
Masih belum terjawab pertanyaan itu saat pelajaran terakhir akan dimulai. Pak Toto, guru matematikanya baru saja masuk dan mulai membuka buku paketnya.
Theo memang punya tatapan tajam dan misterius, namun laki-laki itu tidak memperdulikan bahwa kemarin Lili kepergok sedang melihatnya sedemikian rupa. Theo juga terlihat tak peduli dengan Lili saat di perpustakaan, namun jelas sekali Theo kelihatan sadar dirinya diamati Lili.
Lili sudah pusing sendiri saat tiba-tiba sebuah penghapus papan tulis melayang ke arah meja Theo, kemudian berakhir di kepalanya.
Theo yang awalnya tertidur, langsung menegakkan tubuhnya dan menatap Pak Toyo dengan malas.
Mata Lili melotot, sama dengan yang lainnya, Lili terkejut dan menjadi tegang karena sepertinya akan ada pertumpahan emosi dari Pak Toto pada Theo.
"Theori Phytagoras! Sini kamu ke depan!" seru Pak Toto dengan mata melotot marah. "Tidur mulu kerjaannya! Saya lagi mengajar ya, harusnya kamu memerhatikan! Sini ke depan, perhatiin saya dari dekat!"
Theo mendengus kecil. Tanpa mendebat, dia berjalan ke depan, menghadap Pak Toyo dengan berani.
"Sana berdiri di ujung papan tulis!" seru Pak Toto.
Theo menurut. Dia bisa saja kabur, namun tak mau mendapat cap merah lagi sehingga sulit baginya untuk dapatkan nilai bagus. Theo berdiri di depan kelas, di sebelah papan tulis dengan wajah datar.
Sementara itu, Pak Toto lanjut menjelaskan dengan nada marah. Hal ini membuat anak-anak jadi fokus karena takut. Namun, beda dengan Lili. Anak perempuan berkacamata bulat itu justru memerhatikan Theo lekat-lekat.
Lili meneliti ekspresinya. Lili mengerutkan keningnya, kenapa bisa wajah Theo selalu datar? Tanpa diduga, Theo balas menatapnya. Lili membeku, namun tak langsung mengalihkan pandangannya karena mata hitam Theo seolah melarutkan Lili di dalamnya.
Lili tak pernah bertatapan seperti ini dengan laki-laki. Apalagi Theo.
"Hei, Lili Kimchi!"
"Lili!"
"Kimchi!"
Duk!
"Aw!" ringis Lili saat menerima lemparan penghapus dari Pak Toto. "Eh, penghapus?!" Lili berdiri panik. "Eh?" Matanya makin melotot saat melihat wajah marah Pak Toto. "Eh?"
"Eh, eh, eh, eh!" seru Pak Toto meledek Lili. "Sini kamu! Main tatapan-tatapan aja sama ini Theori Phytagoras, bukannya perhatikan saya! Sini kamu Kimchi, ke depan! Berisi bareng Theori Phytagoras!"
Mata Lili melotot. "Eh, Pak?"
"Sini! Mau cap merah?"
Lili menipiskan bibirnya. Dengan lesu, dia berjalan ke depan kelas, kemudian berdiri di samping Theo.
Anak kelas di depannya menatap Lili dengan prihatin. Ada juga yang iri karena Lili bisa berdiri di samping Theo, namun terlalu takut untuk melakukan hal yang sama.
Lili cemberut, membenarkan letak kaca mata bulatnya saat Theo tahu-tahu berbisik pelan sekali.
"Lo ngikutin gue?"
Lili salah tingkah. "E-enggak, tuh. Ge-er banget lo."
"Jangan ngikutin gue." Theo kembali berbisik, di antara lantangnya suara Pak Toto yang terus menjelaskan materi. "Bahaya."
__ADS_1
***
Gema: hahaha kocak
Begitulah tanggapan Gema saat Lili menceritakan kesialannya saat melakukan riset pada Theo ketika malam telah menjemput dan Lili baru saja makan malam bersama keluarganya.
Lili: besok kira-kira gue dapet apa lagi, *****
Gema: sabar, lah, resiko jadi penulis yang bukunya best seller nih!
Lili: semoga hahaha
Lili: eh, tapi Theo udah nyadar tau, dia gue jadiin riset
Lili: masa dia bilang gini, "Lo ngikutin gue, ya?"
Gema: wadidaww, terus gimana?
Lili: gue jawab, "Nggak, tuh. Ge-er banget lo."
Gema: terus-terus?
Lili: lama-lama jadi tukang parkir lo
Gema: ha ha ha dan ha
Lili: terus dia bilang gini, "Jangan ngikutin gue. Bahaya."
Gema: jangan ngerendahin gitu nanti kualat
Lili: tuh orang cuma kumpul sama dua orang yang nakal, ya ... nakalnya sih biasa aja menurut gue, terus dikelas juga penurut banget sama Pak Tota. Ya kali yang begitu Bad Boy?
Gema: dia belum tujunkin jati diri, Li. Liat aja seminggu ke depan. Apa dia punya rahasia gelap?
Lili: gue doain semoga ada deh, kalau nggak sia-sia gue riset dia
Gema: pasti ada sih, kalau menurut gue
Gema: pernah kan Theo nggak sekolah satu minggu? Nah, dia ngapain aja tuh?
Lili: hm ... iya kah? Setau gue Kak Jae jarang absen:)
Gema: -_
Tiba-tiba ada telepon masuk dan membuat Lili segera mengangkatnya setelah membaca sederet display name sang penelepon.
Imelda Maurin. Tetangga sebelah dan sahabat sejak Lili kecil. Sering disebut Imel dan dia adalah orang yang sudah seperti keluarga sana bagi Lili, seperti saudara perempuan.
"Kenapa, Mel?" tanya Lili langsung.
"Li, gue mau curhat, gue mau curhat, uuuuu, senengnya! Gue boleh ke rumah lo nggak?"
__ADS_1
Lili sontak memutar bola matanya dengan jengah. "Rumah gue di sebelah rumah lo kali. Masuk aja. Biasanya juga lo nggak izin dulu."
"Oh iya, bener! Begitu banget gue!" Imel tertawa di seberang saja. Tetangganya itu memang agak lemot, tapi Lili sayang padanya. Mungkin karena sejak masuk SMA, mereka beda sekolah, ikatan keduanya agak meregang meski masih saling curhat. "Yaudah, gue langsung meluncur, yaaaaaaa!"
"Haduduh, iya!"
Sambungan telepon pun terputus di antara keduanya.
Biar Lili cerita sedikit tentang persahabatannya dengan Imel.
Imel adalah tetangga sekaligus teman Lili sejak kecil. Lili yang sejak kecil menyukai baca buku, menularkan hobinya itu pada Imel. Keduanya jadi sangat dekat karena buku dan suatu hari Imel mengatakan bahwa dia ingin punya buku buatannya sendiri juga.
Lili jelas mendukung keinginan Imel itu. Setiap hari, keduanya suka bercerita tentang buku yang akan dibuat masing-masing. Saling memberi saran juga.
Waktu SMP, keduanya benar-benar fokus menulis. Imel tentang cerita dua anak yang terjebak friendzone sampai akhirnya pacaran, Lili tentang cerita anak bahagia dalam keluarga hangat, cerita tentang dirinya sendiri.
Setelah selesai, Imel dan Lili mengirimkan naskah utuh mereka ke penerbit yang sama.
Katanya, tak ada kegagalan.
Katanya, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.
Namun, Lili tak pernah merasa begitu saat naskah miliknya ditolak untuk diterbitkan, sementara milik Imel lulus dan akan diterbitkan lima bulan ke depan.
Lili merasa sangat gagal dan tak ada semangat dalam dirinya selama satu tahun berlalu. Ayah dan Ibunya sempat khawatir dan memberi banyak semangat pada Lili.
Lili sebenarnya tak menyerah, namun dia putus semangat sesaat. Ke depannya, Lili perlahan mulai menulis lagi dengan harapan naskahnya lolos di penerbit.
Sampai kini, Lili tak punya buku dan Imel sudah memiliki tiga novel best seller. Novel ketiganya akan launching Minggu ini.
Sekarang, Imel katanya punya berita yang membuatnya sangat senang. Lili tertawa hambar, mencoba tersenyum untuk menyemangati dirinya.
Apa ... apa sekarang Imel akan mengabarkan bahwa novelnya akan diangkat jadi film?
Ketika Imel tiba, tetangga sekaligus sahabat dekatnya itu segera menjawab pertanyaan dalam benak Lili dengan anggukan semangat dan super senang. Beda dengan Lili yang merasa bahunya lemas dan semangatnya yang turun sampai ke dasar.
"Woah, selamat ya Imelku sayang! Bangga deh punya sahabat sukses kayak lo!"
"Eh, lo tau apa yang bikin gue seneng lagi?" Imel bertanya semangat dengan mata berbinar.
Lili tersenyum pahit. "Apa lagi? Kenapa lo senang lagi? Gue kapan?"
Itu dalam hati Lili.
Pada kenyataannya, Lili tutur mengembangkan senyumnya dan bertanya penuh penasaran. "Woah, lo seneng kenapa lagi, Mel?"
"Gue diajak main film-nya juga, Li! Jadi peran utama, atau kalau nggak bisa, jadi second lead aja katanya! AAAAA GUE SENENG BANGEEEEETT!"
"Apa?" tanya Lili, dibuat semakin lemas saja, dibuat teramat iri namun tak bisa terang-terangan dia tunjukkan.
Bahkan saat Imel memeluknya dengan penuh haru, Lili tak membalasnya. Dia terlalu dibuat membeku dengan ketimpangan antara dirinya dan Imel yang kian waktu kian signifikan.
__ADS_1
***