
Lili benar-benar tak seberarti itu untuk Nakasutra Jaelo.
Ketika Lili tengah melamunkan nasibnya, Jae kembali lagi, berdiri di sampingnya. Jika bertelepon dengan pacar biasanya membuat hati senang, wajah Jae justru tampak kusut.
Mulut Lili gatal jika dia tak bertanya. "Kenapa, Kak?"
"Adik gue kegep tawuran lagi, sekarang di polsek."
Lili membulatkan matanya. Terkejut sekaligus senang. "Lah? Adik? Katanya pacar."
Jae membuang napasnya dengan gusar. "Ya, adik rasa pacar. Harus diperhatiin banget. Tiap hari diingetin makan, diingetin ibadah, diingetin segalanya dah pokoknya."
Untuk beberapa alasan, Lili bersyukur saat ini.
"Emangnya orang tua Kakak ... ke mana?" Banyak tanya memang sudah karakteristik Lili sejak lahir. Jangan salahkan jika wajah Jae kini tampaknya agak tak nyaman dengan pertanyaan Lili.
"Aduh," ringis Jae kebingungan. "Gimana ya jelasinnya?"
"Ya, kalau nggak mau jawab ya nggak apa-apa, Kak. Itu juga kan privasi Kakak." Lili langsung memberi penjelasan supaya Jae nyaman.
Jae tertawa kecil. "Nggak apa-apa, kali. Itung-itung curcol kan. Sama siapa lagi gue bisa."
Lili merasa tersanjung.
"Adik gue tuh udah kayak nggak dipeduliin lagi sama bonyok?" Jae kelihatan masih bingung. Kemudian dia tersenyum tipis pada Lili, membuat lesung pipinya tercipta dengan manis. "Ya, intinya begitu. Adik gue nggak ada yang peduliin lagi selain gue. Ya, otomatis kalau ada apa-apa, dia hubungin gue. Berasa pacar aja gitu, hahaha."
"Hahaha."
"Eh, malah ketawa."
"Eh, emangnya aku harusnya gimana?"
"Nggak juga. Lo nggak perlu gimana-gimana." Suara Jae terdengar amat lembut dan menenangkan, membuatnya tersimpan elok-elok dalam hati Lili. Bersama senyum lebarnya yang indah, dia menatap Lili penuh arti. "Mendengarkan aja udah cukup banget buat gue."
***
Lima tahun yang lalu ...
"Kamu mau lanjut ke mana, Yo?"
Suara Leo terdengar ketika Theo sedang berganti baju. Sebentar lagi Theo akan keluar dari SD dan jelas fakta itu membuat Kakaknya penasaran.
__ADS_1
Namun, Theo tampak tak begitu peduli dan setelah berganti pakaian ia lanjut membuka bukunya untuk belajar kembali. Ayah dan ibunya selalu mengajarkan begitu pada Theo.
Leo tampak marah karena dianggurin oleh Theo. Dia segera masuk ke dalam kamar Theo dan merangkul leher adiknya itu erat-erat hingga fokus Theo pecah
"Yo," rengek Leo bak anak kecil, padahal umurnya sudah menginjak enam belas, mau masuk SMA. "Kok nggak dijawab, sih?"
Theo melenguh, memasang Leo untuk tak memeluknya. "Lagi belajar."
"Ya, jawab dulu kamu mau lanjut sekolah ke mana, bisa kan?" Leo cemberut, terpaksa duduk di ranjang Theo dan melihat adiknya yang telah duduk di kursi yang menghadap meja belajarnya.
"Yang jelas, nggak di sekolah yang sama kayak Bang Leo." Theo menjawab datar. Dari dulu, sifatnya memang agak tertutup dan dingin.
"Kenapa?"
"Pengen aja."
"Dih." Leo memutar bola matanya dengan wajah tak terima. "Emangnya kamu mau ke SMP mana?"
"SMPN 1."
"Wau, yakin masuk tuh? Target NEM sejahtera itukan tinggi-tinggi."
Theo menatap Leo yakin. "Aku bisa."
"Ngatain, nih?" Alis Theo terangkat satu.
"Nanya aja."
"Kalau nggak bisa, ya, terpaksa ke sekolah Abang." Theo mengangkat kedua bahunya dengan tak acuh.
Leo tertawa. Dia tak menyangka adiknya bisa sepesimis itu untuk memutuskan sekolah di tempat yang sama dengannya. Sekolah yang lebih mirip sekolah pembuangan, paling terbelakang dari sekolah negeri yang lainnya.
"Kenapa ketawa?" tanya Theo heran.
"Pengen aja." Leo tersenyum tipis. Kemudian bangkit dari duduknya dan menepuk pundak Theo dengan semangat. "Seru, dong. Bisa bareng-bareng."
"Bareng-bareng gimana? Aku masuk, Abang keluar," balas Theo tak paham.
"Eh, iya, lupa." Leo tertawa bodoh. "Tapi, ya, yang penting kalau ada apa-apa bilang oke? Abang akan selalu ada."
Theo tersenyum geli. "Apa, deh."
__ADS_1
"Ya, kamu bakal tau kalau udah masuk SMP. Dunia pergaulan di sana bakal beda banget, Abang takut kamu kenapa-kenapa gitu," jelas Leo seraya mengusap tengkuknya yang tak gatal, dia juga agak gugup saat menyuarakannya. "Kalau ada masalahnya, pokoknya bilangin ke Abang dulu. Jangan kayak Abang, disimpen sendiri."
"Hari ini," kata Leo lagi. "Di sekolah ada masalah nggak?"
"Nggak ada."
"Baguslah." Leo tersenyum senang. "Kalau ada, jangan malu buat bilang ke Abang, oke adik?"
"Iya, iya." Theo mengangguk saja, menatap Leo dengan malas. "Aku mau belajar."
Leo paham Theo menyuruhnya untuk pergi. Karenanya, ia mengacak rambut Theo dengan gemas. "Belajar yang bener. Kalau sukses, Abang juga ikutan bangga."
Theo selalu begitu. Dia selalu menyuruh Leo pergi karena dia tak mau diganggu. Theo memang introvert dan tak terbuka bahkan pada keluarganya sendiri.
Satu-satunya yang dekat dengannya hanya Leo, sebab laki-laki itu selalu menghampirinya, mendekatinya, memeluknya dan membuat Theo paham rasanya hangat seseorang.
Harusnya Theo tak perlu menyuruhnya pergi begitu saja, harusnya Theo mengajaknya bicara lebih lama, harusnya Theo menanyai bagaimana kehidupannya di sekolah juga, dan harusnya Theo lebih peduli.
Jika akhirnya tahu Leo akan meninggalkannya tanpa pami, Theo akan lebih menghargai kejadiannya. Theo akan lebih jujur pada perasaannya. Theo akan lebih terbuka pada Leo.
Kenyataan bahwa tak ada lagi sosok Leo dalam hidupnya, membuat Theo mengetahui sesuatu.
Theo sangat benci kehilangan.
Sama seperti bagaimana ketika ia tiba-tiba tak menemukan Lili di tempatnya semula. Theo sudah mengira yang tidak-tidak saat kenyataannya perempuan itu pergi ke suatu tempat karena sebuah urusan.
****
pasti taulah ya ini siapa-siapa
**kalau pada nggak tau ini tu Imel - Kak Jae - Regan - Dika - Sherin
eh, Dika Sherin itu siapa ya?
ya, ada deh pokoknya hehehehe
gimana rasanya ditatap para tokoh utama?
__ADS_1
sejauh ini, menurut kalian jalan ceritanya akan ke mana? wkwkwkwwk**