Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 90


__ADS_3

Theo buru-buru kabur dari rumah Ayah setelah dia sadar. Dengan badan sakit dan penuh memar, Theo berkendara dengan motor ke rumahnya. Melewati angin pagi yang dingin dengan tubuh gemetar.


Theo ketakutan.


Sangat ketakutan.


Rasa bersalah dan menyesal menyesakki dada Theo. Langkahnya sangat tak berdaya saat telah sampai di rumahnya. Theo masuk ke rumahnya itu dan tak ada pikiran lain selain Leo di benaknya.


Tentang Leo dan segala fakta yang baru Theo ketahui hari ini.


Theo masuk ke kamar Leo. Kemudian bersimpuh tak bertenaga di sana. Menangis deras dan penuh sesak. Theo telah salah paham selama bertahun-tahun ini pada seseorang yang sebenarnya sangat ia cintai.


Leo terpaksa meninggalkan dirinya. Bukan sengaja meninggalkan dirinya.


Theo tak tahu masalah Leo, namun yang dia lakukan selama ini adalah membencinya. Apalagi setelah tau apa dosa yang dilakukan Leo, Theo lebih-lebih menghujatnya.


Sekarang, Theo menyesalinya.


Dia ingin meminta maaf, namun jelas itu tak mungkin bisa dilakukannya.


Theo tertawa. Menertawakan dirinya yang luar biasa bodoh ini. Dia memukul-mukul lantai dengan erangan tertahan. Rahangnya mengeras, urat lehernya mengeras dan air matanya terus menetes membasahi tangannya dan lantai kamar Leo.


Tak ada waktu untuk menangis, Theo.


Sebuah suara tiba-tiba menelisik ke telinga Theo.


Mata Theo membulat. Sorotnya yang putus asa dan penuh kesedihan itu mulai berubah. Ada binar yang tak bisa dielakkan.


"Bang Leo?"


Dia benar-benar rindu pada kakak laki-lakinya.


"Bang Leo?"


"Bang?"


"Bang Leo!"


Ketika dia berteriak seperti itu dan tak ada jawaban apapun sebanyak apapun dia berteriak, Theo tertawa lagi. Menertawakan dirinya yang kini mulai gila.


"Dia kan udah mati, Yo ...." Theo bergumam lirik. Menunduk dalam-dalam. "Mana nyaut kalau lo panggil. Ck. Ha ha. Bege."


Akhirnya, Theo bangkit dengan lemahnya. Dia sudah lelah untuk menangis. Kini waktunya untuk merawat diri. Theo harus tampak sehat dan baik-baik saja di depan Titi.


Eh?


Titi?


Titi!

__ADS_1


Seperti kesetanan, Theo langsung keluar rumahnya lagi untuk menyalakan motornya dan setelahnya melesat cepat ke rumah Lili.


Bagaimana bisa ia melupakan Titi?


Sambil terus merutukki diri, Theo melaju membelah jalanan. Dia berpikir sebentar. Hari ini Senin. Harusnya Theo sekolah, tapi ia sudah memutuskan untuk absen dulu karena kondisinya yang tak mungkin bisa membuatnya berkonsentrasi di kelas.


Ketika sampai di rumah Lili, Theo sempat mengejutkan Ily. Namun itu tak lama karena setelah Ily menjawab bahwa Lili sudah dijemput oleh Ayahnya, Theo langsung tancap gas ke rumah Tamrin lagi.


Meski trauma dan takut, Theo dibutakan oleh khawatir dan langsung bertanya ketika mendapati Tamrin baru saja keluar dari rumahnya dan membuka kunci mobilnya untuk berangkat bekerja.


"Di mana Titi?"


Tamrin melirik kecil pada Theo. "Dia aman."


"Di mana, Yah?" tanya Theo penuh penekanan.


"Kamu pasti paham." Tamrin menukas santai dan menatap Theo lurus-lurus saat anak itu sudah berada di hadapannya. "Kalau kamu menurut, Titi akan selalu baik-baik saja."


"Ayah kenapa jadi berubah begini?!" tanya Theo frustasi.


"Tanya Ibumu!" bentak Tamrin keras-keras. "Sudah, Ayah tak mau bahas masa lalu! Sekarang adalah sekarang."


"Ayah!"


"Besok bawa aja barang-barang kamu. Pindah sekolah sekalian. Buat apa sekolah di tempat yang sama dengan Leo si anak tak berguna itu."


Tamrin tak mau dibantah lagi dan segera masuk ke mobilnya. Meninggalkan Theo yang langsung menggeram dan menendang-nendang rumput dengan kakinya yang super kesal.


***


"Tolong ... tolong adik saya, Pak. Adik saya ... diculik Ayah saya sendiri."


Theo langsung bertolak ke kantor polisi saat tak menemukan Titi di manapun. Dia frustasi, sampai lupa pada keadaannya sendiri yang tampak seperti mayat hidup.


Wajah bekas menangis, penuh memar, baju kusut, rambut acak-acakan dan sepatu yang sudah amat kotor.


Kacau pokoknya.


Jelas, Pak Polisi yang jadi sasaran pengaduannya sama sekali tak percaya. "Jangan bercanda, nak. Kami sibuk. Mana ada Ayah yang menculik adiknya sendiri? Kamu pasti cuma dikibulin sama Ayahmu itu. Kalau pun iya, adikmu diculik belum mencapai 24 jam. Sudahlah. Mending sekarang kamu pulang aja, mandi, dan sekolah. Sebelum saya adukan pada Ayah dan Ibumu."


Theo memasang wajah super memelas, putus asa. "Tapi, Pak ...."


"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" Pak Polisi itu langsung mengalihkan perhatian pada seseorang Ibu yang tiba-tiba datang.


Selanjutnya, Theo dianggurin seperti anak kucing yang terlantar di kantor polisi ini.


Theo merasa hampa.


Dia telah membenci Leo yang bahkan tidak salah apa-apa. Maksudnya, meski Leo melakukan dosa, dia tak merugikan siapapun dan siap untuk bertanggung jawab.

__ADS_1


Theo yakin itu.


Sayang sekali, Ayah lebih memperhatikan reputasinya ketimbang nyawa anaknya sendiri.


Theo butuh perlindungan.


Ayahnya sudah tidak waras.


Seluruh kejadian ini selalu mengarah pada sederet kata di atas dalam benak Theo.


Karenanya, Theo meminta bantuan seseorang yang berjasa dalam hidupnya dan sangat-sangat ia rindukan dan cintai.


Jelas, siapa lagi kalau bukan Ibunya?


Theo tak punya nomor Ibunya. Sejak kedua orang tuanya memilih untuk berpisah, Theo sudah tak Sudi lagi menunjukkan bahwa dia sayang lagi pada keduanya. Semua akses untuk menghubungi keduanya sudah Theo tutup rapat-rapat.


Cukup dalam hati saja Theo merasakannya. Merasakan sayang, rindu dan senang atas kedua orang tuanya.


Biarlah Theo jadi anak durhaka. Biarlah Theo jadi anak tak tahu diuntung. Tapi dia menjadi satu-satunya anggota keluarga yang tidak meninggalkan anggota keluarganya yang lain dan tetap tinggal di rumah penuh kenangan itu.


Sebenarnya Ibu tidak seperti Ayah, yang tampaknya tak menginginkan keberadaan anaknya dengan tulus. Namun, Theo yang menjauhi Ibu karena merasa dirinya akan sangat membebani karir dan kehidupan baru Ibu.


Theo paham, dari dulu, Ibu selalu ingin sendirian. Selalu ingin terus berakting tanpa harus repot-repot mengurus anak-anaknya.


Waktu bercerai pun Ibu tak mau mengambil Titi. Hal itu membuat Theo pun ikut jaga jarak dengan Ibu. Meski Ibu lebih sering mengunjungi dia dan Titi dibandingkan Ayahnya.


Ayah dan Ibunya sama bagi Theo. Sama-sama egois.


Setelah membersihkan diri dan tampak lebih baik dari sebelumnya, Theo menancap gas lagi ke sebuah alamat.


Tok ... tok ... tok ....


Theo segera mengetuk pintu sebuah rumah yang pernah ia datangi satu kalinya bersama Titi saat pertama kali Laura pindah ke sini. Rumah itu tak didatangi Theo lagi karena dia takut.


Tak lama setelah dia mengetok pintunya, Laura membukakan pintu. Wajahnya terpasang ekspresi tercengang sebelum akhirnya menautkan alisnya dengan bingung.


"Bu ...." Theo tersenyum tipis, takut-takut Laura lupa dengannya. "Ini Theo."


****


**oke, oke, oke, mulai dari sekarang aku putusin untuk update setiap dua hari sekali karena apa?


karena aku pikir baiknya begitu. untuk kalian, juga aku


terimakasih atas pengertiannya dan sampai jumpa


oh ya, sekedar pemberitahuan, bukan Juni akan ada Dari Korea 4 : (judul masih dirahasiakan)


selamat berbahagia ^^^

__ADS_1


Babai, jangan lupa jaga kesehatan ya**


__ADS_2