
"Sherin sekolah nggak?" tanya Theo pada Ten segera setelah dia duduk bergabung dengan Ten dan Lucas yang telah lebih dulu sampai di meja tempat biasa mereka duduk di kantin.
Tak lebih dulu menjawab pertanyaan Theo, Ten justru lebih tertarik melihat wajah laki-laki itu. "Digebukin sama siapa lo?"
"Kalau gue nggak harus cus ke lokasi casting abis sekolah, langsung gue ikut sikat dah," kata Lucas jadi emosi. "Berani bener itu anak mukulin pacar gue."
"Najis," maki Theo pada Lucas. "Gue begini gara-gara Dika, itu anak masih aja nggak terima masalah gue sama Sherin."
"Oh," tukas Lucas, jadi tak bisa berkata-kata lagi karena sudah menyangkut masalah hati.
"Oh sama Dika?" Ten kembali memastikan.
Theo mengangguk.
"Wajar sih, kalau gue juga udah pasti marah, Yo," balas Ten kemudian. "Lo ambil sahabat dia dari kecil dan pacar pertamanya. Jelas, Dika dendam kesumat sampai ke ubun-ubun."
"Masalahnya gue nggak ada apa-apa sama Sherin," balas Theo geram. "Jadi, Sherin sekolah nggak?"
Ten menatap Theo sambil berdecak meledek. "Nggak sabaran amat. Kalau lo datengin Sherin, yang ada Dika makin panas, ege."
"Pokoknya gue mau ngomong," tukas Theo tegas. "Kalau nggak, masalahnya nggak bakal selesai-selesai."
"Sherin sekolah, ada di kelas."
Setelah mendengar itu, Theo langsung bangkit lagi dari duduknya dan berjalan menuju sebuah kelas. Entah Theo menyadari atau tidak, Lili mengikutinya diam-diam.
Keningnya berkerut saat Theo menyebut nama princess sekolah. Sudah pintar, ramah, cantik lagi.
Sherina Fatrinamaya.
Sejak kelas sepuluh, nama Sherin selalu menjadi embel-embel untuk bersanding dengan predikat cantik, putri, ayu, pintar, bertalenta, sopan dan kata sifat baik lainnya.
Lili yang perempuan saja sangat menyukainya, apalagi laki-laki. Ya, termasuk Theo.
__ADS_1
Mengikuti langkah Theo, Lili akhirnya bersembunyi di balik tiang koridor saat Theo melengos ke pintu kelas XI IPA 1 dan menyerukan nama Sherin untuk menyuruhnya keluar.
Ketika telah keluar, berdirinya Sherin dan Theo membuat keduanya tampak seperti dua orang sempurna yang dipadukan. Bukan berarti sempurna dalam artian segala aspek, namun wajah bak keturunan kerajaan keduanya membuat mereka seperti tokoh komik yang menjadi nyata.
Melihat mereka di pinggiran seperti ini membuat Lili bagai pembantu saja untuk kisah mereka berdua.
Sementara itu, Theo langsung menatap Sherin penuh arti. "Lo masih belum selesai?"
"Belum, Yo," balas Sherin seraya menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Masih tiga bulan lagi."
"Ck, lo nggak bisa jelasin aja ke Dika?" Theo berkata lelah, menunjuk lebam di wajahnya. "Liat ini? Gara-gara Dika."
Sherin meringis. "Maaf, Yo, tapi tolong bantuin gue. Bentar lagi. Plis, ya?"
"Dapet apa gue saat bantuin lo?" Theo mendengus kasar.
"Terus kenapa waktu itu lo bantuin gue?"
"Tolong, Yo, sekali ini aja. Gue janji nggak bakalan ganggu lo lagi. Tiga bulan lagi, ya?"
Lili meringis mendengarkan mereka. Apa sih yang dibicarakan?
"Setidaknya lo harus bilang ke Dika buat nggak pake bogemnya ke gue."
"Gue akan usahakan, Yo."
"Hm."
"Makasih, Yo."
Theo mengangguk kecil, kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Sherin. Lili langsung berbalik, menatap punggung Theo untuk memastikan laki-laki itu tak menyadari bahwa Lili tengah mengikutinya.
Setelah dirasa aman, barulah Lili keluar dari persembunyiannya.
__ADS_1
***
Ini pertama kalinya Imel datang ke tempat casting.
Beberapa remaja seumuran dengannya juga banyak yang datang. Ini audisi terbuka karena sutradaranya ingin artis yang fresh dan berani mengambil resiko.
Imel di sini bukan untuk casting, justru dia jadi jurinya.
Iya, semuanya bagai mimpi saja. Sutradara dan produser yang mengurusi film-nya ini sangat-sangat baik dan murah hati. Imel saja bingung, di kehidupan sebelumnya dia melakukan apa hingga membuatnya bisa sampai di sini.
"Siap, Mel?" tanya Bu Vela, penulis buku sekaligus skenario yang kerap kali membantunya dalam penyusunan naskah.
Selain jadi penulis buku dan pemain utama perempuan dalam film yang akan diadaptasi dari buku cetaknya, Imel juga dipercayakan untuk menjadi pengarah naskah atas penyusunnya.
Pada intinya, Imel seperti akan membuat filmnya sendiri, bukan hanya menulis naskahnya atau menjadi pemeran utama perempuannya.
Imel sangat excited.
Jika telah selesai semua, ia ingin curhat panjang-panjang pada Lili mengemasi semua suka cita yang dia alami.
"Siap, Bu," balas Imel senang.
"Oke, pemain pertama, masuk!" seru seorang kru.
Disibaknya sebuah tirai yang menutupi pintu oleh seseorang yang seketika membuat semua orang yang ada di sana terperangah. Siapapun tau laki-laki itu.
Lucas. Aktor pendatang baru yang baru-baru ini namanya melejit karena kebolehan aktingnya.
Imel pun mengetahui.
Dan dia sangat bahagia melihatnya.
***
__ADS_1