
"Bingung kenapa?" tanya Theo jadi bingung.
"Kemarin lo baik banget, sekarang rasanya jahat banget ke gue." Lili mengatakan dengan jujur apa yang dirasakannya. "Kadang gue berpikir lo Itu butuh gue, tapi sekarang kayak nggak butuh banget. Gue bingung karena itu. Sebenarnya ... lo mau gue gimana?"
Theo terdiam sejenak. Dia seperti tak menemukan jalan keluar untuk pertanyaan Lili. Hingga akhirnya dia menjawab, "Gue cuma jaga jarak sama lo. Gue bikin batas supaya lo tetap aman."
Theo tak menginginkan Lili untuk jauh, juga tak menginginkan Lili untuk terlalu dekat. Di mata Lili, Theo menginginkan yang terbaik untuk keselamatan Lili yang sebenarnya agak Lili ragukan.
Bahaya seperti apa yang dimaksud Yohan dari seseorang sebaik Theo?
Awalnya laki-laki itu memang dingin. Namun, jika telah mengenal lebih lama dan menjadi dekat, Theo adalah pribadi yang perhatian dan penuh perhitungan.
"Lo peduli kalau begitu." Setidaknya Lili bisa tersenyum karena jawaban itu. "Gue seneng."
"Karenanya, gue nggak mau kita jauh-jauhan padahal saling peduli." Lili langsung menambahkan. "Ya, pokoknya, kalau ada apa-apa cerita sama gue. Meski gue nggak bisa bantu, setidaknya gue bisa mendengarkan dan menyemangati lo."
Theo masih bingung untuk membalasnya saat Lili menepuk lengannya dengan ceria. Senyumnya berkembang lebar hingga mata dibalik kaca mata bulatnya itu menyipit membentuk bulan sabit.
"Yaudah. Dadah!" pamit Lili kemudian.
***
Kak Jae : film mau selesai, nih. Tinggal diedit. Kalau lo mau tau
Senyum Lili terkembang lebar saat menerima pesan itu. Baru saja dia mau membalas, tahu-tahu Jae mengirimkan pesan lagi padanya.
Kak Jae: lagi di mana?
Aduh, Kak Jae mau ngapain?
Kak Jae: ke kantin nggak? Aku mau traktir para cameo, nih
Pipi Lili langsung terasa menghangat. Waktu bel istirahat berbunyi, Gema ada urusan dulu di toilet. Jadi Lili menunggu dulu di kelas, tak langsung ke kantin seperti biasanya.
Namun, karena Jae mau mentraktir dirinya, secara otomatis kali Lili melangkah menuju kantin. Dia mendadak lupa dengan keberadaan Gema dan celingukan di kantin, mencari-cari keberadaan Jae yang jauh lebih penting baginya.
__ADS_1
Senyum Lili mengembang lebar saat menemukan Jae tengah duduk di salah satu meja kantin. Meja itu masih kosong, hanya ada Jae seperti. Buru-buru, Lili menghampirinya.
"Waw, cepet banget nyampenya," kata Jae dengan tawa kecil ketika melihat kedatangan Lili. Lili hanya tersenyum tipis. "Ayo, duduk."
"Iya," balas Lili agak canggung. Dia duduk di depan Jae kemudian. Kakinya terasa seperti jeli saat menyadari bahwa dia hanya berdua dengan Jae dan jarak mereka sedekat ini.
Jae terlihat tampan dengan baju batik sekolahnya. Ah, setiap hari juga Kakak kelasnya ini selalu mempesona. Dengan gaya rambut yang mengekspos seluruh kening mulusnya, Jae selalu merefleksikan seseorang yang disiplin. Bajunya begitu rapi.
Semuanya sempurna bagi Lili.
Tak pernah Lili bayangkan sebelumnya bahwa dia akan satu meja di kantin bersama Jae. Apalagi hanya berdua seperti ini.
Lili berharap para cameo yang lainnya tidak datang saja.
"Yang lainnya mana, Kak?" tanya Lili bersifat formalitas.
Jae turut celingukan. "Aku udah kasih tau mereka, tapi nggak pada bales. Lucunya, cuma kamu yang nyaut."
Lili tertawa malu-malu.
Mata Lili langsung berbinar senang. "Oke, Kak."
"Biar aku yang pesenin," kata Jae seraya bangkit dari duduk.
"Eh!" Lili merasa tak enak dan langsung berdiri. "Aku aja, Kak. Nggak enak."
"Nggak apa-apa. Kamu duduk aja," balas Jae menolak pengajuan diri dari Lili. "Mau pedes atau nggak? Jangan pake apa-apa gitu nggak?"
"Paket komplit. Sambel dua sendok aja."
"Oke." Jae menyunggingkan senyum lebar. Senyum yang sejenak membuat Lili lebur dalam lautan marshmellow.
Lili bersyukur cameo yang lainnya tidak datang. Namun, justru karena hanya berdua, Lili merasa sangat gugup. Disela dia menunggu kedatangan Jae kembali, Lili memainkan ponselnya asal-asalan.
Entah itu membuat Wetfed yang rasanya sudah berdebu, membuka IG untuk mengecek jumlah followers miliknya, memainkan game kucing atau sekedar menggulir-gulirkan layar ponselnya entah untuk apa.
__ADS_1
"Pesanan datang." Suara Jae tahu-tahu terdengar tepat di samping telinga Lili. Sehingga waktu dia menoleh, wajah bagian samping Jae yang luar biasa tampan itu menyambut mata Lili.
Ya ampun, segarnya ciptaan-Mu.
Waktu seperti berperan jahat. Hanya satu detik bagi Lili dapat melihat Jae super dekat itu. Setelah meletakkan mangkok bakso Lili, Jae duduk di depan Lili dengan satu mangkok baksonya sendiri.
Lili tersenyum tipis. "Makasih, Kak."
"Yoi."
Jae segera menyeruput mie miliknya. Lili memandangnya tanpa berkedip. Ketika mengunyah, lesung pipi Jae tampak.
Memang ada ya laki-laki yang bisa mengalahkan manisnya Jae? Lili bertanya dalam hati.
Mungkin Lili akan lupa pada mangkok baksonya sendiri jika Jae tak menatapnya dengan heran kemudian menegurnya.
"Kok nggak dimakan?" tanya Jae.
"Oh." Lili agak kikuk. Kemudian segera mengaduk-aduk kuah baksonya. "Mau, Kak. Tadi baca doa dulu, hehehe."
Jae hanya tersenyum.
Hati Lili tiba-tiba seperti mentega yang dipanaskan. Meleleh dengan hangatnya. Senyum itu rasanya bisa membuat Lili kenyang tanpa dia harus makan baksonya.
Menunduk, Lili mulai memakan baksonya. Dia tak mau kepergok Jae lagi atau nekat memerhatikannya hanya untuk melupakan kembali mangkok baksonya.
Di depannya, Jae menatapnya dengan senyum simpul. Kemudian fokus menghabiskan isi mangkok baksonya karena perutnya telah lapar.
Hanya makan berdua, namun hati Lili sangat bahagia seperti baru saja memenangkan satu ton emas.
Di sisi lain kantin, Gema yang duduk sendirian karena ditinggal begitu saja oleh Lili menatap meja Lili dan Jae dengan pandangan penuh amarah tertahan. Sementara itu, dari mejanya, Theo menatap Lili dengan senyum tipis.
"Bau hati kebakar api cemburu," celetuk Ten saat menangkap ke mana arah pandang Theo sejak tadi.
Theo menatap Ten dengan datar, sudah siap mengangkat sedotannya. Ten menangkap itu, langsung sadar dan menutup mulutnya rapat-rapat dengan wajah khawatir dan menyesal.
__ADS_1
***