Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 97


__ADS_3

Kepala Lili hadir di sana. Melongok dengan senyum canggung dan kaku.


"Wah, sudah datang? Ayo masuk." Laura segera membukakan pintu dan membuat orang-orang selain Lili turut hadir. Ada Fahmi, Mila, Bela dan Adit.


Kedatangan Adit membuat Theo sedikit terkejut.


Laura tersenyum, mempersilakan orang-orang tersebut untuk masuk.


"Izin masuk ...." Lili melangkah pelan-pelan.


"Kak Lili!" sapa Titi riang.


Lili tersenyum singkat sambil melambaikan tangannya dengan malu-malu.


"Kayak sama siapa aja." Laura berkata gemas saat Fahmi dan Adit kelihatan amat malu-malu. "Silahkan, masuk aja. Theo udah sembuh, kok. Tinggal tunggu jahitan dilepas, dia udah bisa pulang. Ayo, jangan sungkan-sungkan."


"Izin lihat Theo, Tante." Mila bersuara, basa-basi.


"Iya, iya." Laura menjawab agak frustasi. Dia tak mengira Theo dan teman-temannya akan secanggung ini. Atau mungkin canggung karena ada dirinya. "Enjoy aja di sini. Tante keluar dulu. Ayo, Ti."


Laura segera menarik tangan Titi. Melihat itu, mata Theo membelalakk panik.


"Ibu!" seru Theo, kedengarannya manja di telinga teman-temannya yang datang.


"Enjoy aja, Theo." Laura tersebut jahil seraya terus melangkah ke pintu untuk keluar. "Selamat berbincang."


Kemudian, Laura dan Titi benar-benar meninggalkan Theo dengan teman-temannya. Setelah itu, wajah teman-temannya ini berubah penuh kaca-kaca dan bibir bergetar menahan kesedihan.


Theo menatap ngeri kelimanya.


"Theo ...." Mila memanggil namanya dengan dramatis. Wajahnya penuh kesedihan.


"Theo ...." Bela menuruti Mila.


"Theo ...." Lili tak mau ketinggalan.


"Theo ...." Fahmi tak kalah dramatisnya dengan Mila.


"Theo ...." Adit lebih parahnya lagi. Bahkan dirinya itu sudah mengeluarkan air mata dari matanya


Theo tersenyum aneh pada mereka. Wajahnya tampak kebingungan.


"Theo si model gantengku. Lo kenapa bisa jadi kayak gini?" tanya Mila heboh. Sampai menyentuh-nyentuh wajah Theo dengan khawatir.


"Theo anak bungsuku. Lo ngapain itu dileher sampai ada perban?" tanya Fahmi dengan mata mulai berkaca-kaca.


"Theo juraganku. Lo mending nyuruh-nyuruh gue daripada berbaring di sini." Adit merengek disela tangis sedihnya.


"Theo sahabat pemakai kas kelasku. Lo nggak perlu begini buat minta uang kas. Akhir tahun pasti gue bagiin lagi, kok." Bela menatap Theo penuh arti


"Hush." Fahmi menegur Bela. "Bel, itu diluar konteks."

__ADS_1


"Peace." Bela langsung tersenyum polos. Kemudian berkah pada Theo. "Bercanda ya, Yo."


Theo hanya tersenyum, mengangguk dan itu artinya ia tak apa-apa.


"Ayo, kita makan buahnya!" seru Fahmi semangat.


"Heh, kan ini buat Theo!" Lili yang menjadi orang yang membawa keresek berisi buah, langsung berseru sewot pada Fahmi. Setelahnya, Lili menatap Theo lurus-lurus. "Yo, lo kenapa sih? Ditelepon terus-terusan nggak diangkat-angkat. Tahu-tahu gini aja. Kalau sakit hati ya bilang, jangan sampai lukain diri sendiri kayak gini. Gue jadi nggak enak."


"Gue aja lupa HP gue ada di mana." Theo tersenyum seadanya. "Dan gue nggak lagi sakit hati cuma buat jadi kayak gini."


"Ge-er lu huh dasar orang Korea gadungan!" seru Fahmi puas untuk meledek.


"Apa lo bilang?" Lili melotot pada Fahmi. Tak suka dirinya dibilang, "Korea gadungan?"


"Kata Gema lo nggak bisa baca, tulis sama ngomong Korea, ya kan?" Fahmi membalas dengan wajah super meledek yang membuat Lili hampir melakukan gerakan radikal padanya andai Adit tak menengahi.


"Udah, udah! Daripada Theo makin stress, mending cewek-cewek kupas buahnya—"


"Ye, yang lapar mah gitu." Bela meledek pada Adit karena sejak belanja buah, Adit selalu bilang dia mau memakan itu.


"Bukan gitu." Adit membalas sok bijak. "Gue sebagai cowok mengerti perasaan Theo. Dia pasti cuma mau curhat ke cowok lagi."


"Iya, mending gitu." Fahmi mendukung pendapat Adit. "Kalian duduk aja di sana. Kupasin buah."


Mila langsung tersenyum lebar. Melihat Theo dengan penuh arti. "Apasih yang nggak buat Theo?"


"Najis, Mil." Fahmi masih tak tobat untuk mengeluarkan suara ledekan.


"Udah, udah, sana!" seru Adit jadi tak sabaran. Membuat Lili cemberut karena selanjutnya ia harus terpisah dari Theo.


Gorden yang menutupi seluruh bangsal Theo digerakkan. Hingga cewek-cewek tak bisa melihat dan mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan cowok-cowok.


"Jadi, Yo." Fahmi segera mendekat dan berbisik. "Lo kenapa? Kalau lo begini karena tawuran, gue nggak bakal bilang-bilang ke wali kelas."


"Suudzon banget lo." Theo menukas tak suka.


"Sorry." Fahmi tersenyum tanpa dosa. "Baguslah kalau bukan karena tawuran."


Theo jadi terdiam lama.


"Yo," tegur Adit kemudian. Matanya menatap hangat. "Lo bisa cerita."


Theo mendengus geli karena tak menyangka situasi antara dirinya dan Adit jadi seperti ini. Terpaksa, dia membuang napas panjang dan akhirnya menjawab, "Gue ada masalah keluarga. Ya, lo bisa liat berita."


"Berita apaan?"


"Coba mana HP lo."


Fahmi segera memberikan pilihan ponsel miliknya. Theo segera mengambilnya dan menyentuh-nyentuh layarnya hingga kemudian dia berikan kembali pada Theo.


"Nih. Baca."

__ADS_1


Setelah diberikan ponselnya kembali, Fahmi segera membaca apa yang tertera di ponselnya. Adit mendekat, turut membacanya.


Setelah selesai, ada jeda sedikit sebelum akhirnya Fahmi yang bersuara duluan.


"What? Apa? Nani?" Fahmi melotot dramatis. "Jadi lo anaknya anggota DPR?"


"Bukan." Theo menggeleng. Agak kesal karena Fahmi justru jadi salah fokus. "Gue anaknya psikopat. Dia udah diperiksa dan hasilnya benar-benar posisi psikopat."


Fahmi langsung kicep. Adit yang sudah terkejut, kini lebih terkejut lagi hingga tak mampu berkata-kata.


Diamnya mereka membuat satu pemikiran bercekol di benak Theo.


"Kalian takut, ya?" tanya Theo dengan senyum tipis, miris. "Kalian boleh pergi kalau gitu.."


"Ya, elah!" Fahmi menepuk kecil bangsal Theo dengan decakan geli. "Masa kita pergi? Bagaimana latar belakang lo, lo tetep temen gue. Anggota kelas yang harus gue jaga. Kejadian ini nggak jauh beda dari kejadian tahun kemarin, kan?"


Theo pernah juga datang ke sekolah dengan babak belur. Bedanya, dia begitu bukan karena Ayahnya, tapi karena melawan sekumpulan preman yang hendak mengambil lahan balapan mereka untuk perdagangan ilegal.


Theo tak memberitahu secara rinci kejadiannya, namun orang-orang menganggap bahwa Theo telah dianiaya dan Theo tak mempermasalahkan lebih lanjut.


Guru-guru dan siapapun yang ingin mengetahui pun dibekap oleh sejumlah harta dari Ayahnya.


"Jangan sungkan kalau butuh bantuan lagi, Yo." Adit melanjutkan saat Theo masih terdiam karena dia begitu terharu dengan perkataan Fahmi sebelumnya. Kini Adit juga turut membuat Theo tercengang dalam diamnya. "Gue siap disuruh-suruh. Itung-itung latihan militer."


"Sa ae lo, Dit." Fahmi tertawa kecil.


"Thanks, ya." Akhirnya Theo membalas mereka.


"Yoi." Fahmi tersenyum penuh arti. Menepuk kecil tangan Theo yang masih diinfus."Anytime, Bro."


"Ngomongin apa, sih? Bisik-bisik gitu. Mencurigakan." Mila langsung kepo setelah menyibak gorden dan menyodorkan sepiring penuubbua yang telah dikupas dan dipotong. Mila meletakan piring itu di perut datar Theo. "Nih. Buahnya."


Theo menatap Mila dengan aneh. Namun, Lili justru langsung menusuk satu potong melon dengan garpu yang ada dan menyodorkannya pada mulut Theo.


"A, Yo." Lili menuntut.


Theo terkejut tiba-tiba dibegitukan oleh Lili.


"Buka mulutnya, Theo," pinta Lili gemas.


Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Theo perlahan membuka mulutnya. Dan buah melon itu masuk ke mulutnya, kemudian Theo mengunyahnya perlahan-lahan sebab kini teman-teman di depannya menatapnya dengan pandangan aneh.


Kening Theo mengernyit.


"Nggak sakit emang?" tanya Fahmi kepo. Dia menatap ngeri leher Theo


"Nggak." Theo membalas santai. Kemudian ia melihat wajah Mila dan Adit yang menatap piring berisi buah-buahan itu dengan penuh selera


"Dit, Mi, makan aja." Theo mempersilakan.


"Yeay!" seru Mila dan Adit riang, bersamaan.

__ADS_1


***


__ADS_2