
"Heh, Suparman, kalau nuduh jangan asal-asalan, dong!" Eza berseru pada Yohan yang kini sibuk memakai helmnya dengan wajah datar. "Lo bikin Ily nangis, sat."
Yohan menatap Eza sesaat, kemudian mengalihkan pandangannya dengan acuh untuk setelahnya menjalankan motornya tanpa basa-basi. Perasaannya kini juga kacau, apalagi ketika mendapat pesan dari Ibunya yang mengatakan padanya untuk segera pulang ke rumah.
Ditinggal begitu saja, Eza mendengus. Dengan segera, laki-laki itu menaiki motornya, menyalakan mesinnya kemudian melesat dalam kecepatan penuh untuk menyusul Yohan. Ia menggeram, teringat kejadian di taman belakang lab XII IPA 1 ketika istirahat kedua tadi.
Ketika Eza baru saja membeli kopi dari kantin dan ingin bersantai di taman belakang sambil mengobrol bersama Sinta--pacarnya, ia menemukan Ily yang duduk sendiri dengan wajah tenggelam di lipatan tangannya yang berada di atas lutut yang ditekuk.
Eza jelas khawatir, segera mendekat setelah meminta agar Sinta pergi lebih dulu dengan baik-baik. Ia duduk perlahan di sebelah perempuan itu, menaruh kopinya dan tersentak saat mendengar isakan Ily.
"Jangan nangis, woi," katanya memecah keheningan, seketika membuat Ily mendongak dengan mata basah dan hidung memerah. "Berisik, gue mau main PUBG."
Eza mengeluarkan ponselnya tanpa peduli pada Ily yang kini menangis dengan kencang, tak peduli akan seberapa jeleknya wajahnya kini. Ily hanya ingin menyuarakan suasana hatinya kini di hadapan Eza, sebab Ily hafal, laki-laki itu tak pernah mengejeknya jika Ily berada di titik terendah.
"Si anjir," umpat Eza kesal, mematikan ponselnya begitu saja tanpa bisa Ily mengerti apa yang baru saja Eza lakukan. Namun, laki-laki itu menoleh padanya dengan pandangan lembut penuh peduli yang membuat hati Ily menghangat. "Paket gue abis. Di sini Wi-Fi nggak ketangkep. Mau ke kantin?"
Ily langsung menggeleng. Bibirnya melengkung ke bawah. "Gue jelek. Malu. Takut dikata-katain."
Eza berdecak, mengalihkan pandangannya sambil mengambil cup kopinya dan menyesapnya beberapa kali. Ia terdiam sesaat sebelum akhirnya menoleh lagi pada Ily.
"Ngapain lo di sini?" tanyanya tajam.
"Harusnya lo nanya itu dari awal. Gimana sih, temen kok nggak peka," gerutu Ily pura-pura kesal, menutupi rasa sedihnya berharap ia melupakan apa-apa yang membuatnya kini menangis.
"Kalau itu gara-gara lo nggak punya duit, gue nggak bisa bantu, Ly. Keuangan gue juga lagi susah, pacar gue nambah satu hari ini," kata Eza tanpa beban. "Gue harus pinter-pinter memanajemen uang."
Ily mendengus geli. "Dasar buaya."
"Yang penting ganteng," tukas Eza sambil tertawa keras. "Kadang gue juga sedih, tapi nggak pernah sampai nangis. Hidup ini harus dinikmati, bukan ditangisi. Enjoy aja hidup itu, Ly."
Ily tersenyum tipis. Hidup Eza memang terlihat sangat menyenangkan dan laki-laki itu tampaknya bahagia-bahagia saja. Bahkan perempuan di sekelilingnya banyak, begitupula teman-teman satu hobinya. Eza seperti punya takdir beruntung yang membuatnya tak pernah merasakan perih.
"Enak, ya, jadi lo. Banyak temen, banyak yang suka, jago futsal."
Eza menatap Ily dalam, serius. "Enak, ya, jadi lo. Ada seseorang yang rela lakukan apapun buat cegah air mata lo keluar." Kemudian Eza mengalihkan pandangannya sambil memain-mainkan tali sepatunya. "Entah kenapa, gue nggak mau lo luka lagi, Ly. Gue pengen lo selalu senyum, ketawa dan bahagia."
Ily masih saja tersentak dan tak percaya jika Eza mengatakan hal-hal seperti itu. Pada sudah delapan belas tahun bersama, tapi Ily masih saja merasa dirinya tak cocok untuk dilindungi Eza. Ily masih mempertanyakan posisi dirinya dalam hidup Eza hingga Eza ingin menjaganya seperti itu.
"Emang gue siapa, sih, Za? Gue siapa lo?" tanya Ily lirih.
"Lo lebih dari bintang harapan bagi gue, Ly. Lo cahaya hidup gue," balas Eza sambil menyipitkan matanya dan menghapus jejak air mata di pipi Ily. Sebelum Ily menjawab lagi dalam keterkejutannya yang luar biasa, Eza bersuara lagi. "Sekarang bilang, karena siapa lo nangis?"
Ily menipiskan bibirnya, dengan ragu menjawab, "Yohan. Dia nuduh gue."
Eza jelas tak akan terima Ily diperlakukan seperti itu oleh Yohan. Ily bagai separuh jantungnya, tak bisa dibiarkan sakit begitu saja tanpa diobati. Eza membulatkan tekad, melajukan motornya sampai dapat berhenti secara tiba-tiba di depan motor Yohan hingga laki-laki Korea itu terkejut setengah mati.
Terlihat dari gelagatnya yang langsung membuka helm dan turun dari motornya untuk berhadapan dengan Eza.
"Gue tidak ada waktu untuk bermain dengan lo. Jangan mencari masalah kalau tidak mau gue celakai," ancam Yohan dengan wajah yang benar-benar serius dan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Jika Eza sekali lagi saja mengganggunya, amarah Yohan akan meledak-ledak.
Eza melihat sekelilingnya. Jalanan sepi, tak ada rumah masyarakat dan hanya ada pepohonan yang menjadi saksi bahwa kini dirinya menerjang Yohan hingga laki-laki itu termundur dan punggungnya langsung menghantam tiang lampu jalanan.
"Lo nyakitin temen gue, brengsek! Emang bener kata Elvan, lo ini pembawa masalah buat Ily!" seru Eza murka, langsung memukul rahang Yohan bertubi-tubi hingga membuat Yohan kesakitan luar biasa.
Sampai akhirnya Eza berhenti, Yohan masih di tempatnya. Terkapar, meringis dengan mata terpejam seolah sangat kesakitan. Eza mengernyit melihatnya.
"Gue nggak begitu jago berkelahi, tapi apa rasa sesakit itu?" tanyanya heran, menatap kepalan tangannya sendiri dengan senyum miring. "Apa lo memang selemah itu?"
Yohan tak menjawab, tak dapat karena punggung, perutnya, serta wajahnya saling bersaut sakit hingga mengunci suaranya, menyita kekuatannya dan memburam pikirannya. Luka-luka kemarin juga kembali terasa sakit.
Ingin Yohan marah, ingin Yohan membalas, ingin Yohan mengamuk, namun segala sakit yang menimpa tubuhnya dengan kuat menahan diri Yohan untuk sekedar berdiri.
"Yah, apapun itu," kata Eza akhirnya kembali bersuara seraya mendekat hingga berada tepat sepuluh sentimeter dari wajah Yohan. "Ini adalah balasan karena telah membuat Ily menangis. Jika Ily menangis lagi, mungkin lo akan tinggal nama dan gue harus siap-siap dipenjara."
Eza tertawa atas perkataannya sendiri. Ia menengadah ke langit dengan pandangan tak terbaca. "Niat banget gue jagain Ily."
Hatinya teriris, setiap kali memikirkan gadis itu dengan segala kemungkinan dirinya akan bisa bersama selamanya.
***
Sejak kecil, Eza bukan anak berbakat spesial yang setidaknya membuat orang-orang hafal padanya tanpa perlu Eza memperkenalkan diri. Namun, Eza punya wajah tampan yang tak mudah dilupakan dan mudah bagi semua orang untuk menatapnya lebih lama, tersenyum padanya kemudian jatuh tanpa perlu Eza goda habis-habisan.
Eza telah menjadi model cilik sejak ia Sekolah Dasar, dirinya telah terkenal dan sudah bisa menghasilkan uang hingga teman-temannya pun banyak. Mulai dari luar sampai semua tetangganya, Eza seolah punya beribu teman yang tak pernah habis untuk menemaninya bermain.
Mengisi kekosongan hidupnya.
"Eza, hari ini kamu libur nggak? Aku punya koin buat game balap, lho! Yuk, main!"
"Eza, di rumahku banyak kue. Kamu habiskan saja kalau mau."
"Eza, aku akan ke Dufan besok. Kebetulan mobilku masih kosong. Kamu dan orang tuamu boleh ikut, aku yang bayarkan!"
"Eza, besok datang ya ke pesta ulang tahun adikku."
"Eza, besok datang ya ke pernikahan bibiku. Kamu nyanyi di sana."
"Eza, besok aku akan ke pantai, kamu ikut, ya?"
"Eza, main yuk!",
Namun, diantara banyaknya temannya itu, dua orang ini selalu membuatnya merasa berbeda. Mereka adalah Elvan dan Ily. Keduanya menemani Eza, bermain bersama, bahkan ketika Eza menghadapi keburukan dalam hidupnya.
Alih-alih mengajaknya bermain atau menghamburkan uang, mereka berdua justru lebih sering mengejeknya.
Ily waktu itu membawa tagalog jaket yang modelnya Eza, anak perempuan berusia delapan tahun itu tertawa habis-habisan di hadapannya.
"Muka di sini, sama yang asli, jauh banget gila," ledeknya sambil mengangkat tagalog yang mana menampilkan wajah full make-up Eza di samping wajah Eza yang kini berubah masam.
Elvan ikut tertawa. "Untung aja deh dia didandan. Kalau nggak, bisa-bisa jaketnya nggak lalu gara-gara liat muka buluknya."
Eza mendesis tak suka. Langsung memukul kepala Elvan dan Ily secara bersamaan dengan kedua tangannya untuk setelahnya berlari ke dalam rumahnya untuk menyelamatkan diri.
Ketiganya selalu bersama, saling berbagi suka duka. Sampai ketika sebuah kemalangan menimpa Eza.
Hari itu Eza akan pergi untuk syuting iklan shampoo, diantar mobil manajernya bersama orangtuanya. Awalnya semuanya berjalan baik-baik saja, sampai ketika mobil manajernya yang berisi orang tuanya itu hendaknya menjemputnya selesai syuting, sebuah kecelakaan bersama bus terjadi menimpa mereka.
Tak ada yang selamat dari kecelakaan itu. Bahkan supir bus itu sendiri. Beruntung bus tersebut tak memiliki penumpang karena dalam perjalanan untuk mengakhiri operasi ke terminal.
Eza sangat terpukul. Dia baru sembilan tahun dan tak tahu banyak tentang dunia ini. Dia harus sendirian hidup. Eza awalnya bingung harus ke mana, harus bagaimana, dan apa yang harus dia lakukan. Dunia seolah berbalik padanya, seolah tak mengenalinya.
__ADS_1
Padahal dulu banyak sekali yang peduli padanya, tersenyum padanya, menyapanya dan bahkan memberi hadiah saat Eza bahkan tak berulang tahun.
Beruntung orang tua Ily mau mengurusnya, lewat uang yang ditabung orang tuanya, uang asuransi dan hasil Eza menjadi model cilik, semua itu mampu digunakan sampai Eza dapat tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang bisa mendapatkan uang dari hasil dirinya membantu usaha pamannya.
Ketika SMA, Eza pindah ke rumah paman dan melanjutkan hidup di sana. Sampai kapanpun, Eza tak akan pernah melupakan jasa orang tua Ily dan Ily.
Tak akan pernah.
Oleh karena itu, ia berusaha keras untuk menjaga Ily sebagai balasan atas kebaikannya hampir sepuluh tahun dalam hidupnya.
Eza tak mau gagal seperti dua tahun lalu, di mana Ily hampir saja memotong umurnya jika Eza tak menghentikannya dengan segera.
***
Yohan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya tiga tahun yang lalu.
Sebenarnya semua orang tercipta dalam keadaan suci, tanpa dosa, tanpa jahat dan tanpa salah. Kelahiran adalah sebuah karunia besar yang dititipkan oleh Sang Maha Kuasa untuk dijaga, dirawat dan dibimbing ke arah jalan yang benar.
Yohan pun sama. Ibunya merawatnya begitu ia lahir, menjaganya begitu ia balita dan membimbingnya begitu ia remaja.
Tak perlu didikan keras untuk Yohan dapat menyabet juara. Bakatnya sudah alami, tertanam dalam diri. Berkali-kali Yohan mendapat juara di bidang seni bela diri taekwondo, tak pernah luput juga ia untuk membawa sertifikat juara kelas. Yohan peringkat pertama di kelasnya, membuat orang-orang sangat iri padanya.
Begitu banyak yang ingin dekat, begitu banyak yang ingin mengajaknya berteman, namun Yohan tak membuka diri. Ia lebih nyaman dengan kedua orang tuanya.
"Yohan, bekal kamu awas ketinggalan," pesan Ibu di saat Yohan sedang memakai sepatunya untuk pergi ke sekolah.
"Yohan, jangan main kemalaman atau Ayah tidak akan memberikanmu uang jajan," kata Ayah sebelum Yohan benar-benar berangkat.
Ayah dan Ibu Yohan sangat perhatian padanya, membuat Yohan nyaman dan tak mau berpisah.
Kemana-mana, Yohan selalu didampingi Ayah dan Ibunya. Maksudnya, Yohan tak pernah mau keluar rumah tanpa orang tuanya kecuali saat sekolah atau tugas kelompok. Ketiganya saling mengasihi, saling membutuhkan dan berjanji akan seperti itu selamanya.
Namun, kadang takdir tak seindah seperti yang dibayangkan.
Semuanya berubah ketika Yohan terbawa kasus narkoba di sekolahnya. Waktu itu ia baru saja lulus SMP dan akan melanjutkan pendidikannya.
Yohan bergaul dengan orang yang salah.
Ah, tidak, orang itulah yang meminta Yohan untuk bergabung dan Yohan berpikir tak apa untuk bergabung karena dia juga penasaran.
Yohan bahkan ijin pada orang tuanya untuk keluar bersama orang itu pada saat liburan musim dingin. Ia memakai mantel tebal, sarung tangan dan dua kaos kaki agar tubuhnya merasa hangat.
Ahn Yongjin yang waktu itu satu kelas dengan Yohan, mengajaknya untuk berkumpul seru bersama teman-temannya yang berasal dari sekolah berbeda. Yohan awalnya tak curiga apapun, ia pikir Yongjin akan memperkenalkan seseorang yang hebat padanya.
Peringkat kedua itu disabet oleh Ahn Yongjin, jadi Yohan berpikir mereka akan bertemu teman-teman satu les Yongjin untuk belajar bersama atau saling mengobrol menukarkan isi pikiran masing-masing.
Namun, Yohan justru digiring menuju sebuah gedung sepi, tua, kotor dan bau oleh oli dan bensin. Tempat itu juga gelap, ditambah salju yang menutupi sebagian permukaannya, membuat gedung ini terlihat seram.
Ada empat anak laki-laki di sana. Satu duduk di kursi seperti bosnya, dua sebagai penjaganya dan satu lagi tampak hanya diam sambil bersandar di dinding samping tiga orang lainnya.
"Kamu belum pernah, ya?" tanya Nam Dongmin yang saat itu sudah bersekolah di SMA kelas XI. Laki-laki itu berpenampilan urak-urakan, dengan tindik di telinganya dan tato di betis kirinya. Hanya memakai celana pendek dan sweater tipis.
Yohan menatap ngeri padanya. Padahal cuaca sedang dingin-dinginnya, namun Dongmin sama sekali tak terlihat kedinginan. Terbuat dari apa tubuhnya?
Dongmin menatapnya dengan instens, kemudian mengeluarkan kantung plastik kecil yang transparan berisi serbuk putih. "Ini bisa membuatmu melupakan segalanya. Masalahmu, sedihmu, marahmu, frustasi dan kekesalanmu pada dunia yang tak adil ini."
Kim Taehan yang berada di samping Dongmin seketika tertawa. Dia adalah anak SMA tahun akhir yang tampak menyeramkan dengan jahitan vertikal di pelipisnya. Ditangannya juga terdapat gelang tengkorak yang menggambarkan betapa ganasnya dia.
"Polos sekali kamu," katanya sambil menyipitkan matanya untuk melihat wajah Yohan dengan teliti. "Namamu siapa?"
Yohan menoleh pada Yongjin yang sedari tadi menunduk sambil menautkan tangannya dengan sopan. Yohan mengernyit, kemudian menoleh lagi pada Taehan.
"Yohan. Kim Yohan."
Taehan mengangguk-angguk, menatap Yohan dari atas bawah, kemudian berdecak dan beralih menatap Yongjin. "Hei, Yongjin. Apa spesialnya anak ini untuk menggantikanku?"
Yongjin tersentak, kemudian dengan gegalapan ia mendongak dan menjawab. "A-anu, Yohan pandai taekwondo, Hyung," jawabnya gagap.
Hyung adalah panggilan orang Korea yang mengartikan kakak dalam bahasa Indonesia. Melihat keempat laki-laki yang seperti gangster itu dipanggil Hyung salah satunya oleh Yongjin, Yohan semakin bingung dibuatnya.
Yongjin dan keempat gangster itu bagai langit dan bumi. Bagai air dan minyak. Bagai air dan api. Tak akan pernah bisa dipikirkan bisa bersama, terlalu mustahil.
"Apa maksudnya ini?" tanya Yohan tak mengerti, menoleh pada Yongjin dan menatapnya meminta penjelasan. "Yongjin, tolong beritahu aku."
"Kamu belum memberitahukannya?" tanya Park Woosun, orang yang sedari tadi diam. Dia adalah laki-laki berparas tampan dengan rambut panjang yang hampir menyentuh lehernya. Dia tak punya tato ataupun pernak-pernik khas preman seperti Dongmin dan Taehan, namun ia punya tatapan tajam serta wajah tajam yang membuat semua orang takut jika berhadapan dengannya lama-lama.
Anak SMA yang satu kelas dengan Dongmin itu berjalan mendekat. Membuat Yongjin hampir kencing di celananya saking takutnya berhadapan dengan Woosun.
"Kuberi waktu sepuluh menit untukmu menjelaskan padanya," katanya dingin, kemudian berbalik menatap tiga orang di belakangnya. "Ayo keluar. Buat mereka nyaman dengan ketidakberadaan kita. Mereka pasti sudah takut setengah mati."
Dongmin tertawa, kemudian bangkit dan berlalu. Disusul Taehan yang menyeringai menatap Yohan, begitu juga dengan Lee Min-uk yang sedari tadi diam. Paras Min-uk sangat dingin dan datar, tidak pernah tersenyum dan membuatnya terlihat sangat misterius.
Ditinggal berdua saja, akhirnya Yongjin luruh, ambruk di lantai gedung yang tertutup salju tipis dan membuat Yohan mengernyit melihatnya.
"Kamu kenapa?" tanya Yohan, sementara Yongjin tak langsung menjawab, justru fokus untuk bernapas setelah sebelumnya ia menahan napas dan tertekan.
Yohan mendekat, menyentuh bahu laki-laki itu dengan wajah khawatir. "Hei."
"Bunuh aku, Yohan," kata Yongjin yang tiba-tiba menatapnya dengan tajam dan penuh keseriusan. "Bunuh aku, brengsek!"
"A-apa maksudmu?" tanya Yohan lagi-lagi dibuat semakin bingung. Ia terkejut karena kini Yongjin menatapnya bukan dengan tatapan ramah seperti biasanya, melainkan penuh kebencian dan murka terpendam. "Kenapa tiba-tiba kamu menjadi seperti ini?"
Tangan Yongjin merongoh saku celananya, mengeluarkan sebilah pisau dari sana dengan gemetar dan ia letakkan benda tajam itu di telapak tangan Yohan yang langsung lemas dibuatnya.
Matanya bergetar menatap pisau ini. Ia mencengkram bahu Yongjin setelah melempar pisau itu sekuat tenaga.
"Bisa kamu jelaskan semua ini?" tekan Yohan dengan wajah mengeras. "Hei, Ahn Yongjin. Biasanya kamu tidak seperti ini. Kamu anak baik-baik dan tak pernah bermasalah, justru sangat berprestasi sampai-sampai aku saja kagum padamu. Apa yang membuatmu sampai berurusan dengan anak-anak seperti mereka tadi?"
Yongjin menatap Yohan dengan tajam. "Kamu tidak bisa menebaknya?"
Kening Yohan mengerut. "Ak--"
"Ini semua gara-gara dirimu, bodoh. Kamu penyebabnya, Kim Yohan," potong Yongjin tajam. "Kamu sangat brengsek. Kamu menghancurkan hidupku, Yohan. Kamu menghancurkan hidupku..."
Yohan sangat terpukul, ia tak sanggup berkata-kata kala melihat Yongjin kini sudah menangis dengan gigi yang sekuat tenaga menahan agar suaranya tak keluar. Namun, luruhan air matanya menggambarkan betapa banyaknya emosi yang laki-laki itu pendam selama ini.
"Karena dirimu aku tak dipandang di keluarga, karena dirimu aku tak mendapatkan keinginanku, karena dirimu aku menjadi kacau dan berurusan dengan empat laki-laki menakutkan tadi!" seru Yongjin habis-habisan, berteriak pada Yohan dengan segenap murkanya. "Kamu merebut peringkat pertamaku di kelas, kamu mengalahkanku dengan keahlian taekwondo saat aku juara tiga OSN, kamu membuatku terhalangi. Aku lari, aku membuka pintu hitam, aku ingin bahagia dengan jalan singkat. Aku memilih narkoba dan berurusan dengan empat tikus itu. Kini salah satunya akan beristirahat karena akan UN, aku memilihmu untuk menggantikannya supaya aku mendapat potongan untuk sabu-sabu pesananku Minggu depan. Oleh karenanya, aku membawamu ke sini."
Yohan membulatkan matanya, mencengkram bahu Yongjin sambil menggelengkan kepalanya. "Kamu harus berhenti sekarang juga."
__ADS_1
"Kamu punya uang?" tanya Yongjin sarkas, begitu menusuk sampai Yohan tak dapat membalasnya sampai satu menit berlalu. "Kalau begitu bayar biaya rehabilitasi-ku. Bayar semuanya agar aku bisa benar-benar berhenti."
Yongjin tertawa karena tak kunjung dapatkan jawaban dari Yohan. "Lihat, kamu tidak mau membantuku. Satu-satunya jalan supaya semuanya bisa selesai adalah kematianku. Bunuh aku, Yohan! Bunuh aku!"
"Hei, sadarlah!" seru Yohan balas membentak dengan mata tajam. Melihat Yongjin membuang mukanya, Yohan menghela napas kecil. "Baiklah, aku minta maaf jika aku membuatmu menjadi seperti ini. Aku tak tahu dan tak begitu peduli. Tapi aku mencoba untuk membuat hidupku baik-baik saja. Aku juga ingin bahagia."
Udara semakin dingin, jam sudah menunjukkan pukul delapan malam dan Yohan berniat untuk pulang sebentar lagi. Ia menunduk sambil menepuk-nepuk punggung Yongjin.
"Kita bersaing untuk bahagia, Yongjin. Tak ada orang yang ingin bahagianya lebur untuk orang lain yang bahkan tak dekat dengannya, ini sudah hukum semesta."
Bukan maksud Yohan untuk membiarkan Yongjin bersedih dan ia tak mau disalahkan atas sedihnya, namun Yohan kecewa pada Yongjin yang tak berjuang lebih keras untuk mengalahkannya.
Tak menjawab Yohan, Yongjin justru bangkit dan melangkah menjauh. Yohan bingung, namun ia hanya diam memerhatikan. Ketika Yongjin sampai di satu titik, ia membungkuk, seperti memungut sesuai dan betapa terkejutnya Yohan saat Yongjin mengangkat pisau yang tadi ia lemparkan menuju lehernya sendiri.
"Hei, Yongjin, jangan gila!" seru Yohan, langsung berlari dan menahan lengan Yongjin sekuat tenaga.
"Apa pedulimu, brengsek? Kita tak dekat ataupun pernah bermain bersama. Mau aku mati, mau aku hidup, kamu tak peduli, kan? Jadi, lepas!" seru Yongjin berteriak murka. Matanya sudah memerah, tubuhnya telah lelah, namun tekad untuk melawan Yohan sangatlah besar dalam benaknya.
Yohan tersentak saat Yongjin mengambil pisau itu dengan tangan yang tak dicekal Yohan dan menyayat lehernya sendiri secepat yang ia bisa, namun Yohan justru mendorongnya agar kejadian yang tak diinginkan tak terjadi. Dorongan itu terlalu keras, sampai Yongjin tergelincir salju dan kepalanya menghantam pecahan kaca yang berserakan.
Mata Yohan membulat, menatap kepala Yongjin yang perlahan berdarah, mengotori putihnya salju di ruangan ini. Tangannya gemetar, bergerak perlahan meraih kepala itu dengan tangis yang mulai menjadi-jadi.
"Yongjin..."
Dengan segenap kekuatan dan kesadaran yang tersisa, Yongjin tersenyum. "Bagus. Kamu membunuhku, Yohan. Aku berterimakasih dengan tulus."
Sial. Menatap mata Yongjin yang perlahan ditinggal kehidupan, Yohan hanya mampu menunduk, kemudian menangis tanpa suara dengan tangan terkepal kuat-kuat. Ia memukul-mukul lantai berlapis salju dan darah dengan segenap kesalnya.
Perasaannya kini campur aduk dan ia tak tahu apa yang harus dilakukan.
Sejak pertama kali masuk SMP, Yohan memang tak begitu mengenal semua teman-teman satu kelasnya, namun ada yang menonjol di sana. Itu adalah Ahn Yongjin. Dia laki-laki bersih, rapi, ramah dan punya lengkung senyum yang membuat siapapun yang melihatnya akan merasa damai.
Yongjin itu laki-laki yang baik, tak pernah membuat seseorang terluka hingga siapapun yang berani melukainya mungkin akan dihujat habis-habisan.
Namun itu tidak berlaku pada Yohan, sebab dia tak peduli dan tak pernah melihat kebaikan Yongjin. Yang ia tahu hanya kenyataan bahwa prestasi Yongjin sebanding dengannya, bahkan melebihinya di bidang keterampilan.
Yongjin dapat melakukan archery, berenang, berkuda, dan sangat pintar dalam akademik. Sementara Yohan hanya pintar taekwondo dan pernah tiga kali juara nasional. Yongjin jelas membuatnya iri, namun justru Yongin lebih iri padanya.
Sampai terjerumus pada hal keji dan berakhir dalam keadaan yang tragis.
Sebenarnya di sini, Yohan sama tragisnya. Bukannya ia menyelamatkan, justru membantu agar Yongjin mengakhiri hidupnya.
Masih banyak pertanyaan dari benak Yohan pada Yongjin. Mengenai maksudnya membawanya ke sini, apakah Yongjin sudah merencanakan kematian dirinya dari awal dan mengapa laki-laki itu baru mengatakan tentang kebenciannya hari ini.
Jika saja Yongjin mengemukakannya lebih awal, Yohan dapat menjaga sikap dan tak begitu bangga atas pencapaian jika itu membuat seseorang terluka.
Yang kini Yohan bisa lakukan hanyalah menangis, menunduk dalam dingin, sunyi dan gelapnya malam. Dia menangis, namun suaranya ditahan habis-habisan hingga terdengar seperti cicitan tikus.
Lama Yohan begitu, meratapi tangannya yang menyebabkan temannya meninggal. Yohan menjambak rambutnya, memilih untuk bangkit dan berjalan lunglai. Ia akan mencari banyak salju untuk menutupi mayat Yongjin, mungkin meninggalkannya begitu saja sampai terlupakan.
Yohan terlalu terguncang, ia tak bisa berpikir selain memutuskan untuk membiarkan mayat Yongjin membusuk sendiri.
Ketika Yohan hampir keluar dari gedung tua itu, ia berhadapan lagi dengan empat gangster yang sempat berurusan dengan Yongjin tadi. Yohan menatapnya dengan marah.
"Kalian membuat Yongjin hancur," desis Yohan murka.
Taehan tertawa hambar, mendekati Yohan dengan tatapan sama murkanya. "Dan kamu membunuhnya."
Yohan mengalihkan pandangannya, membuang napas kecil kemudian memilih untuk melanjutkan langkah meninggalkan mereka berempat, sebelum sebuah tangan menahan bahunya. Langkah Yohan berhenti, menatap pada sang pemilik tangan, Hwang Min-uk, dan mengernyit marah.
"Lepas!" desis Yohan segera menghindar.
"Kamu laki-laki. Selesaikanlah masalahnya dengan gentleman." Pertama kali suaranya keluar, sangat dingin dan tajam dibandingkan Woosun. Tatapan tajamnya lebih mengintimidasi dari Taehan dan ototnya lebih besar dari milik Dongmin. Jika Yohan diminta untuk menebak siapa yang menjadi ketuanya di antara mereka berempat, sudah jelas Yohan memilih Min-uk. "Jika kamu pergi sekarang, lambat lain polisi akan menemukan Yongjin dan melakukan investigasi. Kamu pasti tertangkap, ayah Yongjin adalah jaksa dan keluarganya adalah jelas-jelas tak terima anaknya mati begitu saja."
Laki-laki itu banyak diam, namun satu kakinya ia bicara, lawannya akan terpaku dalam gelap matanya. Yohan tak tahu mengapa, namun melihat mata Min-uk, ia teringat pada mayat Yongjin.
"Aku ... harus bagaimana?" tanya Yohan akhirnya menyerah. Matanya berair, memikirkan juga bagaimana reaksi orang tuanya setelah mendengar bahwa anak satu-satunya telah berbuat dosa.
"Mudah saja, kita buang mayatnya ke sungai diam-diam dan kamu harus menjadi pengganti Taehan tiga tahun ke depan sampai kamu UN," balas Min-uk datar, seolah yang dicetuskannya adalah perbuah seringan membuang sampai pada tempatnya.
Tubuh Yohan menegang, matanya bergetar dan pikirannya kacau. Kacau sekali sampai ia tak bisa berpikir apapun, tak bisa menemukan jalan keluar yang lain hingga akhirnya Taehan merangkulnya erat.
"Orang tuamu tak akan tahu, kami akan jaga mulut. Pada siapapun," katanya dengan seringai miring. "Asal kamu tak berulah."
Yohan menggeleng, sadar akan sesuatu yang salah pada pikirannya. Laki-laki itu langsung melepas diri dari rangkulan Taehan dan menatap keempatnya dengan penuh tekad. "Tidak. Aku akan melaporkan kalian."
"Maka hanya kamu yang disalahkan. Memangnya Yongjin mati karena kita?" Dongmin tertawa sini, kemudian mencengkram Yohan dan menatapnya lamat-lamat. "Dengar, ya, bocah, orang tua Yongjin sudah tahu keberadaan kami dan menerima kami dengan baik. Jelas sidik jarinya akan ditemukan polisi dan hanya kamu yang akan dihukum."
Kemudian Dongmin menjauh dengan wajah bangga. "Kami punya pelindung, Yohan. Kami tak dapat dihukum begitu saja seperti yang kamu pikirkan."
"Lagipula Yongjin yang mendatangi kami, bukan kami yang mengulurkan tangan padanya," tambah Taehan merasa harus bersuara. "Tak ada jalan keluar untukmu, Yohan. Bergabunglah bersama kami."
Min-uk mendekat, membisikan sesuatu di telinga Yohan dengan nada santai, "kamu hanya perlu menyalurkan barangnya. Tak perlu ikut campur pada bisnis gelap kami. Hanya tiga tahun untuk menggantikan Taehan yang akan kuliah di luar kota."
Apakah tak ada jalan lain?
Yohan menatap mayat Yongjin yang hampir tertutup salju sepenuhnya dengan tatapan sendu, kemudian pada empat laki-laki yang baru ia temui pertama kalinya dengan bingung.
Haruskah Yohan menyelamatkan diri?
"Kami akan selalu bersamamu, Yohan. Jangan kecewakan kami, oke?"
"Ayah dan Ibu selalu bangga padamu, Yohan."
"Ayah dan Ibu akan selalu mendukungmu, Yohan."
"Kami sayang padamu, Kim Yohan-kami satu-satunya."
Air mata Yohan jatuh banyak sekali, ia menggigit bibirnya dan menahan suaranya agar tak keluar. Ia putus asa, sedih dan kecewa atas dirinya sendiri.
Dengan wajah menangis, Yohan menahan Min-uk. "Hanya tiga tahun bukan?"
Senyum Min-uk tercipta, Taehan bertepuk tangan, Dongmin menjentikkan jari dan Woosun mengangguk-angguk menyambut Yohan sebagai teman baru bagi mereka untuk berbisnis ilegal.
"Kita harus membuang mayat Yongjin terlebih dahulu," perintah Min-uk dan di belakangnya, bersama Taehan, Dongmin dan Woosun, Yohan mengikuti dengan mata gelap dan tangan mengepal.
Maaf Ayah, Maaf Ibu, Maaf Yongjin, Yohan egois agar dirinya bahagia. Tak ada cara lain.
***
__ADS_1