
"Mana tuh cewek?" tanya Lucas ketika beberapa waktu yang lalu Theo sudah kembali dan sudah sekitar lima belas menit berlalu, namun penampakan Lili tak kunjung terlihat lagi.
"Di liar cari angin segar. Nggak tahan asap rokok dia." Theo menjawab malas.
"Lo paksa, ya?" tanya Ten penasaran.
"Nggak," balas Theo cepat. "Dia yang mau sendiri."
Ten tertawa saat Theo melihat jam tangannya, seolah menunggu kedatangan Lili. Ten berdecak kecil. "Ya, wajar dia nggak balik. Ini bukan dunia dia. Orang cupu itu cocoknya sama buku."
"Meskipun kaca mataan, gue pikir dia manis. Cantik juga, rambutnya lurus panjang gue suka," sambung Lucas untuk perkataan Ten.
"Jangan liat dia kayak begitu." Theo menatap Lucas tajam. "Dia bukan bagian dari cewek-cewek yang harus lo liat."
Lucas tertawa keras. "Emang cewek-cewek yang harus gue liat kayak gimana?"
"Yang seksi dan digunain cuma buat puasin hasrat," tukas Theo datar seraya menunjuk perempuan-perempuan yang sedang berjoged ria di sana. "Kayak cewek-cewek itu."
Perkataan Theo membuat Lucas terdiam.
"Posesif amat sama cewek kaca mata," ledek Ten saat paham apa yang dimaksud Theo. "Pasti anaknya berarti banget ya buat lo."
"Bacot ah."
"Ye, gue mah nggak gitu kali, Yo." Lucas bersuara setelah lama berpikir. "Kalau udah dipunya temen, gue nggak berani nikung. Kayak nggak ada cewek lagi aja." Tawa Lucas kembali menguar dengan renyah. "Ya, nggak, Ten?"
"Bomat ***** pusing gue mikirin cewek." Ten be decak keras. "Matematika belum kelar lima puluh soal lagi ***** ah, mabok dulu lah gue."
"Ya, cupu. Pacaran kok sama Matematika," ledek Lucas.
"Bukan gue yang mau, Matematika yang ngotot pacaran sama gue."
"Belum minum udah mabok aja lo," kata Theo pedas.
Ten hanya mampu meringis.
"Udah mau mulai nih couple dance-nya, Yo. Jemput sana nak buah cantik lo." Lucas berdiri saat mendengar pengumuman bahwa sebuah pesta dan tantangan menari akan dimulai. "Kita mau berburu bebas dulu."
__ADS_1
Ten yang merasa diajak langsung bersuara. "Gue nggak dulu, ah, males."
"Ya, cupu." Lucas lagi-lagi meledek.
Sementara itu, Theo langsung saja berlari keluar ruangan disco. Dia sengaja lewat samping ruangan, melewati sekawanan laki-laki bertato yang haus mata dan hasrat yang dikenal sangat berbahaya. Napas Theo sudah memburu karena berlari, kini makin memburu karena tak mendapati sosok Lili di mana pun.
Theo sudah mencarinya di antara mobil-mobil yang terparkir, di belakang gedung, di jalanan, hingga akhirnya dia menelpon ponsel Lili.
Merasa lega Theo karena sambungan teleponnya tersambung tak lama kemudian, Lili mengangkatnya.
"Woi, lo di mana?" tanya Theo langsung, nadanya tak suka dan kesal.
"Eh, Theo." Lili tertawa kecil. Perempuan itu meringis kecil dan mendengar suara angin di sana, Theo yakin Lili sedang naik motor. "Gue ada di perjalanan menuju rumah hehehe maaf ya gue pulang nggak bilang dulu soalnya tiba-tiba nggak enak badan."
"Apa itu cuma alasan?" tanya Theo curiga. Merasa dikhianati dan diremehkan.
"Kok tau? Eh, eh, eh, bukan begitu, Theo, maksudnya. Gue emang alergi sama angin malam gitu. Jadi bersin-bersin, hatchu! Tuh, ini badan juga agak pegel-pegel gimana gitu abis disenggol-senggol."
"Alasan lo. Cupu." Theo tertawa sarkas. "Udah ngerti kan sekarang di mana level l"
"Heh! Gue nggak suka ya dikatain begitu, Dasar Garong!"
"Gue cuma kurang persiapan aja--"
Bip. Bip.
Theo berdecak, kemudian masuk kembali ke dalam gedung tempat pesta hura-hura itu dalam langkah yang teramat kesal.
Sementara jauh di sana, di atas motor seorang ojol, Lili turut berdecak minat bagaimana sambungan diputus secara sepihak ketika dia bahkan belum selesai bicara.
"Dasar," maki Lili kesal. "Gue kan nggak kuat dingin--hatchu!"
Lili benar-benar bersin dan sempat membuat motor ojol yang ditumpangi oleh ke samping.
Intinya, main malam bukanlah style Lili.
***
__ADS_1
"Gema," rengek Lili ketika dia baru saja sampai di kelas. Theo tak lama menyusul kemudian, masuk ke kelas.
Theo sendiri tak tahu apa ada yang salah dari Lili hingga perempuan itu tak banyak bicara seperti biasanya dari awal mereka bertemu, berangkat bersama dan sampai di kelas.
Gema menatap Lili bingung. "Kenapa deh?"
"Lo tau nggak? Imel udah ketemu Vela Novela, *****," curhat Lili sedih. "Gue liat dari postingan IG dia kemarin lusa, tapi gue tahan dulu aja, siapa tahu Imel yang duluan calling dan cerita-cerita. Tanya nggak. Nah, dari kemarin telepon Imel, tapi nggak diangkat-angkat. Gue juga pengen ketemu Vela Novela, huaaaa!"
"Imel makin ke sini makin sombong *****," keluh Lili tak terima. "Apa gue putus hubungan aja, ya? Benci banget gue sekarang ke dia. Gila, erg, kesel!"
Gema berdecak. "Apa persahabatan selama tujuh belas tahun lo itu cuma hancur gara-gara rasa iri lo?"
Lili ingin menangis saja. "Terus gue harus gimana?"
"Positive thinking aja, lah," kata Gema memberi saran. "Mungkin dia lagi sibuk banget?"
"Ya, masa sibuk banget sampai nggak ada waktu buat calling back gue, dua menit aja?" Lili bertanya tak mengerti.
"Lo tau kan dia jadi pemeran utama dari film-nya dia?" tanya Gema lembut. "Imel itu kan nggak ada latar akting, pasti harus latihan keras juga. Lo harusnya ngerti, Li."
Lili semakin lemas. "Apa barusan gue egois lagi?"
"Kalau harus jujur, iya," balas Gema tanpa ragu. "Lo iri, terus menghalalkan rasa iri lo dengan berbuat egois."
"Kok lo bisa super bijak gitu?" tanya Lili terharu.
"Gue udah banyak mengalami fase-fase itu, Li. Gue juga punya temen sesama pencipta puisi. Sama-sama punya mimpi untuk terbitin antologi puisi ciptaan sendiri. Dia udah terbit dua buku, terus ngilang tanpa kabar dan membuat gue kayak lo." Gema tersenyum teduh. "Beberapa waktu lalu, dia chat, minta maaf karena dia sibuk harus ini-itu. Ternyata terbitin buku itu nggak semudah itu, Li."
Berkat penjelasan Gema, Lili terdiam lama. Otaknya terlalu berpikir sempit dan pendek. Lili menepuk kepalanya. "Hergh, bege, ish! Bege!"
"Hush," tahan Gema seraya memeluk Lili. "Jangan suka sakiti dan maki diri sendiri. Nggak baik."
"Gema, gue merasa bodoh dan gagal jadi temen," kata Lili dengan mata berkaca-kaca. "Gue nggak tau lagi harus gimana, Gem."
"Sekarang lo fokus bikin karya aja. Tunjukkan ke dunia lo Itu bisa dan mampu. Oke?"
Lili tersenyum. Tak ada obat yang lebih ampun dari menghilangkan noda hitam dalam diri selain kesadaran dan keinginan dari dalam diri sendiri untuk melakukannya.
__ADS_1
"Oke, Gem."
***