Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 93


__ADS_3

"Pengumumannya emang kapan, sih, Kak?" tanya Lili waktu dia bertemu dengan Jae di kantin saat membeli roti bakar dan Lili teringat dengan film mereka.


"Bulan depan."


"Woah. Semoga menang, deh."


Jae tersenyum lebar seraya mengambil roti bakar pesanannya. "Iya. Semoga."


"Kakak dari kecil emang cita-citanya jadi sutradara, ya?" tanya Lili cepat-cepat. Takut Jae pergi.


"Nggak juga." Entah sengaja atau tidak, Jae justru memilih menunggu roti bakar Lili jadi untuk lanjut mengobrol. "Ini coba hobi. Ayah aku lebih suka aku jadi politikus."


"Wah, hebat kalau gitu."


"Apanya?" tanya Jae heran.


"Cuma hobi, tapi udah banyak prestasinya." Lili tersenyum lebar sampai matanya menyipit. "Nggak kayak aku."


"Emangnya novel kamu baru sampai mana?"


"Baru setengahnya, sih." Lili meringis dengan wajah sedih. "Harusnya bisa cepet beres. Tapi objek riset aku nyebelin, dia undur-undur waktu dan sekarang malah ngilang."


"Wajar, dong." Jae berpendapat berbeda. "Nggak semua orang mau ceritanya diekspos gitu aja. Pasti dia merasa hal yang sama lagi waktu ceritanya diekspos dan dibaca orang banyak. Mending kalau cerita dia itu full bahagia. Kalau ceritanya sedih-sedih, dia pasti menderita, Li."


"Hng ... gitu ya, Kak?" Otak Lili terasa sangat tumpul saat ini.


"Jelas." Jae mengangguk, kelihatan lumayan tertarik untuk menjelaskan. "Bayangin, Li. Misalnya nih, ya, pahit-pahit, setiap malam itu kayak ada yang mau nyekik kamu dan kamu ketakutan karena itu. Terus, cerita itu harus kamu ceritain ulang dan dicetak untuk dibaca orang banyak. Kamu pasti ngerasa, gimana kalau orang yang nyekik kamu itu baca dan beneran mau bunuh kamu? Pasti ngeri, kan?"


"Bener banget, Kak!" Lili langsung setuju. Tiba-tiba, buku kuduknya berdiri, dong. "Cuma aku bayangin aja, tapi ngerinya kerasa. Bulu kuduk aku jadi berdiri, nih."


"Nah, orang yang kamu jadiin objek riset kamu juga begitu." Jae tersenyum tipis. "Aku mau tanya, deh. Sebenarnya novel yang kamu bikin ini genrenya apa dan siapa yang jadi objek riset kamu?"


"Genrenya ya teenlit, Kak. Kisah remaja gitu." Lili menjawab cepat. "Objeknya temen sekelas aku."


"Garis besar ceritanya apa?"


"Malu kalau bilangin."


"Yaudah, berarti aku nggak bisa kasih saran."


"Yah." Lili langsung kecewa. Meski begitu, dia segera menjawab. "Ceritanya itu tentang badboy karena retaknya keluarga."

__ADS_1


"Ya, pantes, Li." Jae berdecak kecil karena gemas dengan kepolosan dan ketidakpekaan Lili. "Temen sekelas kamu pasti itu ngulur-ngulur untuk kasih tau cerita hidupnya. Keluarga yang retak itu masalah sensitif, masalah yang nggak bisa dengan mudah dilupain."


Lili terdiam seribu bahasa. Selain karena dia merasa dapat siraman cahaya, bagaimana berwibawa dan pemikiran dewasa yang ditunjukkan Jae sangat-sangat membuat Lili terpesona.


"Kamu pikir menceritakan kembali kisah kelam itu nggak akan berdampak mental buat dia? Apa dia nggak akan trauma? Pasti berdampak, Li, jawabannya. Dia jadi ingat lagi, dia jadi sedih lagi." Jae menambahkan.


"Aku bener-bener bersalah ke dia, Kak." Lili segera sadar. Kemudian dia mengangguk. "Makasih atas pencerahannya."


Setelah mengambil roti bakarnya, dia buru-buru ke kelas untuk menemui Gema dan menceritakan apa yang barusan terjadi antara dirinya dan Jae.


Sementara itu, ditinggal begitu saja, Jae berdecak kecil.


"Dasar, berani banget Kakak kelasnya ditinggalin gitu aja."


***


"Angkat dong, angkat dong, angkat dong." Lili jadi panik sendiri saat hendak menelpon Theo terus berujung suara operator yang memberi tahunya bahwa Theo tak bisa dihubungi. Sudah dua hari ia tidak bertemu Theo dan tidak ada kabar apapun yang menjelaskan bahwa Theo baik-baik saja.


Lili meringis. Frustasi. Matanya terasa berkaca-kaca. "Theo, angkat! Angkat! Plis. Plis. Plis. Plis."


"Li?" Yohan tiba-tiba membuka pintu kamarnya. Keningnya mengerut samar melihat apa yang Lili lakukan. "Kamu telepon siapa?"


"Eh?" Lili langsung tersenyum polos. Kemudian meletakkan ponselnya begitu saja. Takut ketahuan Yohan kalau dia masih berhubungan dengan Theo. "Em, nggak, Yah. Makan malam udah siap, Yah?"


Lili melompat riang dari tempat tidurnya dan berjalan cepat ke arah Yohan. Lili memeluk lengan Yohan dengan erat waktu berjalan ke arah meja makan.


"Ih, Ayah wangi." Lili memuji saat menghirup bau Yohan.


"Baru mandi kan."


"Nggak baik mandi malam-malam, tau." Lili menatap Yohan tak suka.


"Iya, tau." yohan tersenyum seperti anak kecil.


"Iya, tau." Lili meledek. "Tapi masih dilakuin aja. Dasar Ayah."


"Kerjaan banyak banget soalnya." Yohan mengeluh dengan nada bicara yang lucu. "Yang penting kamu bahagia aja. Sekolah yang bener. Pergaulan juga yang bener. Ayah kemarin-kemarin lihat Theo, lho."


Ketika mereka berdua telah duduk di hadapan Ily yang tersenyum menyambut, baru Ily membalas perkataan Yohan.


"Wah, di mana?" tanya Ily penasaran. "Kok udah dua hari ini dia nggak titip Titi, ya? Luhan kesepian, tuh. Udah nyaman banget sama Titi."

__ADS_1


"Oh, ya? Dia nggak ke sini lagi setiap pagi?" tanya Yohan agak riang.


"Ayah kayaknya seneng banget." Lili bersuara tak suka. Selama ini ia menurut saja, namun tak bisa lagi saat dirasa Theo tak melakukan kesalahan apapun untuk Yohan senangi saat Theo tak lagi 'menempel' pada keluarganya.


"Jujur, Ayah suka kalau Theo jauh-jauh dari Lili." Yohan tersenyum seraya menatap Lili penuh perhatian. "Dia suka berantem. Bahkan di jalanan waktu Ayah di perjalanan pulang. Dia nonjok muka temennya."


"Waduh. Bahaya, dong." Ily ikutan takut mendengarnya.


"Jelas. Kayak Juna aja. Ayah takut Lili kenapa-kenapa." Yohan membalas cepat.


Lili cemberut. Selera makannya jadi agak menghilang.


"Li." Yohan menegurnya sesaat setelah makan malam berlalu setengahnya.


"Eh. Iya, Yah?"


"Paham kan maksud Ayah?" tanya Yohan dengan senyuman tipis. "Hati-hati."


"Iya, Yah." Lili mengangguk, namun kemudian dia menatap Yohan dengan tatapan memberontak. "Boleh Lili bilang sesuatu?"


"Apa?"


"Theo baik menurut Lili." Lili mulai menjelaskan dan mengeluarkan apa yang dia pikirkan selama ini. "Dia pasti punya alasan masuk akal buat mukulin orang itu. Theo selama ini jagain Lili, Yah. Ternyata tiap pulang sekolah, Theo mastiin Lili pulang duluan. Dia dengerin kata-kata Ayah buat jauhin Lili, tapi Lili nggak bisa. Theo terlalu baik buat dijauhi."


"Li ...." Yohan berubah memelas dan tampak menyentuh untuk Lili. "Ayah tau apa yang terbaik untuk anaknya, untuk putrinya, untuk kamu."


"Lili udah kenal betul Theo." Namun, Lili tak menyerah untuk mencoba mengubah pemikiran Yohan. "Apalagi Theo udah rela kasih ceritanya yang sensitif dan bisa bikin dia sedih lagi karena teringat buat novel Lili, buat cita-cita Lili yang udah kayak jantung dan oksigen lagi. Lili nggak bisa begitu jahatnya jauhin Theo. Lili mau jadi teman dekat, teman baik dan teman curhat Theo tanpa waktu yang dibatasi."


"Aduh, Li." Ily langsung menukas degan tawa geli. "Ambisi kamu itu kuat juga. Tapi lucu."


"Tetep aja, Bu. Ayah nggak mau Lili dalam bahaya." Yohan membalas tegas. Kemudian menoleh lagi pada Lili dengan wajah penuh khawatir. "Better safe than sorry, Sayang."


"Padahal dia penurut banget sama Ibu. Kenapa Ayah masih nggak suka Theo, sih?" tanya Lili jadi frustasi.


"Penurut gimana nih maksudnya?" tanya Ily jadi heran sendiri


"Bukannya Ibu nyuruh Theo buat jemput Lili waktu aku pulang malem karena nonton film?" Lili balas bertanya dengan heran juga.


"Hm?" Alis Ily bertaut. Kemudian ia menggeleng lemah. "Nggak, tuh."


Mulut Lili terbuka dengan wajah terkejut. "Eh? Berarti Theo bohong, dong?"

__ADS_1


***


__ADS_2