Dari Korea

Dari Korea
LSF - 20


__ADS_3

Sudah satu minggu berlalu sejak hari itu, Disa tak pernah membalas pesannya. Bahkan tak pernah terlihat aktif lagi di WhatsApp. Di sekolah pun Luhan jarang melihatnya. Waktu bertanya pada Dara, perempuan yang menjadi gebetan teman satu mejanya itu tak mau menjawab.


Kalau keadaannya jadi seperti ini, Luhan merasa sangat bersalah.


"W E I Y O!" Suara lantang Lingga yang selesai dari luar entah baru selesai apa membuat tubuh Luhan tersentak kecil dan terkejutnya Luhan itu membuat seringai lebar tercipta di wajahnya yang jahil. "Ngelamun aja, Bro. Mikirin apaan, dah?"


"Udah seminggu." Luhan bergumam tak jelas.


"Apaan?" Lingga bertanya tak mengerti seraya duduk di kursinya sendiri.


"Oh ya, tumben lo nggak dapet ikan lagi." Langit turut bicara meski fokusnya masih pada game di ponsel layar sentuhnya. "Pelet dukunnya abis?"


"Ck." Luhan terpelatuk kalau mendengar suara Langit yang nggak ada saringannya. "Gue dor juga kepala lo, Ga."


Langit hanya tersenyum tanpa dosa dan saling membalas pandang pada Lingga yang sama-sama tak tau apa-apa soal kenapa Luhan jadi seperti ini.


"Kenapa, Han?" tanya Lethan akhirnya. Yang paling kalem dan bijaksana.


Pertanyaannya yang normal dan lembut membuat Luhan langsung mau untuk membicarakan apa yang sebenarnya ia rasakan. "Ini si Disa nggak calling-calling gue lagi sejak kejadian itu."


"Kejadian mana ...?" Lethan sedikit kebingungan, namun otaknya bereaksi cepat setelah paham sesuatu. "Oh, yang pipi lo di tampar sama bokapnya itu?"


"Yoi." Luhan mengangguk dengan wajah sedih, kemudian mengusap-usap pipinya dengan dramatis. "Udah nggak perawan dah pipi gue ditabok Om-om."


Lingga menahan tawa, kemudian berdecak dengan tatapan mata pura-pura sedih pada Luhan. "Ya gimana ya, muka lo itu emang tipe yang minta ditabok, sih."


"Minta ditabok juga lo?" tanya Luhan mulai es mo si.


Lingga hanya mengangkat kedua bahunya, tak acuh sama sekali.


Tanpa basa-basi lagi, Luhan segera mencengkram kerah Lingga yang langsung memberontak dan mendorong-dorong tubuh Luhan agar melepaskan tangannya dari kerahnya. Membuat tubuh Luhan mundur ke belakang hingga menggeser meja Sari yang berada tepat di belakangnya.


"WOI!" seru Sari terkjoet karena dia sedang damai-damainya menulis saat tiba-tiba ada dua orang raksasa yang menghancurkan posisi wuenaknya.


"BISA NGGAK SIH SEHARI AJA ITU ITU MULUT DI MUTE?!" tanya Luhan, kini benar-benar es mo si. Setiap kali teman-temannya mengatainya, Luhan selalu menerimanya dan menahan emosinya.


Namun, sekarang, Luhan tidak bisa lagi untuk menahannya.


"Kalau di-mute, gue nggak bisa hidup, Suparman!" balas Lingga turut emosi.


"Ya bagus kalau lo nggak bisa hidup! Mati aja lo, giblok!"


"Jinc!"


"Bang!" Luhan menggeram, mencoba melawan Lingga yang kini balas mencengkram erat kerahnya hingga wajah Luhan kemerahan. "Sat!"


"Mati aja lo, mati, seithon!"


Terus bergelutnya dua laki-laki itu membuat Satu emosi. Akhirnya, yang perempuan itu berdiri dan menarik napas dalam-dalam, bersiap-siap untuk berteriak, "SEHARI AJA BISA NGGAK SIH LO BERDUA JADI PATUNG, HAH?!"


"Kabur, sahabat semuanya, kabuuuuuuuuurrrr!" Langit memberi arahan. Dia jadi yang pertama berlari kabur dari kelas.


"Waaaaaaa, nenek-nenek si bongkok tiga udah ngamuk. Takut!" Lethan yang kedua mentmususk keluar kelas karena dia paham betul seberapa dahsyatnya efek Dari ketika sudah mengeluarkan amukan berupa teriakan super membahana ini.


Beberapa anak di kelas juga mengevakuasi diri beberaoa saat kemudian, mengikuti Langit dan Lethan yang sudah duluan.


Lingga dan Luhan yang menjadi sumber utama kemarahan Sari kini saling pandang dengan wajah bodoh, kemudian serempak kabur dengan ceroboh tanpa melihat sekeliling hingga beberapa kali terjatuh ke lantai karena meja atau kursi yang terletak tak seperti seharusnya.


Lingga dan Luhan berlarian di koridor. Seperti sedang saling berlomba untuk sampai duluan, hingga akhirnya sampai di tempat yang sama seperti anak-anak kelas yang lainnya, bersama Langit dan Lethan juga. Di belakang lab bahasa. Sebab tempat ini adalah tempat evakuasi darurat jika hal tadi terjadi.


"Aduh, capek." Luhan memegang kedua lututnya sambil menunduk dan bernapas secara tidak normal.


"Begi lah. Nggak ada yang ngejar tapi kita malah lari." Lingga berkata begitu saat menyadari bahwa Sari bahkan tak beranjak dari tempat duduknya saat mereka keluar kelas dan berlari mengejar seperti kasus sebelumnya.


Kasus sebelumnya itu adalah saat sekolah mengadakan class meeting dan tak ada perwakilan untuk tarik tambang sebab anak-anak pada pesimis duluan setelah melihat lawan mereka adalah IPA 1, badannya pegulat semua. Sari langsung mengejar anak-anak setelah teriak, "LO PADA MASALAHNYA APA SIH PADA NGGAK MAU IKUT LOMBA TARIK TAMBANG DOANG?!"


Bahkan sampai ke lapisan sekolah yang paling gelap seperti wc di ujung paling selatan gedung, Dari mencari personil kelasnya. Dan belakang lab bahasa adalah yang paling aman. Sumpah, waktu itu terjadi, ketegangan yang dirasakan tak kalah dengan saat mereka menonton The Conjuring 2.

__ADS_1


"Si Langit tuh yang duluan teriak ya otomatis gue juga ikutan teriak terus lari." Lethan menyalahkan Langit dengan segera.


"Ya habisnya gue takut lah. Lo nggak liat tadi dua matanya Sari udah melotot kayak hantu Momo." Meski kerap kali terlihat tak pedulian dengan sekitar karena game di ponselnya sudah menjadi dunia indah bagi Langit, telinga Langit itu sensitif dan bisa menangkap apapun.


"Emang nggak ada yang beres sama otak lo-lo pada." Lingga berdecak meremehkan sambil berkata acak. "Kantin lah, kuy."


Lethan langsung mengangguk. "Yo dah lah cabut. Nggak ada guru yang masuk juga."


"Sip dah. Let's go." Lingga segera mengambil langkah bersama Lethan.


"Woi, Lutung!" Langit melihat Luhan masih di tempatnya dan menegurnya karena lagi-lagi anak itu melamun.


"Hah?"


"Mau ikut kagak?"


"Ke mana?"


"Si dungu." Langit menatap Luhan dengan sedikit emosi. "Ke kantin lah."


"Oh, yoi dong. Ayok!" seru Luhan, berusaha terlihat ceria dan seperti biasanya.


Luhan akan melupakan semuanya saja. Perasaannya pada Disa yang tak pernah bisa disampaikan langsung dan kesedihannya karena tak kunjung mendapatkan kabar dari perempuan itu. Bahkan Dara pun tak mengetahuinya.


***


"Duluan ya, Bro-Bro ku yang ku cinta!" seru Lingga sambil melambaikan tangannya setelah memakai helm-nya dan mulai menderukan mesin motornya untuk pergi pulang.


"Najis, Man!" balas Lethan sambil tertawa.


"Awas kesandung polisi tidur! Ntar muka lo makin ancur!" Luhan berseru meski tak yakin Lingga akan mendengarnya atau tidak.


"Aku juga pamit, yaw." Langit ambil suara. Menatap Luhan dan Lethan dengan mata menggoda seperti perempuan malam, bahkan sampai melayangkan wink serta ciuman jarak jauh pada dua laki-laki itu. "Dadah sayang. Mwah!"


Setelah melambai pelan, Langit pergi menyusul kepergian Langit di atas motornya.


"Temen lo pada Jablay, ****." Luhan mencibir jijik melihat bagaimana kelakuan Lingga dan Langit beberapa saat yang lalu.


Kening Luhan mengerut samar. "Kenapa lo masih di sini?"


"Ya karena gue nggak ada di sana." Lethan menjawab dengan nada yang lagi-lagi datar.


Luhan jadi es mo si lagi. Padahal baru saja dia ribut dengan Lingga, kini dia ada niatan untuk tubir sama Lethan. "Seriusan, anjeeeeng."


"Ya karena gue nungguin sang bidadari," jawab Lethan akhirnya.


"Ck." Luhan menatap Luhan dengan mata disipitkan dengan wajah tak suka. "Dara maksud lo? Udah official emang?"


"Belum."


Luhan menyunggingkan senyumnya. "Yah, cupu."


"Gue menunggu waktu yang pas lah." Lethan membela diri dengan wajah bijaksana dan seperti berpengalaman. "Apapun yang gue lakukan, harus penuh dengan perhitungan dan hati-hati. Kayak waktu gue lagi foto-foto pake DSLR. Kalau nggak nanti blur."


Luhan mencibir dengan geli. "Cialah, sok puitis banget lo."


"Daripada lo. Udah kayak kereta aja. Nggak bisa direm kalau udah maju. Terus aja deketin cewek. Dari A B C D E F G H sampai Z dah gue yakin bisa."


"Ya, abisnya gimana ya, Beb." Luhan cemberut dengan wajah sedih dan putus asa. "Gue juga nggak tau kenapa gue bisa begini."


"Turunan kali." Lethan membalas asal. "Bokap lo atau nyokap lo."


"Asal lo tau nih ya, Than." Luhan menjawab dengan wajah bosan dan tak paham apapun. "Bokap sama Nyokap gue itu nggak punya mantan. Gue pernah tanyain itu. Hampir aja gue keceplosan buat ngatain mereka cupu. Aduh, keparat banget ya gue."


Lethan memutar bola matanya dengan jengah. "Kualat, kali maksud lo."


"Nah, iya, iya. Maksudnya itu. Kualat." Luhan mengangguk-angguk dengan cepat. "Ya, gimana bisa gue nggak ngatain kalau kayaknya hidup Bokap Nyokap gue itu kayaknya luruuuuus aja gitu. Gue aja ... satu, dua, tiga, dua bulan ini udah ada tiga mantan. Ya, kalau gue sempet official sama Disa, bisa empat lah akhir bulan ini."

__ADS_1


Lethan tertawa meremehkan. "Kalau jadi duit, mantep lah itu."


"Yoi. Pastinya."


"Sayangnya, bukannya dapet duit, malah dapet dosa lo." Lethan membalas dengan sedihnya.


"Ha ha." Luhan hanya bisa tertawa hambar.


Lethan diam beberapa saat, entah ia yang dipikirkan Luhan hingga laki-laki itu hanya diam. Kemudian, Lethan memecahkan keheningan. "Eh, gue barusan mikir, Han."


"Mikir apa?" tanya Luhan cepat.


"Kalau emang Bokap Nyokap lo nggak ada mantan, sementara lo baru umur tujuh belas aja udah punya banyak—"


"Wei, gue masih enam belas lah, Bro." Luhan segera memotong, membuat Lethan tak habis pikir karena Luhan justru mempermasalahkan hal seremeh umurnya yang salah Lethan ucapkan. "Agustus tahun depan baru sweet seventeen. Kita mabok-mabokan bareng he he."


"Ya, ya, ya, terserah. Pokoknya belum dua puluh tahun, lo udah ada bejibun mantan." Lethan menukas tak begitu peduli. Kemudian, wajahnya jadi serius dan nadanya pun ikutan begitu. "Kalau bukan keturunan, apa lagi? Kelainan keturunan?"


Luhan mengerjap-ngerjapkan matanya, menatap Lethan dengan tak mengerti. "Ngaco banget lo. Pengen gue jadiin seblak japlak jadinya."


"Gue sukanya seblak makaroni."


"Bomat, Setan." Luhan berdecak kesal. Dia pikir Lethan akan bicara yang berfaedah,b ternyata .... Yah, memang kalau bicara sama teman-temannya, nggak pernah bisa serius atau normal. "Gue pulang aja lah. Suntuk banget ngomong sama lo. Asem."


"Heh." Lethan menahan tangan Luhan yang mau mengambil helm dan memakainya.


"Apa lagi?" tanya Luhan jengah.


"Lo nggak nganterin ikan ke rumahnya?"


"Lagi nggak nafsu mancing." Luhan membalas cuek dan langsung memakai helm-nya. "Gue masih kepikiran Disa."


Lethan menyipitkan matanya. "Hm, tumben banget kepikiran."


"Ya, seburuk apapun pandangan lo terhadap gue, gue nggak pernah biarin orang yang gue suka berada dalam kondisi yang nggak jelas. Gue mau tau semuanya. Gue nggak bisa mikirin yang lain kalau yang satu kabarnya nggak gue tau dengan pasti," jelas Luhan panjang kali lebar.


Kening Lethan makin mengerut. "Hm?"


"Ya, wajar kalau dia udah jadi mantan gue dan udah putus hubungan sama gue. Atau ya, setidaknya, bilang apa kek sebelum menghilang kayak gini." Luhan menambahkan dengan frustasi. "Gue jadi stress. Mau ke rumahnya, yang ada gue cari mati, Bro."


Lethan terdiam beberapa saat, kemudian menatap Luhan agak ragu. "Kalau ... kalau gue tau sesuatu, lo mau bayar berapa?"


"Oh, lo tau sesuatu?" tanya Luhan dengan wajah yang langsung berubah cerah.


"Hm-em."


"Apaan tuh?" Luhan bertanya penasaran.


"Berani berapa?" tanya Lethan lagi.


Luhan membuang napas dengan wajah tak habis pikir. Matanya menatap Lethan dengan terluka. "Asli lo minta duit ke temen? Nggak ada niatan buat ikhlas, gitu?"


"Tidak ada yang gratis di dunia ini, Sayang." Lethan menukas dengan nada bijak yang bikin Luhan jijik, merinding dan ngeri sekaligus.


Luhan menatap Lethan dengan penuh tekad. "Gue sumpahin—"


"Yaudah, gue tutup mulut aja." Lethan memotong dengan santai dan memalingkan wajahnya dari Luhan.


Membuat Luhan merasa amat frustasi. Kalau sudah penasaran, Luhan tidak bisa berhenti begitu saja. Akhirnya, Luhan membuang napas, mengambil sebuah keputusan.


"Yaudah. Dua bakso besok." Suara Luhan yang putus asa itu membuat Lethan menikah lagi padanya dengan senyum lebar. Luhan hanya mampu tersenyum tipis menghadapi teman yang mata duitan ini. "Gue mau puasa."


Lethan bertepuk tangan dengan hebohnya. "Oke. Ha ha ha ha."


"Dasar iblis." Luhan bergumam pelan.


"Gue denger, tapi gue maafkan karena lo temen gue." Lethan mengangguk-angguk, kemudian menatap Luhan dengan serius, hendak menyampaikan sesuatu yang penting untuk Luhan. "Disa pindah sekolah. Ke Bandung."

__ADS_1


Luhan mengerjap-ngerjapkan matanya, tak percaya. "Buuuset."


***


__ADS_2