Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 25


__ADS_3

Jantung Lili secara otomatis berdetak cepat.


Ya, siapa lagi penyebabnya jika bukan dan tak lain adalah Nakasutra Jaelo?


Lili merasa sangat malu dan salah tingkah karenanya, namun dia memaksakan langkah untuk setelahnya duduk di kursi yang kosong itu.


Titi masih bersuara riang saat bus mulai melaju. Di sisi lain, Lili jadi terdiam karena canggung. Jae yang berada di sebelah Lili sontak menatapnya dengan kening berkerut bingung.


"Lili?" tanya Jaya memastikan. Dia sendiri takut salah karena Lili bahkan tak kunjung menyapanya saat waktu telah berlalu lumayan signifikan.


"Eh iya, Kak," balas Lili kikuk.


"Beneran Lily ternyata," tukas Jae dengan diikuti sebuab tawa. Tawa merdu yang bisa membuat nyawa lili terbang ke awang-awang.


"Iya, Kak. Ini Lili hehehe."


"Terus ini siapa?" tanya Jae penasaran seraya menunjuk ke arah wajah Titi yang langsung tersenyum manis.


"Namaku Titi," kata Titi memperkenalkan diri.


"Oh, Titi," tukas Jae paham.


"Ini adiknya temen aku, Kak," jawab Lili sambil tersenyum lebar.


"Oh, oke."


Suasana kembali canggung dan hening. Lili sibuk menggerak-gerakkan kakinya karena gugup dan Jee ke arah jendela bus dengan pandangan yang tidak bisa Lili artikan.


Wajahnya tampak sendu, namun senyum lebarnya sangat meneduhkan saat melihat panorama di kaca jendela bus itu.


Ketika Lily tidak bisa menahan mulutnya untuk berbicara, akhirnya dia bertanya, "BTW, Kakak mau kemana?"


Jae menoleh pada Lili. "Lokasi shooting. Hari ini hari pertama kita shooting."

__ADS_1


"Oh." Lily mengangguk-angguk. "Aku diajak nggak, Kak?"


"Lo nggak dulu, Li. Jadwal lo Minggu depan shootingnya. Sekarang cuma take perkenalan sama take vokal pemain utama," jelas Jae lembut.


Jadi dibandingkan dengan Theo, Jae sangat berkebalikan.


"Oh gitu, Kak. Ngomong ngomong lagi, filmnya mau tentang apa, Kak?" tanya Lily penasaran. "Aku kan udah liat, nah, di poster aku cuma nangkap ada cowok SMA yang dijauhin sama teman-temannya. Ituu sebenarnya apa ya, Kak?"


"Kayaknya lo beneran fans berat gue ya, bisa tau begitu." Jae tertawa, seketika membuat Lili menunduk malu-malu dengan pipi yang sudah merona tipis. "Pinter juga lo. Ya, yaitu tentang anak SMA cowok yang kesepian, gitu. Temen-temennya membully, dia juga dicaci maki. Ya, pokoknya diperlakuin tidak adil. Film ini memiliki tema keluarga."


"Wah! Kayaknya menarik, Kak! Eh, bukan kayaknya lagi ... ini menarik banget buatku, Kak," puji Lili terang-terangan.


"Baguslah kalau lo tertarik." Jae tersenyum.


"Kakak bikin sendiri naskahnya?"


"Buset, deh. Lo banyak tanya juga ya."


"Hehehe, kalau udah penasaran ya gini, Kak. Nggak bisa dikontrol." Lily tertawa polos.


"Wah, keren!" Lagi-lagi Lili memuji.


Jika hidup ini hanya untuk memuji Jae, maka Lili akan suka rela dan paling semangat untuk melakukannya.


"Dapat inspirasinya dari mana, Karena? Apa Ini cerita asli?"


Setelah lama terjeda, Jae tidak menjawabnya. Laki-laki berlesung pipi itu justru tersenyum misterius yang membuat Lili sangat penasaran hingga akhirnya Jae bangkit berdiri tak lama kemudian saat bus berhenti.


"Gue duluan ya," pamit Jae.


Tanpa menunggu balasan dari Lili, Jae turun dari bus. Lili cemberut dan menatap punggung Jae yang semakin jauh dengan tanda tanya besar dalam benaknya.


Apa film ini terinspirasi dari hidup Jae sendiri?

__ADS_1


***


Lili: Titi ada di rumah gue, yaa


Usai melihat pesan itu yang masih belum dibalas Theo, Lili lanjut memerhatikan Titi dan Luhan yang sudah akrab dan kini bermain dengan Luvi serta Barbie belas masa kecil Lili. Titi sibuk mengepang rambut Barbie itu dan sesekali berbalas kata dengan Luhan.


Di luar dugaan, Luhan yang biasa pemilih dalam berteman, justru bisa akrab dengan Titi yang memang supel. Keduanya tampak akur sejak awal Lili memperkenalkan keduanya.


Lili sendiri mengetik di laptopnya dengan senyum tipis.


"Hai, hai, ini ada cookies," kata Ily dengan membawa satu piring berisi beberapa cookies buatannya dan meletakkannya di dekat Lili, Titi dan Luhan berada. "Nggak seenak buatan Ayah, tapi layak makan, Kok."


"Ah, masakan Ibu sama Ayah semuanya enak!" seru Lili cepat. Ia mengambil satu cookies dan memakannya.


Titi turut mengambil satu dan tersenyum dengan mengacungkan jempol mungilnya. "Enak banget!"


"Baguslah," kata Ily lega.


"Luhan, makan, aaaaa," kata Titi, turut menyuapi Luhan cookies. Luhan membuka mulutnya, menerima suapan cookies dari Titi.


Lagi-lagi Ily dan Lili dibuat terkejut. Biasanya Luhan tak mau disuapi orang asing. Hari ini, justru dengan mudahnya menerima tangan Titi.


Pasti ada sesuatu dari Titi. Nanti akan Lili tanyakan pada Luhan setelah Titi pulang.


"Omong-omong, Kakaknya masih belum balas?"


Lili menggeleng lemah.


"Ya, udah. Kalau Kakaknya nggak bales jam tujuh, kita makan malam terus Titi nginep di sini aja."


Mata Titi langsung berbinar mendengarnya. "Yeay, Titi nginep di sini!"


Lili benar-benar suka melihat senyum anak kecil. Khususnya milik Titi.

__ADS_1


***


__ADS_2