
Dalam sebuah kelas, terdengar seorang guru menjelaskan dengan suara tegasnya. Predikat guru galak dan kejam melekat dalam dirinya karena kerap kali membuat siswa-siswi yang tidak mengerti mengerjakan soal di papan tulis.
Jika tidak terselesaikan soal itu, maka kemarahan adalah buahnya.
"Liliput Kimchi."
Sebuah suara terdengar sangat mengancam dari mulutnya. Masuk ke dalam gendang telinga seorang murid yang duduk paling belakang, yang awalnya tertidur dalam kenyamanan.
"Eh?" Seorang gadis yang awalnya menutup matanya dengan kepala di atas lipatan tangan itu segera tersadar dari tidur singkatnya.
Masih linglung, gadis bernama lengkap Liliana Kim yang kerap kali disebut Lili itu mengerjapkan matanya berkali-kali. Pandangannya buram karena tak memakai kacamata.
"Eh?"
Lili tak melihat bahwa seluruh teman-temannya telah menatapnya penuh kasihan. Sebab--sayangnya Lili tak bisa melihat dengan kelas--dan depan sana, di pinggir papan tulis yang sudah penuh dengan angka-angka luar biasa memusingkan, Pak Harto atau biasa disebut Pak Toto itu sudah membulatkan matanya dengan penuh amarah pada Lili.
"Eh, eh. Eh, eh. Kamu tidur di pelajaran saja, hah?!"
__ADS_1
"EEEEHHHH?!?!?!?!" Lili sadar sepenuhnya, tangannya yang panik langsung mencari-cari alat pembantu melihatnya. Dengan kaca mata bulat itu, Lili menarik napasnya super terkejut. "Pak Toto ... a-ampun ...."
Pak Toto berdecak, kemudian menepuk papan tulis dengan spidol di tangan kanannya. "Mentang-mentang duduk paling belakang, jadi leluasa tidur, hah?!"
"E ... nggak, juga, Pak." Lili mengusap kepalanya dengan mata yang tak berani balas menatap mata Pak Toto. "Saya juga nggak tau kenapa bisa tidur ... he ... he ... he."
"Sudah!" bentak Pak Toto kelewat emosi. Guru itu paling tidak suka anaknya tidur saat dia sedang menerangkan, seolah tak menghargai dan tak membutuhkan.
Bentakan keras itu bukan hanya membuat Lili terkejut sampai mengerjapkan matanya dan kedua bahunya terangkat, namun juga membuat anak-anak satu kelas jadi super tegang. Termasuk seseorang yang duduk di pojokan dan tampak terganggu dengan suasana tegang ini.
"Keluar aja kamu!" titah Pak Toto dengan mata melotot lebar.
Suara Lili berhenti karena tiba-tiba terdengar suara serut kursi dari seorang cowok yang duduk di meja sebelahnya, cowok yang tadi tampak terganggu, berdiri dengan wajah datarnya dan melenggang pergi dari kelas XI IPA 3 itu tanpa kata-kata. Suara langkahnya terdengar jelas dan jadi pusat perhatian semua orang.
Buk!
Pintu kelas dibanting olehnya.
__ADS_1
Jelas saja, Lili, anak-anak kelas, bahkan Pak Toto melihatnya dengan mata membuka terkejut.
"Theodorus Sapporo, mau ke mana kamu?!" Pak Toto langsung membuka pintu kelas dan berteriak begitu.
Satu kebiasaan Pak Toto yang paling unik adalah kerap kali memanggil nama murid dengan sekenanya. Lili juga sering disebut Lilisamyang atau Lilikimchi karena wajahnya yang kekorea-koreaan.
Ya, jelas dong, Lili keturunan Korea langsung.
Namun, tak ada yang mempermasalahkannya sampai sekarang karena semua murid tahu bahwa Pak Toyo hanya bercanda.
"Nama saya Theodoric Efrad!" seru Theo keras-keras di ujung koridor sana, untuk setelahnya laki-laki yang sudah terkenal dengan kenakalaannya itu hilang di belokan.
Pak Toto hanya mampu berdecak, kemudian menutup pintu kelas dengan amarah tertahan. Pak Toto selanjutnya menjelaskan kembali tentang Trigonometri dan melupakan tentang Lili.
Di tempat duduk, Lili bersyukur dan memejamkan matanya dengan syahdu untuk mendoakan Theo karena telah menolongnya, meski secara tidak langsung.
***
__ADS_1
Gimana nih? Baru prolog, ya hehehe
Cerita ini baru dimulai dan kalian harus menyerapnya baik-baik karena bakal banyak teka-teki muehehehe