
Elvan, Eza dan Yohan sama-sama menatap bingung kotak pizza di pangkuan masing-masing. Ini kado dari Ily, mereka tak bisa menebak apa isinya sampai kemudian membukanya dengan ekspresi bingung serupa.
Elvan diberi sebuah baju peri kecil lengkap dengan sayap dan bando yang pastinya membuat anak perempuan yang melihatnya akan menyukainya.
Namun, Elvan bukan anak perempuan. Dia laki-laki dan sudah dewasa.
Keningnya mengernyit dalam-dalam. "Kenapa Ily ngasih beginian, ya? Emangnya gue banci?"
"Lo dikasih apa?" Eza langsung mengintip sebelum Elvan menutup kotak pizza miliknya dan saat melihat baju peri serba putih dengan sayapnya, Eza tertawa ngakak. "*****, cocok banget buat lo tuh. Jadi Mimi Peri sekalian."
Yohan turut tertawa. "Lo dikasih baju peri, Van?"
Sudah terlanjur ketahuan dan dipermalukan, Elvan mengangguk kesal. "Iya. Aneh-aneh banget deh itu anak. Untung ini dari Ily, kalau bukan udah gue buang aja deh."
"Lah, kenapa?" Yohan bertanya heran. "Buat kenang-kenangan padahal."
"Kalau gue jadiin ini kenang-kenangan dan di bawa ke rumah, apa kata ibu sama nenek gue?" Elvan membalas ngeri. "Yang ada gue disangka punya anak lagi. Punya pacar aja nggak, boro-boro ada anak."
Eza menepuk pundak Elvan dengan prihatin. "Makanya, cari."
"Bacot lo, ah." Elvan membalas kesal, kemudian mengangkat baju peri untuk anak kecil itu dengan pandangan sulit diartikan. Antara jijik, ngeri, bingung dan malu. "Kecil banget, ****. Berarti bukan buat gue pake."
"Eh, Van, ada kertasnya tuh!" seru Eza saat melihat ada secarik kertas di kotak pizza yang telah diambil baju perinya itu.
Yohan turut melihatnya saat Elvan mengambil kertas itu dan membukanya. Ada tulisan Ily di sana. Sangat panjang.
"Bacain dong," pinta Eza penuh harap. Senyumnya terulas tipis. "Penasaran gue."
"Nih, baca aja sendiri," kata Elvan seraya meletakkan kertas bertuliskan tangan Ily di tempat yang bisa terlihat oleh Eza dan Yohan.
**Hai, sepupuku yang sangat aku rindukan.
Lama banget kita nggak ketemu, entah buat berantem atau ngobrol seru.
Gue menyayangkan keputusan lo buat pergi, tapi semuanya udah terjadi dan gue nggak bisa memutar waktu supaya lo tetap tinggal sama gue dan Eza.
Intinya, sekarang lo udah balik. Gue seneng dan bahagia, makasih, Van.
Lo tau kan, lo Itu sepupu yang paling gue sayangi dari yang lainnya. Jelas, karena lo seumuran sama gue dan kita nyambung jadinya.
Lo udah kayak temen, udah kayak pacar, udah kayak orang tua buat gue, Van. Meski sikap lo kadang super super nyebelin, tapi lo mewarnai hidup gue, Van.
Geli banget nulisnya, tapi gimana lagi.
Lo kayak peri di hidup gue, Van.
__ADS_1
Peri itu adalah sebentuk yang memberi kebahagiaan, mengabulkan keinginan dan harapan-harapan serta melindungi kehidupan manusia. Di film-film peri berbentuk putih dan punya sayap, karenanya gue bikin baju itu buat menyimbolkan lo sebagai peri, Van.
Mungkin peri itu cuma mitos atau dongeng, tapi gue percaya peri itu ada karena gue ketemu lo, Elvan
Jangan dipake karena nggak bakal muat, anggap aja kado gue buat baby shower anak lo di masa depan hehehehe
:*
Ilyssa Devania**
Eza menyusut air matanya yang tiba-tiba luruh. "Penuh cinta banget suratnya, Van."
Jika Eza menangis, Yohan justru menatap kotak pizza-nya yang awalnya dia malu untuk terus dibuka seperti yang Elvan lakukan. Yohan mulai berpikir dengan senang hati sekarang, apakah akan ada surat cinta serupa dari Ily?
Di tempatnya, Elvan pun termenung dengan mata berkaca-kaca karena terharu.
"Gue peri katanya, Za," kata Elvan dengan haru membuncah. "Gue peri katanya. Hahahaha, gue juga geli, tapi rasanya bangga dan seneng banget."
Eza tertawa kecil, setuju atas perkataan Elvan. Kemudian dia membuka kotak pizza-nya yang semula ingin dia sembunyikan dari dunia karena malu.
Saat turut melihat isi kotak pizza milik Eza, Elvan dan Yohan tak kuat untuk tak tertawa.
"Hahahaha, dikasih baju rombengan ala Hawai!" Elvan yang pertama mengejek. Dia membayangkan Eza memakai itu dan menari-nari seperti penari Hawai. "Gila, cocok banget!"
Eza menahan malu, kupingnya sudah memerah saat mengangkat sebuah baju ala kenari Hawai yang khas dengan rok rombengannya. Rasa malu itu segera terhapus oleh senyum senang karena ada sebuah kertas yang serupa dengan Elvan dalam kadonya.
"Iya," balas Eza seraya dengan cepat membuka kertas itu dan membacanya.
Karena posisinya ada di tengah Elvan dan Yohan, maka ketiganya sama-sama membaca tulisan Ily Itu dalam hati.
**Halo, Eza sabahatku sayang
Dari kecil, lo emang udah ada bakat buat jadi figur publik, Za. Nggak heran sekarang lo jadi musisi terkenal yang udah konser di mana-mana dan mungkin ke depannya lo bakal punya perusahaan pencetak bintang-bintang baru kayak lo
Gue nggak tau banyak tentang kesukaan lo karena lo kayak suka sama semuanya. Lo selalu ketawa, lo selalu terlihat bahagia, tapi itu kadang membuat khawatir, Za
Apa lo penjelmaan dari penari Hawai yang gue liat di TV?
Aneh, ya? Tapi jujur, waktu gue liat mereka nari sambil diiringi musik dan senyum lebarnya mengingatkan gue sama lo.
Lo suka musik dan suka senyum. Kalau sambil nari juga, pasti bagus
Tapi, gue nggak mau maksa lo buat nari juga kayak idol Korea kebanyakan
Gue cuma membuat metafora lo dengan penari Hawai. Yang selalu senyum, diiringi musik dan menari indah.
__ADS_1
Gue pengen lo selalu begitu, Za. Tapi kalau lo ada masalah, ya harus cerita juga, jangan pura-pura nggak apa-apa dengan senyuman atau tarian
Jangan dipake juga bajunya, nggak bakal muat. Anggap aja ini hadiah baby shower gue kalau lo udah ada nanti di masa depan.
Yaudah dadah, :*
Ilyssa Devania**
"Bagus, Ly," tukas Eza lagi-lagi menitikkan air matanya. Hatinya benar-benar tersentuh. "Makasih. Kalau gue nggak ketemu, gue nggak tau bakal jadi apa sekarang."
Elvan menepuk-nepuk punggung Eza dengan pelan, menenangkannya. "Gue juga deh, Za. Ily Itu bener-bener, deh."
Ketika mereka berdua sedang larut dalam harunya, Yohan membuka kotak pizza miliknya. Ada baju cheerleader berwarna pink dan putih yang sontak saja membuat Eza dan Elvan yang melihatnya tertawa keras.
"Aduh, bakal ketat banget itu." Eza berkata. "Coba paket, Yohan. Kayaknya muat, deh. Hahahahaha."
"Iya, bener tuh," tukas Elvan setuju.
"Ukurannya nggak kayak punya gue atau Eza yang hanya muat di anak kecil. Itu ukuran dewasa, Yohan. Coba pake."
"Kenapa harus baju kayak begini sih?" Yohan mendelik tak suka, kemudian menyingkirkan baju ala cheerleader itu untuk menemukan sebuah kertas yang serupa dengan yang ditemukan Eza dan Elvan.
Tanpa lama, Yohan mengambil dan membukanya untuk dibaca bersama-sama lagi seperti bagaimana surat yang diterima Elvan dan Eza. Tulisan Ily hanya sedikit di surat untuk Yohan, berbeda dengan surat sebelumnya.
**Yohan, kamu tau arti kamu untuk aku?
Kamu kayak baju itu.
Selalu menyemangatiku, bersorak untukku, mendukungku dan melakukan aksi yang membuat hatiku seperti ladang pentas kembang api.
Terimakasih karena telah ada untukku, ini hadiah dariku karena kamu sangat berarti seperti baju cheerleader itu.
Suatu hari, aku mau berfoto sama kamu dengan pakai baju itu. Pasti lucu, ya
Salam, Ily**.
Eza mengerjap heran saat selesai membacanya. "Nggak sebagus isi surat gue atau Elvan. Gue kira bakal romantis banget gitu. Lo disuruh pake, tuh."
Yohan menipiskan bibirnya. Menahan rasa malu untuk setelahnya mengemasi baju cheerleader Itu dan pergi dari studio musik Eza tanpa pamit.
"Hei, pake dulu bajunya, Yohan!"
"Gue juga mau foto bareng lo pake itu dong, hahahaha!"
****
__ADS_1
gimana menurut kalian?