
"Hai, Beb." Luhan memberanikan diri untuk terus terang menunjukkan perasaannya pada Sari. Saat Sari baru datang dan melewati kursi Luhan untuk duduk di kursi miliknya sendiri, Luhan menyapa dengan senyuman lebar. "Mowning."
Sari hanya berjalan datar seperti biasa. Bahkan terlihat lebih-lebih jutek karena mendengar Luhan menyapanya semanis itu. Sari mengira Luhan tengah bercanda dan meledeknya.
Sejurus kemudian, Luhan hanya disambut angin sepi karena Sari sudah duduk di tempat duduknya dengan ekspresi seolah Luhan tak ada.
"Jutek banget ya ampun. Gue doain jodohnya lebih jutek dari lo." Luhan menukas dengan nada kesal seraya menyatukan kedua tangannya dan saling mengepal, berdoa. "Amin."
Tangan Sari terlalu gatal untuk tak menarik rambut Luhan dengan kesal.
"Aw!" seru Luhan kesakitan, juga tak suka. Matanya menatap tajam pada Sari.
"Pagi-pagi berisik aja lo." Sari membalas dengan nada tajam dan mata melotot. "Mau gue timpuk lagi?"
"Maaf, maaf." Luhan segera menyatukan kedua tangannya dan tersenyum tanpa rasa bersalah. "Ampun, ampun. Ampun, Nyai."
Sari melengos. Kemudian, bel masuk kelas berbunyi dan guru masuk. Sesi kegiatan belajar mengajar pun dimulai seperti biasa. Hari ini kelas Luhan kebagian Matematika.
Karena kepikiran terus, Luhan menoleh ke belakang untuk melihat Sari dengan kedok meminjam suatu barang. Sari juga hanya fokus papan tulis di depan hingga Luhan bisa sepuasnya meminjam barang-barang Sari sambil menatap wajahnya sekilas.
"Pinjem penghapus." Luhan mengambil penghapus Sari dan balik lagi menoleh ke depan.
Sari tak menjawab, namun tak melarang.
Luhan balik lagi menoleh ke arah Sari sambil mengambil penggaris milik perempuan itu yang tergeletak dekat dengan buku paketnya. "Pinjem penggaris."
Waktu Luhan berbalik ke meja Sari untuk meminjam sesuatu lagi, matanya malah bertubrukan dengan mata milik Sari yang tajam dan datar. Luhan jadi kelimpungan seketika dan lidahnya jadi kelu.
Luhan jadi merasa kayak patung, dong.
"Pinjem ...." Luhan bingung harus berkata apa karena pikirannya kini hanya dipenuhi Sari, Sari dan Sari. Masa Luhan harus melanjutkan, 'pinjem hati lo, dong!', yang ada Luhan malah jadi pepes ikan nantinya.
"Pinjem apa lagi?" tanya Sari heran. Sebenarnya agak tak suka karena Luhan terus meminjamnya sesuatu hingga fokusnya terpecah juga.
"Itu." Mata Luhan menari-nari di sekitat atas meja Sari. Beruntung ada sebuah benda tertangkap matanya. "Tip-ex. Gue mau pinjem tip-ex, Ri."
Sari mengambil tip-ex miliknya untuk kemudian diserahkan pada Luhan. "Nih."
__ADS_1
"O-oke." Luhan mengambilnya. Sari tak menyadari, bahwa saat kulit tangannya bersentuhan dengan kulit tangan milik Luhan, ada sengatan listrik sesaat yang menyetrum tubuh Luhan.
Sesimpel itu, tetapi Luhan dibuat gila karenanya.
Waktu guru matematika sudah keluar, Lethan langsung menatap Luhan dengan curiga. Beruntung Sari juga keluar entah ke mana, jadi dia leluasa untuk bicara.
"Lo kenapa deh sama Sari?" tanya Lethan dengan keinginan berkerut bingung. "Aneh. Biasanya lo nggak pinjem apa-apa ke itu orang. Gue kan ada."
Luhan tersenyum penuh arti. "Gue lagi PDKT."
"Hah?!" Lethan tak kuasa untuk menahan keterkejutannya.
Masalahnya, Luhan dan Sari itu sudah seperti Tom and Jery-nya dunia nyata. Ini tiba-tiba Luhan bilang lagu PDKT sama Sari aliran pendekar untuk selanjutnya jadi sepasang kekasih. Lethan tak bisa membayangkan kalau Luhan dan Sari bisa satu arah dan menjadi sepasang kekasih.
Aneh. Mau dipikirkan sampai ujung dunia pun seperti gagasan tentang Luhan dan Sari bisa bersama sangat-sangat mustahil.
"Kok bisa, Han? Bukannya lo juga nggak suka sama Sari?" tanya Lethan heran.
Luhan mengangkat kedua bahunya. "Ya, setelah dipikir-pikir, dia cantik juga."
"Ck. Semua cewek aja lo bilang cantik."
Lethan memutar bola matanya dengan jengah. "Serah."
"Selain cantik, dia juga keren, Bro." Luhan menjelaskan tanpa diminta. "Kalau lo nggak tau, yang bikin gue basah dipantai itu Sari."
"Lah? Kenapa? Lo apain dia emangnya sampai lo basah-basahan gitu?" tanya Lethan bertubi-tubi. "Lo nggak buat yang nggak-nggak kan?"
"Ya nggak lah! Mana ada gue berbuat keji." Luhan membalas emosi. Dia menatap Lethan dengan tatapan tak terima. "Mau di kemanain martabat suci dan baik gue nanti?"
"Terus lo apain Sari?" tanya Lethan kemudian.
"Dia ngomong ke gue." Luhan menukas dengan senyuman simpul yang kelihatan sangat senang. "Keren banget. Kalian nggak perlu tau. Ini rahasia. Cuma gue yang boleh tau. Mue he he he he he he."
Lethan menatap Luhan dengan datar dan lelah. Kemudian membuang napasnya panjang-panjang. "Salah gue tanya sama lo."
***
__ADS_1
"Sari!" Luhan berseru begitu saat melihat Sari keluar dari ruangan guru selesai mengumpulkan buku paket yang dipakai kelasnya di pelajaran terakhir tadi.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa saat yang lalu. Dan saat kebanyakan siswa-siswi langsung pulang, Sari justru menyambangi ruang guru dengan setumpuk buku di tangannya.
Beruntung sekali kan Luhan lagi demen sama Sari, jadi dia tadi bantuin Sari membawa buku ke ruang guru. Namun, setelah meletakkan bukunya di meja seorang guru, Sari malah berjalan cepat dan meninggalkan Luhan di belakang.
Dengan segera, Luhan menyejajarkan langkahnya dengan Sari.
"Sari," tegur Luhan karena tak terima diabaikan terus menerus.
"Hm." Sari hanya bergumam tak acuh.
"Mau pulang?" tanya Luhan kemudian. Nadanya dilembutkan dan kepalanya sedikit direndahkan untuk menatap Sari.
"Mau bercocok tanam." Sari membalas dengan nada datar dan bosan.
"Oh." Luhan langsung tersenyum lebar, wajahnya jadi semangat dengan polosnya. Ya, niatnya bercanda doang. "Ikut, dong. Bercocok tanam apa?"
"Lo liat gue bawa cangkul nggak?" Sari akhirnya dongkol sendiri. Perempuan itu berhenti melangkah dan menatap Luhan dengan kesal. "Gue bawa tas sama sepatu. Ya, gue mau pulang lah!"
"Ya ampun, salah apa gue sampai lo selalu sewot gitu." Luhan mengusap-usap dadanya dengan wajah pura-pura tersakiti.
Sari tertawa sarkas, kemudian menatap Luhan dengan pasangan menusuk. "Buat gue, lo napas aja salah, Han."
"Gue mati dong kalau nggak napas." Luhan cemberut.
Harusnya Sari merasa lucu atau setidaknya tersenyum karena terhibur atau setidaknya bilang kalau barusan dia bercanda saja soal Luhan napas aja salah. Namun, ini Sari. Sang dewi jutek yang mungkin hanya tersenyum dan tertawa satu abad sekali.
"Orang gila aja tau tentang itu," tukas Sari pedas.
"Tapi, kalau gue napas, gue salah di mata lo." Luhan melanjutkan menanggapi Sari dengan polos. Matanya menatap lembut dan ada senyum tulus di wajahnya itu. "Gue nggak mau salah di mata lo."
"Ck." Sari serasa berhadapan dengan patung di candi Borobudur kemarin. "Huuuuuuuft. Sabar, Sari, sabar."
"Gue harus gimana?" tanya Luhan putus asa ketika melihat Sari bereaksi seperti dirinya ini kotoran yang ingin disingkirkan dari kehidupan di muka bumi.
"Gimana apanya?"
__ADS_1
Luhan berdecak frustasi. Selain jutek, ternyata Sari ini benar-benar tidak peka. "Gue harus gimana ... karena gue rasa, gue suka sama lo."
Sari speechless.