Dari Korea

Dari Korea
LSF - 31


__ADS_3

Malam itu Luhan kepikiran Sari.


Bagaimana wajahnya, suaranya, dan langkah kakinya. Semuanya menyihir Luhan hingga tak tahu harus berkata apa.


Sari memiliki pesona berbeda dari gadis-gadis lain yang pernah Luhan temui.


Waktu pertama kali kenal, Luhan tak begitu tertarik karena Sari kelihatan tomboi dengan rambut pendek sebahunya yang kurus seperti sapu ijuk itu. Waktu MPLS, wajahnya juga datar terus hingga Luhan mengira Sari tidak bisa tersenyum barang segaris tipis.


Bahkan saat Luhan melucu di kelas, satu-satunya yang tak tertawa hanya Sari. Kadang, Luhan heran kapan Sari bisa tersenyum atau berwajah cerah dan berseri-seri kayaknya perempuan-perempuan cantik di luar sana.


Yang paling Luhan ingat tentang Sari itu waktu pencalonan Ketua Kelas. Jadi, pemilihan itu dipimpin oleh Lingga yang emang anaknya sok banget, tapi gimana ya, Lingga punya aura kepemimpinan yang kuat gitu.


Nah, Sari acungin tangannya waktu Lingga tanya, "Yang mau jadi calon ketua kelas silahkan angkat tangannya, terus langsung maju ke depan."


Sari langsung maju, dong. Iya, lah. Orang Dari kan ketua kelas waktu mereka jelas sepuluh juga. Pastinya ingin memimpin lagi atau setidaknya mencoba untuk menerapkan peraturan-peraturan baru yang bisa lebih-lebih membangun kelas ke arah yang lebih baik lagi.


"Oke, jadi ada tiga kandidat ya," kata Lingga waktu itu. "Ada Sari. Ada Ujang—"


"Nama gue Fajar, Anj1ng," potong Fajar emosi. Anak itu memang sensian kalau nama bapaknya sudah dibawa-bawa begini.


"Waw, bahasa yang sopan, saudara Fajar," tukas Lingga dengan senyum miring. "Yang ketiga ada Luhan Kim—lo ngapain ikut-ikutan nyalonin sih? Malu-maluin tongkrongan aja."


Ya, dan Luhan ikutan menyalonkan diri karena dia mau balas dendam pada Sari yang setahun ke belakang bisanya marah-marah dan ngatur-ngatur Luhan hanya karena dia adalah ketua kelas. Luhan juga mau ngatur-ngatur dan marah-marah ke Sari nantinya. Muehehehe.


"Ya gue mau jadi ketua kelas dong, Bro," balas Luhan polos. "Gue juga mau eksis di kelas ini. Nggak nyampah doang."


Lingga tertawa hambar. "Oke lah kalau begitu."


Luhan balas tersenyum penuh wibawa. Dia seketika saling melempar pada Sari, untuk kemudian saling melemparkannya pandangan dengan wajah tak suka. Jelas lah mereka begitu, sekarang ini kan mereka berdua adalah rival.


"Oke, silahkan paparkan visi misi kalian sebagai ketua kelas buat satu tahun ke depan. Pastikan isi paparannya itu singkat, padat, jelas dan bisa menarik suara anak-anak." Lingga memberi arahan dan menatap pada tiga kandidat calon ketua kelas itu dengan penuh arti. "Paham semuanya?"


Ketiganya kompak mengangguk.


"Untuk Sari, kandidat nomor satu," kata Lingga kemudian. "Waktu dan tempat dipersilahkan."

__ADS_1


"Gue akan pastikan kalian semua naik kelas tahun depan. Apapun resikonya. Kita udah MPLS bareng-bareng, maka kita juga akan lulus bareng-bareng. Nggak ada sedih yang ditutup-tutupi dan nggak ada juga kebahagiaan yang nggak dirasakan sama-sama." Sari berkata dengan tegas dan penuh tekad. "Kalau kalian percaya ke gue, maka gue pasti akan mewujudkan apa yang gue bilang barusan."


Seketika, kelas XI IPA 2 itu penuh dengan suara tepukan tangan. Semuanya bertepuk tangan sambil berseru senang. Bahkan Luhan sekalipun.


Karena mendengar perkataan yang sangat menyentuh hati, hari itu, suara yang Luhan peroleh meski hanya lima suara saja, Luhan serahkan pada Sari hingga perempuan itu menjadi ketua kelas periode tahun ini dan tahun depan.


Serius, Sari memang semengagumkan itu. Dia peduli pada semua orang, meski bentuk kepedulian itu direalisasikan lewat wajah jutek dan kata-kata menusuk. Anak-anak di jelas diam-diam menyukai Sari dan kini hal itu terjadi pada Luhan.


Namun, tidak seperti saat ia naksir perempuan, kali ini Luhan terus berpikir apakah dirinya ini benar-benar jatuh cinta pada Sari atau tidak.


Luhan membuang napasnya perlahan-lahan. Dia menyentuh dadanya, dan saat mengingat tentang Sari, jantungnya berdebar lebih kencang dari pada seharusnya.


Napas Luhan memburu. Ini benar-benar gila. Sebab sepertinya, Luhan benar-benar jatuh hati pada Sari, si ketua kelas yang sering ia jahili hingga kerap kali membuahkan perdebatan panjang sampai pertengkaran fisik.


***


Hari-hari masuk sekolah tiba dan berjalan seperti biasanya. Luhan masih bingung apakah ia harus menyuarakan rasa sukanya dan bertindak sepatutnya sebagai seorang jantan yang menyukai betina dan memperjuangkan perasaannya.


Sampai berhari-hari dan berminggu-minggu, Luhan tak mendekati perempuan manapun lagi karena Sari. Sari menganggu pikirannya setiap saat. Serius.


Luhan jadi bertanya-tanya dalam hati. Apakah ini yang dinamakan cinta sejati?


"Wah, channel kita lakukan keras, guys." Lingga berkata saat melihat profil channel YouTube milik Lalilule. Dia bertepuk tangan dengan gembira. "Bentar lagi dapet silver button, dah."


"Serius lo?" Tanya Langit, langsung nimbrung untuk melihat.


"Serius." Lingga membalas cepat.


Lingga langsung takjub. Jumlah views tiap video mereka meningkat, apalagi video saat mereka di Yogyakarta. Mulai dari saat di museum, candi Borobudur, sampai di mobil Jeep dan pantai. "Wah, gue nggak nyangka."


"Yah, nggak ada usaha yang tidak mendapatkan hasil, sih." Lingga tersenyum bangga.


"Mantap lah." Lethan turut menukas saat mendengar perbincangan Lingga dan Langit sebelumnya. "Kita lanjutkan sampai kita dewasa."


"Sip."

__ADS_1


Langit menyeringai saat menemukan sesuatu di akun channel YouTube Lalilule itu. "Lo pada mau tau nggak video yang mana yang paling banyak views-nya?"


"Yang mana emang?" tanya Luhan penasaran.


"Yang ini, ****." Langit menunjukkan sebuah video dengan views mencapai enam ratus ribu dalam waktu dua bulan. "Yang kita nyebut pantai satu-satu. Udah gue bilang ini video bakal yang paling laris. Terbukti kan, sekarang."


Luhan dan Lethan mengangguk-angguk. Memang, di Video itu mereka tampak lebih tampan. Sambil mengibas-ngibaskan rambut basah, sampai berlakon seperti iklan, video itu seperti dibuat oleh profesional. Banyak yang memuji di kolom komentar dan teman-teman sekitar mereka pun mengatakan bahwa mereka bangga pada Langit, Lingga, Luhan dan Lethan.


"Eh, eh, Bro." Langit tiba-tiba bersuara lagi saat mengecek pemberitahuan ponselnya. "Ada yang DM gue."


"Siapa?" tanya Luhan langsung.


Kening Langit mengerut saat melihat foto profil sebuah akun dan membacanya namanya dengan kesusahan."Cewek. Lamiraee?"


"Wah, itu Si Lami!" seru Luhan dengan mata berbinar. Masa membicarakan cewek cantik Luhan nggak semangat ya kan. "Lamiraena Fatihah. Saudara jauh gue. Dia sama-sama anak keturunan Korea. Anak IPA 1 kalau lo nggak tau. Dia kirim lo apaan emang?"


"Namanya Langit kan, ya? Kenalin, gue Lami. Temennya Luhan juga gue. Waktu kelas sepuluh pernah kenalan karena lomba fisika," balas Langit, membacakan isi pesan yang dikirim kami lewat direct message. "Besok lo Ada waktu buat ketemu? Gue mau juga belajar skill editing kayak lo."


Lingga langsung bertepuk tangan dengan semangat. "Woah, sebuah kemajuan, nih."


"Pasti suka dah lo sama Lami." Luhan berkata dengan penuh keyakinan sambil membayangkan wajah Lami. "Cantik orangnya."


Kening Lethan mengerut. "Bukan bekas lo kan tapi?"


"Nggak lah. Masa jeruk minum jeruk." Luhan tertawa geli.


"Maksud lo?" tanya Langit tak mengerti.


"Sori-sori nih, gue mau keturunan gue normal-normal aja. Ya, mukanya Indonesia aja gitu. Nggak ada Ko-korea-an-nya gitu." Luhan menjelaskan dengan santai. "Oh ya, Lami juga beda server sama gue. Jadi, tekad gue buat nggak deketin cewek cantik itu benar-benar hilang."


Entah kenapa, wajah Langit jadi sesedih itu. "Oh."


Beda server, ya. Langit tak bisa membayangkan kalau hidupnya ke depannya akan rumit karena cinta beda server.


Omong-omong soal Lami, belum bertemu dan belum mengenalnya saja sudah membuat Langit jatuh hati. Ya, cinta itu memang buta. Benar.

__ADS_1


***


__ADS_2