
"Oh, jadi lo telat, Li?" Gema, teman satu bangku Lili menyimpulkan begitu saat Lili tidak hadir di barisan kelas ketika Upacara Bendera tadi.
Kelas XI IPA 3 tidak kemasukan guru karena guru-guru kebanyakan rapat yang sebenarnya untuk saling sapa saja tentang program baru atau sekedar bertukar pendapat. Jadi, anak-anak di dalamnya masih bebas berkeliaran.
Bahkan kelas Lili sudah hampir kosong, hanya ada lima orang yang setia duduk di kursinya. Lili dan Gema salah satunya, karena dua anak itu belum lapar untuk ke kantin dan tidak suka berkeliaran tanpa tujuan.
"Yah, untungnya sih nggak dipajang di depan lapangan," balas Lili dengan helaan napas tenang. "Cuma bending dua puluh. Abis itu ceramah seabad sampai upacara beres."
"Enak banget," tukas Gema iri. "Dulu waktu pertama kali gue telat, dipajang tuh di lapangan. Gila, panas banget, Li."
Lili tertawa bangga. "Menurut lo gue beruntung."
"Emang menurut lo nggak beruntung?"
"Nggak," balas Lili cepat. "Gue ketemu Kak Jae, Gema! Gila, malu banget."
Gema yang sudah dua tahun menjadi teman satu bangku Lili tentu tahu menahu tentang kakak kelas kesukaan Lili yang super menawan itu. Nakasutra Jaelo atau yang sering disapa Jae itu adalah ketua dari ekskul perfilman serta salah satu anggota OSIS yang tegas dan sering dijumpai saat kita berbuat nakal.
Lili sudah jatuh cinta saat masa orientasi siswa satu setengah tahun yang lalu. Namun, mirisnya, sampai sekarang, Lili tak yakin Jae mengetahui keberadaan dirinya atau tidak.
"Ya elah, emangnya Kak Jae tau lo telat hari ini?" Gema malah meledek.
"Bikin sahabat seneng dikit nggak bisa, ya, Gem?" tanya Lili sinis.
Gema hanya tertawa. Kemudian mengambil ponselnya di kolong meja.
Lili lanjut membuka ponselnya. Dia membuka aplikasi menulis yang didominasi berwarna biru yang sudah terkenal dengan cerita-cerita anak muda yang bikin baper sampai ke saraf tulang terdalam. Sudah banyak juga novel serta film yang mengadaptasi dari cerita yang awalnya dipublikasikan di Wetfed.
Lili adalah salah satu penulis dari miliaran penulis yang ada dan dia juga salah satu pembaca diam-diam yang jarang meninggalkan jejak.
__ADS_1
"Gila ini udah dua juta lagi yang bacanya, *****," komentar Lili ketika melihat-lihat beranda akun Wetfed miliknya.
Gema yang sedang bermain game cacing klasik turut penasaran mendengar perkataan Lili. "Apaan yang udah dibaca dua juta?"
"Cerita."
"Di Wetfed?"
Lili mengangguk lesu. "Iya, Gem. Aduh, gue barusan cek. Isinya itu cuma Bad Boy ketemu cewek dingin, terus EYD-nya itu ancur banget! Ampun deh, bikin sakit mata aja!"
"Kayak yang bisa bikin aja," balas Gema tak kalah kritik.
"Gue udah bikin, Gem." Lili menukas tajam. "Udah dua lagi. Udah tamat dua-duanya. EYD bagus dan penulisan perfect karena gue udah baca ratusan kali naskahnya."
"Baru berapa yang baca?"
"Bagus dong, udah termasuk banyak itu."
"Tapi, ini aneh banget, Gem!" seru Lili gemas. "Gue udah post satu tahun yang lalu, tapi nambah views-nya itu seabad, *****. Ini yang cerita When Bad Boy Meets Ice Girl baru aja tiga bulan post, udah dua juta lebih aja, sih. Gile, kok bisa?!"
Gema pusing sendiri mendengar curhatan Lili yang selalu begitu. Menggerutu karena ceritanya tak lebih banyak yang baca dibandingkan cerita yang baru dipublikasikan.
"Yang Bad Boy ceritanya bagus kali," balas Gema memberi komentar. "Emang cerita yang lo post itu tentang apa?"
"Tentang keluarga sih, Gem," jawab Lili agak malu. "Jadi ada anak cewek yang dari kecil sampai sukses itu seneng mulu karena keluarganya tuh sayang dan selalu ada buat dia. Kalau cerita yang satu lagi, itu tentang cerita Ayah Ibu gue, sih. Mereka ketemu dari SMA, pisah negara, terus ketemu lagi dan akhirnya nikah."
Gema berpikir sebentar, menyimak perkataan Lili baik-baik, bahkan meninggalkan permainan cacingnya.
Melihat Gema terdiam secara serius, Lili menaruh penasaran padanya. "Kenapa, Gem?"
__ADS_1
"Gue rasa, gue tahu kelemahan lo dalam dunia cerita, Li."
"Apa?"
"Cerita lo terlalu menyenangkan dan dreamy." Gema menukas super serius, beda dari biasanya yang sering bercanda. "Gue pikir, lo harus buat cerita dengan bumbu bawang, serpihan kemoceng dan sebilah pisau."
Kening Lili mengernyit. "Hah? Maksud lo?"
"Oops. Sorry. Gue keceplosan pake bahasa puisi." Gema tertawa kecil.
Inilah kenapa Gema dan Lili bisa akrab dan jarang sekali bertengkar. Keduanya satu passion. Keduanya sama-sama suka menulis. Lili menulis novel, Gema menulis puisi.
"Yeeeeee."
"Jadi gini, Li." Gema mulai menjelaskan. "Cerita lo Itu harus ada sedihnya, kayak salah satu tokohnya itu meninggal. Cerita lo juga harus ada komedi-komendinya, kayak ada tokoh super **** gitu. Yang terakhir, cerita lo harus mengandung tragedi thriller juga, kayak ada pembunuhan atau teror gitu. Pokoknya paket komplit, deh. Gue jamin, pasti langsung laku, deh."
Lili tersenyum tipis. "Ini cerita badboy kebanyakan seneng-seneng dua tokoh utamanya doang, kok. Bahkan cheesy banget, bikin gue geli sampai ubun-ubun. Yang laku cuma yang bikin baper doang gitu kayak telat bareng, bolos bareng, dibela pas dibully, dianterin pulang, main ke Timezone, makan eskrim. WTF, nggak sih? Padahal cerita badboy, tapi kayak sweetboy, *****, kesel. Banyak begitu laku banget, Gem."
Gema memutar bola matanya jengah, sudah panjang-panjang menjelaskan, sarannya justru ditolak mentah-mentah oleh Lili.
"Kalau gitu, kenapa lo nggak bikin cerita tentang badboy aja? Apa susahnya, buktiin kalau cerita badboy lo itu asli, nggak ngarang doang!" seru Gema kesal, membuat Lili mengerjap-ngerjap heran. "Tuh, riset beneran sama Theo! Dia kan badboy!"
Seperti lampu yang menyala di kegelapan, kepala Lili tercerahkan oleh kata-kata Gema.
"Bener juga, Gem! Ide lo emang brilliant! Good! Excellent! Makasih, ya, gue bakal riset Theo, nih, hahahahaha."
Gema tercengang, menatap Lili yang sudah senyum-senyum penuh arti. "Lah, *****, diturutin beneran."
***
__ADS_1