
"Theo punya cerita sedih," kata Lili ketika akan tidur. Dia memikirkan cerita yang tadi Theo ungkapkan. "Dia bisa begitu karena broken home. Emang, sih, cinta itu ... bisa menjadi sumber kebahagiaan, tetapi juga bisa menjadi sumber kehancuran untuk seseorang."
"Ajib, deh, kata-kata gue," puji Lili pada dirinya sendiri. Kemudian dia menampar diri. "Gue harus balas apa ya atas ide dari Theo yang semakin berlimpah dan melancarkan tulisan gue?"
Di malam yang sepi dan kamar yang gelap, Lili terus bersuara.
"Theo suka apa, ya?" Lili berguling ke kanan. "Gue pengen hibur dia." Lili berguling ke kiri. "Dia cuma cowok sok galak yang sayang banget sama adiknya. Bukan Bad Boy sama sekali. Gue kasih ... cokelat aja, ya?"
"Eh, jangan! Nanti ge-er lagi, ngira gue suka sama dia, rrgg!"
Oke, sesi berikutnya adalah gejolak batin seorang penulis amatir yang kebingungan untuk membalas jasa objek riset ceritanya.
"Gue kasih apa, dong?"
"Hm ... kalau kasih bekal aja gimana?"
"Itu orang suka apa, ya?"
"Mukanya selalu jutek banget, apa gue kasih boneka atau squisy biar happy?"
"Apa harus gue ... em ... apa, ya? Bingung banget."
"Tapi Theo kasian kalau nggak gue kasih apa-apa sebagai tanda penghibur."
"Gue pengen jadi temen deketnya Theo."
"Eh, tapi jangan salah paham dulu. Gue masih ingat Kak Jae, aslian."
"Gue sama Theo itu pengennya cuma pure temenan gitu. Antara penulis sama sumber inspirasinya. Nggak lebih."
"Gue nggak mau Theo sedih sendirian. Gitu aja."
"Dia kan udah kasih tahu gue ceritanya, otomatis gue jadi orang terdekat dia dong?"
"Eh, iya nggak sih? Kalau orang udah cerita tentang kehidupannya, artinya dia menganggap orang yang menjadi wadah ceritanya itu dekat banget, kan?"
"Cius, nih?"
"Gue jadi temen deketnya Theo?"
"Unbelievable, sih. Bad Boy gadungan kayak dia bisa jadi temen calon penulis sukses. Hahahaha."
"Dipikir-pikir lucu juga."
"Oke, Theo."
"Gue pikir hubungan lo sama gue nggak hanyasebatas penulis sama sumber inspirasinya. Tapi juga teman dekat yang udah berbagi keluh kesah."
"Oh, iya, hidup gue nggak ada keluh kesahnya, jadi nggak bisa Theo anggap deket!"
"Gue bahkan belum cerita juga tentang diri gue ke Theo."
"Ya, bener tuh!"
"Eh, apa besok gue juga curhat ke dia biar Theo lebih enjoy?"
__ADS_1
"Kok jadi pusing gini mikirin satu anak?"
"Tidur Lili, tidur! Besok jangan sampai kesiangan!"
***
Titi tak henti-hentinya bersenandung riang ketika dirinya sedang dalam perjalanan ke rumah Lili di atas motor Theo. Tadi pagi, Theo memberitahunya bahwa mulai hari ini, dia akan dititipkan ke rumah Lili.
Kemarin sore, Theo telah berbicara pada Ily mengenai permintaan tolongnya untuk turut menitipkan Lili. Ily bertanya sekilas dengan heran. Saat Theo memberitahu keadaannya dengan jujur bahwa Titi yang memaksa ingin dititipkan, akhirnya Ily mengiyakan.
Theo sangat berterimakasih, dia ingin membayar Ily, namun Ily menolak dan menganggap Theo sebagai teman dekat Lili. Ily berpesan pada Theo untuk menjaga Lili di sekolah.
Theo tak keberatan dengan itu, asalkan Titi bahagia, Theo juga turut bahagia.
Akhirnya, setelah beberapa lama menit habis, Theo dan Titi sampai di depan rumah Lili. Jam baru menunjukkan pukul enam lebih empat lima waktu Theo sampai.
Theo berjalan ke arah pintu masuk sambil menggandeng Titi dan akan mengetuk pintu tersebut saat tiba-tiba pintunya terbuka. Menampilkan sosok Lili yang seketika kaget. Perempuan itu sudah memakai seragamnya yang serupa dengan Theo, namun kakinya masih telanjang.
"Ya ampun, Theo, ngagetin aja," kaya Lili seraya menepuk pundak Theo dengan pandangan kesal. Perempuan itu langsung buru-buru memakai kaus kakinya.
"Kak Lili!" seru Titi menyapa.
"Hai, Titi," balas Lili sekenanya.
"Ibu lo ada?" tanya Theo.
"Ada di dalem. Masuk aja."
"Seriusan?"
Titi mengangguk. "Ayo, Kak! Titi mau ketemu Luhan!"
Theo menipiskan bibir, kemudian dia masuk setelah melepas sepatunya. Langkanya terkesan malu-malu dan ketika bertemu Ily di dapur, Theo makin canggung karena Ily langsung tersenyum.
Sementara Titi langsung berlari menghampiri Luhan yang sedang bermain dengan Luvi. Theo ditinggal berdiri sendiri dan akhirnya hanya mampu mengusap tengkuknya yang sebenarnya tak gatal.
"Oh, Theo? Udah datang?" Ily berjalan cepat menghampiri. Ada nampan yang berisi dua piring nasi goreng di atasnya. "Udah makan belum? Yuk, makan dulu sama Lili."
Theo tak diberi kesempatan untuk menjawab karena Ily langsung menarik tangannya, membawanya ke depan di mana Lili berada sedang mengikat tali sepatunya.
Ily berjongkok untuk meletakan nampan di depan Lili dan Lili langsung mengambil suapan di atas nasi goreng itu. Ily berdecak melihatnya.
"Pelan-pelan," kata Ily tak suka saat melihat pipi Lili mengembung karena berisi nasi penuh.
Theo yang turut duduk di samping mereka, mengambil sepatu dan memakainya.
"Kamu udah sarapan belum, Theo?" tanya Ily lagi. "Makan, nih. Ibu bikin porsi lebih karena tau kamu bakal datang."
"Nggak usah, Tante. Theo udah makan tadi."
Ily menipiskan bibirnya. "Oke, deh kalau gitu."
"Bu, Ayah mana, sih? Kok lama? Dua menit lagi harus berangkat, nih," kata Lili dengan nada merengek.
"Lagi mandi dulu. Tunggu aja, sabar," balas Ily lembut.
__ADS_1
Lili cemberut, kemudian meminum susu dalam gelas yang tersedia. "Makasih atas makanannya, Bu."
"Sama-sama," balas Ily seraya mengangkat nampannya kembali dan berdiri untuk masuk ke dalam rumah.
Lili dan Theo ditinggal berdua di teras depan. Lili sibuk merapikan rambut dan sisi mulutnya yang baru saja dipakai makan, sementara Theo masih mengikatkan tali sepatunya kuat-kuat.
Lili melihat jam di tangannya. "Ck, satu menit lagi."
Lili kemudian berdiri. Kepalanya melongok ke dalam pintu masuk rumahnya. "AYAH! AYAH, CEPETAN!"
"LI, AYAH KAMU SAKIT PERUT! MENCRET KATANYA! KAMU NAIK OJOL AJA, YA!"
Ily balas berteriak pada panggilan Lili sebelumnya. Lili mendengus kecewa, dia cemberut dan akhirnya melangkahkan kakinya cepat-cepat keluar gerbang rumah.
Theo turut berdiri setelah tali sepatunya terikat sempurna. Dia melihat pintu rumah Lili yang terbuka, kemudian inisiatif menutupnya. Kemudian, Theo ikut keluar gerbang dan menemukan Lili yang sedang memainkan ponselnya.
Lili menoleh sekilas padanya saat Theo menaikki motornya yang mulai memakai helmnya.
Sebenarnya Lili pura-pura memainkan ponsel, dia harap Theo mengajaknya untuk berangkat sekolah bersama di boncengan motornya.
Namun, tanpa kata, setelahnya menyalakan motornya, Theo melaju begitu saja. Membuat Lili langsung panik dan berlari mengejar.
"HEH, THEO! HEH! HEH, TUNGGU!"
Motor Theo berhenti tak lama kemudian. Laki-laki itu menoleh ke belakang, menangkap Lili sedang berlari ke arahnya. Theo segera melepas helm-nya dan menyerahkannya pada Lili ketika perempuan itu sudah dekat.
Kening Lili mengerut. "Baru aja gue mau ngomel karena lo nggak ada niat ngajakin gitu, main pergi-pergi aja. Peka juga ya lo, Theo."
"Gue kira lo udah pesan ojol." Theo menukas malas, membuat Lili terharu karena Theo bisa sebaik dan seperhatian ini. "Cepet naik. Gue males telat."
Lili tersenyum senang sampai matanya menyipit dan membuat Theo ingin senyum Titi. Ia memakai helm dari Theo dan melompat untuk duduk di belakang Theo.
"Theo, go!"
Setelahnya, motor Theo melaju menuju sekolah.
"Te, buruan, gas!"
"Te, belok-belok!"
"Te, hati-hati awas ada polisi tidur!"
"Te, ada kubangan tuh!"
"Maaf ya berisik, soalnya gue suka gini ke Ayah gue. Ayah gue jarang banget jadi supir, jadi agak amatir gitu."
"Ternyata lo lebih pro, ya?"
"Te, ngebut aja nggak ada siapa-siapa, nih!"
"Te, kayaknya kita sampai tepat waktu, deh!"
Di depan sana, Theo menahan senyum. Entah mengapa, mendengar seruan demi seruan yang sebenarnya sangat tidak berguna karena Theo sudah mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, hafal jalanan dan posisi polisi tidur dan Theo sudah punya SIM.
***
__ADS_1