
Raihn_
Ilyyyy
Kening Ily refleks mengerut kala mendapatkan notifikasi bar dari Raihan di Instagram saat dirinya tengah berbalas chat dengan Eza di WhatsApp mengenai agenda besok. Penasaran, Ily langsung saja membalas dm dari Raihan.
Illlyyyyy
Apa?
Raihn_
Shasi itu beneran pacar gue. Maaf
Secepat itu, Raihan membalas. Sesaat membuat Ily agak dongkol karena rasanya laki-laki itu tengah menyombongkan diri. Hingga pada akhirnya, keduanya larut dalam suatu obrolan via online.
Illlyyyyy
Gue tau. Ngapain minta maaf?
Raihn_
Gue nggak niat buat menyembunyikan fakta kalau gue punya pacar
Illlyyyyy
Iya, Han, iya
Raihn_
...kalau boleh tau... nih...
Illlyyyyy
?
Raihn_
Lo sendiri punya nggak?
Illlyyyyy
Fffttt
Raihn_
Ngapain ketawa?
Illlyyyyy
So straight forward
Raihn_
So....
Illlyyyyy
Not yet
Raihn_
Wahhhh
Illlyyyyy
Kenapa?
Raihn_
Otw putus sama Shasi, nih
Illlyyyyy
Wuanjir enteng banget itu mulut. Pengen nendang
Raihn_
Pengen rendang
Illlyyyyy
Ishh
Raihn_
Tapi, serius, Ly
Illlyyyyy
Sori gue alergi buaya
Raihn_
Gue nggak buaya, kok
Illlyyyyy
Lah ngakuin sendiri
Raihn_
Nggak, tuh
Illlyyyyy
Apasih Han nggak jelas
Raihn_
Gue jelas dah perasaan dari tadi. Lo kali yang bercanda terus dan anggap semua ini nggak masuk akal. Ya, kan.
Illlyyyyy
...
Raihn_
Gue tau lo baper
Illlyyyyy
...
Raihn_
Jangan jaim, Ly
Illlyyyyy
...
Raihn_
Dulu aja lo suka sama gue. Apalagi sekarang
__ADS_1
Illlyyyyy
Lo salah minum obat, ya?
Raihn_
Nggak, tuh
Illlyyyyy
Lo aneh banget.
Raihn_
Terserah lo
Illlyyyyy
?
Raihn_
Oh iya, sekedar kasih tau ya. Besok ke butik Bu Rima. Kalau lo punya waktu senggang itu juga. Ada sesuatu.
Illlyyyyy
Apa?
Raihn_
Lo bakal tau kalau lo datang
Illlyyyyy
Yah, kok gitu...
Raihn_
:)
Illlyyyyy
Yaudah, kalau ada waktu gue ke sana
Raihan_
Siip
Illlyyyyy
Ok
Raihn_
Btw, Lo bener-bener nggak inget hari itu?
Illlyyyyy
Hari apa?
Raihn_
Beberapa bulan setelah kelulusan, lo nge-Line gue. Bilang suka.
Wajah Ily langsung memerah. Rasanya panas sekali dan tak karuan. Ily meremas bantalnya kuat-kuat, menahan gejolak ingin lompat-lompat di kasur sambil teriak karena malunya kini sudah melebar ke mana-mana.
Raihan masih mengingatnya. Yang padahal sudah Ily anggap dilupakan olehnya. Ily juga tak begitu ingat, namun saat diungkit kembali, rasanya baru kemarin dia melakukan itu.
Iya, Ily pernah menyatakan perasaannya pada Raihan. Dulu sekali. Mungkin waktu mereka masih berusia dua belas tahun, masa di mana cinta monyet bersemi.
Illlyyyyy
Raihn_
Bagus. Sekarang gue mau nagih pertanggungjawaban lo
Illlyyyyy
Mabok lo
Ily cepat-cepat mematikan ponselnya, tak mau lagi membaca balasan Raihan yang hanya akan membuatnya tambah malu. Ily membenamkan kepalanya ke bantal, menyelimuti dirinya tanpa melihat dan berusaha untuk tidur serta melupakan apa yang barusan ia obrolan dengan Raihan di Instagram.
Beruntung Ily itu tipe manusia yang mudah terlelap bagaimanapun kondisinya. Esok harinya, Ily terbangun dengan badan bugar dan wajah cerah. Benar-benar seperti biasanya. Bahkan tak bermimpi buruk atau bangun saat tengah malam yang menyeramkan.
Hari Ily seolah akan berjalan biasanya.
Dia sarapan dengan kedua orang tuanya yang senantiasa menerimanya dengan apa adanya, kemudian pamit untuk pergi dengan Eza untuk melaksanakan agenda yang telah direncanakan malam tadi.
Yakni ke toko buku. Iya, jelas ke toko buku. Sebab kemarin, Ily belum mendapatkan satu buku pun karena lebih tertarik untuk makan eskrim. Eza pun tak keberatan menemani dan jika Ily mengajar Tiffany untuk turut serta, ceritanya pasti akan beda lagi.
Tiffany itu tipe yang anti buku. Entah itu novel ataupun non-fiksi. Perempuan itu pasti memiliki untuk belanja skincare daripada kertas-kertas berisi kata-kata yang disusun indah bagi penikmatnya.
Jam sembilan mereka sudah berada di tempat tujuan. Toko bukunya masih sama seperti kemarin-kemarin. Tak ada promo, namun Ily tak begitu kecewa karena harga buku yang ia targetkan paling mahal delapan puluh lima ribu rupiah. Di sini, rata-rata harganya hanya enam puluh ribu rupiah.
"Lo nyari yang gimana sih, Ly? Perasaan dari kemarin di sini mulu dan nggak pernah dapet apa-apa," keluh Eza saat Ily tampak amat kebingungan setelah membaca blurb beberapa novel.
Ily berdecak kecil. "Ini novel misteri, Za. Gue harus pinter pilih-pilih karena kalau nggak seru, pasti sayang ini uang."
"Ya lo kenal nggak sama penulisnya? Dia terkenal nggak? Kalau terkenal, udah pasti bagus. Atau setidaknya pernah lo denger namanya di mana gitu," balas Eza memberikan sedikit saran yang membuat Ily mengangguk-angguk paham.
"Gue pernah denger penulis buku ini," kata Ily seraya menunjukkan sebuah novel dengan cover berwarna hitam dan burung gagak yang berlatarkan bulan. Kemudian, menunjukkan novel bercover warna merah dengan bercak darah di atas secarik kertas yang bertuliskan judulnya. "Tapi yang ini kayaknya lebih seru dan extreme."
Eza mendengus. "Yaudah dua-duanya aja."
"Lo bayarin."
"Kampret."
"Ya, makanya bantuin pilih!"
"Yaudah, gue baca dulu bentar!" Eza mengambil kedua novel serupa dan membacanya dengan seksama. Eza memang bukan penikmat novel seperti Ily, namun ia cukup tahu tentang novel misteri mana yang seru dan mengandung banyak kejutan di dalamnya. Secepat itu, Eza telah selesai memutuskan. "Bener kata lo, Ly. Novel ini emang nggak ditulis oleh penulis terkenal dan terpercaya karyanya, tapi udah pasti novel yang satu ini beda. Dari testimoni dan penggalan cerita di cover belakangnya aja udah bikin gue yakin kalau rating novel ini bagus di goodreads."
"So iya lo."
"Ye, dikasih tau malah dihujat."
Ily tersenyum penuh arti. "Jangan marah. Bercanda gue."
"HM!" Eza menyilangkan kedua tangannya di depan dada seperti anak kecil yang merajuk.
"Btw, makasih, ya udah kasih saran," kata Ily kemudian. Mengabaikan Eza dan hendak ke kasir untuk melakukan pembayaran. Namun, ditengah jalan, ia menemukan sosok yang familiar dan akhirnya memutuskan untuk mendekati orang itu.
Eza yang heran dan bingung hanya mengikuti Ily dari belakang. Sampai kemudian, Ily menepuk pelan pundak orang itu dan membuatnya berbalik.
Wajah Ily dan Eza serupa. Sama-sama memutar bola mata dengan wajah bosan.
"Lo ngikutin kita, ya?" Eza yang pertama kali menuduh.
Raihan mengela napas dengan sabar. "Nggak, jir."
"Terus kenapa ada di sini? Kemarin di sini, kemarin-kemarinnya juga di sini," balas Eza dengan pandangan menuntut. "Sesuka itu sama Ily?"
Ily memutar bola matanya saat melihat Raihan bereaksi dengan tatapan polos yang tak bersalah. "Cieleh. Ngaku aja deh, Han."
"Dih, ge-er banget sih kalian berdua. Gue di sini karena lagi cek buku gue, ya. Mereka laku atau nggak," balas Raihan begitu saja, tanpa sadar membeberkan sesuatu yang membuat Eza serta Ily mati kutu. "Gue tahu kalian mau ke sini aja nggak. Mana bisa ngikutin."
__ADS_1
Eza menutup mulutnya dengan mata membulat sempurna. "Lo punya buku? Omo!"
"Sejak kapan, Han? Apa judulnya?" Ily tak kalah bereaksi heboh.
Sesaat, kening Raihan mengerut. Namun, kemudian matanya ikut melotot sempurna kala benar-benar menyadari apa yang barusan dia katakan pada dua anak manusia di depannya ini.
"Nggak! Nggak!"
Ily mengerutkan keningnya dengan wajah kecewa. "Kok gitu, Han?"
"Eh?" Raihan jadi merasa tak enak melihat wajah Ily yang cemberut dan sedih.
"Kok nggak mau cerita ke kita-kita?" Ily mengeluh pesimis. "Padahal kita kan temen lo juga. Sama-sama temen harusnya berbagi cerita."
"Bener tuh," sambung Eza mendukung.
"Jadi, lo selama ini penulis, Han?" tanya Ily dengan lembut dan agak pelan. Mungkin maksudnya agar Raihan tak terlalu malu. Sebab dari gelagatnya dari awal, Raihan malu mengakui bahwa dirinya adalah penulis sebuah buku.
Raihan menggaruk tengkuknya yang tak hati. Di wajahnya yang tampan itu terulas sebuah senyum canggung yang lucu.
"Iya, Ly," balas Raihan pelan. "Selama ini gue penulis."
"Woah... hebat...." Ily memasang wajah kagum yang luar biasa membuat jantung Raihan berdetak lebih cepat dari biasanya.
"TRAKTIR DONG!" seru Ily kemudian. Membuat Raihan hendak memukul keningnya karena beranggapan Ily akan memujinya lagi.
"GUE JUGA DING, GUE JUGA!" Eza ikut-ikutan.
***
Sesuai apa yang dibicarakannya kemarin malam, Ily mampir ke butik Bu Rima dengan Raihan setelah ditraktir eskrim mochi seperti biasa. Eza sendiri ada job di cafe biasa setelah menyantap satu eskrim cone cokelat favoritnya. Sebenarnya, Eza terpaksa membiarkan Ily berduaan dengan Raihan sebab tak ada pilihan lain lagi.
Saat meneraktir dua orang itu secara mendadak, Raihan juga diteror pertanyaan-pertanyaan berkenaan tentang dirinya yang menulis. Raihan menjawab dengan jujur, sebab tak ada pilihan lagi. Mereka berdua sudah menganggapnya teman yang seharusnya berbagi suka suka.
Jadi, awalnya Raihan menulis karena iseng saja. Waktu itu, temannya mengajak Raihan untuk ikut lomba cerpen misteri sebab Raihan memang gemar membaca novel ataupun menonton film-film bergenre serupa.
Dengan berniat hanya sekedar, Raihan justru lolos babak pertama dan menjadi kandidat tiga besar untuk mengembangkan cerpen misterinya menjadi novel misteri. Saat itu, Raihan banyak bertanya pada anak-anak yang gemar menulis dan pernah menerbitkan buku. Selama hampir tiga bulan, Raihan bergelut dalam novelnya dan akhirnya dapat kesempatan untuk naik cetak pada bulan berikutnya. Yakni, enam bulan yang lalu.
Semua orang tidak menduga Raihan yang sebelumnya tidak punya hasrat untuk menulis dapat memiliki sebuah buku cetak karyanya sendiri yang kini sudah beredar di banyak toko buku.
Termasuk toko buku yang Ily kunjungi tadi. Raihan memang selalu mengecek stok bukunya di sana, khawatir tidak laku. Entah kebetulan atau takdir, buku karya Raihan adalah buku yang dibeli Ily barusan.
Ily jelas senang, namun Raihan malu.
Sejurus kemudian, keduanya sudah berada di atas motor yang sama.
Ily juga sebenarnya agak canggung saat hanya tinggal berdua dengan Raihan. Dari perjalanan, mereka hanya diam. Raihan sesekali bertanya dan Ily hanya menjawab singkat tanpa bertanya balik hingga obrolan hanya sekedarnya saja.
Sampai kemudian, keduanya sampai di tempat tujuan.
Butik Bu Rima alias butik milik ibunya Raihan.
Ily agak canggung saat masuk, sebab tak merasa begitu dekat dengan Bu Rima. Raihan segera memanggil ibunya saat masuk, kemudian menggerak-gerakkan tangannya sebagai isyarat untuk Ily mengikutinya masuk ke dalam.
"Bu? Ibuuuuuuu?" Raihan terus memanggil, kemudian berdecak kecil kala ibunya tak terlihat di lantai satu. "Waduh, ini gimana kalau ada yang nyolong. Aduh, ceroboh banget."
"Heh, Raihan. Ibu di sini."
Kepala Raihan dan Ily sontak menoleh ke arah tempat kasir di mana ibu tiba-tiba muncul saat sebelum tak ada. Kemungkinan besar ibu bersembunyi di bawah dan Raihan mengela napas kecil dibuatnya.
"Ibu kebiasaan suka main umpet-umpetan. Nggak lucu," kata Raihan sewaktu langkahnya mengarah menuju ibu berada. "Ini aku bawa Ily."
Wajah Rima langsung cerah. Tangannya membuka lebar saat mendekati Ily dengan senyum lebar di wajah. "Ilyyyy!"
Raihan menatapnya dengan perasaan Ily. Ketika ibunya dan Ily berpelukan amat erat setelah saling cium pipi kanan dan pipi kiri secara bergantian. "Anak sendiri nggak pernah dipeluk, tapi anak orang dipeluknya erat banget."
Rima langsung tertawa, kemudian melepaskan pelukannya dengan Ily untuk memukul bisep Raihan dengan keras. "Udah gede kamu! Jangan rengek-rengek gitu, ibu nggak suka."
Raihan cemberut. Dan jujur, Ily gemas melihatnya. Jarang sekali ada laki-laki dewasa yang cemburu karena ibunya berpelukan dengan manusia lain. Raihan benar-benar seperti anak kecil.
"Jadi Tante..."
"Ibu," peringat Rima lembut. Langsung beralih pada Ily Dan merapikan anak rambutnya yang agak berantakan. "Panggil ibu aja biar akrab. Kan bentar lagi kita jadi besan."
"Uhuk!" Raihan langsung keselek ludahnya sendiri.
Mata Ily membulat lucu. Menatap Raihan dengan aneh dan bingung pada Rima. "Iya, tante?"
"Eh, dibilangin panggil ibu aja. Ngeyel, ya?" Rima agak melotot, membuat Ily menipiskan bibirnya merasa bersalah. Rima kemudian beralih pada anaknya dengan tatapan garang. "Kebiasaan deh gampang baper! Ibu tuh cuma bercanda." Rima beralih lagi pada Ily dengan senyum hangat. "Ibu bercanda, Ly. Hahaha."
"Oh, bercanda, hahaha," balas Ily dengan tawa serupa. "Jadi, ibu undang Ily ke sini buat apa?"
"Wah, mau langsung ke intinya aja?" Rima bertanya balik untuk memastikan.
Ily mengangguk.
"Yakin?"
"Yakin, bu."
"Yaudah, Raihan tunggu di luar aja deh biar ibu sama Ily nyaman ngobrolnya," cetus Raihan, berinisiatif untuk pergi dari butik untuk menunggu di luar saja.
Selepas perginya Raihan, Rima membawa Ily untuk duduk di kursi khusus pelanggan di butiknya. Berusaha sedemikian rupa untuk membuat Ily nyaman. Bagi Ily, semuanya tampak baik-baik saja dan Rima mungkin hanya akan mengatakan sesuatu sepele.
"Maaf, nih, ya, maaf. Kamu kan gagal tahun ini gagal kuliah, ya."
Sampai kemudian Rima membahas sesuatu yang sudah Ily kubur dalam-dalam. Ily berusaha untuk terlihat normal dengan mengangguk kecil, meski hati terdalamnya ingin sekali pergi dari sini dan menangis sejadinya di kamar.
"Maaf, Ly, maaf," kata Rima lagi-lagi. "Bukannya ibu bermaksud buat bikin kamu sedih lagi. Ibu denger semuanya dari Raihan dan ibu memutuskan buat... buat ajak kamu untuk bantu-bantu di sini."
Ily terdiam sejenak.
Rima tersenyum untuk menenangkan Ily. "Kalau kamu mau itu juga. Ibu nggak akan maksa, kok. Kalau kamu senggang, nggak mau kerja dulu atau niat menekuni bidang lain, di sini ibu buka lowongan, kasirnya lagi kosong juga jika seandainya kamu nggak mau bosen di rumah terus atau main terus."
Setelah penjelasan itu, Ily masih terdiam. Tampaknya masih bingung. Rima hanya mengela napas maklum melihatnya.
"Nggak apa-apa, Ly. Kalau nggak mau, ya, nggak apa-apa. Itu hak kamu buat memilih. Ibu nggak ada maksud buat memaksa kamu, jadi jangan sampai kamu tertekan atau terpaksa buat memutuskan." Rima menepuk pundak Ily. "You got it?"
Terpatah, Ily mengangguk. Sekarang, kepalanya senang bekerja keras untuk berpikir. "Ily boleh pikir-pikir dulu, Bu?"
Rima mengembangkan senyumnya. "Boleh banget, sayang. Seberapa lama pun ibu bolehin."
"Makasih, bu."
"Em, nggak." Rima menggeleng, tak setuju dengan perkataan Ily barusan. "Harusnya ibu yang berterimakasih. Kamu udah luangin waktu buat datang ke sini. Makasih, ya."
"Eh? Iya, bu," balas Ily agak canggung dan merasa tak enak.
"Yaudah, mau pulang sekarang?"
"Iya, deh, bu. Udah agak sore juga soalnya."
"Yaudah, hati-hati." Ibu bangkit dan berbalik untuk setelahnya berteriak. "RAIHAN SINI!"
"Eh, kenapa dipanggil ke sini, bu?" Ily bertanya heran.
"Mau ibu suruh dia anterin kamu."
"Ya ampun, bu, jangan repot-repot, kasian," tolak Ily tak enak.
"Nggak apa-apa. Udah, kamu nurut aja. Oke?"
Ily akhirnya hanya terdiam pasrah. Terpaksa untuk pulang bersama Raihan dengan canggung-canggungan lagi. Konon katanya, melawan orang tua itu namanya kualat.
Ily jelas ingin jauh-jauh dari predikat kualat itu.
__ADS_1