Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 38


__ADS_3

Yohan dan Ily mengizinkan Lili pergi asal dia pulang dengan selamat sebelum jam sembilan.


Awalnya keinginan Lili untuk keluar malam itu sangat mengejutkan, pasalnya Lili keluar di siang hari saja sudah jarang. Kali ini, anak perempuan pertama mereka izin untuk bermain.


Dengan laki-laki pula.


Theo menjemput jam tujuh tepat.


Yohan dan Ily mengintrogasi mereka sebentar. Bahwa mereka berjanji untuk tidak melakukan hal-hal yang akan disesali nantinya, lalu berjanji lagi untuk pulang paling lambat jam sembilan.


Lili bilang ini untuk riset ceritanya dan dia tak bermaksud lain. Hal itu tentu saja membuat Yohan dan Ily mengizinkan karena orang tua mana yang tak mau melihat anaknya punya mimpi dan ingin mewujudkannya bagaimana pun caranya.


Ily terharu atas jawaban kedua orang tuanya.


Dengan begitu, dia pun pergi dengan motor Theo. Lili hanya menggunakan celana training berwarna hitam longgar dan sweater berwarna abu-abu dengan rambut panjang sebahu yang dikat menjadi satu.


Sebuah pakaian yang tidak cocok untuk seseorang yang akan berpesta.


Namun, Theo tak peduli banyak. Yang dia inginkan hanyalah Lili paham bagaimana bahayanya hidupnya dan ingin Lili tak mencampurinya tanpa izin Theo.


Mereka berdua akhirnya sampai di parkiran sebuah gedung yang sudah terdengar hentakan musiknya. Lampu-lampu yang berganti puluhan kali seriring Lili mengedip terlihat di jendela-jendela gedung itu.


Lili membaca club itu.


Till See Sun


"Club-nya buka sampai subuh?" tanya Lili penasaran.


Theo mengambil kunci motornya dan memasukkannya dalam saku celana jins hitam yang dia pakai. "Sampai jam empat pagi."


"Oh, lo pernah clubbing Sampai jam segitu?"


"Lo nggak liat jam bukanya?" Theo bertanya sarkas. Menunjuk sebuah papan yang menunjukkan jam buka sampai jam tutup club itu.


4 pm - 4 am


Lili langsung tersenyum malu.


"Yaudah, ayo," ajak Theo.


Langkah Lili mengikuti langkah Theo kemudian. Mereka masuk setelah Theo menunjukkan sebuah kartu pada sang penjaga. Dengan begitu, Theo dan Lili benar-benar masuk ke sana.


"Lo ikutan membership?" tanya Lili penasaran.


"Gitu deh, Lucas yang beliin," jawab Theo singkat.


"Enak ya punya temen tajir, apa-apa gampang," kata Lili dengan tawa ringan.


"Haha."


Namun, wajah dan senyum di wajahnya itu mendadak hilang ketika dia benar-benar masuk ke area pesta di mana ada lampu disko dan musik keras yang seolah mengoyak telinga Lili.


Banyak orang-orang yang sudah berjoged. Di antaranya laki-laki dan perempuan muda seperti Lili dan Theo. Yang laki-laki memakai baju hitam serupa dengan Theo, sementara yang perempuan memakai dress mini berwarna macam-macam.


Lili meringis. Melihat bagaimana baju yang dia pakai dan baju yang dipakai banyak perempuan di sana.


Lili memerhatikan sekeliling, dia harus menangkap suasana dan bentuk ruangan untuk dimasukkan dalam cerita. Ruangannya tampak begitu luang, tak begitu sempit juga. Cukup untuk seratus orang, jadi terasa sangat pengap.


Banyak orang bergerak-gerak, bersorak-sorai dan ada beberapa yang kedapatan oleh Lili dengan bercumbu intens.


Saat itu, mata Lili langsung dipenjamkan dan meringis penuh penyesalan. "Aduh, dosa mata gue. Huft, udah nggak suci lagi ini mata. Hu hu hu."

__ADS_1


"Ayo," ajak Theo kemudian, mengambil tangan Lili setelah dirasa perempuan itu sudah menyesuaikan diri.


Theo akan membawanya ke meja bar untuk duduk. Ketika melewati beberapa orang dan mulai berada di tengah-tengah ruangan, Lili menghentikan langkahnya.


"Kenapa?" tanya Theo langsung.


"Theo, bau, ish," keluh Lili seraya menutup hidungnya. Orang-orang berkeringat, aroma minuman keras saling bercampur dan parfum-parfum yang menyatu membuat aroma tak sedap di hidup Lili.


Theo mendekat ke telinga Lili, membuat suaranya terdengar meski disuarakan dengan nada kecil.


"Lo butuh penyesuaian. Ini baru awalnya. Coba biasain aja dulu." Theo berkata serupa bisikan di antara beat musik yang super kencang itu.


Ketika Theo akhirnya kembali ke posisinya, dia menarik tangan Lili lagi.


"Theo, aw!" Lili berhenti melangkah lagi. Membuat Theo otomatis menoleh ke belakang untuk melihat keadaan Lili. "Tuh!, Dia nyenggol, sakit banget! Nggak minta maaf lagi!"


Lili menunjuk seorang perempuan berdress kuning yang tampak tak peduli barusan dia menyenggol Lili dan kini masih asyik berjoged.


"Lo mau ngeluh sesering apapun nggak bakal didengerin karena orang-orang di sini ada buat happy-happy dan melanggar batasan, bukan buat menegakkan sopan santun sampai nyenggol orang pas joged aja harus minta maaf." Theo berkata lantang, supaya suaranya tak teredam musik.


"Lo udah pro, ya?" Lili menatap Theo dengan pandangan heran.


"Ya, gitu." Theo mengangkat kedua bahunya. "Gue anaknya mudah beradaptasi dan pintar, nggak bege kayak seseorang."


"Lo ngejek gue, ya?"


"Nggak, tuh."


Lili cemberut, dia menatap Theo dengan sedih. "Yaudah, ayo lanjut. Sebenarnya kita mau ke mana?"


Theo menuruti perkataan Lili. Laki-laki itu melangkah, mengajak Lili ke tempat duduk kosong dekat bar. Theo duduk di salah satu kursinya, sementara Lili di sampingnya.


"Pesta aslinya belum mulai," kata Theo saat melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. Dia menatap Lili dengan teduh, Lili jadi agak takut karenanya. "Mau minum dulu apa gimana?"


"Miras semua di sini," kata Theo. "Ada yang ringan ada yang kuat. Lo bisa beli yang ringan aja. Cuma lim--"


"Nggak, ah," potong Lili tak tertarik. "Gue tunggu aja sambil diem. Uhuk! Uhuk!"


"Yo, Theo!" sebuah seruan untuk Theo terdengar bersamaan dengan asal rokok yang dikeluarkan oleh Lucas, laki-laki yang barusan bersuara.


Theo menoleh, mendapati Lucas dan Ten yang berjalan dengan wajah penuh seringai bahagia.


"Pagi amat datangnya--wow, siapa ini?" Ten bersuara saat mendekati Theo dan melihat Lili. Pandangan tajamnya menyorot Lili Ari ujung kepala sampai ujung kaki. Jelas sekali melihat penampilannya yang beda dari kebanyakan orang. "Nggak nyasar, kan?"


Lili jadi malu. Dia menggerak-gerakkan ujung sepatunya, kemudian menatap Theo, meminta pertolongan. Lili jadi takut.


"Dia temen kelas gue. Anak buah baru yang waktu itu gue bilang."


"Kok pake kaca mata? Nanti bling-bling pestanya nggak keliatan." Lucas berkata secara duduk di samping Lili dengan santai.


Tangannya bergerak, hampir seperti merangkul leher Lili, padahal hanya tersampir di meja bar belakang Lili. Lili sudah menghindar padahal, sampai mepet-mepet pada tubuh Theo.


"Justru kalau dibuka jadi burem, makin nggak keliatan dong, bege!" seru Ten membalas perkataan Lucas. Beda dengan Lucas yang duduk di sebelah Lili, Ten memilih duduk di sebelah Theo.


"Ah, iya, juga, hahahaha." Lucas menyuarakan tawa kerasnya. Membuat Lili tak nyaman. Apalagi, beberapa kali Lucas mengembuskan asapnya rokoknya.


Lili jadi sesak.


"Yo ...." Lili menarik-narik ujung baju Theo, membuat laki-laki itu menoleh padanya dengan pandangan penuh tanya. "Theo, gue nggak suka asep rokok ish, bikin sesak, ohok-ohok!"


"Pestanya bahkan belum dimulai, Li." Theo menukas tak mengerti.

__ADS_1


"Yo, gue izin keluar sebentar, deh. Nanti kalau ada apa-apa telepon gue aja." Lili langsung bangkit berdiri. "Misalnya kalau pestanya udah mulai."


"Yaudah."


Lili yang tiba-tiba berdiri membuat Lucas menaikkan satu alisnya. "Mau ke mana?"


"Keluar bentar," kata Lili sebelum akhirnya pergi cepat-cepat ke arah kerumunan yang berjoged itu lagi.


Lili menarik napas panjang, bersiap-siap untuk tersenggol dan mencium bau-bau aneh lagi. Lili memejamkan matanya saat menerobos beberapa laki-laki. Semakin ke sana, semakin padat dan Lili bingung apakah dia melalui jalan yang benar?


Kenapa tidak ada jalan samping, sih?


Eh, kenapa Lili tidak jalan samping sih?


Ketika Lili larut dalam kebingungannya dan terus berjalan tanpa arah, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarik tangannya. Lili sempat terkejut dan takut, namun ketika mengenali siapa yang menariknya, senyum Lili terbit di antara wajah bingungnya.


"Lah, Theo, ngapain?!" tanya Lili dengan nada yang dikeraskan.


Then berbalik untuk balas berteriak. "Takut lo nyasar."


"Wa, aduh--aw--ish!" Lili disenggol-senggol beberapa orang dan mungkin berpotensi membuatnya jatuh jika tak bertahan pada lengan Theo. Lili tersenyum lebar pada Theo. "Makasih, Theo."


Theo menerima pelukan Lili pada lengannya selama mereka berjalan keluar gedung club. Melewati beberapa orang lagu, akhirnya keduanya sampai di luar.


Ketika di parkiran, Lili memejamkan matanya sambil menarik napas dan membuangnya dengan wajah puas.


"Ah, segarnya!" seru Lili senang.


Theo mendengus, meledek Lili yang kelihatan berlebihan dalam bernapas.


"Di dalem lo nggak ngerasa bau dan sesak apa?" tanya Lili penasaran.


"Gue udah terbiasa sama sesak," kata Theo, matanya menatap ke atas langit mendung tanpa bintang. "Bagi gue, club itu sesak yang berwarna. Bikin gue bahagia dan bisa tertawa."


"Aneh, ya." Lili berdecak tak menyangka. "Bisa gitu."


"Kehidupan lo sama gue itu beda."


"Iya, iya." Lili mengiyakan dengan pasrah saja.


Theo hanya diam, berdiri di samping Lili yang tiba-tiba mengusap-usap hidupnya yang alergi. Suara Lili dan hidungnya yang meler itu menjadi satu-satunya suara yang terdengar di antara mereka, terlepas dari suara kendaraan dan hingar-bingar yang teredam ruangan di gedung belakang mereka.


"Dingin, ya, Yo." Lili memberi kode.


Namun, Theo jelas bukan laki-laki yang suka bermain kode.


"Hm. Gue masuk dulu kalau gitu." Theo berkata yang membuat Lili menatapnya dengan sedih. "Lo kalau udah menyegarkan diri, masuk aja, oke? Gue bakal tunjukkan keseruan di dalam sana yang belum pernah lo rasain."


Lili menatapnya datar. "Hm, semangat banget lo."


"Ini seru." Theo menggedikkan bahunya. "Yah, setidaknya bagi gue."


"Ini ilegal." Lili menautkan kedua alisnya dengan bingung bingung. "Nggak baik. Di sekolah dengan jelas tertulis siswa-siswi tidak merokok, minum minuman keras dan narkoba. Lo ketiganya udah lakuin, *****."


"Itu semua takdir, Li. Bukan gue yang mau, tapi keadaan yang memaksa." Theo langsung membalas dingin.


Lili tersenyum segaris. "Lo bisa memilih buat berhenti kalau gitu."


"Aduh, capek deh denger bacotan lo. Gue masuk aja, bye," pamit Theo akhirnya.


Laki-laki berjaket hitam itu berlalu pergi untuk masuk ke dalam gedung Till See Sun tanpa peduli pada Lili lagi yang dibuat kesal karenanya.

__ADS_1


"Apa bacotan?" tanya Lili tak percaya. "Dasar cowok kejam! Hhh, males banget kalau harus masuk lagi ... hm, apa gue pulang aja ya?"


***


__ADS_2