
Jadi, intinya kita cuma berdua di rumah ini?"
Ditanya tiba-tiba begitu saat mengeluarkan wadah berisi ikan segar dari kulkas membuat tangan Ily tergelincir dan hampir menumpahkan ikan dari kotaknya jika Yohan tidak cepat-cepat membantu. Tangan mereka bersentuhan sekilas dan membuat Ily semakin salah tingkah.
Yohan bangun sangat telat. Jadi, dia tak kebagian sarapan. Ily diberi pesan untuk menggoreng ikan saja untuk Yohan sarapan. Sekarang, ia akan melakukannya, namun fokusnya terganggu gara-gara Yohan yang bertanya tanpa saringan.
"Hati-hati, Ly, nanti repot kalau ikannya jatoh. Banyak kuman dan virusnya di lantai," kata Yohan memberi pesan saat Ily berjalan ke arah kompor dengan wadah berisi ikan di tangannya dan Yohan mengikuti gerakannya seperti tingkah seekor kucing pada majikannya.
"Ily," tegur Yohan saat Ily masih saja belum bersuara saat sudah menyalakan kompor di depannya. Kemudian, menggulung lengan baju yang ia pakai untuk mengambil satu ikan dan mencelupkannya dalam kubangan minyak panas di atas wajah di depannya.
Wajahnya tampak ketakutan dan gerakannya ragu-ragu, membuat Yohan menatapnya dengan khawatir. "Kamu jarang masak sepertinya."
Ily menoleh, menatap Yohan dengan pandangan horor. "Kok tau?"
"Oyajelas. Gerakan tanganmu itu sangat amatiran--"
"Aw! Aish!" Ily menjerit kaget dan meringis saat tiba-tiba kecipratan minyak panas dari ikan yang sedang digoreng. Tangannya cepat-cepat mengusap pipi yang jadi korban.
Namun, Ily tak menyerah di sana. Dengan keberanian yang dipaksakan hadir, ia mengambil centong dari rak alat-alat masak dan mengarahkannya ke ikan yang tengah digoreng untuk dibalikkan agar matang dengan sempurna. Kesialan menimpa Ily, baru saja ia mendekatkan diri, suara ledakan dari ikan itu terdengar, membuat Yohan bergegas memeluknya untuk melindunginya, menjauhinya dari cipratan minyak panas.
Ily kaget, jantungnya berdebar kencang. Baru merasakan bagaimana ikan bisa mengamuk seperti itu saat digoreng. "Yohan, kok ikannya bisa muntah?"
"Bukan muntah, Ly, aduh," balas Yohan tak habis pikir. Menatap Ily lekat-lekat, melihat wajahnya dekat-dekat seperti ini membuat Yohan sadar akan sesuatu. Alis tipis yang rapi itu membingkai sempurna mata penuh dengan bulu mata lentik. Hidung kecil yang mancung dan bibir tanpa polesan apapun seperti anak kecil itu menyihir Yohan. Senyumnya mengembang lebar, hingga buat Ily terpesona untuk sesaat. "Kamu semakin cantik, tapi belum jago masak."
Ily langsung memukul dada bidang Yohan dan Yohan mengaduh karenanya, namun masih ada tawa geli menyertainya.
"Ikan memang begitu kalau digoreng, Ly. Kan dia asalnya basah. Basah kalau digoreng mengalami komplikasi dan parahnya bisa melukai seperti tadi."
Ily semakin meringkukkan badannya di pelukan Yohan yang masih belum lepas, tanpa sadar. Yohan mungkin menyadarinya dan ingin terus begitu, namun kepekaan Ily agak di bawah rata-rata saat ini. Fokusnya lebih besar pada peristiwa ikan digoreng yang baru pertama kali ia alami.
"Kok bisa ... kok bisa begitu, ih, takut ... serem." Ily semakin mengecil, maksudnya memeluk dirinya sendiri dalam pelukan Yohan dan menyembunyikan kepalanya.
"Dasar payah." Yohan berdecak seraya mengambil centong dari tangan Ily dengan gentle. Sempat membuat Ily terpana, namun tatapan Yohan yang mengkhawatirkannya secara berlebih-lebihan membuat Ily cemberut. "Sana, kamu duduk aja di meja makan. Biar aku yang menggoreng."
Ily mendengus kecil, kemudian berbalik dan menatap Yohan yang sepertinya memang lebih pengalaman darinya untuk menghadapi penggorengan ikan dari kursi meja makan.
Di tangannya, Yohan mengambil tutup panci untuk melindungi wajahnya, sementara dengan tangan panjangnya, ia membalikkan ikan dengan sempurna tanpa terkena cipratan minyak panas seperti Ily.
Sejurus kemudian, ikan berhasil matang dan Ily akui, Yohan memang lebih baik darinya saat memasak.
Yohan sempat pamer akan keterampilannya yang sayangnya tak bisa Ily debat lagi. Ily mengaku kalah saja daripada perdebatan jadi panjang dan membuat Yohan lebih telat lagi untuk sarapan.
Sementara Yohan menikmati sarapannya, Ily menatapnya dari depan, menyangga dagu dengan tangan kanannya. Yohan makan menggunakan tangan dan itu pemandangan langka bagi Ily.
"Aku tampan, ya?" Yohan bertanya begitu saat menyadari dirinya terus jadi objek penglihatan Ily.
__ADS_1
Ily berdecak. "Kalau iya emang kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa, sih," balas Yohan sambil tertawa bangga.
"Dasar."
"Kamu abis ini ngapain, Ly?" tanya Yohan penasaran.
"Mau bikin soal untuk pekerjaan," balas Ily jujur.
Yohan menampilkan wajah tertarik. "Nanti aku bantu, ya."
"Oke."
"Eh, Ly, kamu belum jawab pertanyaanku tadi, lho," tukas Yohan ketika ingat sesuatu.
Kening Ily mengerut Karena. "Pertanyaan yang mana?"
"Kita di sini cuma berdua, ya? Kedua orang tuamu pergi bekerja, ya?"
Pipi Ily langsung memanas. Tangannya mengusap tengkuknya dengan salah tingkah dan pandangan matanya bergerak ke mana pun asal tak bertabrakan dengan milik Yohan.
"Y-ya ... ka-kalau cuma berdua di sini apa masalahnya?" Ily mencoba untuk terdengar tegas dan tak takut apapun, namun justru kedengarannya jelas sekali ia khawatir dan waspada.
Yohan tertawa renyah. "Tenang, aku akan melindungi kamu di sini. Jangan khawatir."
"Oh, baguslah."
"Justru karena ada kamu, aku merasa tak aman," aku Ily dengan mendapat keberanian yang entah datang dari mana.
"Hah? Kenapa begitu?"
Ily menyuarakannya dengan serius. "Kamu nakal. Suka gigit. Suka mengejar. Suka tiba-tiba tegang tangan, cium tangan, sampai peluk-peluk. Aku juga sadar, kamu sekarang jago modus."
Namun, sedetik serius yang Yohan ciptakan akhirnya terpecahkan oleh tawa gelinya yang menggema di rumah sepi ini. Ily menatapnya dengan was-was. Takut kejadian tadi terulang lagi.
Hingga Ily sedikit merasa tenang setelah tawa Yohan mereda. Namun, itu sebentar karena selanjutnya Yohan sudah tersenyum miring lagi dengan penuh siasat tersimpan di matanya.
"Gitu-gitu kamu pasti suka."
Ingin sekali Ily tenggelam sekarang dari hadapan Yohan. Yohan itu liar sekarang, Ily harus bisa mengendalikannya. Makanya, Ily membuang napas berat seraya menenangkan diri.
Setelah itu, Ily tak bilang apa-apa, bergegas berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Ily akan fokus membuat soal dan menuntaskan tugasnya.
Ketika mengambil laptopnya, Ily menoleh ke arah pintu kamarnya, tak ada tanda-tanda Yohan akan datang dan mengganggu. Ily bersyukur karenanya, kemudian mulai tenggelam dalam lautan keseriusan.
__ADS_1
Berjam-jam berlalu, Ily telah selesai mengerjakan tugasnya dan Yohan sama sekali tak datang untuk setidaknya mengeceknya atau menyapanya. Ily jadi penasaran, Yohan sedang apa di sana.
Ily baru saja bangkit, hendak meninggalkan kamarnya saat ponselnya bergetar di atas meja belajar. Takut ada yang penting, Ily mengeceknya. Ada dua pesan yang datang bersamaan. Namun, hanya satu yang Ily baca pertama karena ia dibuat sangat terkejut karenanya.
Pesannya datang dari Eza.
Elvan di rumah sakit. Mau gue jemput atau ke sini sendiri? Mau gue kasih tau alamatnya
****** gue aja, Za
Cepat-cepat, Ily mengambil jaketnya dan ponselnya. Tak lupa kunci kamar untuk menguncinya setelah ia keluar dari ruangan paling nyaman baginya di dunia ini. Jantung Ily bergedup kencang dan sudah tak beraturan lagi perasaannya saat menghadapi Yohan yang segera berdiri dengan pandangan penuh tanya.
Rupanya Yohan sedang membuat cookies yang kini sedang ia susun di sebuah piring. Ily senang dan terkejut melihatnya, namun rasa itu terkalahkan oleh rasa takut dan khawatir yang besar.
"Yohan," kata Ily takut-takut, menahan air mata yang sudah banyak membendung di pelupuk matanya supaya tak jatuh membasahi pipinya. "Kamu udah tahu Elvan ada di rumah sakit?"
Wajah Yohan langsung berubah. Pandangannya ikut berusaha menjadi tatapan kosong dan tak ada cahaya senang lagi di matanya. "Iya, aku tau."
Ily membuang napas tak percaya. Kini, air matanya sudah luruh, jatuh basahi pipi sebab sudah tak dapat lagi menahannya. Napasnya jadi tak beraturan karena isak tangisnya. "Kalau kamu tau, kenapa nggak kasih tau aku?"
Yohan hanya mampu terdiam dan itu membuat Ily geram.
"Yohan."
Masih diam. Ily bergerak selangkah lebih maju untuk mendapatkan perhatian Yohan yang kini hanya menatap kosong ke depannya, tanpa melihat Ily balik.
Ily menyentuh tangan Yohan. "Hei, Yohan. Aku bicara sama kamu. Jawab."
Yohan mengeraskan rahangnya tanpa terlihat akan menjawab. Dari tangannya, Ily dapat merasakan ketegangan urat laki-laki itu.
"Yohan, aku lagi bertanya ke kam--"
"Gimana aku bisa bilang kalau ternyata aku yang bikin Elvan ada di rumah sakit?!" Yohan akhirnya berteriak, membentak Ily dengan urat-urat lehernya yang menegang. Tampak sangat emosi dan frustasi, membuat Ily menatapnya tak percaya, kaget sekaligus kecewa. Perlahan, Ily bergerak mundur, menciptakan jarak yang signifikan.
Napas Yohan mulai memburu, terdengar jelas di rumah Ily yang sepi ini. Matanya menatap Ily lurus-lurus, tak ada lagi lembut atau tatapan penuh kasih sayang yang terpancar dalamnya. Yang ada hanya tatapan yang seolah bisa merobek hati Ily.
Ily menatap Yohan dengan perih di hatinya yang amat terasa. Susah payah, ia bersuara serta mengusap air matanya. "Oke. Aku mau pergi jenguk Elvan. Kamu jaga rumah."
Tanpa mengatakan sepatah katapun lagi, Ily meninggalkan Yohan dengan perasaan hancur. Ily tak mengerti Yohan. Ily tak bisa memahami mengapa Yohan begitu egois sekarang.
Sementara itu, Yohan langsung menggeram dan mengepalkan tangannya kuat-kuat karena meluapkan emosinya. Ia menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi, ketika penyesalan mulai merasuki.
***
hai hai hai pakabs
__ADS_1
komen yang banyak, aku akan up banyak juga
:*