Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 60


__ADS_3

Sejak di lokasi shooting sampai kembali ke kamarnya setelah mandi pun, wajah Lucas tak pernah berubah. Masih lesu, sedih dan hampa.


Lucas tak punya pilihan lain selain menuruti perkataan Ibunya jika tak mau masalah semakin rumit. Sampai saat ini, Lucas belum mengabari tentang kenyataan bahwa besok ia sudah tak lagi bersekolah di SMA Aksara Nusa pada Theo dan Ten.


Tak mau membuat kedua temannya itu khawatir, lebih baik Lucas mengarang alasan.


Akhirnya, dia mengirim tombol kirim dengan berani.


Sorry ya guys, manajer aliran Ibu gue tercinta mau gue fokus karir akting dan antek-anteknya aja daripada sekolah


Mulai besok gue nggak bakal datang ke sekolah, yey!


So, jangan kangen oke


Pesan itu ia kirim ke grup yang berisi dirinya, Theo dan Ten. Tak berselang lama, Ten langsung membalas dengan berbagai kata-kata tak terima karena terlalu tiba-tiba. Beda lagi dengan Theo yang justru menyemangati dan berpesan supaya tidak lupa padanya.


Lucas tersenyum.


Kepalanya memutar kembali kejadian itu. Kejadian yang membuat tali persahabatan antara dirinya, Theo dan Ten bisa sekuat itu hingga Lucas rela mengorbankan seratus juta untuk mempertahankan persahabatan mereka.


Hari itu adalah hari terakhir MPLS.


Untuk ukuran laki-laki yang tak suka bergaul dan malas terhubung dengan seseorang yang pada akhirnya akan memanfaatkan uangnya, normal bagi Lucas untuk belum mendapat satu teman akrab pun.


Meski begitu, Lucas tak sedih-sedih amat.


Di rumahnya ada PS, makanan enak, Bibi yang selalu melayani dan kehidupannya mewah serta menyenangkan. Lucas tak perlu seseorang yang ia berbagi tawa atau berbagi luka.


Jika sendiri saja bisa, mengapa tidak?


Lucas menunggu mobil jemputannya di sisi jalan. Anak-anak yang lainnya juga sudah bubar dan pulang melalui jalannya masing-masing. Ada yang memesan ojol, ada yang naik taksi, ada yang naik angkot, ada yang naik motor jemputan dan lain-lain.


Sejak masuk SMA, Lucas sudah membintangi lima film, namun namanya belum melejit seperti sejak dia punya film dengan dirinya sendiri sebagai pemeran utama. Tak banyak yang meminta foto dengannya, namun hari ini terasa begitu sepi.


Lucas membuang napas panjang, mengernyit saat terik matahari menyoroti matanya. Dia mengambil dompet di saku belakang celana dan hendak mengambil uang untuk membeli minuman karena haus saat tiba-tiba dompetnya itu dijambret.

__ADS_1


Mata Lucas langsung melotot.


"Jamret! Jamret! Tolong!" seru Lucas heboh, seraya dengan cepat berlari mengejar ke arah laki-laki berpakaian serba hitam yang baru saja mengambil dompetnya.


Di dalamnya bukan hanya uang, tapi ATM, fotocardnya, juga cincin milik Ibunya. Bisa habis Lucas kalau sampai dompetnya hangus.


"Ish," geram Lucas saat jamret itu memasuki gang sempit. Lucas jarang sekali berkeliaran di jalanan sempit, maka agak susah baginya untuk menyusul jamret itu. "Woi, berhenti, woi! Dasar pencuri!"


Lucas sudah merasa putus asa sekali ketika jaraknya dengan jamret itu semakin tipis. Jamret itu masuk ke perumahan warga, melompat-lompat di antara pagar dan di belokan, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menahan kepala jamret itu hingga jamret tersebut terjengkang ke belakang.


Tebak siapa yang menolongnya.


Wajah Lucas langsung berseri-seri. Dia mengambil dompet dari tangan jamret dan tersenyum pada seorang laki-laki yang baru saja menyelamatkan dompetnya.


"Makasih, ya," kata Lucas. "Lo anak mana?"


"SMA Aksara Nusa."


"Woah, samaan dong!" seru Lucas. Meski dia tak pernah seramah ini sebelumnya, Lucas merasa dia sedang berubah ke jalan yang baik kali ini. "Gue Lucas."


"Nggak, dia cuma ngambil dompet gue."


"Baguslah." Theo mengangguk lega.


"Btw, lo ngejar-ngejar juga atau emang nolongin gue?" tanya Lucas penasaran.


"Gue udah curiga dari pertama masuk sama ini orang. Ternyata dua beneran copet," kata Theo menjelaskan.


"Oh gitu."


Setelah itu, setiap kali Lucas melihat Theo, dia kerap kali menyapa Theo. Sampai menemukan hobi yang sama yaitu menjahili guru atau memberantas preman depan sekolah, mereka berdua semakin dekat.


Lucas sendiri tertawa saat mengingatnya. Dulu dia konyol, menganggap semua orang yang mau berteman dengannya hanya akan memanfaatkan uangnya, namun ternyata tidak semua.


Theo tampak sangat tak acuh pada uang.

__ADS_1


Sementara itu, pertemuannya dengan Ten berbeda lagi. Mereka dipertemukan saat Lucas kena marah Pak Toto karena bolos bersama Theo dan harus mengerjakan soal di ruangannya. Di mana saat itu, di ruangannya terdapat Ten yang tengah berlatih untuk OSN Matematika.


"Dari kecil lo makan apa sih?" tanya Lucas tiba-tiba. Dua baru saja mengerjakan satu, saat melihat Ten terus mengerjakan soal seperti sebuah mesin.


"Gue anak panti. Makannya nggak jauh dari nasi, tahu, tempe, telur. Ubi sama pisang dari kebun." Ten menjawab datar. Dia tak sejutek Theo, namun fokusnya bisa terbagi dengan seimbang.


Lucas menatapnya kagum. "Bisa ajarin gue?"


"Gue sibuk."


"Gue kasih satu juta, deh."


Ten yang memang ekonomi kehidupannya tak sebagus Lucas, jelas saja tergiur hanya dengan satu juta itu. Lucu memang, sebuah persahabatan diawali dengan uang.


Meski begitu, tak bisa dipungkiri Ten memiliki hati yang tulus dan baik hati.


Berkatnya, dia mengajari Lucas dan sering bertemu. Dengan begitu, sebuah tali persahabatan otomatis terjalin.


Ten secara alami bergabung bersama Lucas dan Theo. Mereka bertiga rupanya punya kesenangan saat berbuat onar, jadinya persahabatan mereka semakin kuat. Sama-sama suka ke club, sama-sama suka balapan dan sama-sama menyukai untuk bertindak sesuai keinginan.


Mereka tak pernah mengecewakan Lucas, tak pernah mengkhianati Lucas, setidaknya sampai saat ini.


Karena itu, sangat disayangkan sekali Lucas harus berpisah dengan mereka untuk waktu yang tak bisa diprediksi.


***


**aku seneng banget banyak yang komen dan itu semua bikin semangat banget tau nggak


jangan berhentiin kebiasaan komen, oke?


komen kalian itu ibarat bensin buat mobil (aku)


kalau nggak ada bensin, mobil kan nggak bisa jalan


ya gak ya gak**

__ADS_1


__ADS_2