharap-harap cemas.


"Gue mau fokus musik aja," cetus Eza sambil tertawa kecil, menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena merasa sangat malu dan ragu. "Gue belum bilang ke siapa-siapa kecuali lo, Ly. Gimana?"


Ily terdiam dengan wajah yang tak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Membuat Eza sempat cemas, sebelum akhirnya perempuan itu tersenyum lebar seolah ada cahaya yang menyertainya.


Eza dibuat kagum berkatnya.


"Bagus, Za!" puji Ily dengan dua jempol tersodor untuk Eza. "Gue yakin lo bisa sukses jadi penyanyi yang suaranya bagus, tampangnya keren dan gayanya berkelas. Gue tau suara lo bagus, gue yakin lo bakal laku keras, Za. Semangat!"


Senyum Eza terkembang lebar perlahan-lahan.


"Nggak sabar banget gue, nungguin lo jadi top star yang bikin bangga," tambah Ily semangat. Matanya menyorot lurus-lurus pada Eza, seolah menyiratkan padanya untuk bekerja keras meraih mimpinya itu. "Semangat, Za, semangat! Gue dukung lo sepenuhnya!"


Ily tertawa tak percaya. "Ya, jelas dong gue seneng dan langsung dukung lo. Ya, masa gue ngehina lo padahal gue aja nggak yakin sama mimpi gue. Lo dengan mimpi lo itu udah daebak menurut gue!"


Alis Eza mengerut. "Daebak?"


"Luar biasa!" seru Ily dengan cengiran lebar. "Gila, sih, gue bangga banget punya temen kayak lo."


Eza mengulum senyum. Mengangkat kepalan tangannya ke udara. "Kita berjuang sama-sama aja. Semangat!"


"Yo!"


Ketika Ily masih mengacungkan kepalan tangannya dengan semangat seperti yang dilakukan Eza sebelumnya, Eza segera mengambil ponselnya dan memotret pose Ily yang masih seperti itu dengan wajah puas. Membuat Ily mengerutkan keningnya dan menurunkan kepalan tangannya kembali.

__ADS_1


"Ngapain foto gue? Nge-fans ya lo?"


Eza tertawa kecil, mematikan ponselnya dan menaruhnya kembali ke atas meja. "Gue abadikan foto lo sebagai bukti terciptanya mimpi gue. Sekarang, gue jadi yakin sama mimpi itu dan bakal mewujudkannya dengan kerja keras."


Mata Ily membulat semangat. "Keren! Gue potong leher lo kalau sampai lo nyerah di tengah jalan, ya!"


"Lah? Kalau leher gue dipotong, gue mati dong?" Eza bertanya geli.


"Nggak!" seru Ily dengan mata tajam dan bertekad kuat. "Jadi leher potong, terus dijual di sini paket saus keju item!"


Eza tertawa keras. Bahkan membuat sebagian pelanggan di Ricis sore itu menoleh padanya dengan tatapan bingung akan tawanya yang super keras dan panjang itu. Membuat Ily malu juga.


"Udah, Za, ish," kesal Ily sambil mengalihkan pandangannya dari Eza dengan wajah merah, menahan malu. "Diliatin juga. Kayak kesurupan lo tau nggak?"


"Heh," kata Eza disela tawanya yang mulai mereda. "Lo bilang lo belum yakin sama mimpi lo, kan?"


Kening Ily mengerut untuk kesekian kalinya. "Iya, emang kenapa?"


"Gue tau apa mimpi yang pas buat lo," balas Eza seraya menjentikkan jarinya dengan wajah serius, tanpa tawa lagi.


"Hah? Serius?" Ily bertanya riang dan penuh harap. "Apa mimpi yang pas buat gue?"


"Jadi pelawak."


Wajah Ily langsung datar, tanpa ekspresi. Jelas menahan rasa kecewa yang membuncah. Selang beberapa saat, Eza tertawa puas setelah berhasil mengerjai Ily.


"Tadi lelucon lo asik banget, bikin perut terkocok dan terawa tak terkontrol." Eza masih sempat berkata diseka tawanya yang seperti orang kesurupan itu. "Cocok banget buat syarat pelawak."


Ily langsung bangkit dari duduknya. Menatap Eza dengan penuh kebencian. "Kita musuhan!"


Dan meninggalkan Eza dengan langkah cepat-cepat hingga Eza harus buru-buru menyusul dengan sisa tawa kecilnya yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Ily.

__ADS_1


***


bonus:)


__ADS_2