
"Kamu suka apa?" tanya Yohan saat bel istirahat berbunyi. Teman-teman satu kelas mereka sudah ribut keluar, namun tidak dengan Yohan dan Ily.
Jelas, Ily membawa bekal, sementara Yohan menunggu Ily.
"Aku suka apa? Maksudnya?" Ily mengernyit bingung saat membuka kotak bekalnya dan langsung menyuapkan sesendok. Ia mengunyah sambil menatap Yohan.
"Makanan kesukaaamu. Aku kubelikan," balas Yohan enteng.
Mata Ily membulat. Kilat gembiranya terlihat lagi dan itu membuat hati Yohan terasa digelitik. Lucu sekali melihatnya.
Ily menutup kembali kotak makannya dan langsung berdiri dengan semangat. "Ah, iya, akan kutunjukkan makanan enak di kantin," cetus Ily dengan tekat bulat. "Ayo!"
Yohan menahan senyum, kemudian ikut berdiri dan mengikuti langkah Ily. Yohan mulai menikmatinya, ia telah memegang kunci permainan ini.
***
Ily tak peduli ia dilempari banyak tatapan iri, jijik, kesal dan semacamnya. Sudah biasa.
Sementara dibelakang, Yohan dengan wajah datar mengikuti. Dalam hati masih penasaran mengapa ekspresi wajah Ily berubah lagi. Perempuan itu menjadi tegas dan angkuh saat berjalan, berbeda dari biasanya yang polos dan ceria.
Mereka sampai di area penuh pedagang dan siswa-siswi. Sesak, panas dan bising sudah biasa terasa. Hanya lapar yang membuat hasrat mereka tinggi untuk saling berburu makanan.
Ily termasuk di dalamnya.
Ketika mereka akhirnya berhenti di sebuah kerumunan, Yohan mengernyit. "Kita mau beli apa?"
"Ini bakso, enak, kamu harus mencobanya." Ily menjawab tanpa mengalihkan pandangannya. Ia mengantri dengan sabar, mencoba untuk tak terlihat mencolok bersama Yohan.
Yohan sendiri sudah banyak mendapat perhatian karena tubuh tinggi dan wajah tampannya, beberapa kali siswi-siswi melihat dan tersenyum malu padanya. Beberapa lagi bahkan agresif mendekati dan mencubit lengannya. Yohan lebih agresif lagi dengan memukul tangan pencubit itu dan membuat sang pemilik berteriak kegirangan.
Ily melihatnya, menggeleng tak habis pikir kemudian saat tiba gilirannya, ia tak mengalihkan fokus.
Melihat proses itu dengan air liur tak tertahan. Diambilnya sayuran, bihun dan mie dalam satu wadah, kemudian dicelupkannya pada rebusan kaldu ayam dan ditaruh pada mangkuk putih berstampel ayam kembar. Tak lupa diberi taburan penyedap rasa dan minyak. Kemudian ditambahkannya dua bakso besar dan tiga bakso kecil. Ditambah kuah dan diberi taburan bawang goreng serta daun seledri yang telah dipotong kecil-kecil.
Satu porsi bakso siap disantap.
"Pak, satu lagi buat teman saya," kata Ily sambil membawa bakso miliknya dan menoleh pada Yohan. "Aku tunggu di meja dekat pohon."
Yohan menahan lengan Ily yang hendak beranjak pergi. Ily mengernyit, namun tak banyak bicara lagi saat Yohan mengambil mangkuk baksonya yang jelas saja itu panas.
"Aku akan menunggumu. Kita sama-sama ke sana."
Ily mengacungkan jempolnya, tanda menyetujui. Ia beralih pada penjual bakso. "Pak, agak cepetan, ya."
"Siap, Kak!" seru si penjual bakso.
Ily beralih lagi pada Yohan. Ia terkejut melihat Yohan menggigit bibirnya dengan wajah tersiksa. "Yohan, panas, ya?"
"Jelas! Ayo, cepat!" seru Yohan kesal.
"Kamu duluan saja," kata Ily khawatir.
"Tidak," balas Yohan teguh pendirian. "Kita bersama-sama."
"Kak, ini, Kak!" seru penjual bakso, membuat Ily cepat-cepat menoleh dan mengambil mangkuk baksonya untuk kemudian berjalan cepat ke meja dekat pohon yang untungnya masih tersisa kursi kosong.
Mereka duduk berhadapan. Yohan langsung meniup-niup tangannya yang terasa panas sementara Ily mengaduk-aduk kuah baksonya dengan semangat.
"Enak sekali kamu," kata Yohan sarkas. "Aku membantumu tapi kamu tidak berterimakasih."
__ADS_1
"Oh, makasih, Yohan," balas Ily enteng. Membuat Yohan mendengus dan menatapnya tak suka. Ily mengangkat bahunya tak acuh, dengan senyum tipis, ia meraih sambal dan menuangkannya sedikit.
"Apa itu?" Yohan penasaran.
"Ini sambal. Kalau kamu ingin pedas, pakai saja, tuangkan," jelas Ily seraya mengaduk-aduk lagi kuah mengepul itu. Ia mulai menyeruput mie-nya saat melihat Yohan mengambil botol sambal dan menuangkannya banyak sekali.
Ily menatapnya dengan mata khawatir. Dengan cepat ia menelan mie-nya tanpa dikunyah. "Yohan," katanya khawatir. "Itu sangat pedas. Nanti kamu tersiksa."
Ily hafal betul betapa tersiksanya dia saat dijahili Elvan. Saat itu dia gembira, ditraktir Elvan yang sedang ulang tahun dengan bakso, tanpa tahu di bawahnya telah dituangkan banyak sambal dan itu semua ditutupi oleh kecap yang sama banyaknya. Perutnya juga bermasalah hari itu.
Intinya, sangat berbahaya. "Nanti kamu sakit," tambah Ily benar-benar khawatir. "Kamu buang kuahnya, Yohan. Itu racun."
Yohan balas menatapnya, namun dia tak peduli. Yohan menyuapkan sesendok dan mengunyahnya, membuat Ily menatapnya takut-takut, was-was dan khawatir.
"Yohan," rengeknya tak tega.
"Kenapa?" tanya Yohan dengan nada biasa saja. Raut wajahnya baik-baik saja, hidung dan matanya tak berair seperti Ily saat makan pedas.
Ily mengernyit. "Kamu tak pedas?"
"Di Korea ini biasa saja. Aku suka pedas." Yohan tersenyum miring, menyuapkan lagi sesendok, mengunyahnya dan menelannya dengan wajar. Namun, Ily masih menatapnya takjub, tak percaya.
"Makan saja makananmu, jangan terus melihatku," tegur Yohan pada Ily yang langsung tersadar dan berdeham salah tingkah.
"Aku akan makan, kok," katanya membela diri. "Siapa yang melihatmu terus."
Yohan terkekeh, kemudian melanjutkan makannya dengan lahap. Tak heran, nafsu makan laki-laki memang besar. Tak sampai lima menit, isi mangkuk berstampel ayam kembar itu telah habis dan Yohan melepas napas lega setelahnya.
"Enak sekali," katanya sambil tersenyum senang. "Aku suka. Batagor dan bakso, mereka enak."
Ily hanya mengangguk-angguk. "Kamu tak pedas?"
Membuat Ily segera menuntaskan makannya, merasa tak enak pada Yohan yang terus menunggunya agar bisa bersama-sama. Mulai sekarang, sepertinya Ily harus mengingatkan diri untuk selalu bersama-sama melakukan sesuatu dengan Yohan.
Yohan sudah mentraktir dirinya, Ily harus sadar diri dan membalasnya.
***
"Hobiku itu, selain menonton film dan mendengarkan musik, aku suka makan," kata Ily sambil tertawa kecil dan mengetuk-ngetukan kakinya pada lantai minimarket.
Seperti biasa, Yohan memaksanya pulang bersama dan kali ini Ily mengiyakan dengan syarat Yohan harus membelikannya eskrim di minimarket dekat sekolah. Mereka makan eskrim bersama-sama karena Yohan bilang ia ingin mencobanya.
Yohan bertanya tentang hobi Ily yang lain, namun justru jawabannya sangat-sangat tak masuk akal.
"Makan itu kebutuhan, bukan hobi," kata Yohan membenarkan. Ia menyendok eskrim vanilla miliknya dan menyuapkannya. "Hm, eskrimnya enak juga."
"Memangnya kamu tak pernah mencoba eskrim?" tanya Ily penasaran, kenapa wajah Yohan seperti tak pernah mencoba eskrim.
"Selama hidup, aku hanya makan nasi, steak, bulgogi, spaghetti, pizza, burger, ayam dan mie instan. Ah, satu lagi,
Mata Ily membulat. "Serius?"
Yohan mengangguk kecil, kemudian tersenyum tipis. "Jangan mengejekku."
"Siapa yang akan mengejekmu," balas Ily merasa tersindir. "Justru aku ingin membuatmu merasakan makanan enak lainnya. Banyak makanan enak, sayang kalau kamu hanya mencicip sedikit."
"Bagus juga idemu," puji Yohan dengan senyum lebih lebar. "Sejak kecil aku selalu dilarang makan sembarangan, hanya boleh makan yang disediakan orang tua. Tapi kadang aku nakal dan membeli junk food."
Ily berdecak merasa kasihan. "Orang tuamu ketat sekali. Tapi Ibumu kelihatannya baik, menurutku."
__ADS_1
"Ayahku yang ketat. Ibuku sama seperti Ibumu."
Ily mengangguk-angguk mengerti, lalu menjilat eskrim cone-nya dan menyipitkan matanya pada Yohan. "Kenapa matamu tidak sipit, ya?"
Yohan mengerjap, menyadari Ily memerhatikan matanya. Ia mendengus geli. "Aku keturunan Indonesia juga. Ibuku orang Yogyakarta."
"Ayahmu?" tanya Ily iseng.
"Menurutmu?" Yohan balik bertanya dengan sarkas. "Kamu tak bisa menebaknya? Sedangkal itukah otakmu?"
"Kok lo ngejek gue?" tanya Ily tak habis pikir. "Gue tuh gatel karena ngomong baku mulu sama lo, euh!" Ily menggerakkan tangannya kirinya seolah akan mencakar Yohan. Kalau kesal, Ily selalu menumpahkan segalanya.
"Apa?" Yohan tampak tak mengerti. "Tolong bicara sesuai KBBI."
Ily tersenyum tipis. Menahan rasa jengkel yang membara, namun ketika sebuah ide terlintas di otaknya, senyumnya refleks terkembang.
"Bagaimana kalau kamu belajar bahasa gaul?" tanya Ily, menyuarakan idenya.
"Gaul? Apa itu?"
"Bahasa yang aku pakai sehari-hari, bahasa yang orang-orang di sekolah pakai. Aku akan mengajarkannya, mau tidak?" Mata Ily berbinar saat menawarkannya. "Agar kamu bisa bergaul dan punya banyak teman. Pasti seru."
"Tidak," tolak Yohan langsung.
Tubuh Ily merosot, wajahnya terlihat sangat kecewa, membuat Yohan merasa tak enak. "Kenapa?"
"Aku tak mau, aku tak bisa," jawab Yohan, sama seperti kali pertama Ily menyuruhnya untuk mencari teman baru. "Aku membutuhkanmu. Jangan menyuruhku mencari yang lain."
Ily menggigit bibir, kemudian menghela napas panjang dan membuang kemasan eskrimnya yang telah habis ke tempat sampai terdekat. Ia menatap Yohan dengan memelas kemudian.
"Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan tetap menjadi temanmu, tapi alangkah baiknya kamu punya banyak teman. Aku hanya membantumu. Coba dulu saja, Yohan. Pasti seru, ya?" Ily menyatukan kedua tangannya, memohon. "Ya, ya, ya?"
Yohan menipiskan bibir. Menatap Ily tanpa minat, kemudian membuang napas kecil. Yohan mengangguk kecil.
Ily langsung berdiri dan bertepuk tangan dengan meriah. "Akan aku ajari kamu dengan benar."
Yohan tersenyum tipis. Hanya ikut tersenyum, tanpa semangat sama sekali.
***
Ily menyeduh Hi-Ly miliknya di dapur. Telinganya disumpal oleh earphone dan kepalanya mengangguk-angguk mengikuti irama musik. Sesekali ia bersenandung sambil mengambil es batu dari kulkas dan memasukkannya ke dalam mug putih favoritnya.
Ibu sedang menonton TV di ruang tengah sementara Ayah membaca koran di sampingnya. Malam ini damai seperti biasa, Ily hanya tersenyum dan melangkah pelan menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Ily menaruh mug ke atas meja belajar dan ia mengambil buku dalam tasnya. Ada tugas Bahasa Inggris dan Ily berniat mengerjakannya sekarang. Sebelum sebuah getaran dalam ponselnya menginterupsi.
Ily membuka ponselnya, ada pesan dari Yohan. Tadi sore mereka bertukar nomor ponsel dan saling bertukar SMS jika saling membutuhkan.
Besok kamu akan sekolah?
Ily tertawa kecil, segera membalasnya.
Aku akan sekolah. Kenapa?
Ily menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu tersenyum geli. Rasanya ia mulai menikmati pertemanan dengan orang Korea itu.
Aku akan menunggumu lagi pagi ini. Kita berangkat bersama-sama
Kini, Ily menggigit bibirnya. Merasa degupan jantungnya meningkatkan drastis. Mengetahui bahwa ada seseorang yang akan menunggunya. Tapi mengapa?
__ADS_1
***