Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 5


__ADS_3

"Li, tolong jaga Luhan dulu, ya," pesan Ily ketika Lili sedang memakai sepatunya. Gadis berusia tujuh belas tahun itu sudah akan berangkat ke sekolahnya pagi ini. "Ibu mau buang sampah dulu ini mumpung ada triknya di seberang jalan sana. Titip bentar, ya, jangan dulu berangkat!"


Mendengar pesan dari ibunya, Lili kontan menurunkan bahu. "Emangnya ayah ke mana, Bu?"


Ily sudah hilang di pagar depan rumah saat Lili mau protes. Dari celah pagar yang terbuka, Lili melihat rumah kakek dan neneknya. Kalau saja mereka masih ada, maka sudah pasti Lili bisa berangkat sekarang juga.


Kakek dan nenek telah pergi tiga tahun yang lalu.


Lili hampir kehilangan semangatnya karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit. Kalau telat satu menit saja, pasti Lili telat sampai ke sekolah.


Perjalanan dari rumahnya ke sekolah selalu pas sepuluh menit dengan ojol andalannya.


Lili membuang napas panjang, melepas kembali sepatu Converse miliknya dan masuk ke dalam rumah lagi untuk menemani Luhan.


"Luhan, jangan main-main sama itu bahaya!" Lili segera menjauhkan Luhan dari dapur dan tangan mungil itu hendak mengambil pisau. Jika Lili tidak cepat, maka sudah dipastikan Luhan akan terluka. "Aduh Luhan mending nonton TV aja, ya."


Lili mendudukkan Luhan di pangkuannya setelah menyalakan televisi. "Liat tuh Odang dan Udang. Lucu ya mereka, Luhan?"


Luhan terdiam dan fokus menonton. Lili membuang napas lega. Namun, saat melihat jam dinding di depannya, jantung Lili tak bisa berhenti berdetak kencang. Sudah jam tujuh kurang lima menit.


"Aduh, ibu kok lama banget, sih?" keluh Lili tak tenang.


"Hm, hm! Luhan mau pisang!"


"Ih, Luhan diem dulu."


"Li--"


"Lili berangkat!" Lili langsung bangkit setelah Ily datang kembali dan berkata sekenanya. "Luhan lagi nonton TV, kok, aman-aman aja."


"Mau dianterin sama ayah nggak?" tanya Ily saat Lili panik memakai Converse-nya.


"Ayah masih tidur, mana lama lagi mandinya, keburu telat deh Lili." Lili tahu-tahu sudah selesai memakai sepatunya dan kini berdiri. "Dadah, ibu! Lili berangkat!"


"Aduh, anak itu telat nggak ya?" Ily bertanya khawatir dan kasian. "Yah, semoga nggak deh."


Sementara anak itu, Lili, yang telah memesan ojek online dan kini tengah menunggu kedatangan kendaraan beroda dua itu di depan rumah. Lili menggerak-gerakkan kakinya dengan gelisah, meringis beberapa kali hingga akhirnya yang dia tunggu tiba.


"Neng Lilililili?" tanya Abang Ojek itu dengan kerutan samar di keningnya setelah membuka kaca helm-nya dan menatap Lili.


Lili mengangguk cepat. "Iya, Pak."

__ADS_1


"SMA Aksara Nusa?"


"Iya, Pak." Lili mengangguk lagi.


Karena sudah pro, Lili langsung naik dan menakai helm-nya. Lili menepuk pundaknya Abang Ojek itu dengan keras. "Ngebut ya, Pak!"


"Siap, Neng. Udah mau telat, ya?"


"Aduh, bapak kok bisa tau?" Lili tertawa saat Abang Ojek ini benar-benar ngebut sesuai keinginannya. Menyalip satu kendaraan ke kendaraan lainnya, hingga menerobos lampu merah sesuai arahan Lili.


"Soalnya gesit banget omongan Eneng. Anak saya juga pernah gini soalnya." Abang Ojek turut tertawa. "Semoga nggak telat ya, Neng."


"Kalau Abang bisa nyampe satu menit lagi, pasti saya nggak telat."


"Waduh, kalau ngebut pun kayaknya tiga menit baru nyampe, Neng."


Lili membuang napas pasrah. "Ya udahlah, Pak. Saya telat aja. Udah jam tujuh pas sekarang."


Bersamaan dengan itu, motor ojol ini agak menelan karena Abangnya takut kena tabrakan kalau ngebut-ngebut. Sampai lima menit kemudian, Lili sampai di depan sekolahnya yang kini gerbangnya sudah tertutup rapat.


Lili mencengkram tepi roknya kuat-kuat. "Masuk, Li?" Lili bertanya pada dirinya, kemudian berbalik. "Jangan, Li."


Lili memejamkan matanya. Dua sisi dalam dirinya mulai berdebat.


"Kalau lo nggak masuk lo mau ke mana? Pelajaran pertama itu Matematika, lho."


"Hari pertama masuk tuh biasanya jarang pada masuk guru-gurunya, Li."


"Pak Toto kan rajin, Li. Mau dapet stiker senyumnya nggak?"


"Lo masuk gerbang saat ini, artinya menodai buku kedisplinan yang lo punya, Li."


"Pikirin Kak Jae, Li. Masuk aja, sekarang!"


"Eh, justru kalau dia liat lo dipajang di depan, nanti dia ilfeel."


"Daripada hari ini lo nggak ketemu dia? Mending mana ayooooo?"


Krietttt.


Suara gerbang besi sekolah yang dibuka itu membuat perdebatan dalam pikiran Ily buyar. Sontak, Lili menoleh ke arah gerbang dan melihat Theo--teman satu kelasnya dari kelas sepuluh yang sudah terkenal dengan kenakalannya, kebodo-amatannya, kegantengannya dan kebodohannya--berjalan ke dalamnya dengan santai.

__ADS_1


Seperti biasa, laki-laki itu rambutnya acak-acakan seperti tak pernah disisir. Di telinganya tersumbat earphone bluetooth putih dan tas kecil tersampir di bahu kanannya yang entah ada bukunya atau tidak. Bahkan kakinya terbalut sepatu berwarna merah yang sangat mencolok.


Yah, anaknya anggota DPR mah bebas.


"Woi, Theo!" seru Lili panik. Suatu tindakan bodoh karena Theo tentu saja tak mendengarnya. "****, Li. Dia kan lagi dugem, elah."


"Berani telat kamu?! Sini baris, cepet!" Suara Pak Dodo--salah satu guru yang menjadi Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan--yang jelas saja ditujukan pada Theo seketika membuat Lili tersentak dan makin takut.


Jika dia tak masuk sekarang, kapan lagi? Lili meringis, membayangkan hal mengerikan akan dia hadapi, untuk setelahnya melangkah masuk ke dalam gerbang.


Now or never!


Ketika Lili menunjukkan diri, banyak pasang mata dari anak-anak yang juga telat yang melihatnya sekilas. Namun, mata melotot Pak Dodo tertancap selalu pada Lili.


"Kamu lagi, cewek-cewek kok telat? Sini masuk barisan!" teriakan Pak Dodo benar-benar membuat hati Lili seperti tersambar petir karena dia baru pertama kali begini.


Ternyata, keganasan Pak Dodo bukanlah mitos belaka.


Dengan kepala menunduk dalam, Lili berjalan untuk bergabung dengan barusan, di belakang Theo yang masih bodoh amat. Bahkan masih memakai earphone bluetooth yang sepertinya tak terdeteksi mata Pak Dodo karena tertutup helaian rambut hitam gondrongnya.


Lili membuang napas panjang, dia benar-benar takut. Malu juga. Sebab di belakang Pak Dodo, ada juga perwakilan OSIS.


Jelas, Kak Jae ada di sana dan membuat Lili tak bisa napas rasanya. Harusnya dia menciptakan kesan yang baik pada senior yang ditaksirnya itu, bukan malah turut menjadi anak yang dianggap nakal karena telat.


"Hari pertama udah hancur begini!" Pak Dodo membentak keras. "Sekarang kalian ambil posisi. Cowok push-up, cewek bending!"


Mata Lili melotot dan mulutnya memaki tanpa suara. Hari pertama sudah dapat hukuman karena telat? Yang benar saja. Ini awal buruk bagi Lili, dia punya firasat bahwa ... bahwa ke depannya juga mungkin saja tak akan jauh beda dari hati ini.


Eh, benarkah? Lili tak siap. Lili tak mau.


"Heh, itu cewek yang paling ujung!" seruan Pak Dodo membuat Lili tersentak dari lamunannya. "Posisi bending!"


Lili langsung mengambil posisi serupa dengan anak-anak cewek. Samar, dua mendengar Theo bergumam padanya saat Pak Dodo mulai menghitung.


"Dasar tukang halu."


Amarah Lili langsung membara. "Theo, lo mau gue cabik-cabik, hah?"


Theo tak membalasnya karena Pak Dodo mulai berkeliling untuk memastikan anak-anak yang telat itu menjalani hukuman dengan benar. Merasa diabaikan, Lili benar-benar kesal dan dendam pada Theo.


Laki-laki itu harus Lili balas di kelas nanti. Lihat saja dasar anak nakal.

__ADS_1


***


__ADS_2