Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 36


__ADS_3

"Kita belajar membuat pola dulu aja, ya," kata Bu Rima mengarahkan, sewaktu Ily telah masuk dalam butiknya pada jam sembilan pagi sesuai dengan apa yang ia minta sebelumnya.


Kemarin, Ily memang sudah bilang padanya bahwa Ily akan membantu Bu Rima mengurus butik dalam waktu yang mungkin tidak ditentukan. Rima jelas senang, dirinya tak sendirian lagi menjalankan butik ini dan kepribadian Ily juga sangat sosok dengannya.


Berbeda dengan Shasi yang cenderung agak heboh dan lumayan pemilih soal tawaran untuk membantu Rima. Shasi bilang dirinya akan kuliah di Singapore dan saat masih belum berangkat, dirinya tak mau membantu Rima dengan alasan ingin belajar saja.


Padahal, yang Rima tahu dari Raihan, pacar anaknya itu sama sekali tak belajar selama ini. Justru sibuk mengajak Raihan ke sana ke mari, yang seringnya Rima tolak karena merasa sebal.


Meski sudah beberapa kali bertemu dan berhubungan baik, Rima mulai menyimpan rasa tak suka pada Shasi meski Raihan dan Shasi sudah berpacaran hampir dua tahun. Sebenarnya mudah saja untuk meminta Raihan putus dengan Shasi, namun tentu Rima tak bisa mencampuri urusan Raihan begitu saja.


Jika memang Shasi terbukti membawa pengaruh buruk, baru Rima akan memutuskan apa yang terbaik untuk Raihan.


Sejauh ini, Shasi masih tampak normal dan baik-baik saja dalam pandangan ibu.


"Pola apa, bu?" Ily bertanya bingung, bahkan menggaruk kepalanya karena masih merasa awam dengan pekerjaan di butik ini. "Ily nggak pernah bikin pola."


"Ya, pola baju, dong, sayang," balas Rima sabar, dengan ringan menarik pergelangan tangan Ily untuk masuk ke ruangan yang terletak agak di dalam. Ruangan itu khusus untuk merancang pola dan membuat baju yang kemudian dipajang di butik ini.


Biasanya, Rima menjahit setiap malam dan merancang pola atau desain bajunya tiap siang hari. Normalnya, satu Minggu, Rima mendapatkan tiga baju baru hasil rancangannya sendiri.


"Setiap bikin sesuatu, pasti harus ada rancangannya dulu, ada polanya dulu," jelas Rima singkat.


Di ruangannya ini terdapat tiga mesin jahit, satu mesin obras, satu lemari berisi peralatan jahit, satu lemari lagi berisi gulungan bahan kasar dan satu set meja panjang beserta kursinya yang terletak di tengah-tengah ruangan. Ruangannya bersih, namun agak gelap dan terkesan dark.


Meski begitu, semuanya tertata rapi sehingga menciptakan seni tersendiri. Rima hanya mengambil satu buku sket dan pensil untuk setelahnya keluar lagi dari sana. Ily hanya mengikuti dengan patuh di belakangnya.


Rima kemudian berjalan, duduk di tempat kasir, sementara Ily mengikutinya, duduk di sebelahnya saat Rima mulai membuka buku sket berukuran A4 yang telah banyak digambarkan desain baju di dalamnya.


Saat pertama kali melihat gambaran Rima, mata Ily berbinar kagum. "Woah, ibu hebat banget. Ini bagus."


Rima tertawa tak enak, namun terselip bangga juga di dalamnya. "Nggak, ah, biasa aja ibu mah. Malah, di luar sana udah banyak banget gambar-gambar bagus tentang fashion. Segini mah cuma cetek, lah."


"Waduh, ibu, ini udah bagus banget menurut Ily," balas Ily teguh pendirian. "Udah level dewa, deh. Mantap, Bu."


"Hahaha, kamu bisa aja." Rima tertawa canggung dan melanjutkan untuk menampilkan halaman berikutnya. Yang mana terpampang jelas sebuah karya baju batik berbentuk terusan selutut dengan bunga setengah kuncup di salah satu pundaknya.


Yang ini, tak kalah membuat mata Ily seketika berbinar. "Gila, sih, bu. Ini elegan banget, udah kayak Puteri Indonesia aja!"


"Aduh, kamu ini berlebihan, ya," keluh Rima tak kuat menahan gelak tawa atas reaksi yang diluar dugaannya atas Ily. Rima mencubit pipi Ily dengan gemas. "Uuuuuccccchhhhhh, deh!"


Ily meringis, merasa pipinya tertarik terlalu kuat. "A, a, a, ibu, ibu, sakit."


"Oopps, sorry," sesal Rima, segera melepaskan tangannya dari pipi Ily dan lanjut membuka halaman selanjutnya seraya menjelaskan gambar tersebut. "Nah, kalau yang ini ibu desain khusus untuk anak temen ibu yang mau nikahan kayak Korea, gitu. Pake hanbok."


"Hanbok?" Ily mendengar kata Korea dan lebih tertarik karena ingat akan sesuatu.


Ah, tepatnya seseorang.


"Iya, bentukannya nggak jauh dari sini, lah, ya," timpal Rima singkat. Menampilkan sebuah desain hanbok berwarna pink pastel dengan hiasan bunga serta ikan koi di ujung-ujung tangan, leher serta bawahnya. "Udah lama banget, sih. Sekitar lima tahun yang lalu."


Ily berdecak serta geleng-geleng kepala karena merasa amat kagum. "Gila, ibu, lima tahun yang lalu udah punya skill yang luar biasa kayak gini."


Tanpa disangka-sangka, Ily bertepuk tangan. Sebab butiknya masih sepi pengunjung dan kendaraan di luar pun belum terlalu banyak sehingga membuat lingkungan di sekitar amat hening, suara kedua tangan Ily yang bersatu itu terdengar amat jelas dan jatuhnya justru Ily sangat lebay.


Rima justru tak merasa terharu sama sekali.


Maksudnya, di mana Rima, Ily kini justru terlihat lebay alias berlebihan. Sehingga Rima gemas dan mencubit pipinya sekilas. Ily meringis kecil setelah sebelumnya terkejut sesaat. 


"Udah, ah, kamu banyak reaksi gitu. Ini ibu mau jelasin yang lainnya, kamu dengerin baik-baik. Oke?" Rima menatap Ily serius.


Ily mengangguk paham. "Siap, bosku!"


"Bagus." Rima menyunggingkan senyum lega. "Oke, jadi, ini baju waktu ada lomba fashion di mall. Ibu iseng ikutan pake model cilik. Ini gamis kekinian gitu, ada batik-batik sama kesan vintage-nya juga."


"Wah, keren."


"Hush, dibilangin jangan dulu reaksi."


"Eh, iya, maaf."


Rima mengela napas pendek. "Nah, lanjut."


"Hm-em."


"Kalau yang ini, ibu bikin buat iseng-iseng aja. Sweater batik yang suka dipake Raihan ke sekolah yang akhirnya lumayan laku pada masanya. Sekarang udah lumayan jarang yang pesen, sih. Tapi waktu itu, sweater batik ibu yang ini dapet revenue yang lumayan."


Rima membalikkan halaman dari buku sketnya lagi.


Kini mengambilkan sebuah baju formal dengan topi besar yang membuatnya tampak elegan juga kekinian. Warnanya serba hitam, namun potongan rok dan kemejanya berbeda dari biasanya hingga matanya dibuat kagum lagi.


Bagaimana bisa Bu Rima memiliki bakat dan ide cemerlang seperti ini dalam membuat desain atau rancangan sebuah baju?


Sekarang, Ily paham dari mata otak brilian Raihan.


Ngomong-ngomong tentang Raihan, sekarang laki-laki itu tengah menyiapkan ospeknya di UI dan jujur, saat mengetahuinya, Ily agak iri. Jika takdirnya bagus, mungkin sekarang Ily sedang melakukan hal yang sama dengan Raihan.


Namun, apalah waktu yang tak bisa diputar balikkan lagi sebanyak apapun manusia meminta. Yang tersisa sekarang hanya bersyukur dan menjalani hidup sebaik-baiknya.


Toh, Ily bisa mencoba lagi tahun-tahun berikutnya.


Rima menjelaskan satu persatu rancangannya. Apa perbedaannya dengan yang lain serta mengapa dirinya mengambil warna-warna tersebut untuk bajunya. Sejauh ini, Ily mulai memiliki pemahaman atas perbuatan desain baju.


Ada desain lama, desain pertengahan dan desain baru. Kebanyakan dari desain buat Rima, memakai tema desain pertengahan, di mana ada unsur tradisional dan modern dalam desainnya.

__ADS_1


Terdapat sekiranya 50 desain unik dan penuh unsur kreatif yang sudah dibuat Bu Rima dalam sepuluh tahunnya membuka butik. Ily dibuat terkejut dan terus terkesima dan setiap desain yang Bu Rima tunjukan serat jelaskan.


Hingga pada bagian akhir, Bu Rima menunjukkan sebuah desain baju pengantin yang membuat senyum Ily sedikit luntur saat mendengar penjelasannya.


"Nah, yang satu ini ibu bikin buat pacarnya Raihan." Bu Rima menarik seulas senyum seraya membayangkan siapa yang akan memakai desain baju bikinannya. "Ibu buatin yang paling spesial pokoknya."


Kan Raihan sekarang punya pacar. Pasti buat dia.


Ily tak menyuarakannya, takut ada sesuatu yang lain lagi untuk membuat senyumnya benar-benar hilang.


Rima menutup buku sketnya, kemudian membuka lagi, namun dibuka pada bagian akhir, sebaliknya dari awal tadi.


"Oke, deh, sekarang kamu coba yang bikin!" seru Bu Rima memberikan perintah secara tiba-tiba.


Mata Ily membulat. "Ih, ibu.... Ily nggak jago gambar..."


"Coba dulu, siapa tau bisa," kata Rima menekankan dengan wajah penuh tekad. "Coba dulu, Ly. Ayo."


"Tapi..."


"Kalau nggak dicoba, nggak bakal tau."


Ily cemberut, mengambil pensil yang ada di sana dan mulai berpikir seraya menarik buku sket Bu Rima. "Ily coba, deh, ya."


"Iya, silahkan."


"Eh, bu."


"Iya, Ly?"


"Ini Ily bikin ada kategorinya nggak? Atau macamnya gitu? Kayak temanya."


"Hm..."


"Biar jelas aja jadi Ily bikinnya."


"Hm," pikir Bu Rima lumayan lama. Kemudian menjentrikkan jarinya saat mendapatkan sebuah ide. "Kalau gitu, bikin yang simpel aja. Baju lebaran."


"Lebaran apa maksud?" Ily bertanya bingung.


"Itu, waktu umat Islam beres puasa, mereka suka mudik gitu buat ketemu sanak saudaranya. Biasanya, satu keluarga pake baju kembaran gitu dan itu namanya baju lebaran. Mirip-miriplah sama gamis kalau buat cewek-ceweknya, kalau buat cowok-cowoknya, mirip deh sama kemeja biasa. Cuma, suasananya islami gitu."


Ily membulatkan mulutnya. "Oh, begitu. Baru tahu hehehe."


"Soalnya bentar lagi lebaran. Dua bulan lagi kalau nggak salah. Bukan depan udah mulai puasa."


"Oh, puasa itu yang tahan makan, minum sama berkata kasar, ya?"


Rima mengangguk mengiyakan. "Nah, itu tau."


"Yaudah, sana fokus bikin desainnya dulu."


"Boleh nyontek ke desain ibu yang sebelumnya, kan?" Ily mengerjap-ngerjapkan matanya supaya Rima dapat luluh hatinya.


Rima tersenyum segaris. "Yaudah, boleh."


"Yey, asyik!" seru Ily seraya membuka kembali desain-desain Rima sebelumnya untuk ia jadikan referensi.


Selanjutnya, Ily sudah sibuk menyusun rancangannya, sementara Rima melayani pelanggan yang mulai berdatangan untuk memenuhi kebutuhannya.


Sesekali, Ily membantu saat Rima membutuhkan tenaga lain.


Sepertinya Ily tak salah memilih untuk membantu Bu Rima, karena setelahnya, ia banyak belajar hal baru. Mulai dari macam-macam gaya busana setiap tahunnya, sampai adat dan hari sakral umat beragama lain yang belum dirinya ketahui.


***


Sebenarnya bukan hal yang berat untuk Eza setiap hari datang ke kafe sana dan sini supaya mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Toh, Eza ke sana pun untuk menyalurkan bakatnya dan hobinya yang pastinya senang saat ia jalani.


Namun, kadang, hujan yang deras membuat pendengar Eza agak tak nyaman sehingga memengaruhi penampilannya.


Seperti hari ini.


Hujan terus turun sejak jam empat sore. Awalnya memang rintik-rintik biasa yang memanjakan mata dan menyejukkan hati, namun lama-kelamaan rintik-rintik hujan itu berubah menjadi butiran ganas yang memercik dan membuat berisik saat berkenaan dengan loteng kafe ini.


Namanya kafe Rasa. Terletak di perempatan jalan dan selalu ramai tiap harinya karena selain kopi serta roti enak yang disajikan dengan baik, interior estetis dengan warna pastel yang dominan membuat banyak anak muda tergiur untuk berfoto-foto atau bersantai.


Untuk dibuat instastory atau vlog, cafe ini sudah sangat memenuhi kriteria.


Apalagi ditambah musim dari gitaris super kekinian kayak Eza, sudah pasti kafe ini jadi paket lengkap.


Namun, ya, kalau hujan-hujan deras seperti ini, boro-boro gitar Eza terdengar sampai lapisan paling jauh, yang berada di tengah pun belum tentu terdengar.


Pasalnya, hujan deras ini memang seberisik itu. Apalagi ditambah petir dan gemuruh langit yang memekakkan telinga.


Jadilah, Eza diperintahkan untuk berhenti bermain saja dan pekerjaan hari ini selesai setelah Eza bermain dua jam. Hari mulai gelap dan Eza tak punya pilihan lain selain ikut nongkrong di sini seraya menatap dan mendengarkan hujan deras.


Dengan gitarnya yang sudah memakai baju, Eza duduk di kursi paling pojok yang kosong. Jika ia tak cepat sedikit, tentu kursinya ini sudah ada yang menempati karena bersamaan dengannya duduk, ada seseorang yang duduk di depannya untuk berbagi meja yang sama.


Sayangnya, seseorang yang sepertinya hendak duduk di kursi Eza, kini terpaksa berjalan menjauh karena kalah cepat dengan Eza.


Sementara itu, seseorang yang duduk di depannya ini menyita perhatian Eza. Dia perempuan, rambutnya bergelombang dan setengah basah. Sepertinya baru saja kehujanan saat melakukan perjalanan ke sini. Bajunya merah tua, sangat kontras dengan warna kulitnya yang pucat.


Wajahnya tampak seperti orang Eropa saat dia mendongak dan menoleh pada jendela yang tersemprot derasnya hujan. Sepertinya dia blasteran. Dilihat kembali dengan matang-matang, rambut bergelombang itu sedikit pirang, begitu juga alisnya yang berwarna cokelat.

__ADS_1


Matanya masih cokelat dan bibinya pucat, tampak tak terulas lipstik apapun. Iris matanya berwarna cokelat terang dan bulu matanya lentik sekali.


Eza menatap terus-menerus tanpa sadar. Dalam hati, ia benar-benar bersyukur bisa berada di dunia ini dan bertemu perempuan secantik orang yang berada di depannya kini.


Perempuan itu memesan late dan roti keju yang kemudian dimakannya dengan lahap.


"Em... apa ada yang salah dengan wajahku?" Perempuan itu bertanya bingung kala sadar dirinya terus ditatap oleh Eza.


Ditanya seperti itu, jelas Eza langsung malu. Dia mengerjap salah tingkah, kemudian berdeham sok keren untuk menutupi rasa malunya yang sudah setinggi gunung.


"Ah, nggak," balas Eza, sebenernya terdengar agak kikuk. "Cuman... cuman... you're too beautiful."


Semua perempuan tentu akan bersemu tiap kali mendapat pujian dari lelaki. Itu juga berlaku padanya. Eza tersenyum puas melihatnya. Seolah kehilangan pijakannya, perempuan itu memalingkan wajahnya ke jendela seolah Eza tak ada di sana.


Tanpa ragu lagi, Eza mengulurkan tangannya, berniat untuk berkenalan. "Fahreza. Panggil saja Eza. Nama kamu siapa?"


Mendapatkan ajakan perkenalkan, kepala perempuan itu menoleh lagi. Agak ragu sebelumnya, namun perlahan, tangannya membalas uluran tangan Eza dengan mantap.


"Ayla."


"Beautiful as you."


"Terus memuji saja." Ayla berdecak gemas, segera melepaskan tangannya dari genggaman Eza. "Membuatku tak nyaman."


Eza terkekeh. Jelas, suaranya membuat sebagian hati Ayla meleleh karena jarang sekali ada laki-laki keren seberani Eza.


Maksudnya, jarang sekali laki-laki tampan bisa langsung mengajak berkenalan dengannya yang padahal sangat baru saja berjumpa. Umumnya, mereka suka sok dingin dan ingin perempuanlah yang duluan memberikan kode bahwa dia tertarik.


Eza berbeda.


Atau mungkin, laki-laki itu memang playboy.


Itu yang kini ada di pikiran Ayla dan membuatnya melamun saat Eza rupanya terus menanyakannya suatu hal.


"Hah? Apa, Za?" Ayla merasa sangat bodoh saat harus bertanya begitu.


"Kamu orang luar, ya?"


Ayla tersenyum tipis. Pertanyaan itu seolah menjadi pertanyaan wajib bagi seseorang yang baru menjumpai dirinya. Salahkan saja pada darah kental yang mengalir dari ayahnya.


"Ayahku orang Itali."


"Woah," kagum Eza merasa tertarik. "Kamu bisa bahasa Itali?"


Menggelengnya kepala Ayla membuat Eza sangat terkejut. Benar-benar terkejut sampai matanya melotot bagai akan keluar.


"Kok bisa?!" Eza bertanya hampir berteriak.


"Dari kecil, aku udah tinggal di sini. Nggak pernah ke luar negeri satu kalipun, bahkan aku nggak tau gimana bentuk rumah ayahku di Itali," balas Ayla dengan tawa hambar. "Ayahku udah lama meninggal. Sepuluh tahun yang lalu mungkin, sebelum aku sempat mengunjungi kakek nenek yang ada di Itali."


"Oh." Wajah Eza langsung berubah tak enak. "Maaf, maaf. Kamu nggak perlu cerita kalau itu membuat sedih. Lagian, kita juga baru kenal, kan, pelan-pelan aja deketnya."


Ayla mengerjap, kemudian memalingkan wajahnya yang mulai merona seraya menyelipkan anak rambutnya sebagai tanda salah tingkah. "Ah, iya...."


Eza tersenyum tak enak. "Iya."


Keduanya jadi terlibat dalam kecanggungan yang hakiki. Eza sudah berpikir ke sana ke mari untuk mencari topik saat Ayla menyibukkan diri dengan roti dan kopinya yang tersisa setengahnya.


Waktu terus berlalu, detik demi detik, menit demi menit, hingga akhirnya Ayla bangkit karena kopi dan rotinya hanya tersisa tempatnya saja.


Sebelum Ayla berbalik, Eza lebih dulu bangkit dan menahan pergelangan tangan Ayla.


"Kenapa?" Ayla mengernyit bingung.


"Kalau..." Eza meneguk ludahnya, menahan rasa gugup dan takut jika ditolak. "Kalau boleh... kalau kamu mau.... kalau nggak mau juga nggak apa-apa, sih.... cuma... aku harap kamu mau... aku harap kamu bisa... bisa jadi temanku?"


Eza berbicara terpatah-patah seraya mengambil tangan Ayla dan membukakan kepalan tangannya untuk menarik sebuah kertas dan menutupnya kembali dengan senyum tipis.


"Itu nomorku, kalau mau ketemu... ya, hubungi aja." Eza melepaskan tangannya dari Ayla dengan perlahan dan canggung. "Aku... aku jomblo soalnya."


Ayla menipiskan bibirnya, tak tahu harus berkata apa karena kini dirinya amat bingung. Seumur-umur, tak ada yang berani seperti ini padanya.


"Kamu... kamu tau artinya jomblo, kan?" tanya Eza takut-takut, sebab Ayla tak kunjung menjawab perkataan. Ataupun menolaknya, ataupun pergi tanpa kata-kata.


Justru yang terdiam seperti ini yang membuat Eza khawatir dirinya akan ditolak habis-habisan, apalagi ini tempat umum.


"Tau, dong! Jomblo itu kan nggak punya pasangan, nggak punya pacar," balas Ayla agak kesal. Kemudian menaut-nautkan tangannya seperti anak kecil yang sedang malu-malu karena ingin menyatakan sesuatu. "Kan... kan aku juga jomblo sekarang."


Sungguh, saat ini adalah saat di mana Eza ingin melompat-lompat kegirangan seraya berteriak jika dirinya sangat bahagia. Persetan dengan perkataan orang lain, yang penting Eza meluapkan bahagianya.


Namun, tentu saja perasaan itu ia tahan kuat-kuat karena tak mau Ayla langsung ilfeel jika melihatnya seperti orang gila.


"Oh." Eza berdeham dengan senyum penuh arti.


"Ya-yaudah, aku pergi dulu," pamit Ayla tiba-tiba merasa gugup.


"Tapi hujannya masih deras, Ay." Aduh, seriusan ini Eza berasa bicara ke pacar karena penggalan nama Ayla sangat familiar bagi orang-orang yang sedang menjadi kasih asmara.


"Aku dianterin kakak, pake mobil," balas Ayla.


"Oh, oake mobil, toh," tukas Eza agak kecewa dan kesempatan untuk mendapatkan Ayla menjadi berkurang sedikit. Meski begitu, cengiran Eza masih terbit. "Kalau begitu, hati-hati, ya."


Ayla mengangguk terpatah. "Iya."

__ADS_1


Begitu saja, Ayla berbalik dengan canggung. Melihatnya, Eza menahan senyum.


Serius, deh, Ayla lucu banget. Dia adalah perempuan terlucu yang pernah Eza temui. Ily saja kalah.


__ADS_2