
Entah perasaan Lili atau bukan, Theo terus menatapnya selama pelajaran berlangsung. Jenis tatapannya bukan tipe yang bersahabat dan membuat hati menghangat, namun jenis tatapan yang jelas membuat bulu kuduk Lili berdiri.
Lili ketakutan. Itu kenyataannya.
Selama pembelajaran berlangsung, Lili tak henti-hentinya mengusap tengkuknya seraya menghalangi wajahnya dengan buku dari tatapan tajam Theo. Beberapa kali Lili meringis karena jadi tidak fokus memerhatikan guru di depan.
Theo sebenarnya mau apa, sih?
Waktu terasa berjalan sangat lama. Gema hari ini dispen lagi sehingga Lili benar-benar tak punya teman untuk mengobrol atau mengalihkan perhatiannya dari Theo.
Sampai akhirnya istirahat tiba, Theo keluar dari kelas tanpa peduli padanya lagi dan Lili bisa bernapas lega, bernapas normal lagi.
Hari ini Lili memutuskan untuk tidak mengikuti Theo ke mana pun lagi, dia ada tugas menulis. Dari kemarin, Lili sama sekali belum menulis. Dengan bekal dari rumah, Lili mulai menulis.
Ketika baru lima puluh kata Lili ketik di ponselnya, tahu-tahu Theo datang dan membuka tasnya di sampingnya. Hanya pergerakan biasa sebenarnya, namun Lili jadi turut tegang dan menduga-duga yang tidak-tidak karenanya.
Firasat Lili terbukti benar karena setelahnya Theo menghampiri mejanya dan menaruh buku tugas Bahasa Indonesianya ke depan Lili, di atas meja.
Lili beralih dari ponselnya, mendongak untuk menatap Theo dengan permen loli di mulutnya dan tatapan datar menyambut pandangan bingung Lili.
"Maksudnya apa ya, Mas?" tanya Lili tak suka, merasakan dia akan diperintah secara paksa oleh Theo secara tidak adil.
"Kerjain rangkuman gue," kata Theo datar. Laki-laki dingin itu baru saja akan berbalik pergi lagi, saat Lili menahan baju seragamnya, bahkan tanpa sengaja mencubit kulit pinggang Theo saking paniknya.
"Heh, gue bukan babu lo, ya!" seru Lili tak terima.
Theo mendengus kecil, tersenyum miring dan melepas tangan Lili dari bajunya. "Kerjain atau sore lo mau gue culik."
Lili mengeraskan rahangnya, mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan bibirnya untuk tak menjerit keras dengan umpatan-umpatan khas kebun binatang saat Theo tanpa peduli lagi berbalik dan berjalan pergi dari hadapannya.
Kening Lili mengerut dalam. "Itu tugas Bahasa Indonesia udah dari minggu kemarin, deh."
Akhirnya, karena tak ada lagi jalan keluar yang bisa Lili tempuh, maka perempuan berkacamata bulat itu akhirnya menghadapi buku Theo dengan senyuman sabar, yang jelas-jelas dipaksakan.
"Oke, nulis dua lembar bukan masalah buat Lili si calon penulis terkenal," kata Lili menyemangati dirinya seraya mengambil pulpen dari tempat alat tulisnya. "Itung-itung perjuangan untuk mendapatkan objek riset yang bagus, Li."
Tangan kanan Lili membuka buku Theo. Halaman pertama, buku bersampul kertas kacang asin itu berisi coretan nama Theo, kelas XI IPA 3, dan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Tulisannya rapi, hampir seperti ketikan komputer jika Lili harus memperjelas. Lili bahkan membandingkan tulisannya dengan Theo.
"Buset, deh, kok bisa beda jauh?" Lili mengangguk kepalanya dengan bingung. "Perasaan kerjaannya tidur terus, kok bisa tulisannya sebagus ini?"
Lembar kedua buku Theo berisi daftar materi semester dua.
"Lah? Ganti buku ini anak?" tanya Lili heran. "Emangnya buku semester kemarin ke mana? Oh, pastinya hilang, deh. Ah, atau dijual gitu? Hahaha. Aduh, Lili kok lo malah ngaco sih. Tugas lo nulis, hei."
Lembar berikutnya justru tambah membuat Lili tertarik.
"Ini buku Bad Boy apa rangkuman anak SD? Hahaha, kok warna-warni?" Lili tertawa sendiri, tawanya untungnya kecil sehingga tidak mengundang atensi banyak orang. "Ternyata Theo kreatif juga. Hm, harus ditambahin nih ke cerita gue."
__ADS_1
Masih dengan tawa terhibur, Lili mulai menulis rangkuman materi Bahasa Indonesia di buku Theo tanpa memikirkan bahwa tulisannya sangat berbeda dengan tulisan Theo sebelumnya.
***
"Yo, bel udah bunyi," tegur Ten ketika mendengar suara khas dan menyikut kepala Theo yang tengah tertidur.
Theo tak menunjukkan reaksi yang signifikan.
"Jangan diganggu dulu mungkin, lagu galau kan kemarin baru aja mengalami kekalahan pertama," kata Lucas seraya tertawa puas.
Kantin mulai sepi karena orang-orang lebih banyak kembali ke kelasnya untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Lucas tampak tak peduli banyak, namun Ten jelas khawatir untuk terus berada di kantin hanya untuk telat mengikuti kelas.
"Gue pelajaran Pak Toto sekarang, kalau telat, yang ada jadi bulan-bulanan dia. Sorry, ya, gue harus banget duluan," jelas Ten yang segera diikuti oleh berdiri dan berbalik pergi.
Lucas hanya geleng-geleng kepala melihat kepergian Ten. "Muka boleh aja nakal, tapi mental kayak tahu."
Ten memang bisa bolos kelas kapan saja, namun tidak dengan ketika pelajaran Pak Toto. Lucas tak begitu mengerti seberapa dalam hubungan Ten dan Pak Toto, namun laki-laki itu dan guru itu sudah seperti anak dan ayah saja.
Anak yang sangat penurut pada ayah yang super galak.
Sementara itu, meski Theo ini dingin dan tak pedulian, hatinya sangat lembut dan pengertian pada Titi hingga rela ketiduran seperti sekarang di kantin karena semalam bergadang. Theo bisa saja mengganti jam tidurnya setelah pulang sekolah sampai tengah malam untuk balapan, namun dia tidak bisa.
Theo harus menjaga adiknya, ketika adiknya telah tidur, barulah Theo bisa keluar dan akhirnya tidak bisa tidur karena dia tiba di rumah pukul tiga pagi.
Di jam itu, Theo harus memasak nasi, membersihkan kamarnya, mencuci baju Titi serta merapikan kamar adiknya sebelum akhirnya dia pergi ke sekolah. Titi dia titip ke panti asuhan tempat Ten tinggal selama Theo sekolah.
Lucas tertawa, senang atas takdirnya sendiri yang tak diatur oleh siapapun. Lucas bebas untuk bolos kelas, Lucas bebas untuk--
Oh, sepertinya opsi pertama yang baru saja Lucas kemukakan tidak akan terwujud.
Di pintu masuk kantin sana, dia menangkap tubuh Pak Dodo yang dengan mata nyalangnya memeriksa apakah ada siswa-siswi yang tidak masuk kelas setelah bel masuk berbunyi beberapa saat yang lalu.
Lucas selalu diberitahukan oleh teman-temannya mengenai kebiasaan Pak Dodo itu, karenanya dia langsung ngacir sambil berjongkok untuk keluar lewat pintu yang lainnya dari kantin.
Ketika telah lolos, Lucas lupa pada tubuh Theo yang masih tertidur di meja kantin. Lucas menepuk keningnya dengan ringisan kecil.
"Aduh, gue lupa Theo." Lucas menipiskan bibirnya, melihat Pak Dodo yang kian dekat dengan Theo dengan pandangan prihatin. "Maaf, Theo. Abang Lucas duluan ke kelas. Dadah, selamat menjalani hukuman."
Theo, Ten dan Lucas mungkin adalah definisi dari anak nakal, namun jika sudah berhadapan dengan Pak Dodo, ketiganya langsung menciut. Pasalnya, entah bagaimana, Pak Dodo sudah kenal dengan orang tua masing-masing dari ketiganya dan kerap kali membuat Theo, Ten dan Lucas tersiksa dengan hukuman-hukuman atau perjanjian-perjanjian yang diajukan kepada mereka atas bayaran dari sebuah kenakalan.
Lucas tarik kembali bahwa tak ada yang membatasi hidupnya. Jelas sekali hidupnya di sekolah bisa terbatas dengan kehadiran Pak Dodo.
Terpaksa, Lucas berjalan menjauh dari kantin, melangkah menuju kelasnya yang mungkin sudah terdapat guru di dalamnya.
Di kantin, Pak Dodo mengernyit saat melihat tubuh seorang siswa yang tertidur dengan lelapnya di sebuah meja kantin. Langsung saja, Pak Dodo mendekat dan menepuk permukaan meja agak keras.
"Kelas mana kamu?"
__ADS_1
Tak ada reaksi dari Theo.
Pak Dodo langsung menjawil telinga Theo dan sontak saja membuat Theo berteriak kesakitan dan terpaksa bangun dari tidurnya yang semula nyenyak.
"A, A, A, AAAAA!"
Para pedagang dibuat terkejut karena teriakan Theo yang lantang.
"Bagus ya kamu tidur di sini? Nggak tau bel udah punya sepuluh menit yang lalu?" Mata melotot karena marah Pak Dodo dibalas oleh pelotoan mata Theo karena terkejut.
"Aduh, Pak! Maaf, saya ketiduran. Tapi, bisa lepasin telinga saya?" Theo meringis dengan wajah yang dimanis-maniskan. "Sakit, Pak. Ampun, deh."
"Enak aja!" seru Pak Dodo kesal. "Sekarang, kamu harus didisiplinkan."
Tanpa melepaskan telinga Theo, guru itu berjalan hingga membuat Theo maikin meringis dan terpaksa turut melangkah mengikuti langkah Pak Dodo jika tak mau telinganya putus dari tempatnya.
Dengan wajah yang sedih sekaligus kesal karena ternyata Ten dan Lucas sama sekali tak punya rasa solidaritas, Theo menyerahkan takdirnya tanpa berusaha untuk memberontak.
Jika sudah berurusan dengan Pak Dodo, segala hal yang bisa membantu Theo rasanya tak berguna lagi, semuanya kalah telak.
Melewati koridor-koridor, Theo digiring Pak Dodo. Anak-anak yang semula belajar dengan fokus jadi agak penasaran mendengar ringisan Theo sepanjang dia berjalan.
Saat melewati kelasnya, tatapan Theo tanpa sengaja bertemu dengan Lili yang menatapnya dengan mata membulat. Entah karena terkejut atau karena takut, tapi Theo puas melihat wajah itu.
Theo punya rencana.
"Hormati bendera sampai pelajaran selanjutnya." Pak Dodo akhirnya melepaskan jeweran telinganya pada Theo setelah keduanya sampai di depan tiang bendera yang sudah di pasang bendera di atas sana. Bendera merah putih itu berkobar-kobar karena angin kencang. "Kamu harus tau perjuangan pahlawan bangga untuk membuat kamu bisa belajar hari ini, tapi kamu justru membuang-buang waktu dengan tidur. Emangnya kamu nggak tidur di rumah?"
"Nggak, Pak." Theo sempat-sempatnya menjawab jujur, sehingga Pak Dodo semakin marah dibuatnya.
"Lah, berani jawab?"
"Kan bapak tanya barusan."
"Pintar kamu bukan pada tempatnya," tukas Pak Dodo pedas. "Sekarang, sebaiknya kamu hormat dan saya akan memerhatikan dari jauh. Jangan berani-beraninya kabur atau saya akan tambah hukumannya."
Theo ingin membalas, namun menahan diri supaya tak terjadi hal-hal yang akhirnya buruk untuknya.
Dengan terik matahari yang menyiksa, Theo menaruh ujung jarinya di pelipis dengan jari-jari dirapatkan, melakukan hormat pada bendera.
Sosoknya yang berdiri sendirian di lapang yang terik dan jarang berangin tentu membuat anak-anak yang sempat melihatnya lewat kaca jendela kelas simpati padanya. Namun, mereka tak bisa berbuat apa-apa jika tak ingin kena getahnya kala melihat Pak Dodo di depan Theo, mengawasi.
Keringat Theo sudah bercucuran, matanya menyipit karena terik matahari, namun laki-laki itu tetap diam seperti batu.
Karena Theo menurut, Pak Dodo mengembangkan senyum. "Terus seperti ini sampai dua puluh lima menit ke depan, ya."
Setelahnya, Pak Dodo pergi.
__ADS_1