Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 108


__ADS_3

Sore, Tante."


Lucas menyapa Laura saat dia melihat Laura setelah membuka pintu kamar rawat Theo. Ten menyusul kemudian. Laura tersenyum menyambut kedatangan Lucas dan Ten.


Kedatangan Lucas dan Ten adalah paksaan dari Laura. Laura ingin Theo punya teman yang berkunjung. Meski Theo tak begitu senang, mana bisa dia menolak keinginan Laura yang jelas-jelas ditujukan untuk kebahagiaan dirinya sendiri?


"Sore." Laura mengangguk senang dan bangkit dari duduknya di samping bangsal Theo. "Lucas, Ten. Tuh Theo-nya."


Lucas balas mengangguk. "Iya, Tante."


Kemudian, Laura pergi keluar kamar rawat Theo dengan senyum kecil.


Sementara itu, di dalam kamar rawat Theo, Lucas dan Ten segera mendekati Theo dengan wajah tak percaya sekaligus khawatir.


"Aduh, Yo." Lucas berkata frustasi. Dia ngeri melihat kaki dan tangan Theo yang digips. "Lo kenapa lagi, sih?"


"Pusing dedek liat abang ke rumah sakit terus." Ten turut bersuara khawatir.


"Siapa juga yang mau di rumah sakit terus?" tanya Theo sewot. "Gue di sini buat sehat. Diem lo pada. Pusing gue."


"Lo nggak liat plat nomornya emang?" tanya Lucas seraya duduk di kursi sebelah bangsal tidur Theo. Dia menatap curiga pada Theo.


Theo mendengus kecil, kesal. "Gue liat, tapi nggak inget. Nggak ada ccctv juga. Sial."


"Emang lo mau ke mana?" tanya Ten penasaran. Menatap Theo lurus-lurus.


"Pantai." Theo menjawab singkat.


"Wadaw, mau ngapain?" tanya Lucas jadi tertarik.


Ten mengulas senyum penuh artinya. "Ngapain, Yo, ke pantai?"


"Kepo lo." Theo enggan menjawab.


"Kalau perkiraan gue bener, nih, ya." Lucas mulai bersuara lagi. Membuat Theo menduga dengan kesal. "Hari waktu lo kecelakaan itu waktu lo telepon gue tentang gimana bikin cewek yang gue suka balik suka sama gue. Apa waktu itu lo mau nembak seseorang?"


"Gue nggak punya pistol." Theo membalas jutek.


Balasan Theo jelas saja membuat Lucas dan Ten saling berpandangan dengan senyum geli.

__ADS_1


"Ck. Bercanda lo bisa aja." Lucas menyenggol kecil bahu Theo. "Pengen gergaji itu bibir jadinya."


"Pasti mau nembak Lili, ya?" tanya Ten tanpa filter.


"Uhuk." Theo batuk. Kebiasannya kalau mau salah tingkah.


"Bener, tuh." Ten tertawa keras, puas.


Pipi Theo menghangat kalau kalian mau tau, tapi dia pasang wajah pura-pura marah.


"Ckckckck." Lucas menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak menyangka Theo bisa jatuh cinta.


"Kalau udah liat gue, mending pulang aja deh." Theo memejamkan matanya cepat-cepat. "Gue mau tidur."


Lucas menipiskan bibirnya. "Lili gimana kondisinya?"


"Tangannya digips." Meski memejamkan matanya, Theo tetap menjawab.


Jawaban Theo itu membuat Lucas dan Ten lagi-lagi berpandangan. Kini bukan untuk saling tersenyum geli, namun tersenyum kasihan.


"Ampun, deh." Lucas membuang napas berat. "Kasian banget lo, Theo. Cepet sembuh, ya. Nanti gue teraktir di restoran Meksiko Om gue."


"Nggak! Ini khusus buat Theo."


***


Yohan memutuskan untuk menghapus semua barang-barang yang beresiko membuat Lili celaka lagi.


Oleh karena itu, waktu pulang ke rumah, Yohan langsung mengambil semua buku-buku Lili dan memasukkannya dalam tiga kardus besar yang kini telah semuanya selesai dan berada di halaman depan rumahnya. Siap untuk disingkirkan dari kehidupan Lili dan keluarganya.


"Sayang!" seru Ily waktu dia turut pulang karena Lili ditemani Yalya dan Rasha.. Matanya melotot melihat apa yang Yohan lakukan.


"Ly." Yohan hanya tersenyum tipis saat Ily mendekatinya.


"Kamu lagi apa?" tanya Ily harap-harap cemas.


Yohan berdeham. "Aku mau sumbangin buku-buku Lili."


"Kenapa?" tanya Ily tak mengerti. "Kamu tau Lili sangat-sangat suka buku-bukunya."

__ADS_1


"Aku mau Lili lupa aja sama mimpinya jadi penulis itu." Yohan memutuskan dengan nada tegas dan tak mau dibantah. "Semuanya nggak berakhir baik."


"Gimanapun, kamu nggak bisa begini." Ily membantah dengan tak kalah tegas. Pandangan matanya yang biasanya lembut, kini menyorot tajam pada Yohan. "Yang kamu lakukan itu salah. Lili begini bukan karena cita-citanya!"


"Faktanya, dia berhubungan sama Theo dimulai karena cita-citanya menjadi penulis, Ly." Yohan menjawab tajam. "Aku nggak mau di masa depan Lili kejadian lagi begini. Bukan menutup kemungkinan Lili tak akan mengulang kesalahan yang sama jika masih menulis."


"Sayang, tapi nggak sampai bakar semua buku-buku Lili." Ily mulai memelas. "Kamu nggak tau apa dia sayang banget sama buku-buku itu?"


"Aku tau. Aku tau Lili nggak bisa tidur tanpa peluk salah satu bukunya. Aku tau Lili nggak bisa hidup tanpa lihat bukunya." Yohan mengangguk-angguk dengan wajah frustasi. Dia berdecak kecil. "Tapi, kalau buku ini membuat Lili terluka, buat apa mereka ada?"


"Ya ampun." Ily membuang napas tak percaya. "Aku nggak habis pikir sama arah jalan pikiran kamu."


"Kamu diam aja." Yohan menunjuk Lili dengan penuh peringatan. "Perlahan, Lili pasti lupa sama buku-buku dan mimpinya."


"Kamu salah." Ily menepis telunjuk Yohan dan menatapnya penuh tekad. "Aku yakin Lili akan ... aku bahkan nggak bisa bayangkan betapa sedihnya dia nanti waktu liat buku-bukunya udah hilang."


"Aku hanya mau yang terbaik buat Lili." Yohan, suaranya laki-laki itu berubah putus asa.


"Lebih baik kamu kembaliin buku-bukunya." Ily tetap tegas dan kukuh pada pendirian awalnya. "Aku nggak mau tanggung jawab kalau Lili kenapa-kenapa lagi waktu pulang."


"Kamu tenang aja, Ly." Yohan tersenyum lebar dan membawa Ily dalam pelukan singkat. Yohan mencengkram bahu Ily dengan sorot mata penuh arti. "Aku yang bakal tanggungjawab untuk Lili."


"Yohan ...," lirih Ily.


"Aku udah punya firasat buruk soal Lili dan kedekatannya dengan Theo. Kini, semuanya terbukti. Harusnya kamu juga mendukung aku untuk membatasi Lili dan Theo." Yohan berkata pelan, namun tetap tegas.


Ily hanya menatapnya dalam-dalam.


Yohan mengangguk. "Aku lebih tau apa yang baik buat Lili."


"Aku capek." Ily melepas tangan Yohan dari bahunya. Menatap Yohan tak mengerti. "Awas saja kalau kamu beneran sumbangin buku-buku Lili."


Akhirnya Ily melewatinya untuk masuk ke dalam rumah dalam langkah penuh kekesalan. Melihat istrinya menghilang di balik pintu rumah, Yohan kembali menatap tiga kardus berisi buku-buku Lili.


Kemudian menelepon seseorang.


Yohan tidak mendengarkan Ily.


***

__ADS_1


__ADS_2