Dari Korea

Dari Korea
LSF - 28


__ADS_3

mata Luhan tiba-tiba terbuka.


"Hai, Beb." Luhan mengapa dengan santainya. Ada senyum tipis di wajahnya.


Spidol yang dipegang Sari otomatis jatuh ke bawah. Mata Sari mengerjapkan matanya berkali-kali. Lingga yang merekam juga turut terkejut. Kalau jadi dia Sari, pasti malu sekali.


"Ngapain di sini? Kan ini tempat duduk Lingga," kata Luhan, pura-pura bodoh soal niat Sari.


Sari jadi gegalapan. Tak tahu harus menjawab apa. Harga dirinya sudah sangat-sangat terinjak-injak saat ini. Sari menggigit bibir bawahnya, kemudian berdeham keras.


Pada akhirnya, Sari mengambil kembali spidol yang jatuh di bawah kursi Luhan dan menutupnya kembali. Sari menipiskan bibirnya, kemudian bangkit untuk kembali ke tempat duduknya saat tiba-tiba busnya oleng ke kanan hingga tubuh Sari terbanting ke arah Luhan.


"Aduduh! Waduh! Waduh!" Lingga berseru heboh, turut membantu anak-anak yang lain terkejut dan sedetik kemudian anak-anak dalam bus itu ricuh dengan teriak-teriak khawatir.


Sari kehilangan keseimbangannya dan hanya mampu menjauhkan diri dengan pasrah. Beruntung ada Luhan, jadi Sari bisa berpegangan pada bahunya.


Namun, badan bus ini oleng lagi, kali ini membuat tubuh Sari terpelanting hingga hampir terjatuh ke bawah, mungkin akan sakit kalau Sari tak bergantung pada leher Luhan.


"Aaaaaaa!" seru Sari panik. Tangannya menggapai-gapai berharap tak jatuh. "Luhan, Luhan, bantuin gue! Gue mau jatuh!"


"Semuanya pegangan! Jalannya licin!" seru guru pembimbing di depan sana. Saat ini, bus masih oleh ke sana ke mari hingga beberapa anak terjatuh dan terbentur-bentur.


"Berdoa woi, berdoa!" seru Lingga selaku orang yang paling sadar


"I catch you, Princess!" Luhan menarik tubuh Sari yang mau jatuh ke celah antara tempat duduknya dan tempat duduk di depannya. Pada akhirnya, Luhan memeluk Sari dengan erat dan mengusap-usap punggung perempuan itu. "Come on. Stay in my hug. You save, baby. Keep calm."


Luhan tak pernah mengira bahwa berdekatan dengan Sari akan terasa semenegangkan ini.

__ADS_1


Sari mengeratkan pegangan tangannya pada baju Luhan. Dia takut sekali. Ketika bus akhirnya kembali stabil, Sari masih ketakutan dan terkejut dengan jantung berdebar luar biasa kencang.


"Kalian udah bisa tenang! Maaf, tadi ada kucing yang tiba-tiba nyeberang!" Guru pembimbing berseru sambil berdiri untuk melihat kondisi anak-anak. "Sekarang semuanya aman. Kalian bisa tenang. Kalau ada yang sakit bilang aja, oke?"


"Oke!" Anak-anak berseru seadaanya. Sebab beberapa dari mereka terjatuh dan kesakitan.


Lingga pun bisa bernapas lega. Beruntung sekali kameranya tidak jadi korban. Lethan dan Langit juga kembali pada kegiatan awal mereka.


Ketika melihat Luhan dan Sari yang kelihatan dengan berpelukan erat, wajah Lingga tak bisa disembunyikan keterkejutan yang nyatanya.


"Wauwwwwwwww." Suara Lingga yang keras itu membuat telinga Lethan dan Langit menangkapnya dengan curiga.


Kemudian menatap pada hal yang sama.


"Waw." Lethan takjub. Melihat tim and Jery-nya Kelas berpelukan seperti Teletubbies itu jelas merupakan keajaiban dunia yang tak bisa diabaikan. Maka, Lethan memotretnya.


"W a o w a w." Langit bereaksi berlebihan.


Sari merapikan bajunya yang sedikit acak-acakan dan kembali ke kursinya dengan gerakan kaki seperti robot. Setelah Sari tak ada di tempatnya untuk duduk, Lingga langsung duduk kembali di sebelah Luhan.


"Dipake modus, Bosque?" tanya Lingga menggoda.


Luhan menaikkan bahunya dengan tak acuh. "Dia sendiri yang nyamperin gue."


"Gue kira lo beneran tidur." Lingga berkata heran.


"Mana bisa gue tidur kalau lo berisik terus. Hai, guys. Hai, guys. Ini, itu. A, b, c, d, e, z. Panas kuping gue." Luhan menjawab agak dongkol sambil menatap Lingga tajam.

__ADS_1


Lingga mengacungkan huruf V di tangan kanannya dan menyengir tanpa dosa. "Peace. He he he."


***


Sejurus kemudian, setelah makan siang, anak-anak diarahkan ke kamar hotel masing-masing untuk istirahat sampai esok hari. Pagi besoknya, barulah study tour dimulai.


Luhan, Lingga, Langit dan Lethan tentu menjadi teman satu kamar. Kebetulan sekali setiap kamar hanya diisi empat orang hingga keempatnya bisa leluasa seperti biasa tanpa canggung-canggung.


Ketika malam tiba, Luhan menatap Langit dengan penuh arti dan penuh tekad. Lethan dan Langit sedang sibuk dengan ponsel masing-masing, namun Luhan sadar mereka berdua bisa mendengar perkataannya ini.


"Mau nyobain nggak?" tanya Luhan kemudian


"Yakin lo?" Lethan langsung menyambung. Selaku yang paling tua dan dewasa, Lethan harus menjadi seseorang yang bijak dan bisa menjadi penunjuk arah yang benar. "Kalau ketahuan bisa gawat, lho."


"Tenang. Kita smoking di balkonnya. Nggak bakal ketahuan. Asapnya pasti langsung kebawa angin." Luhan menjawab santai.


"Gue nggak, deh." Langit langsung menyuarakan keputusannya dengan tegas. "Lebih baik mencegah dari pada mengobati. Mentang-mentang bonyok nggak ada, gue nggak bisa mengecewakan mereka dengan berbuat nakal."


"Hiya-hiya." Luhan menganguk-angguk paham tanpa berniat untuk memaksa. "Anak teladan kan beda," katanya mencibir, kemudian menatap Lethan. "Than, lo ikut kan?"


"Penasaran, sih." Lethan jadi agak goyah.


"Langsung aja gas. Jangan ragu-ragu lo kalau jadi cowok." Luhan mengompori.


Lethan membuang napas panjang. Bimbang. "Tapi katanya Dara nggak suka orang yang ngerokok."


"Coba nyobain doang, Than." Lingga turut mengompori. "Gue juga penasaran doang. Sekali doang kok kita nyobain. Kuy lah. Kapan lagi."

__ADS_1


Lethan menipiskan bibirnya. Kemudian dia mengangguk kecil. "Hm ... oke, deh."


Ketiganya sepakat untuk ke balkon tengah malam. Luhan menyetel alarm di sampingnya tepat jam dua belas malam. Ketiga orang lainnya juga bersiap-siap untuk tidur.


__ADS_2