
"Btw, lo pada mau lanjut kuliah ke mana?"
Pertanyaan itu seperti petir yang menyambar langit biru secara tiba-tiba bagi Eza, mengguncang dan mengejutkan. Pertanyaan itu seperti kaca kusam saat tak punya kanebo bagi Ily, membuat buram dan bimbang. Pertanyaan itu seperti ombak di tengah laut malam yang tenang bagi Elvan, membuatnya merasa mati rasa dan kedinginan.
Raihan yang menyuarakannya, seseorang yang telah punya tujuan mantap dan tekad kuat untuk mewujudkannya.
Melihatnya ketiganya diam dalam arti yang membuatnya sangat bingung serta takut salah kata-kata, Raihan segera terkekeh canggung. "Jangan bahas itu, deh. Gue--"
"Bingung." Ily memotongnya, bersamaan dengan Elvan dan Eza yang menjawab berbarengan. "Nggak lanjut."
"Lo sendiri mau lanjut ke mana?" tanya Eza langsung.
Raihan membulatkan matanya. Terlalu terkejut atas perubahan drastis Eza, Elvan, begitupula dengan Ily. Mata mereka berubah penasaran dan semangat.
"Lo dulu kan ranking satu mulu, ****. Pasti mau jadi dokter 'kan?" tebak Elvan asal. Setelah berpikir sedikit tentang masa kecil mereka dahulu.
Ily ikut tersenyum atas pertanyaan Elvan, melihat Raihan dengan mata berbinar. "Pasti, ya?"
Raihan menggaruk tengkuknya dengan ringisan malu. "Udah pasti, sih. Tapi bukan jadi dokter."
"Lah? Jadi apa dong? Lo kan masuk IPA di SMA 28," kata Elvan heran.
"Lah? Lo tau dari mana gue sekolah di sana? Padahal, gue nggak pernah bilang ke lo pada," balas Raihan, justru fokus pada hal lain.
Eza berdeham canggung. Melirik Elvan dengan pandangan penuh arti dan Elvan mengangguk paham melihatnya. Elvan menatap Raihan lagi beberapa saat kemudian.
"Eza kan stalking IG lo kemarin, waktu dia cerita tentang lo yang baru-baru ini ketemu," lapor Elvan polos. Eza dibuat melotot karenanya, kemudian langsung menepuk pundaknya dengan kesal.
"Bodoh!" seru Eza dengan telinga memerah.
"Aduh, senangnya punya stalker," kata Raihan senang. "Nggak nyangka, sih. Kalian masih peduli."
Ily tertawa. "Ya, lo sih ke mana? Kok lost kontak gitu?"
__ADS_1
"Gue juga nyesel, sih, lupa sama kalian. Tapi kalau takdir, ya, gue bisa apa? Yang penting sekarang kita udah kumpul lagi, udah ketemu lagi, seneng-seneng, sedih-sedih bareng-bareng lagi," balas Raihan tenang. "Gue mau lanjut hukum di UI."
"UI? Sama kayak Ily, dong," balas Eza semangat. "Bisa barengan lagi. Cie."
Ily menepuk punggung Eza dengan kesal dan telinga perlahan memerah. "Gue belum yakin!"
"Gue yakinin, deh. Kita bareng-bareng aja, gimana?" Raihan mengajak dengan senyum yang bisa membuat hati Ily meleleh seandainya hati tersebut terbuat dari mentega.
"Cie," goda Elvan seraya menepuk punggung Ily dengan gemas. "Cie, cie. Diajakin Abang Raihan, tuh. Pasti mau."
"Jangan malu-malu, Ily. Jijik, ih," ledek Eza ketika melihat wajah polos Ily yang kebingungan dan malu-malu.
Ily menatap Eza dan Elvan dengan wajah masam. "Lo berdua nggak bisa, ya, sehari aja bikin gue nggak kesel? Bisa nggak diem aja gitu, kalem, kayak orang-orang biasanya?"
"Kita luar biasa, Ly," balas Eza masih sama saja. Tak menghiraukan keluhan kesal Ily. "Ya, nggak, Van?"
"Yoi."
"Ayo! Gue jadi makin semangat kalau ada temen, apalagi yang kayak lo," tukas Raihan antusias.
"Gue juga agak males kalau belajar sendiri. Entah kenapa, ya, waktu udah lulus, gue jadi gini. Kayak nggak semangat lagi buat kejar cita-cita. Pengennya rebahan aja, gitu. Nonton film, ngemil, tidur, ah, surga dunia."
"Dasar," tukas Raihan seraya tertawa kecil.
"Sekarang harusnya lo semangat lagi, kan udah ada penyemangat, cie," goda Eza lagi-lagi.
"Cinta pertamaku sudah datang kembali, nih. Senangnya," tambah Elvan dengan suara diimut-imutkan seolah dia adalah Ily yang sedang menyuarakan perasaannya.
Ily mendelik. "Apasih, lo berdua?!"
"Cinta pertama?" tanya Raihan penasaran. Ia baru pertama kali mendengar ini. "Gue? Cinta pertama lo, Ly?"
Sudah basah, Ily memutuskan untuk menyebur saja. Dengan malu yang ditahan habis-habisan, Ily mengutarakan kebenarannya.
__ADS_1
"Cinta monyet. Lo tau kan, perasaan anak kecil. Iya, lo cinta pertama gue. Ya, lo bayangin aja. Siapa lagi yang ganteng waktu SD?"
Raihan menahan tawa bahagianya.
Ily menatap Elvan dan Eza dengan pandangan jijik penuh benci. "Kalau dua curut ini sih nggak usah ditanya lagi. Mau seganteng apapun, gue nggak akan suka karena tau gimana kelakuan bejatnya. Diantara tiga yang dekat sama gue, jelas gue pilih lo, Han."
"Lucu juga, ya," kaya Raihan tersanjung. "Jadi kangen waktu dulu."
Eza menjentrikkan jarinya, setuju. "Gue juga! Kangen Natasya, sih. Dia sekarang di Aussie ngapain, ya?"
"Heh, ngimpi lo. Natasya itu ibarat diamond, sementara lo cuma batu kali. Aduh, jangan ngarep tinggi, dong," semprot Elvan pedas.
Mata Eza membulat sempurna. "Lo nggak tau masa depan gimana. Setelah gue jadi penyanyi sukses, lo bakal tarik kata-kata lo itu."
"Apa?" Elvan langsung mengernyit. Setelah mencerna baik-baik perkataan Eza. "Lo mau jadi penyanyi?"
Eza menipiskan bibirnya. Ia mengirim sinyal pada Ily sebaik mungkin dengan matanya, namun Ily tampaknya tidak peka dan justru membeberkan segalanya.
"Dia udah fix mau jadi musisi, Van. Kita dukung aja mau Eza. Sebagai teman, itu sudah seharusnya dilakukan. Apapun maunya, teman itu mendukung asal maunya itu hal positif. Setuju?" Ily menepuk pundak Elvan yang masih terkejut.
Awalnya, Eza kira Elvan akan menertawakannya dan mengejeknya, namun nyatanya tidak. Temannya itu justru menepuk pundaknya satu kali dengan senyuman bangga bak saudara laki-laki.
Membuat hati Eza menghangat dan bahagia.
"Selamat berjuang, Za. Lo keren." Kemudian wajahnya penuh kelam dan senyuman pahit. "Nggak kayak gue. Gue iri sama lo. Ah, sama kalian juga, Ly, Han."
****
**gimana? gimana?
ya, semoga terhibur dengan chapter ini dan ini dia penampakan Yohan**.....
__ADS_1