Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 17


__ADS_3

Beruntung Raihan tidak bertanya banyak tentang tujuannya untuk diantarkan ke sekolah dan memutuskan pertemuan hari ini. Terpaksa, harapan Raihan harus pupus untuk bisa bersama Ily sampai sore.


Raihan juga paham, apa posisinya dalam hidup Ily. Jelas, Elvan lebih penting daripada dirinya. Raihan mendengar sedikit percakapan Ily di telepon dengan laki-laki itu dan ia mengerti.


"Lo hati-hati, ya, Ly. Sekolahnya sepi sekarang," pesan Raihan lembut. Jelas sekali mengkhawatirkan Ily.


"Elvan doang, kok. Gampang." Ily tertawa ringan, tak begitu menanggapi dengan serius tentang rasa khawatir Raihan. "Makasih, ya, Han. Udah anterin. Besok jangan lupa gue graduate. Katanya lo may dateng."


"Gue dateng, kok. Tenang aja." Raihan tersenyum yang membuat wajahnya berkali-kali lipat lebih tampan.


"Oke, dah," kata Ily seraya melambaikan tangan saat Raihan telah menaiki motornya lagi dan hendak pergi. "Hati-hati."


Raihan memberi Ily acungan jempol sebelum akhirnya pergi hingga tiga detik kemudian menghilang di belokan. Ily mengela napas, kemudian berbalik dan berjalan cepat menuju gudang sekolah di mana Elvan berada.


Sekolahnya memang tidak tutup setiap hari libur, namun tentu ada batasan untuk mengunjunginya. Hanya sampai jam 7 malam murid-murid boleh berada di sekolah saat hari libur. Selebihnya, gerbang sekolah akan di kunci.


Hari ini lapangan sekolah diisi beberapa orang yang berlatih baris berbaris untuk lomba, sebagian lapangan yang kosong dipakai latihan basket seadanya, beberapa koridor pun tak terlalu sepi karena ada kelompok belajar, begitupula kantin dan lobi. Meski hari Minggu, sekolah lumayan ramai seperti hari-hari biasanya.


Tak lama kemudian, Ily sampai di gudang sekolah yang sebenarnya awalnya adalah GOR. Ada lapangan bercat hijau dan teribun di sisi kanan dan kiri. Namun, ruangan yang ada mulai dipenuhi barang-barang bekas. Mulai dari kursi patah, meja usang, bola kempis, sepeda rongsokan dan barang-barang lainnya yang mengisi hampir setengah dari gudang.


Jendela kaca yang ada membuat gudang terpapar sinar matahari sehingga suasananya tak terlalu gelap dan membuat takut. Ily terus mencari keberadaan Elvan sejak pertama kali kakinya menginjak lantai gudang.


"Elvan," kata Ily memanggil dengan nada yang tak terlalu pelan ataupun terlalu keras. "Elvan, Van? Gue Ily."


"Tau, ege, sini!"


Suara Elvan membuat kedua pundak Ily terangkat karena terkejut. Selanjutnya, Ily menoleh ke asal suara. Di tribun ujung, paling atas, Elvan berbaring dengan kedua tangan dijadikan seperti bantal.


Tanpa membuang waktu, Ily melangkahkan kakinya menuju tempat tersebut dan bersiap untuk memaki sepupunya yang tak ada kerjaan itu.

__ADS_1


"Lo mau ngapain?" tanya Ily langsung.


"Tiduran, sih, nyaman di sini. Sepi, nggak berisik," balas Elvan enteng, seolah dia sedang main-main dengan Ily.


"Lo bercanda, ya?"


"Nggak." Elvan justru tersenyum jahil.


Ily menarik napas untuk berusaha sabar dan tak langsung memutuskan. "Van."


"Ly," kata Elvan serius. Masih dengan posisi tidurannya, Elvan berdeham. "Gue serius tentang minta lo supaya ke sini."


Ily terdiam. Menatap mata Elvan yang sedari tadi menatapnya dengan pandangan berubah-ubah. Kadang ada sorot bercanda, kadang ada sedih, kadang ada kesal dan Ily pernah menangkap ada sorot putus asa di sana.


Entah sejak kapan Ily pandai menafsirkan mata seseorang, namun ia memilih untuk menarik napas dan memerhatikan Elvan lebih lama. Berharap laki-laki itu benar-benar tak main-main dengannya, tak menjahilinya.


Sadar dilihat sedemikian rupa, Elvan tertawa. Matanya beralih menatap langit-langit gudang yang sudah sangat berdebu dan banyak sekali sarang laba-laba. "Kalau masih merasa gue bohong, lo bisa pergi sekarang, sepupu."


"Gue seneng lo nggak pergi."


Ily hanya mendengarkan. Meski nada bicara Elvan terdengar sangat misterius dan membuatnya amat penasaran, Ily menahan diri untuk tak bersuara. Untuk membuktikan bahwa Elvan benar-benar serius akan perkataannya.


Entah apa yang akan menunggunya nanti. Entah itu sebuah prank... atau justru sesuatu yang lain.


"Gue sekarang lagi sedih, Ly." Elvan berdeham. Terdengar nelangsa hingga Ily ingin sekali meledeknya, namun Elvan lebih dulu melanjutkan perkataannya. "Lo udah ada tujuan mau masuk UI. Eza juga udah ada niatan buat jadi penyanyi. Raihan juga udah ada, sama kayak lo masuk UI. Gue bahkan tanya ke Padli, temen gue yang paling gesrek dan dia bilang udah niat kuliah di STAN. Orang-orang kayak udah punya tujuannya. Beda sama gue."


Elvan menarik napas panjang. Kalau biasanya dia yang paling sering bercanda, sekarang dia menunjukkan sisi yang berlawanan. Yang tak Ily duga akan keluar saat ini.


"Gue nggak tau harus apa, Ly. Gue bingung... hidup gue rasanya udah hancur, Ly," sambung Elvan dengan suara yang mulai serak.

__ADS_1


Tak sulit untuk menerka bahwa Elvan kini sedang menangis. Terbukti, saat akhirnya Ily bangkit dan melihat Elvan menutup matanya. Air matanya keluar, namun tak ada Isak tangis yang menyertainya.


"Lo kenapa sih, Van?" tanya Ily lemas. Ingin ikut serta menangis, namun ia tak mau membuat Elvan semakin sedih karenanya. Hari ini Elvan sangat mengejutkan, yang diucapkannya barusan tak pernah Ily terka. "Sini cerita."


"Kayaknya... gue bakal berubah banget nanti, Ly." Elvan menghapus air matanya dan bangkit untuk duduk dengan cepat. Tak sampai satu detik, wajahnya dihiasi cengiran khasnya. "Jangan heran nanti."


"Iya, cerita, Van. Kenapa?"


Elvan meneguk ludahnya pahit. "Gue belum bisa cerita, Ly. Maaf."


"Eza udah lo kasih tau?" Ily bertanya dengan khawatir.


Ketika Elvan menggeleng lemas, Ily berdecak dan langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi laki-laki itu, sebelum Elvan berdiri dengan tangan yang langsung merebut ponsel Ily.


Ily membelalakkan matanya. "Elvan, gue kaget!"


Elvan tertawa kecil. "Jangan bilang siapa-siapa lagi. Gue cuma pengen lo yang tau. Udah. Ayo, pulang."


"Lah?"


"Awas kalau bilang-bilang, Ly."


"Ya, lo kenapa?" Ily merebut ponselnya kembali dan memasukkannya dalam tas selempangnya. "Cerita. Gue nggak bakal ember."


"Kepo banget ini Chilli satu." Elvan tertawa seraya mengacak rambut Ily. "Ayo pulang, ah."


Ily tak diberi kesempatan untuk bertanya karena Elvan sudah merangkul bahunya dengan erat dan membuat Ily sibuk merasa kesal karena sifat misteriusnya hari ini. Dipaksa bagaimana pun, Elvan menjawab dengan candaan. Hingga akhirnya, Ily menyerah.


Sepanjang perjalanan pulang, Elvan yang saat ini adalah Elvan yang paling senyap sejauh Ily mengenalnya.

__ADS_1


Dan Ily kesal karena tak terlahir pandai berbicara untuk meluluhkan hati seseorang.


***


__ADS_2