
Hari ini Luhan tidak mengawasi atlet renang. Jadi, seharusnya dia bisa langsung pulang, ya, kalau dia tidak ada urusan lain lagi di sekolah ini.
"Kalian duluan aja pulang." Luhan berkata begitu pada Lethan, Lingga dan Langit saat mereka berempat tengah mengemasi barang di tas masing-masing.
"Lah, kenapa?" tanya Lethan bingung. "Lo mau mancing lagi? Nggak jadi ke Sari?"
"Justru gue mau mancing Sari." Luhan menjawab cepat dan agak kesal karena sekarang dia lagi banyak pikiran. "Lo pada nggak usah banyak tanya. Udah mumet otak gue."
Setelah berkata begitu, Luhan pergi dalam langkah cepat yang membuat Luhan menatap kepergiannya itu dengan wajah tak percaya. Bisa-bisanya anak itu membuatnya kembali kesal sekaligus lelah.
"Sabar, sabar." Lethan menenangkan dirinya sambil mengusap-usap dadanya dengan wajah tersenyum tipis.
Sementara itu, Luhan terus berjalan, melewati koridor-koridor. Luhan khawatir firasatnya benar tentang Sari yang langsung keluar kelas setelah bel pulang berbunyi sampai lupa mengantarkan buku paket ke ruang guru.
Ternyata oh ternyata, dugaan Luhan benar soal keberadaan Sari yang kini ada di ruangan latihan taekwondo. Sari sudah duduk di sana, di depannya ada beberapa anak yang sedang pemanasan—latihan kan biasanya dimulai setidaknya dua puluh menit setelah bel pulang berbunyi, jadi belum banyak yang datang. Di sana, Deon termasuk salah satunya.
Luhan segera duduk di sebelah Sari dan tersenyum tipis. Hatinya terasa nyeri, saat melihat Sari tersenyum lebih lebar dari biasanya saat menatap ... kalau Luhan tidak salah ..., pada Deon.
"Cepet amat udah ada di sini." Luhan berkata begitu setelah berdeham kecil dan membuat perhatian Sari teralih.
Sari menoleh singkat. "Biar cepet pulang juga."
"Nggak ada alasan lain, kan?" tanya Luhan curiga.
"Maksud lo?" Sari kini sepenuhnya fokus pada Luhan. Matanya menatap lurus-lurus mata Luhan dengan wajah bingung dan terganggu.
"Kayak ... pengen liat seseorang lebih lama atau dekat sama seseorang lebih lama." Luhan menjelaskan agak sangsi. Malu lah, cuy. Kesannya Luhan cemburu pada laki-laki yang bahkan tak bisa Luhan anggap saingan.
Kalau dibilang siapa yang paling mengerti Sari, jelas Luhan yang telah lama mengenalnya ini unggul. Kalau ditanya siapa yang paling menyukai Sari juga jelas Luhan jawabannya karena Luhan tak mendekati perempuan manapun lagi sejak dia memantapkan hati pada Sari.
"Lo ngomongin Deon?" tanya Sari, akhirnya mengerti ke mana arah pembicaraan Luhan.
"Nggak lah, buat apa ngomongin dia ...." Luhan segera membantah dengan wajah malu. Namun, saat melihat wajah tajam Sari yang penuh tuntutan, mau tak mau Luhan mengangguk dengan terpaksa, "Iya, oke. Gue ngaku. Emang bener gue ngomongin dia."
"Ya ampun." Sari tak bisa menahan diri untuk tak membuang napas lelahnya panjang-panjang.
"Ya, abisnya gimana, Ri." Luhan mencoba menjelaskan dengan nada pelan, entah kenapa merasa malu saat membicarakannya. "Gue cemburu lo deket-deketan sama senyum-senyum gitu ke cowok lain."
"Kayak lo nenek gue aja." Sari tertawa hambar.
"Serius, Ri." Luhan menatap Sari lurus-lurus dengan berani. Benar-benar serius. "Gue gini karena gue bener-bener suka sama lo."
Sari menatap Luhan untuk beberapa saat lamanya. Dia tak mengerti mengapa Luhan seperti ini, tetapi dia tahu pasti bahwa kini Luhan tak bercanda sama sekali.
"Gue nggak tau lo sekarang bener-bener serius atau nggak." Sari mengatakan hal uang berkebalikan dari pikirannya. Dia menatap Luhan dengan lembut dan putus asa. "Makanya, gue nggak mau berspekulasi dulu dan menganggapi sesuai yang lo mau. Faktanya, gue sama Deon sama kayak gue sama anak-anak taekwondo yang lain."
Luhan bisa tersenyum lega saat mendengar status Deon bagi Sari. "Bagus kalau gitu."
Saru menatap Luhan dengan tajam pada detik berikutnya. "Kalau lo udah puas, mending diem atau pergi karena gue harus konsentrasi buat mengamati anak-anak yang lagi latihan."
"Oh, jadi gue bikin konsentrasi lo pecah?" tanya Luhan jadi senang.
"Harus banget nanya?" Sari balas bertanya dengan wajah tak percaya."Lo itu adalah mutan paling mengganggu sejagat raya buat gue."
"Oh, ya?" Luhan makin tersenyum lebar. Setidaknya posisinya lebih berarti daripada Deon. Begitulah pikir Luhan.
"Mau gue colok mata lo?" Sari langsung kesal lagi.
"Mau dong!" Luhan maka membulatkan matanya agar Sari leluasa menatapnya dengan kesal.
__ADS_1
Tanpa disangka-sangka, Sari mengangkat tangannya dan mendekatkan jari telunjuk serta jari tengahnya pada kedua mata Luhan. Dua jari Sari sudah pasti masuk ke mata Luhan, mencoloknya, jika Luhan tak langsung mundur menjauhinya.
"Eh, Anjuir!" seru Luhan ketakutan. "Kok beneran?"
"Lo nggak inget kalau dunia ini bukan tempat buat main-main?" tanya Sari serius.
"Oke-oke. Maaf-maaf." Luhan mengangguk kecil berkali-kali. Dia menipiskan bibirnya dan mengangkat kedua tangannya, tanda dia benar-benar menyesal dan akan berhenti bercanda. "Gue nyesel. Gue nggak bakal ganggu lagi. Gue bakal diem aja, duduk di sebelah lo dengan damai. Oke?"
"Serah." Sari memalingkan wajahnya dari Luhan untuk mengawasi para atlet taekwondo di depannya itu. "Kalau Lo ngomong, tangan gue langsung gerak."
"Hm! Hm!" seru Luhan mengerti, menurut, tanpa membuka mulutnya sama sekali.
***
Besoknya Luhan mengawasi atlet renang, tetapi di tengah-tengah menjalankan tugasnya itu, Luhan mendatangi tempat latihan taekwondo untuk kesekian kalinya hanya untuk memastikan bahwa Sari masih ada di muka bumi ini dan tidak dekat-dekat atau terlalu dekat dengan laki-laki lain.
"Sari."
Luhan tersenyum lebar saat mendapati Sari tengah duduk sendiri tanpa seorang pun di sisinya. Luhan langsung duduk di sampingnya begitu tiba.
"Apa lagi, sih?" tanya Sari tanpa menoleh, dia sudah jengah dengan Luhan hingga tak punya energi lagi hanya untuk dihabiskan buat meladeninya.
"Di belakang lo itu apaan?"
"Apa sih." Meski bereaksi jutek seperti itu, Sari tetap menoleh ke belakangnya hanya untuk menatap udara kosong. Sari menatap Luhan dengan datar setelah. "Sayang banget. Gue nggak takut hantu-hantuan."
"Sayap." Luhan berkata begitu. "Sayap lo aduh terlalu membentang dan berkilauan. Gue jadi silau." Luhan berakting seolah Sari punya sayap. "Coba di tutupi dulu, jangan dipamerin—"
Buag! Mulut Luhan langsung dibungkam oleh kepala tangan Sari.
"AW!" jerit Luhan refleks.
Kemudian, mereka berdua saling diam. Luhan dengan kesakitannya dan Sari dengan kekesalannya. Luhan sengaja menahan suaranya untuk keluar karena jika dia berisik lagi, kemungkinan besar Sari akan menyakitinya lagi, memukulnya lagi.
"Mau pulang bareng nggak?" tanya Luhan tanpa basa-basi.
"Ada Deon." Sari membalas tanpa berpikir panjang.
Hati Luhan terasa robek. "Seneng banget kayaknya dianterin mulu sama cowok."
"Urusannya sama lo apa?" tanya Sari tak suka.
"Yah, nggak ada sih. Ah, belum, maksud gue." Luhan tersenyum miris. Kemudian dia melepaskan jam tangannya. "Gue mau titip jam lagi, ya. Soalnya jaga-jaga kalau ada yang kram nanti di kolam."
"Hm."
"Lo pake, ya."
Luhan memakaikan jam tangannya di tangan Sari lagi seperti hari-hari kemarin.
"Thank you." Luhan senang karena Sari tak menolak permintaannya. Luhan tersenyum lebar. "Cantik banget kalau dipake sama lo."
Setelahnya, Luhan pergi dari hadapan Sari dengan langkah berat. Luhan masih tak rela meninggalkan Sari bersama anak-anak taekwondo. Apalagi saat Luhan berjalan mundur, Sari tampak meluruskan pemandangannya pada Deon.
Sial. Luhan tak tahan jika harus seperti ini. Dia berjalan lagi ke arah Sari, batal untuk pergi.
"Sari!" seru Luhan tak lama setelah kepergiannya terasa.
Otomatis Sari menoleh ke arah kedatangan Luhan dengan kening mengerut. "Mau ada apa lagi, sih?"
__ADS_1
"Gue mau titip gelang juga, nih." Luhan segera melepaskan gelang dari pergelangan tangannya. "Kelupaan tadi." Kemudian memakaikannya pada pergelangan tangan Sari. "Ini gelang kenang-kenangan gue sama Borobudur. Jangan diilangin, ya. Oh, soal gelang yang kemarin, lo simpen aja dulu. Nggak apa-apa."
Sari membuang napas panjang-panjang.
"Sabar, sabar, sabar." Sari menipiskan bibirnya saat melihat pergelangan tangannya jadi penuh dengan jam tangan. "Amal baik pasti berujung pahala. Oke, gue akan jaga baik-baik, Han."
"Oke sip. Thank you again." Luhan tersenyum lebar dan melambaikan tangannya. "Bye!"
Setelahnya, Luhan kembali berbalik pergi. Kini, benar-benar pergi karena Sari menatapnya sampai laki-laki itu hilang di belokan pintu keluar.
"Cowok aneh." Sari tersenyum meledek. Kemudian, dia tertawa sendiri karena merasa lucu. "Ya, setiap saat juga itu cowok emang suka berlaku aneh-aneh. Kenapa heran sih, Sari? Ck. Ck. Ck. Ck."
Sebenarnya, tugas Sari terbilang mudah. Dia hanya mengawasi atlet taekwondo berlatih dengan baik dan tak ada masalah. Setelahnya, Sari akan memberi masukkan pada mereka tentang perkembangan dari setiap harinya.
Seharusnya bisa berjalan dengan lancar saja, jika fokus Sari tak kembali pecah karena kedatangan Luhan.
"Sayang bebeb cinta Sari!" seru Luhan saat bahkan dia baru masuk ke ruangan latihan ini. Kedatangannya menyita perhatian orang-orang sesaat
"Huuuuuuuft." Sari hanya bisa membuang napas panjang-panjang saat Luhan kini telah berada di dekatnya. Sari menatap Luhan dengan wajah tak mengerti. "Kenapa lagi lo?"
Luhan menunduk sambil memegang kedua lututnya. Napasnya satu-satu dan ada tetes keringan menghiasi beberapa bagian wajahnya. "Hadeuh, capek."
"Ngapain sih?"
"Abis lari gue. Pengen cepet-cepet ...." Luhan berkata disela napas tersengal-sengalnya. Kemudian, dia berdiri tegak kembali. "Pengen cepet-cepet ini ... oh, ini."
Luhan menggerakkan kedua tangannya ke belakang lehernya.
"Ngapain sih?" tanya Sari lagi-lagi dengan wajah bingungnya.
Luhan hanya tersenyum. Kemudian, dua menunjukkan tangannya yang ternyata memegang sebuah kalung perak dengan liontin bulan sabit yang baru saja dia lepaskan dari lehernya. "Gue mau titip kalung berharga gue. Jangan sampai ilang karena itu pemberian dari Ibu gue. Oke?"
Sari menatap Luhan tak habis pikir. Sebenarnya apa yang diinginkan Luhan?
"Pake, ya?" Luhan tak mengindahkan wajah bingung Sari.
"Lo pikir gue tukang titip barang?" tanya Sari kesal juga akhirnya.
"Gue nggak punya orang yang bisa gue percaya sebesar lo di sini." Luhan cemberut sedih. "Kalau gue pake kalung ini, takutnya kecopot pas di air atau gimana gue. Gue takut ilang. Soalnya gue mau ikutan renang."
Kening Sari mengerut tajam. "Kok ikutan renang?"
"Iseng dong, he he he. Kalau liatin doang dari pinggir bosen banget." Luhan tertawa tanpa dosa, berharap Sari akan luluh dengan wajah polosnya ini.
"Ck. Yaudah, sini."
Dan benar. Sari luluh juga akhirnya. Luhan tersenyum senang. Kemudian, dia mendekatkan diri pada Sari untuk segera memasang kalung peraknya ke leher Sari. Luhan menyingkap rambut belakang Sari sedikit saat dia menyatukan penyambung kalung peraknya itu.
Hari Luhan berdebar-debar tak seperti biasanya saat dia berada sedekat ini dengan Sari dan memakaikan kalung padanya seperti sepasang kekasih.
Sepertinya Sari tak merasakan apa-apa karena saat Luhan menjauhkan diri dari perempuan itu, wajah Sari masih datar seperti biasa.
"Wah, tumben baik." Luhan tertawa kecil. Tanya menyangka Sari akan sebaik ini hari ini.
Wajah Sari jadi tajam. "Mau dibaikkin atau gimana, nih?"
"Ya dibaikkin lah, jelas." Luhan menjawab dengan cepat dan tanpa malu-malu. "Kalau bisa ya, disukain, terus disayangin."
Mata Sari sudah melotot dan siap untuk menjadikan tubuh Luhan samsak saat Luhan sadar bahwa kini dirinya berada dalam bahaya.
__ADS_1
"Kabur!" seru Luhan seraya berlari untuk menghilangkan diri dari hadapan Sari secepat mungkin.
***